NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Kenangan yang Hidup

Archive Zero

Bab 25 — Kenangan yang Hidup

Lima tahun telah berlalu sejak kedamaian kembali menyelimuti dunia.

Elarion kini bukan lagi sekadar kota kecil yang bangkit dari kehancuran, melainkan telah tumbuh menjadi pusat peradaban yang indah, makmur, dan terbuka. Kubah pelindung buatan masa lalu sudah lama menjadi sejarah, digantikan oleh langit biru luas yang tak berpenghalang. Bangunan-bangunan baru berdiri megah namun tetap menyatu dengan alam, jalan-jalan lebar penuh dengan pedagang dari berbagai penjuru benua, dan alun-alun kota selalu ramai dengan kegiatan seni, budaya, dan diskusi pengetahuan.

Di atas bukit tempat kediaman mereka dulu berada, kini berdiri sebuah bangunan megah namun sederhana, bernama Pusat Penjaga Keseimbangan. Di sinilah Ren, Anya, dan Kai tinggal dan bekerja, bukan lagi sebagai pejuang yang harus bergegas menghadapi bahaya, melainkan sebagai guru, pemimpin, dan penasihat yang dihormati oleh semua orang.

Pagi itu, udara segar berhembus lembut membawa aroma bunga-bunga musim semi yang bermekaran di seluruh lereng bukit. Ren berdiri di balkon lantai paling atas, mengenakan jubah putih sederhana tanpa hiasan berlebih, rambutnya kini sedikit lebih panjang dan diikat ke belakang. Wajahnya masih sama muda, namun matanya memancarkan kearifan yang jauh lebih dalam, hasil dari segala pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan selama perjalanan hidupnya.

Di bawah sana, di halaman luas Pusat Penjaga, puluhan anak muda dari berbagai bangsa sedang berlatih. Mereka adalah murid-murid terpilih yang datang ke Elarion untuk belajar cara menggunakan energi alam dengan bijak dan bertanggung jawab. Di antara mereka, tampak sosok Dika yang kini telah tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan, berusia dua puluh tahun. Ia kini menjadi salah satu pengajar utama, gerakannya lincah dan penuh kendali, persis seperti apa yang dulu ia kagumi dari Ren.

"Kau menatap mereka terus saja sejak pagi," suara lembut terdengar dari samping.

Ren menoleh dan tersenyum saat melihat Anya berdiri di sana, membawa dua cangkir teh hangat. Gadis itu juga berubah, semakin anggun dan tenang, meski tatapan tajamnya yang khas masih terselip di balik kelembutan itu. Ia kini menjadi ahli utama dalam elemen alam dan penyeimbangan energi, sering pergi ke wilayah-wilayah terpencil untuk membantu memulihkan tanah yang rusak atau menyelesaikan konflik kecil antar desa.

"Aku hanya berpikir," jawab Ren pelan, menerima cangkir teh itu. "Dulu kita yang ada di posisi mereka, penuh rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, dan sedikit takut akan masa depan. Sekarang... merekalah penerusnya. Merekalah yang akan menjaga apa yang sudah kita bangun."

Anya menatap wajah Ren lekat-lekat, lalu tersenyum hangat. "Dan mereka hebat. Terutama Dika. Dia tumbuh persis seperti impian kita dulu: kuat, tapi rendah hati, berpengetahuan, tapi selalu ingin belajar. Warisan kita aman di tangan mereka."

Belum sempat Ren menjawab, terdengar langkah kaki cepat dan riang mendekat. Kai muncul di pintu balkon, napasnya sedikit terengah namun matanya bersinar cerah penuh semangat. Ia masih sama seperti dulu, selalu sibuk dengan tumpukan kertas dan gulungan peta di tangannya, meski kini kacamatanya terlihat lebih rapi dan penampilannya lebih teratur.

"Kalian harus lihat ini!" seru Kai bersemangat, melambaikan selembar surat yang tertutup segel perak berukir simbol mata terbuka. "Surat dari para Pengamat di Kota Tinggi! Elara mengirim pesan khusus."

Ren dan Anya saling pandang sekejap, lalu segera mendekat. Hubungan mereka dengan para Pengamat selalu erat, saling bertukar kabar dan pengetahuan, tapi pesan yang dikirimkan dengan segel khusus seperti ini biasanya berarti ada hal penting atau sesuatu yang luar biasa.

Ren mengambil surat itu dan membukanya perlahan. Tulisan tangan Elara yang elegan dan tenang tertulis rapi di atas kertas tebal beraroma wangi.

"Untuk Ren, Anya, dan Kai, Penjaga Keseimbangan Dunia,

Harapanku selalu menyertai kalian di Elarion yang indah.

Aku menulis ini untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus undangan. Selama lima tahun ini, kami telah meneliti dan mempelajari sisa-sisa jejak energi yang tersebar setelah kekacauan masa lalu. Dan kemarin, kami akhirnya menemukan sesuatu yang luar biasa: sebuah catatan kuno yang tersembunyi di ruang arsip terdalam, yang menjelaskan tentang Jejak Pencipta — tempat di mana segala sesuatu bermula, bahkan sebelum Jantung Dunia terbentuk.

Tempat ini bukanlah bahaya, melainkan sebuah peninggalan suci yang menyimpan jawaban atas pertanyaan terbesar kita: dari mana asalnya kekuatan ini? Siapakah yang menciptakan sistem keseimbangan ini? Dan untuk tujuan apa semuanya dibuat?

Kami tahu kalian sudah lama tidak berkelana, dan dunia sudah damai. Namun, penemuan ini terlalu besar untuk kami pelajari sendiri. Ini adalah bagian dari sejarah kita, sejarah yang juga melibatkan takdir kalian bertiga. Kami mengundang kalian datang ke sini secepatnya. Aku yakin, penemuan ini akan mengubah cara pandang kita terhadap segalanya selamanya."

Ren selesai membaca, lalu menatap kedua sahabatnya. Di matanya, kembali bersinar api rasa ingin tahu yang sama persis seperti saat mereka pertama kali berangkat meninggalkan Elarion bertahun-tahun lalu.

"Jejak Pencipta..." gumam Kai takjub, matanya sudah berkilauan penuh antusiasme. "Aku pernah membaca sekilas tentang itu di buku-buku mitos tertua, tapi selalu dianggap hanya dongeng belaka. Ternyata benar-benar ada! Kalian sadar tidak? Kita sudah tahu cara kerja kekuatan, kita sudah tahu cara menjaganya, tapi kita belum pernah tahu siapa yang menciptakan semuanya ini dan kenapa."

Anya mengerutkan kening sedikit, berpikir dalam-dalam. "Dunia sudah damai, tapi rasa ingin tahu adalah sifat alami kita. Dan jika ada jawaban yang bisa membuat kita lebih mengerti tugas dan tanggung jawab kita... mungkin memang kita harus pergi ke sana."

Ren menatap ke luar balkon, ke arah murid-murid yang sedang berlatih di bawah sana, ke arah kota Elarion yang damai dan bahagia, lalu kembali menatap Anya dan Kai.

"Kita sudah memberikan kedamaian bagi dunia," ucap Ren perlahan namun mantap. "Sekarang... saatnya kita mencari tahu asal-usul dari segala hal yang kita jaga ini. Bukan karena ada bahaya, bukan karena ada musuh... tapi karena pengetahuan adalah hak kita sebagai penjaga. Dan Elara benar, ini adalah bagian dari sejarah kita sendiri."

Kai sudah melompat-lompat kecil sambil memeluk gulungan surat itu. "Jadi kita pergi? Kita berangkat lagi? Asyik! Aku sudah kangen menyiapkan perlengkapan, membaca peta, dan tidur di bawah bintang lagi! Tapi kali ini... tanpa dikejar musuh atau ancaman kiamat dunia! Ini murni perjalanan penelitian!"

Ren tertawa melihat tingkah sahabatnya itu, lalu mengangguk tegas.

"Kita pergi. Tapi kali ini, kita tidak perlu buru-buru. Kita akan berjalan santai, menikmati pemandangan, bertemu teman-teman lama di sepanjang jalan, dan membiarkan murid-murid kita di sini menunjukkan bahwa mereka sudah mampu menjaga kedamaian ini tanpa kita."

Anya tersenyum manis, mengangguk setuju. Ia tahu, meski tugas besar sudah selesai, semangat petualangan di hati mereka bertiga tidak akan pernah benar-benar padam. Itu adalah bagian dari jiwa mereka.

"Baiklah kalau begitu," kata Anya lembut namun bersemangat. "Kalau begitu, mari kita bersiap. Kali ini, perjalanan kita bukan untuk menyelamatkan dunia... tapi untuk menemukan asal-usulnya."

Sore itu, kabar keberangkatan mereka kembali menyebar ke seluruh penjuru kota. Sekali lagi, warga Elarion berkumpul di gerbang utama, namun suasananya berbeda dari perpisahan-perpisahan sebelumnya. Tidak ada rasa cemas atau takut kehilangan, hanya rasa bangga, kasih sayang, dan kegembiraan. Mereka tahu, ke mana pun ketiga sahabat itu pergi, hati mereka akan selalu tetap di sini, di Elarion.

Dika berdiri paling depan, wajahnya penuh hormat dan kekaguman. Ia kini memegang tanggung jawab penuh untuk memimpin Pusat Penjaga selama mereka pergi.

"Jangan khawatir, Guru Ren, Guru Anya, Guru Kai," ucap Dika lantang dan tegas. "Kami akan menjaga kota ini, menjaga keseimbangan, dan meneruskan ajaran kalian dengan sebaik-baiknya. Pergilah dan temukan pengetahuan baru itu... lalu kembalilah dan ceritakan kepada kami semua."

Ren menepuk bahu pemuda itu dengan bangga. "Aku percaya padamu, Dika. Kami titipkan rumah kami ini. Dan ingat... meski kami pergi, kami selalu ada di sini, di hati kalian dan di setiap hembusan angin di kota ini."

Kereta perjalanan mereka yang indah dan kokoh—yang dulu menjadi saksi perjalanan besar mereka—kini sudah ditarik oleh empat ekor tunggangan energi yang lebih besar dan lebih kuat, bersinar dengan cahaya lembut warna-warni. Perlengkapan perjalanan disiapkan dengan rapi, tidak lagi penuh senjata dan baju zirah, melainkan penuh buku catatan, alat penelitian, dan bekal makanan lezat.

Saat matahari mulai turun ke barat, memberikan cahaya keemasan yang hangat, mereka bertiga naik ke atas kereta. Ren di kemudi, Anya di sebelahnya, dan Kai duduk di belakang sambil sudah sibuk memegang peta baru yang ia gambar sendiri.

"Dahulu kita berjuang demi hidup dan kebebasan," kata Kai sambil menunjuk jalan panjang yang terbentang ke timur, ke arah pegunungan tempat Kota Para Pengamat berada. "Kemudian kita berjuang demi keselamatan dunia. Dan sekarang... kita berangkat demi pengetahuan dan kebenaran. Benar-benar perjalanan yang sempurna."

Ren menarik kendali, dan tunggangan itu mulai bergerak perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan gerbang Elarion diiringi sorak-sorai dan lambaian tangan ribuan warga.

"Dunia ini masih menyimpan banyak rahasia, kawan-kawan," ucap Ren lantang, suaranya penuh harapan dan kegembiraan. "Dan kita bertiga... kita adalah penjelajah abadi. Di mana pun ada misteri, di situ akan ada kita."

Anya membiarkan angin sore menerpa wajahnya, menatap langit luas yang indah. Di hatinya, damai dan bahagia menyatu dengan rasa penasaran yang menyenangkan.

"Menuju Jejak Pencipta..." bisiknya pelan. "Apa pun yang ada di sana, aku yakin... itu akan menjadi petualangan terindah kita."

Kereta itu melesat semakin jauh, menghilang di balik bukit hijau, membawa serta kisah baru yang akan ditulis. Kisah tentang masa lalu yang terlupakan, tentang asal mula segala kekuatan, dan tentang jejak abadi yang ditinggalkan oleh tiga sahabat yang namanya akan selalu hidup dalam sejarah dunia: Penjaga Keseimbangan, Pengembara Abadi, dan Pelindung Segala Kehidupan.

Perjalanan belum berakhir. Kisah Archive Zero masih terus ditulis, seiring berjalannya waktu dan terbukanya tabir-tabir rahasia alam semesta yang tak pernah habis jumlahnya.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!