NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : Kepulangan dan Murid Rusuh

​Gemuruh mesin motor sport berkapasitas besar memecah keheningan sore di kawasan jalur balap liar Jakarta Pusat. Puluhan remaja berjaket kulit hitam dengan lambang burung hering mencengkeram mangsanya di bagian punggung—lambang kebesaran VULTURES—berbaris rapi di tepi aspal. Mereka semua berdiri tegak, menyambut satu motor Kawasaki Ninja H2 Carbon yang melesat memimpin di depan.

​Begitu motor hitam legam itu berhenti, sang pengendara membuka helm full-face-nya. Rahang tegas, tatapan mata sehitam jelaga yang dingin, serta rambut hitam yang sedikit berantakan karena keringat langsung terekspos.

Jayden Xeno Frederick​. Setelah satu tahun penuh menyelesaikan program pertukaran pelajar di London, sang ketua Vultures akhirnya menginjakkan kakinya kembali di tanah air.

​"Selamat datang kembali, Bos!" seru Erlan Putra Alexander, penyerang utama Vultures, yang langsung merangkul pundak Jayden dengan heboh. Sifat sunflower-nya yang kelewat ramah sama sekali tidak berubah. "London gimana? Cewek-cewek di sana bule semua, kan? Gak ada yang nyantol satu pun?"

​Jayden melepaskan rangkulan Erlan dengan gerakan tenang namun tegas. "Sama aja. Merepotkan," jawabnya singkat, suaranya berat dan dingin, khas seorang Jayden. Bagi cowok berusia 18 tahun itu, perempuan hanya makhluk penuh drama yang hobi membuang waktunya.

​Arshaka Gio Pratama, sang wakil ketua yang berdiri di samping motor Jayden, hanya tersenyum tipis. "Gak usah nanya soal cewek ke Jayden, Lan. Sia-sia. Mending kita bahas wilayah barat yang semalem mulai diusik anak-anak Wolfangs."

​Mendengar nama Wolfangs disebut, sorot mata Jayden langsung menajam. Musuh bebuyutannya, Alkana Putra Adhytama, rupanya memanfaatkan absennya Jayden selama satu tahun ini untuk memperluas wilayah.

​"Kumpulin anak-anak inti di markas nanti malam," perintah Jayden dingin. "Gua mau tahu sejauh mana serigala-serigala itu berani nginjek wilayah Vultures."

_____

​Keesokan paginya, suasana di Loren'z High School (LHS) tampak sehangat biasanya. Namun, ketenangan itu pecah berantakan tepat di depan gerbang sekolah.

​Sebuah taksi berhenti, dan dari dalam sana keluar seorang gadis dengan seragam LHS yang tidak terkancing rapi, menyisakan kaus putih di dalamnya. Rambut panjangnya dikuncir kuda asal-asalan. Gadis itu adalah Elleanor Catleena Smith. Di tangan kanannya, ia memegang sepotong buah durian yang baunya langsung menyengat ke segala arah, sementara tangan kirinya sibuk menyeret koper berukuran sedang.

​"Heh! Kamu murid baru, kan? Kenapa bawa makanan bau begitu ke sekolah?! Mana kopernya ditaruh di pos satpam sekarang!" bentak Pak Bambang, guru BK killer LHS yang kumisnya langsung naik-turun menahan emosi.

​Elle mengunyah daging durian itu dengan santai, sama sekali tidak gentar. "Aduh, Pak Kumis, ini namanya durian montong. Rezeki anak saleh, jangan ditolak. Lagian koper saya ini isinya aset berharga, kalau hilang Bapak mau ganti?" sahut Elle dengan nada barbar dan kelewat ramah, membuat beberapa murid yang lewat langsung melongo. Baru hari pertama, gadis berdarah Amerika itu sudah mencari masalah dengan penguasa BK.

​Dari kejauhan, Haikal Leo Wijaya, yang kebetulan baru memarkirkan motornya, hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia mengucek matanya berkali-kali.

Itu kan di Elle, anak baru yang rumahnya satu blok sama gua di komplek? batin Haikal heran. Ia tahu Elle baru pindah dari Amerika karena didepak dari sekolahnya, tapi ia tidak menyangka cewek itu se-random ini.

​"Eh, Haikal! Sini lo!" panggil Elle tanpa tahu malu sambil melambaikan tangan yang masih belepotan bekas durian.

​Haikal pura-pura tidak dengar dan mempercepat langkahnya, namun terlambat. Elle sudah berlari mengejarnya sambil menyeret koper, meninggalkan Pak Bambang yang berteriak-teriak histeris di belakang karena aroma durian yang kini tertinggal di area gerbang.

​Bel masuk berbunyi. Di kelas XI-IPA 1, suasana mendadak senyap saat wali kelas masuk bersama Elleanor.

​"Anak-anak, kita kedatangan siswi pindahan dari New York, Amerika Serikat. Silakan perkenalkan dirimu," ujar Bu Ratna.

​Elle maju satu langkah, tersenyum lebar hingga mata indahnya menyipit. "Halo semua! Nama gua Elleanor Catleena Smith, panggil aja Elle. Hobi gua melukis, balapan, sama bikin rusuh. Semoga kita bisa jadi teman gibah yang asyik, ya!"

​Bisik-bisik langsung terdengar di penjuru kelas. Para cowok menatap kagum pada paras sempurna Elle yang blasteran, sementara para cewek menatapnya aneh karena kalimat perkenalannya yang kelewat jujur dan blak-blakan.

​"Baik, Elle. Kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Soraya," tunjuk Bu Ratna.

​Mendengar nama itu, Soraya Jasmine Ayda, gadis cantik ber-bandana pink yang duduk di barisan tengah, langsung melompat dari kursinya. "Elle!!! Ya ampun, ini beneran lo?!" pekik Soraya histeris, langsung memeluk sahabat masa kecilnya itu yang sudah bertahun-tahun berpisah dengannya.

​"Raya! Kangen banget gua sama lo!" balas Elle tak kalah heboh.

​"Ekhem! Tolong kondisikan kelasnya," tegur Bu Ratna tegas, membuat keduanya langsung duduk dengan rapi, walau Soraya masih terus membisikkan banyak hal pada Elle.

​Jam istirahat tiba. Kantin LHS penuh sesak. Elle, Soraya, dan Keysha Izora Camelia—sahabat kecil Elle lainnya yang terkenal jago taekwondo dan berpenampilan ala badgirl—duduk di meja pojok.

​"Lo beneran dikeluarin dari sekolah di New York gara-gara nyolong mangga kepala sekolah, Elle?" tanya Keysha tak habis pikir sambil meminum jus alpukatnya.

​"Sumpah, Key! Mangganya itu gede banget, menggoda iman. Tapi pas gua lagi manjat, ketahuan. Ya udah, gua panik terus gak sengaja ngelempar batu, eh malah kena kaca ruangannya sampai pecah," ceritata Elle berapi-api tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​Soraya tertawa terpingkal-pingkal. "Gila, lo gak berubah dari dulu, tetep barbar!"

​Tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya bising mendadak senyap bagai kuburan. Di pintu masuk kantin, rombongan inti Vultures berjalan masuk.

Jayden memimpin di depan dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan, diikuti Shaka, Erlan, dan Haikal. Aura intimidasi yang menguar dari mereka membuat murid-murid lain otomatis memberi jalan.

​"Nah, itu dia penguasa LHS. Yang di depan namanya Jayden, ketua Vultures. Ganteng banget tapi titisan es kutub, anti banget sama cewek," bisik Soraya penuh semangat, memberi tahu Elle.

​Elle mengunyah siomaynya, matanya memperhatikan Jayden dari atas sampai bawah. Kebetulan, saat melangkah melewati meja Elle, netra hitam Jayden bergerak dan sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu.

​Jayden menatapnya dingin, tanpa ekspresi, seolah menganggap Elle tidak ada. Namun, Elle justru menaikkan sebelah alisnya dan memberikan cengiran lebar nan menantang, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan mematikan sang ketua Vultures.

​Jayden sempat menghentikan langkahnya selama satu detik. Ada desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat melihat binar mata gadis itu yang begitu liar dan berani. Biasanya, cewek-cewek akan menunduk ketakutan atau justru tersenyum genit saat ditatap olehnya. Tapi cewek barbar ini? Dia malah menantangnya.

​"Bos? Kenapa berhenti?" tanya Shaka heran.

​Jayden langsung memutuskan kontak mata, kembali memasang wajah datarnya yang sedingin es. "Gak ada," jawabnya singkat lalu melanjutkan langkah menuju meja khusus Vultures.

​Sambil berjalan, Jayden mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ada rasa penasaran yang mendadak tumbuh di benaknya. Sepotong teka-teki kecil baru saja masuk ke dalam radar hidupnya yang membosankan. Jayden belum tahu, bahwa rasa penasaran yang tampak sepele di siang hari itu, perlahan-lahan akan tumbuh menjadi sebuah obsesi gelap yang akan mengurung gadis barbar itu dalam cengkeraman Vultures selamanya.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!