Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Makan Malam
Zivanna hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Dikta.
"Ayo pulang!" ajak Dikta ditengah keheningan mereka berdua.
Zivanna menghela nafas, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Keduanya meninggalkan tempat tersebut dan langsung pergi.
Setelah pasangan suami istri itu meninggalkan tempat itu, Rania tiba-tiba saja muncul dari balik tembok dengan kedua tangannya dilipat di dada berdiri tepat lurus ke arah kedua pasangan itu yang melangkah dan hanya memperlihatkan bagian punggungnya saja.
"Aku lihat-lihat belakangan ini Dokter Dikta jarang marah-marah kepadanya? Apa jangan-jangan dia berhasil mencuri hati Dokter Dikta, wanita itu pasti melakukan tindakan kecurangan agar Dokter Dikta berhenti marah kepadanya," ucap Rania.
"Tidak! sampai kapanpun Zivanna akan terus terasingkan di rumah sakit ini, tidak akan pernah terlihat dan akan terus menjadi bahan olok-olokan orang-orang yang ada di rumah sakit. Meski berusaha sekuat apapun untuk menjadi terlihat, tetap saja kamu tidak akan pernah terlihat oleh apapun. Zivanna terima saja nasib kamu dan jangan pernah bermimpi di bawah Dokter Dikta akan percaya kepadamu,"
"Kamu akan tetap menjadi sasaran Dokter Dikta, sebesar apapun kamu berusaha, rumah sakit ini bukanlah tempatmu sampai akhirnya kami menyadari dan merasa tidak pantas untuk berada di rumah sakit ini," ucap Rania.
Sepertinya Rania memang tidak menyukai Zivanna, padahal Zivanna tidak pernah bermasalah dengan Rania.
******
Zivanna bersama dengan Dikta akhirnya sama-sama pulang ke rumah dengan keduanya turun dari mobil.
"Assalamualaikum!" sapa Dikta bersama Zivanna.
"Walaikum salam," jawab Andra bersama Sekar berada di rumah untamu.
"Kalian sudah pulang?" tanya Sekar.
"Tumben sekali, kalian berdua pulang bersamaan seperti itu?" tanya Andra.
Dikta dan Zivanna saling melihat satu sama lain, memang ini pertama kali keduanya ketika menikah pulang bersamaan dari rumah sakit.
"Kebetulan jadwalnya sama," sahut Dikta memberi jawaban.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kalian langsung bersih-bersih saja dan kita akan makan malam di luar bersama dengan Oma Wahyu dan Tante Wina," ucap Sekar.
Zivanna mengerutkan dahi mendengar perkataan ibunya itu.
"Makan malam?" tanyanya memastikan berharap salah dengar.
"Benar Zivanna. Tante Wina tadi sore menghubungi Mama dan Mama belum sempat mengabari kepada kalian berdua untuk pulang lebih cepat agar bisa makan malam bersama mereka, tetapi alhamdulillah ternyata kalian pulangnya juga tidak terlalu malam, jadi masih memiliki waktu untuk makan malam bersama mereka," ucap Sekar.
"Makan malam lagi," Zivanna bergumam, sepertinya sedikit kesal jika harusnya makan malam bersama dengan kedua orang tua suaminya.
Bagaimana tidak kesal, undangan makan malam itu ujung-ujung membuatnya tidak nyaman.
"Jangan hanya berdiri saja di sana, ayo buruan kalian siap-siap," ucap Sekar.
"Zivanna sepertinya tidak ikut," ucap Zivanna menolak membuat Sekar dan Andra melihat serius ke arah putri mereka.
"Ada apa Zivanna? Kenapa tiba-tiba kamu tidak ikut? Kamu harus menghormati kedua orang tua suami kamu untuk datang pada undangan acara makan malam mereka, Mama tahu kamu lelah karena baru saja pulang dari rumah sakit, tetapi bagaimanapun mereka adalah kedua orang tua kamu," ucap Sekar.
"Benar Zivanna, sudahlah Zivanna sekarang kamu siap-siap dan tidak ada penolakan. Kamu juga Dikta," sahut Andra tidak ingin ada protes dari Zivanna.
Zivanna membuang nafas kasar, sebesar apapun dia melakukan penolakan dan tetap saja orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk tidak mengikuti makan malam tersebut. Zivanna menaiki anak tangga terlebih dahulu dengan sangat terpaksa.
Dikta hanya memperhatikan istrinya itu dan mungkin saja mengetahui bahwa sang istri tidak ingin ikut makan malam karena masih kesal dengan ibunya yang terlalu mencampuri urusan pribadi Zivanna.
"Dikta, kamu juga buruan siap-siap, nanti kita terlambat," ucap Sekar.
"Baik. Ma," jawab Dikta yang langsung pergi menyusul.
"Zivanna kebiasaan selalu menghindari pertemuan dengan kedua orang tua suaminya. Padahal jika mengingat dulu, dia begitu manja sekali kepada Mbak Wina dan juga Mas Wahyu," sahut Sekar.
"Entahlah, putri kita belakangan ini memang sangat sulit untuk diberitahu, kita sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan dan tidak bisa terlalu ikut campur dengan apa yang dia lakukan, bagaimanapun kita mengetahui kepribadian Zivanna yang memang tidak suka ditekan dan dipaksa, jadi jika menurut kita apa yang dilakukan salah dan cukup hanya menegur," sahut Andra.
"Mas benar," sahut Sekar dengan menganggukkan kepala.
*****
Di dalam mobil Zivanna duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Sekar ibunya, sementara Dikta sedang menyetir dengan Andra duduk di sebelahnya.
Tidak ada semangat yang terlihat dari wajah cantik Zivanna, tidak memiliki keinginan dan rasa terpaksa itu terlihat jelas bagaimana dia harus mengikuti kedua orang tuanya untuk memenuhi undangan dari kedua mertuanya. Dikta ternyata curi-curi pandang dari kaca yang ada di dalam mobil.
Melihat istrinya tampak murung yang hanya melihat keluar jendela. Sudah menolak tetap saja tidak didengarkan dan ketika mereka berdua sama-sama memasuki kamar.
Dikta juga sempat berbicara Zivanna agar tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan ibunya dan bersikap lebih baik saat bertemu. Zivanna justru kesal seakan-akan dia penjahatnya yang salah dan seolah-olah tidak menghargai kedua orang tua suaminya.
Huhhhhh
Zivanna membuang nafas perlahan ke depan, Zivanna bertepatan melihat keadaan kaca yang ada di dalam mobil dengan dahinya mengkerut yang ternyata suaminya masih memperhatikannya membuat Zivanna bingung. Dikta kemudian mengalihkan pandangannya.
"Apa-apaan, melihatku seperti itu? Apa dia ingin kembali menasehatiku," batin Zivanna dengan dahi mengkerut terlihat kesal.
******
Zivanna bersama dengan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua suaminya saat ini sudah berada di salah satu Restaurant, undangan makan malam itu tidak di rumah kedua orang tua suaminya. Mereka sudah duduk di tempat yang nyaman. Sudah mulai menikmati makanan yang telah dihidangkan pelayan.
Zivanna tidak banyak bicara hanya berusaha bersikap sopan kepada kedua orang tua suaminya. Zivanna memilih untuk diam dan lagi pula Wina juga bersikap biasa saja kepadanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka sebelum.
"Wahyu, bagaimana dengan pabrik yang ada di Bogor? Apa sudah ada peningkatan?" tanya Andra basa-basi di sela-sela makan malam tersebut.
"Alhamdulillah. Mas, setiap hari selalu ada perkembangan dan semua ini benar-benar karena bantuan. Mas," sahut Wahyu.
Terdengar suara decakan pelan keluar dari mulut Wina ketika suaminya selalu menjadikan Andra penolong dan bahkan akan terus terikat hutang Budi.
"Kamu terlalu berlebihan Wahyu, bukankah sesama keluarga memang harus saling tolong menolong dan lagi pula kamu adalah keluarga dekat kami," sahut Andra selalu rendah hati.
"Semoga saja keluarga kita kedepannya terus semakin dekat. Dengan pernikahan anak-anak seperti ini sudah pasti akan membuat kita terus menjadi keluarga," sahut Sekar dengan tersenyum yang selalu merasa bahagia ketika putrinya menikah dengan Dikta.
"Amin. Mbak," sahut Wina akhirnya ikut berbicara.
"Apalagi, jika kita segera diberikan cucu," lanjut Wina.
Dikta dan Zivanna seketika berhenti makan ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut ibunya dan menetap ke arah Wina yang tersenyum melihat anak dan menantunya itu. Entah apalagi ulah Wina yang tiba-tiba saja membawa nama cucu dalam pertemuan makan malam tersebut.
Bersambung...