Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Manis Bersama Si Cadel
Pagi itu…
Mansion keluarga Noor benar-benar kacau.
“PRINCESS BANGUNNNN!”
Suara Freya menggema sampai lantai tiga.
Namun dari balik selimut super tebal di kamar Brielle—
“5 menit lagi mommm…”
Freya memijat pelipis.
Ini sudah ketiga kalinya.
Bahkan tadi Daddy-nya sendiri turun tangan membangunkan putri kesayangannya.
Namun hasilnya nihil.
“Princess nanti terlambat,” bujuk Naufal lembut sambil duduk di tepi kasur putrinya.
Brielle malah menggulung diri seperti ulat.
“Masih ngantuk…”
Padahal—
Mata gadis itu jelas bengkak.
Ia pasti menangis semalam.
Dan itu membuat Freya serta Naufal tak tega memaksa terlalu keras.
Mereka tahu…
Di balik tingkah alay putrinya…
Brielle sedang kacau.
“Biarkan tidur bentar lagi,” gumam Freya pelan.
Naufal mengangguk kecil.
Sedangkan di luar kamar—
Arvenza dan Zayden sudah siap sekolah sambil makan roti.
“Princess masih tidur?” tanya Zayden.
“Masih jadi bangkai hidup,” jawab Arvenza santai.
Namun tepat pukul—
07.00.
Hening.
Lalu—
“AAAAAAAAAA!”
Suara jeritan Brielle langsung mengguncang mansion.
“PRINCESS TERLAMBATTTT!”
Brak!
Pintu kamar dibuka kasar.
Brielle muncul dengan rambut acak-acakan sambil lari panik.
“NOOOOO!”
Freya langsung kaget.
“Elle pelan-pelan!”
“NANTI FANS PRINCESS INFIL LIHAT PRIMADONANYA BOLOS!”
“Mana ada fans lo pagi-pagi nengokin gerbang sekolah?” tanya Arvenza datar.
“ADA!”
“Delusi,” gumam Zayden sambil minum susu.
Brielle langsung lari ke meja makan.
Namun baru mau duduk—
Klakson motor terdengar dari luar mansion.
TIN.
TIN.
Hening dua detik.
Lalu Brielle membeku.
“…Si cadel.”
Zayden langsung cekikikan.
“Waduh tunangannya datang.”
“Jangan panggil dia tunangan aku!”
“Kan emang.”
“DIEM!”
Brielle langsung buru-buru memakai blazer sekolahnya sambil lompat-lompat satu kaki mencari sepatu.
“Princess makan dulu!” teriak Freya.
“Nanti aja mom!”
“Minimal susu!”
Brielle langsung meneguk susu satu gelas sekali habis.
Lalu—
“Huek…”
“Makanya jangan kayak kesedak galon,” komentar Arvenza.
Brielle langsung lari keluar mansion.
Dan benar saja—
Nevran sudah menunggu di atas motor hitamnya.
Wajahnya datar.
Tapi terlihat jelas kesal.
“Lama banget sih.”
Brielle langsung manyun.
“Princess khilaf.”
“Udah lima menit lagi bel bunyi.”
“Tau nih!”
Nevran memijat pelipis.
“Bolos aja.”
“GAK MAU!”
“Kenapa?”
“Nanti image princess rusak!”
“Lebay.”
“DIEM CADEL!”
" om, tante Nevlan pamit dulu" ucap nya sopan sekaligus hormat, setelah itu menyalim kedua orang tua Brielle.
Namun tanpa buang waktu lagi—
Brielle langsung naik ke jok belakang motor Nevran.
“Mom! Daddy! Princess pergi dulu!”
Sebelum motor melaju—
Freya dan Naufal buru-buru mendekat.
Freya membenarkan pita Brielle pelan.
Sedangkan Naufal menatap Nevran cukup serius.
“Tolong jaga Princess kami.”
Brielle langsung mendengus.
“Mom, aku dah besar gak perlu dijaga.”
“Iya Mom,” sambung Zayden dari pintu mansion. “Lagian Princess punya dua abang buat jaga dia.”
“Yang tiap hari ngajak ribut?” celetuk Arvenza.
“Minimal ganteng.”
“Minimal berguna.”
“WOI!”
Nevran cuma mendengus kecil.
Lalu—
“Pegangan.”
Brum!
Motor melaju cepat meninggalkan mansion Noor.
---
Dan benar saja.
Mereka terlambat.
Saat sampai—
Gerbang sekolah sudah ditutup.
Brielle langsung membeku.
“…Aku mau nangis.”
Nevran turun santai dari motor.
“Yaudah pulang.”
“GAK!”
“Terus?”
Brielle melihat sekitar panik.
Lalu matanya berhenti pada tembok belakang sekolah.
“…Kita panjat.”
Nevran menoleh.
“Lo bisa?”
Brielle langsung terdiam.
“…Tidak.”
“Bolos aja.”
“NO!”
Akhirnya—
Mereka diam-diam menuju belakang sekolah.
Dan sekarang…
Brielle berdiri di depan tembok sambil melongo.
“Ini tinggi banget…”
“Panjat.”
“Princess mana pernah manjat jirr.”
“Manja.”
“Princess gak pernah beginian!”
Nevran mendesah kecil.
Lalu jongkok di depan Brielle.
“Naik.”
“Hah?”
“Pijak kaki gue.”
Brielle langsung melotot.
“Lo baik banget serem.”
“Cepat.”
Dengan super hati-hati—
Brielle akhirnya memanjat.
Namun baru setengah—
“AAAAA AKU MAU JATUH!”
Nevran refleks menangkap pinggang Brielle.
“Berisik.”
“PEGANG YANG SOPAN!”
“Ribet.”
“gw takuttt!”
“Astaga…”
Akhirnya setelah drama setengah mati—
Mereka berhasil masuk.
Namun baru beberapa langkah mengendap-endap—
“BERHENTI KALIAN!”
Deg.
Brielle langsung pucat.
Pak BK.
Dan lebih parahnya lagi—
Pak Mahendra.
Guru BK paling galak satu sekolah.
“Bagus sekali!” bentaknya. “Dua siswa paling terkenal malah manjat tembok!”
Brielle langsung nyengir canggung.
“Hehe… olahraga pagi pak.”
“BRIELLE!”
“Siap pak…”
Pak Mahendra menunjuk Brielle.
“Kamu itu salah satu siswa teladan sekolah ini!”
“Iya pak…”
“Kenapa malah ikut-ikutan begini?!”
Brielle langsung menunduk sopan.
“Soalnya… saya gak mau bolos pak.”
“Jadi masuknya manjat tembok?!”
“…Lebih niat pak.”
Nevran refleks menunduk menahan tawa kecil.
Sedangkan Pak Mahendra sampai urat lehernya keluar.
“KALIAN HUKUMAN!”
Brielle langsung panik.
“Pak jangan…”
“Hormat bendera sampai jam istirahat!”
“PAK AKU ANEMIA!”
“Bagus biar sehat.”
“Pak saya cantik pak…”
“Tidak ngaruh!”
Dan akhirnya—
Dua most wanted sekolah itu berdiri di lapangan sambil hormat bendera.
Semua siswa langsung heboh.
“ANJIR Nevran DIHUKUM?!”
“BRIELLE JUGA?!”
“MUSUH BEBUYUTAN DISATUIN!”
Brielle sudah mengomel sejak lima menit pertama.
“Ini semua salah lo.”
Nevran diam.
“Kalau tadi bolos aja kan aman.”
“Nanti image gw rusak.”
“Image lo emang aneh.”
“DIEM!”
Matahari makin terik.
Sedangkan Brielle mulai lemas.
“Panas banget…”
Nevran melirik sebentar.
Lalu diam-diam—
Ia menggeser posisi berdirinya.
Sedikit.
Cukup untuk menutupi Brielle dari sinar matahari.
Dan Brielle tidak sadar.
Ia masih sibuk ngomel.
“Belum sarapan full lagi…”
“Lapar…”
“Princess mau waf—”
Bruk.
Hening.
Nevran langsung menoleh cepat.
Dan matanya membesar sedikit.
Karena Brielle…
Pingsan tepat ke arah dadanya.
Bersambung
bantu support juga yaa😇