NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Melalui Hutan dan Kabut

Perjalanan menuju wilayah Pegunungan Utara bukanlah perjalanan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Jarak dari ibu kota ke daerah terdekat di perbatasan pegunungan saja memakan waktu tujuh hari perjalanan, dan setelah itu mereka masih harus berjalan menanjak melalui jalanan yang sempit, berbatu, dan berliku-liku selama tiga hari lagi sebelum sampai ke permukiman penduduk yang pertama. Jalanan yang mereka lalui melewati hutan-hutan lebat yang pohon-pohonnya menjulang tinggi sampai menutupi langit, membuat cahaya matahari hanya bisa menembus dalam bentuk titik-titik kecil yang bergerak-gerak di atas tanah. Kadang-kadang mereka harus menyeberangi sungai yang airnya mengalir deras dan dingin, kadang-kadang mereka harus berjalan melewati jurang yang dalam dengan hanya berpegang pada akar pohon dan batu-batu yang menonjol, dan kadang-kadang mereka harus berjalan di dalam kabut tebal yang membuat pandangan mereka hanya bisa mencapai sejauh beberapa meter saja ke depan.

Namun meski perjalanannya berat dan melelahkan, semangat mereka tak pernah surut. Taylor dan Elizabeth berjalan di tengah rombongan, berbicara dengan orang-orang yang menyertai mereka, berbagi makanan dan minuman, dan selalu mengingatkan satu sama lain untuk tetap berhati-hati. Elizabeth yang terbiasa hidup di dalam istana yang nyaman dan hangat, tak pernah sekalipun mengeluh atau meminta perlakuan khusus. Dia berjalan dengan semangat yang sama dengan yang lain, menapakkan kakinya di atas tanah yang kasar dan bebatuan yang tajam, dan wajahnya selalu tersenyum seolah dia menikmati setiap langkah perjalanan yang mereka lakukan.

“Sebenarnya, ini bukan hal yang buruk sama sekali,” kata Elizabeth pada suatu sore saat mereka beristirahat di pinggir sungai yang airnya jernih dan dingin. Dia sedang mencuci tangannya dan wajahnya di pinggir air, lalu menoleh menatap suaminya yang sedang duduk di atas batu besar sambil mengawasi keadaan sekeliling mereka. “Selama ini kita hidup di dalam tembok istana yang tinggi, dikelilingi oleh kemewahan dan kenyamanan, dan kadang-kadang kita lupa bagaimana rasanya hidup di dunia luar, bagaimana rasanya berjalan di atas tanah dan di bawah langit yang luas. Berjalan seperti ini, merasakan angin dan hujan, melihat hutan dan sungai... rasanya seperti kita kembali ke akar kita, kembali menjadi manusia yang sederhana dan dekat dengan alam. Aku merasa seolah-olah beban di bahuku menjadi lebih ringan, dan pikiranku menjadi lebih jernih.”

Taylor tersenyum dan berjalan mendekat, lalu duduk di samping istrinya dan membiarkan kakinya terendam di dalam air sungai yang dingin. “Aku juga merasakan hal yang sama, sayang. Kadang-kadang kita terjebak di dalam rutinitas dan urusan-urusan yang rumit, sampai kita lupa melihat keindahan dan kebenaran yang ada di sekitar kita. Perjalanan ini memang berat, tapi ia juga mengajarkan kita banyak hal. Ia mengajarkan kita untuk bersabar, untuk saling membantu, untuk menghargai hal-hal yang sederhana, dan untuk mengerti bahwa kekuatan kita bukan terletak pada kekuasaan atau harta yang kita miliki, tapi terletak pada kebersamaan dan keteguhan hati kita.”

Namun di balik percakapan yang hangat dan damai itu, kewaspadaan mereka tak pernah berkurang sedikitpun. David dan Fransiskus selalu mengawasi keadaan di depan dan di belakang rombongan, mengamati setiap gerak-gerik di antara pepohonan, mendengar setiap suara yang datang dari kejauhan, dan memastikan bahwa mereka tidak sedang diikuti atau diawasi oleh orang yang tak dikenal. Selama dua hari pertama perjalanan, semuanya berjalan lancar dan damai, mereka tak bertemu dengan siapa pun selain beberapa kelompok pedagang yang berjalan ke arah ibu kota, dan beberapa orang penduduk desa yang tinggal di pinggiran hutan. Namun pada hari ketiga, saat mereka mulai masuk ke bagian hutan yang lebih dalam dan lebih jarang dikunjungi orang, mereka mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.

Pada malam hari, saat mereka berkemah di tempat yang terbuka di tengah hutan, mereka melihat ada cahaya api yang terlihat samar-samar di antara pepohonan yang agak jauh dari tempat mereka. Pada awalnya mereka mengira itu hanyalah kelompok penebang kayu atau pemburu yang juga sedang berkemah, tapi sepanjang malam mereka melihat bahwa cahaya api itu berpindah-pindah posisinya, seolah-olah orang-orang yang menyalakannya sedang bergerak mengikuti perjalanan mereka. Pada pagi harinya, saat mereka melanjutkan perjalanan, para pengawal yang dikirim untuk memeriksa jejak di belakang mereka menemukan bekas langkah kaki dan jejak kuda yang mengikuti mereka sejak kemarin sore, jejak yang dibuat oleh sekelompok orang yang jumlahnya sekitar sepuluh sampai dua belas orang.

“Ada orang yang mengikuti kita,” lapor David dengan suara yang rendah dan serius saat mereka berhenti untuk beristirahat di tengah hari. “Mereka bergerak dengan hati-hati, berjalan di antara pepohonan agar tak terlihat, dan mereka menjaga jarak agar tak ketahuan. Kita tak tahu siapa mereka dan apa niat mereka, tapi jelas sekali bahwa mereka sedang mengawasi gerak-gerik kita dan mengikuti perjalanan kita dari dekat.”

Mendengar laporan itu, suasana di dalam rombongan menjadi sedikit tegang. Beberapa orang mulai memegang gagang pedang mereka dengan lebih erat, dan mata mereka mulai mengamati sekeliling dengan lebih waspada. Taylor mendengarkan laporan itu dengan wajah yang tenang, tapi matanya menyala dengan kewaspadaan yang tajam.

“Bisa jadi mereka hanya orang yang penasaran atau orang yang tak mengenal kita dan takut untuk mendekat,” kata Taylor setelah berpikir sejenak. “Tapi kita tak bisa mengambil risiko. Kita tahu bahwa di negeri ini masih ada orang yang mungkin memiliki dendam atau niat jahat, dan kita juga tak bisa melupakan kemungkinan bahwa masalah di wilayah utara ini bukan hanya masalah rakyat yang tak puas, tapi bisa jadi ada orang yang berniat jahat yang sedang mengatur segala sesuatu dari balik layar. Kita harus tetap berjalan seperti biasa, seolah-olah kita tak menyadari keberadaan mereka, tapi kita harus memperketat pengawasan. Malam ini kita akan membuat pengawasan bergilir sepanjang malam, dan jika mereka berani mendekat atau menunjukkan niat jahat, kita harus siap untuk menghadapi mereka.”

Elizabeth duduk di samping suaminya, dan meski di dalam hatinya timbul rasa khawatir, dia tetap tenang dan berusaha untuk tidak menunjukkan ketakutannya. “Jika mereka memang orang yang berniat jahat, maka kita harus siap menghadapi mereka. Tapi jika mereka hanya orang yang penasaran atau orang yang ingin berbicara dengan kita, maka kita juga harus bersikap ramah dan terbuka. Kita datang ke sini dengan niat baik dan kedamaian, dan kita tak ingin memulai pertikaian atau kekerasan tanpa alasan yang jelas.”

Malam itu, mereka berkemah di tempat yang lebih terbuka dan mudah untuk diawasi. Mereka menyalakan beberapa api unggun di sekeliling tempat berkemah mereka, dan para pengawal berjaga di setiap arah dengan mata yang tajam dan telinga yang mendengar. Sekitar tengah malam, saat sebagian besar orang sudah tidur dan hanya ada sedikit suara yang terdengar, Savero yang sedang berjaga di sisi barat melihat bayangan-bayangan gelap yang bergerak pelan dan hati-hati mendekat dari arah hutan. Bayangan-bayangan itu bergerak dengan lincah dan terlatih, seolah-olah mereka terbiasa bergerak dalam kegelapan, dan mereka mendekat dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Savero segera memberi isyarat pada teman-temannya, dan dalam waktu singkat semua orang yang berjaga sudah bersiap dengan senjata di tangan, namun mereka tetap diam dan menunggu, membiarkan orang-orang itu mendekat sampai mereka berada dalam jarak yang cukup dekat untuk berbicara. Saat orang-orang itu berada sekitar dua puluh meter dari tempat berkemah mereka, salah satu dari mereka melangkah maju dan berdiri di tempat yang terkena cahaya api, memperlihatkan dirinya dengan tangan terangkat ke atas sebagai tanda bahwa mereka datang dengan niat damai.

Orang itu adalah seorang laki-laki yang berbadan tegap dan tinggi, dengan rambut panjang yang terikat di belakang dan wajah yang dipenuhi bekas luka kecil, tanda bahwa dia adalah orang yang telah banyak menghadapi bahaya dan tantangan. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit binatang dan kain tebal, yang biasa dipakai oleh orang-orang yang tinggal di pegunungan dan hutan, dan di pinggangnya tergantung sebilah pisau panjang dan busur panah. Dia berdiri diam dan menatap ke arah api unggun dengan pandangan yang tajam namun tak penuh ancaman.

“Kami datang dengan niat damai,” kata laki-laki itu dengan suara yang keras namun tenang, suaranya bergema di antara pepohonan dan membuat suara jangkrik dan binatang malam lainnya terdiam sejenak. “Kami hanya ingin bertanya, siapa kalian dan apa tujuan kalian berjalan melalui hutan ini ke arah utara? Jalan ini jarang dilalui orang, dan kami tak sering melihat rombongan orang berjalan dengan perbekalan dan pengawal seperti kalian.”

Taylor yang sejak tadi berdiri diam di dalam tendanya akhirnya melangkah maju dan berdiri di dekat api unggun, memperlihatkan dirinya dengan pakaian yang sederhana namun tetap terlihat gagah dan berwibawa. “Kami datang dari ibu kota, dan kami berjalan ke wilayah Pegunungan Utara untuk bertemu dengan rakyat kami dan mendengar langsung apa yang ada di dalam hati mereka. Kami datang dengan niat baik dan damai, kami tak membawa senjata untuk berperang, tapi kami membawa senjata untuk melindungi diri sendiri jika ada yang berniat jahat pada kami. Siapakah kalian dan mengapa kalian mengikuti perjalanan kami sejak dua hari yang lalu?”

Laki-laki itu terdiam sejenak, matanya menatap wajah Taylor dengan pandangan yang tajam, seolah-olah dia sedang mencoba membaca kebenaran di dalam mata laki-laki itu. Lalu dia perlahan menurunkan tangannya dan memberi isyarat pada teman-temannya untuk keluar dari persembunyian mereka. Ada sebelas orang lain yang keluar dari antara pepohonan, semuanya berpenampilan sama seperti pemimpin mereka, berbadan tegap dan terlihat terlatih, namun mereka semua juga menurunkan senjata mereka dan menunjukkan bahwa mereka tak datang untuk berperang.

“Kami adalah orang-orang yang tinggal di hutan dan pegunungan ini,” jawab laki-laki itu akhirnya. “Kami menjaga hutan dan jalanan ini, dan kami mengawasi setiap orang yang berjalan melalui wilayah kami. Ketika kami melihat rombongan kalian berjalan ke arah utara, kami tak tahu siapa kalian dan apa niat kalian. Kami mendengar banyak kabar dan cerita dari orang-orang yang datang dari utara, kami mendengar bahwa ada orang yang datang dari ibu kota untuk membawa perintah dan aturan yang tak kami mengerti, dan kami mendengar bahwa ada orang yang datang untuk membawa pertikaian dan masalah. Karena itu kami mengikuti kalian, untuk memastikan apakah kalian datang dengan niat baik ataukah kalian datang untuk membawa masalah dan bahaya bagi kami dan saudara-saudara kami di pegunungan.”

Taylor tersenyum tipis dan melangkah maju selangkah, berusaha untuk terlihat ramah dan terbuka. “Kami mengerti kekhawatiran kalian. Di saat-saat seperti ini, di mana banyak kabar yang beredar dan banyak hal yang tak jelas, wajar saja jika kalian merasa waspada dan tak percaya pada orang yang tak kalian kenal. Tapi aku katakan padamu dengan jujur, kami datang bukan untuk membawa perintah atau kekerasan, kami datang bukan untuk memerintah atau menuntut. Kami datang untuk mendengar, untuk mengerti, dan untuk mencari cara agar kita bisa hidup bersama dalam damai dan persahabatan. Kami mendengar bahwa saudara-saudara kami di pegunungan merasa terasingkan dan tak dipahami, dan kami datang ke sini untuk mencari tahu kebenarannya, untuk melihat apa yang bisa kami lakukan untuk membuat kalian merasa dihargai dan dipahami sebagai bagian dari keluarga besar kerajaan kita.”

Laki-laki itu menatap mata Taylor dalam waktu yang lama, dan di dalam matanya terlihat adanya pertarungan antara keraguan dan kepercayaan. Lalu perlahan tapi pasti, ketegangan di wajahnya mulai menghilang, dan pandangannya menjadi lebih lembut dan terbuka. Dia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, lalu berbicara dengan suara yang lebih lembut dan tulus.

“Jika memang itu niat kalian, maka kami menyambut kedatangan kalian dengan tangan terbuka. Namaku adalah Kael, dan aku adalah pemimpin kelompok pengawal hutan ini. Kami dan saudara-saudara kami di pegunungan telah lama merasa bahwa kami terpisah dari orang-orang di ibu kota. Kami hidup di antara gunung dan hutan, kami memiliki cara hidup dan kebiasaan kami sendiri, dan kami merasa bahwa orang-orang di ibu kota tak pernah mengerti cara hidup kami, tak pernah mengerti kesulitan yang kami hadapi, dan tak pernah memahami apa yang kami butuhkan. Selama ini kami hanya menerima perintah dan aturan dari jauh, dan kami merasa bahwa kami hanya dipandang sebagai orang yang harus membayar pajak dan mengikuti perintah, bukan sebagai saudara yang memiliki hak dan kebutuhan yang sama. Karena itulah banyak di antara kami yang mulai merasa marah dan kecewa, dan banyak di antara kami yang mulai merasa bahwa kami tak lagi menjadi bagian dari kerajaan ini.”

Mendengar kata-kata itu, hati Taylor dan Elizabeth terasa berat namun juga penuh dengan pengertian. Kini mereka mulai mengerti akar dari masalah yang sedang terjadi. Ini bukan masalah orang yang berniat jahat yang menyebarkan kebohongan semata, tapi ini adalah masalah kesalahpahaman yang telah tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun, masalah yang disebabkan oleh jarak dan perbedaan cara hidup, masalah yang membuat orang-orang yang seharusnya bersatu merasa terpisah dan terasingkan.

“Terima kasih telah berbicara dengan jujur pada kami, Kael,” kata Taylor dengan suara yang tulus dan penuh penghargaan. “Kami mengerti perasaan kalian sekarang, dan kami menyadari bahwa kami telah membuat kesalahan selama ini. Kami terlalu sibuk dengan urusan di ibu kota, sampai kami lupa untuk datang ke sini dan mendengar suara kalian secara langsung. Kami telah membuat aturan dan kebijakan tanpa mengerti keadaan dan kebutuhan kalian, dan karena itulah kami telah membuat kalian merasa terasingkan dan tak dihargai. Aku berjanji padamu, kami datang ke sini untuk memperbaiki kesalahan itu. Kami akan berjalan bersama-sama dengan kalian, kami akan bertemu dengan para kepala suku dan rakyat di pegunungan, kami akan mendengar segala keluh kesah dan kebutuhan mereka, dan kami akan mencari cara untuk memperbaiki segala hal yang salah, agar kalian bisa merasa bahwa kalian adalah bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kerajaan ini.”

Wajah Kael mulai bersinar dengan harapan yang baru, dan senyum perlahan terukir di wajah laki-laki itu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu berbicara dengan suara yang penuh semangat dan hormat.

“Jika memang itu janji kalian, maka kami akan menyertai perjalanan kalian. Kami akan menjadi penunjuk jalan dan pengawal kalian, kami akan memperkenalkan kalian pada saudara-saudara kami di pegunungan, dan kami akan membantu kalian untuk mengembalikan kepercayaan dan persahabatan yang telah lama hilang. Karena kami melihat kebenaran di dalam mata kalian, dan kami melihat bahwa kalian datang dengan hati yang tulus dan niat yang baik. Kami percaya pada kalian, dan kami percaya bahwa perjalanan ini akan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi kami semua.”

Malam itu berakhir dengan suasana yang hangat dan damai. Api unggun menyala terang di tengah hutan, dan dua kelompok orang yang tadinya saling waspada dan curiga kini duduk bersama-sama, berbagi makanan dan cerita, dan berbicara dengan suara yang penuh persahabatan dan kepercayaan. Angin malam berhembus di antara pepohonan, membawa serta kabar baik dan harapan baru, seolah-olah alam pun ikut bersukacita karena perpecahan yang telah lama ada kini mulai disatukan kembali.

Namun di saat yang sama, di tempat yang jauh dan tersembunyi, ada orang yang sedang mengamati peristiwa ini dengan mata yang penuh amarah dan kekecewaan. Orang itu adalah salah satu orang yang dikirim oleh sekelompok orang yang berniat jahat, orang yang selama ini sedang berusaha mengacaukan keadaan di wilayah utara untuk melemahkan kekuasaan kerajaan. Dia melihat bagaimana rombongan pemimpin kerajaan berhasil mendapatkan kepercayaan dari para pengawal hutan, dan dia menyadari bahwa rencana mereka mulai terancam gagal. Dia segera berbalik dan berlari masuk ke dalam kegelapan, membawa berita buruk itu pada tuannya, dan memberi tahu mereka bahwa mereka harus bertindak lebih cepat dan lebih berbahaya jika mereka ingin mencegah kedatangan kedamaian dan kebenaran ke wilayah pegunungan.

Perjalanan mereka masih panjang, dan tantangan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Mereka telah berhasil melewati hutan dan kabut, mereka telah berhasil mengubah kecurigaan menjadi kepercayaan, namun di depan mereka masih ada jalan yang terjal dan tantangan yang berat yang menanti di antara puncak-puncak gunung yang tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!