NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Retakan yang tidak bisa ditahan

Malam itu, Mikayla duduk di ruang tengah, menanti Elang pulang. Ia melihat notifikasi dari para "detektif amatir"-nya di kantor Elang. Sebuah foto baru masuk: Elang sedang mengecup tangan Naura di parkiran bawah tanah.

Mikayla mentransfer sejumlah uang besar ke rekening staf yang mengirim foto tersebut, lalu menghapus riwayat transaksinya.

"Kalian pikir kalian sedang bermain cinta yang indah?" gumam Mikayla sambil menatap foto itu. "Padahal kalian sedang dikelilingi oleh ribuan mata yang siap menerkam, teruslah lengah, Mas, teruslah merasa aman dalam pelukan Naura, sampai kamu sadar bahwa setiap orang di sekitarmu adalah 'milikku'.”

Mikayla menutup laptopnya dengan bunyi klik yang memuaskan. Ia sudah siap untuk tahap akhir. Bukti sudah lengkap, kesehatan mulai pulih, dan restu dari Gerald sudah di tangan. Kini, ia hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan semua bom ini tepat di wajah mereka.

________

Malam itu, Elang pulang lebih larut dari biasanya. Mikayla sengaja mematikan lampu ruang tengah, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu sudut, menciptakan ilusi bahwa ia sudah terlelap di kamar. Namun, kenyataannya, Mikayla berdiri mematung di balik pilar lantai dua yang gelap, memegang ponsel yang terhubung dengan alat penyadap frekuensi tinggi yang dipasang Reno di ruang tamu.

Elang masuk dengan langkah gontai, ia tampak baru saja menerima telepon. Suaranya terdengar jelas melalui earpiece yang dikenakan Mikayla.

"Iya, Bu... tenang saja. Elang sudah atur semuanya," ucap Elang di telepon. Sepertinya ia sedang berbicara dengan ibu Mikayla.

Sebuah percakapan pengkhianatan yang sangat sempurna, Mikayla menahan nafas saat mendengar suara ibunya di seberang sana melalui pengeras suara ponsel Elang yang disetel kencang karena suasana rumah yang sunyi.

Ibu: "Elang, kamu harus cepat. Naura bilang kandungannya sudah mulai membesar. Ibu nggak mau tetangga di Bogor curiga kalau dia belum nikah secara resmi. Lagipula, Mikayla itu sudah nggak bisa kasih kamu keturunan, buat apa dipertahankan? Kamu sudah kasih dia kemewahan lima tahun, itu sudah lebih dari cukup sebagai bayaran dia gantiin Naura dulu.”

Elang: (Tertawa dingin) "Sabar, Bu. Elang lagi nunggu audit pusat selesai. Begitu semua beres, Elang bakal bikin Mikayla 'sakit' lagi supaya dia nggak bisa nuntut macam-macam di pengadilan. Lagipula, aset-aset yang dia pegang sekarang pelan-pelan sudah Elang pindahkan ke rekening atas nama Naura. Mikayla itu bodoh, Bu. Dia pikir kalau dia nurut dan diam, Elang bakal setia."

Ibu: "Baguslah kalau begitu. Ibu lebih sreg kalau Naura yang jadi Nyonya Abimanyu. Dia lebih pintar bawa diri daripada adiknya yang kaku itu. Oh iya, uang belanja yang kemarin kartunya mati, jangan lupa diganti ya, Lang. Ibu mau DP mobil baru buat Naura.”

Di balik pilar, tangan Mikayla mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih, setiap kata yang ia dengar terasa seperti pisau yang ditarik perlahan, bukan hanya karena pengkhianatan, tetapi karena yang melakukannya adalah ibu kandungnya sendiri.

Disebut “bodoh.” dan hanya dianggap sekedar pengganti, bahkan pernikahannya hanya dinilai sebagai bayaran karena telah menggantikan posisi Naura saat koma.

Luka itu jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah dilakukan Elang.

Namun yang membuatnya benar-benar membeku bukan hanya penghinaan itu, melainkan rencana mereka, Elang berniat membuatnya kesakitan bukan sekedar ancaman kosong, tetapi sesuatu yang nyata. Dosis yang lebih tinggi dan cara yang lebih rapi, itu cukup untuk melemahkannya, agar ia tidak mampu melawan saat proses perceraian berlangsung.

Mikayla mematikan alat penyadapnya gerakannya tenang, wajahnya tidak lagi menyimpan kesedihan, tidak juga kemarahan yang meledak, yang tersisa hanyalah keberanian yang dingin, jenis ketenangan yang muncul ketika seseorang sudah tidak memiliki apa pun lagi untuk dipertahankan.

"Jika mereka ingin bermain kotor hingga menyentuh nyawa… makan akan aku buat kalian yang menikmati manisnya racun itu" bisiknya.

Maka ia akan memastikan mereka tidak hanya kalah.

Ia akan membuat mereka jatuh sampai ke titik di mana tidak ada lagi yang bisa diselamatkan, tanpa menunggu lama, Mikayla langsung mengamankan rekaman itu. File percakapan tadi ia unggah ke cloud pribadinya yang telah terhubung dengan Pak Hendra pengacaranya.

Bukti itu bukan sekedar percakapan melainkan niat jahat yang jelas, cukup kuat untuk membuka jalur hukum yang jauh lebih serius, semuanya kini terdokumentasi, tidak bisa disangkal dan tidak bisa dihapus.

Ponselnya kembali ia angkat, lalu menghubungi Reno tanpa ragu. “Reno,” ucapnya tenang, namun tajam, “percepat semua proses. Jangan beri mereka waktu bernapas.”

Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang keluar benar-benar tepat. “Besok pagi, aku ingin semua akses rekening yang pernah Elang gunakan untuk Naura dan Ibuku dibekukan total atas perintah audit pusat.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun maknanya jelas. “Biarkan mereka saling menggigit… saat uang itu hilang.”

Panggilan itu terputus.

Mikayla berdiri diam sejenak, menatap kosong ke depan.

Bukan karena ragu, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar siap mengakhiri semuanya tanpa sisa.

_____

Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya.

Dan bersama matahari yang baru naik, kekacauan mulai menyebar tanpa bisa dibendung, di kantor pusat, sistem audit internal bergerak serentak. Satu per satu rekening yang selama ini digunakan Elang, baik jalur resmi maupun yang disamarkan mendadak terkunci. Akses ditolak. Transaksi dibatalkan. Notifikasi gagal bermunculan tanpa henti.

Elang yang baru saja tiba di kantornya langsung berhenti di depan layar. “Apa maksudnya ini?” suaranya menegang saat kartu akses keuangan miliknya kembali ditolak, ia mencoba lagi namun tetap gagal.

Di tempat lain, ibunya mulai panik saat kartu yang ia gunakan tidak bisa dipakai, bahkan untuk pembayaran sederhana. Teleponnya langsung menghubungi Elang, nada suaranya meninggi, penuh tekanan.

“Lang! Ini kenapa semua nggak bisa dipakai?! Kamu bilang aman!”

Sementara di Bali, Naura yang tengah mengurus persiapan pernikahan mendadak kehilangan kendali atas semuanya, reservasi tertahan, pembayaran gagal, dan staf mulai saling bertanya dengan wajah tegang.

“Ada apa ini…” bisiknya, mencoba tetap tenang meski jemarinya mulai gemetar.

___

Kembali ke Jakarta, Elang akhirnya menghubungi bagian keuangan pusat, namun jawaban yang ia terima justru membuat suasana semakin dingin. “Maaf, Pak. Semua pembekuan dilakukan atas instruksi audit pusat.”

Elang terdiam sejenak. “Siapa yang memberi perintah?” tanyanya pelan, namun penuh tekanan

“Langsung dari pimpinan utama, Pak.” Jawaban itu membuatnya membeku. Nama itu tidak perlu disebut, ia sudah tahu Gerald kakaknya.

Di lantai berbeda, Reno berdiri di depan layar sistem dengan ekspresi datar, semua proses berjalan sesuai rencana, tanpa celah dan kesalahan. Ia tidak menghubungi Elang.

Sebaliknya, ia mengaktifkan jalur komunikasi khusus.

“Tuan,” ucapnya tenang saat sambungan terhubung. “Seluruh akses rekening yang selama ini digunakan Elang telah dibekukan sesuai instruksi. Tidak ada pergerakan yang tersisa.”

Di ujung sana, Gerald hanya terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Bagus,” jawabnya singkat. “Biarkan dia merasakan kehilangan kendali.”

Reno menunduk hormat, meski hanya melalui suara. “Nona Mikayla juga sudah berada di jalur yang Anda inginkan dan semua bergerak sesuai skenario.”

“Pastikan tidak ada yang melenceng,” balas Gerald dingin. “Aku ingin semuanya runtuh… tepat pada waktunya.”

Sambungan terputus.

Di tempat lain, Mikayla menatap layar tabletnya dengan tenang. Ia tidak perlu laporan langsung, pergerakan itu terlihat jelas titik-titik merah yang menandakan jalur keuangan yang satu per satu terputus.

Ia tersenyum tipis dan sekarang mereka mulai panik.

Dan saat kepanikan mengambil alih manusia cenderung membuat kesalahan. Sementara di tengah kekacauan yang mulai meluas tidak satu pun dari mereka benar-benar menyadari bahwa ini baru permulaan dari kehancuran yang sudah disusun dengan rapi.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!