NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Benih Pembalasan

Tiga bulan berlalu sejak kejatuhan Arka Group. Dunia bisnis hampir melupakan nama Rian. Di koran-koran ekonomi, nama yang kini menghiasi halaman depan hanyalah Darmawan Group dan kesuksesan ekspansi besar-besaran mereka.

Serli kini menjabat sebagai Direktur Operasi, wanita paling berkuasa dan dikagumi di lingkaran korporat. Namun, di balik kemewahan itu, ada satu hal yang membuat Sara tidak tenang: keheningan.

Rian menghilang dari peredaran. Tidak ada pernyataan pers, tidak ada gugatan hukum, tidak ada keluhan. Ia seolah lenyap ditelan bumi. Dan bagi Sara yang sangat mengenal sosok itu, keheningan Rian jauh lebih menakutkan daripada amarahnya.

Di sebuah ruko tua berlantai dua di pinggiran kota, jauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit, Rian duduk di depan meja kerja yang penuh dengan cetakan biru dan peralatan teknis. Ruangan itu sempit, berbau debu dan tinta cetak, tapi di sini suasana terasa lebih hidup dan nyata dibandingkan di kantor mewahnya yang dulu. Di sampingnya, Bram dan beberapa insinyur setia yang ikut mengikutinya turun tangan bekerja tanpa kenal waktu.

"Pak Rian," sapa Bram sambil meletakkan secangkir kopi di meja. "Pengujian tahap akhir berhasil. Teknologi pengolahan energi berbasis unsur alami ini efisiensinya dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan apa yang dimiliki Darmawan saat ini, dan biaya produksinya jauh lebih murah. Kalau kita luncurkan ini, pasar akan berbalik arah dalam sekejap."

Rian tersenyum tipis, matanya menatap skema di atas meja—skema yang digabungkan dari ilmu pengetahuan modern dan pemahaman mendalam tentang unsur alam yang ia pelajari dari peninggalan masa lalu.

"Bagus, Bram. Tapi ingat, kita tidak akan meluncurkannya secara terang-terangan. Mereka terlalu kuat, memiliki modal besar dan koneksi luas. Kalau kita bertarung secara langsung, kita akan dihancurkan sebelum sempat bernapas," jawab Rian tenang.

Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela yang kacanya agak kusam. "Kita akan bergerak diam-diam. Kita berikan teknologi ini kepada mitra-mitra kecil yang tersingkir karena dominasi Darmawan. Kita bantu mereka tumbuh. Kita tanam benih-benih kekuatan baru di mana mereka tidak melihatnya. Saat mereka sadar, pondasi kekuasaan mereka sudah keropos dari dalam."

Rian telah berubah. Pria yang dulu begitu terbuka, percaya, dan penuh kehangatan kini berubah menjadi sosok yang dingin, penuh perhitungan, dan sangat berhati-hati. Pengkhianatan Sara telah mengajarkannya bahwa kepercayaan adalah senjata yang paling mudah dibalikkan untuk menusuk diri sendiri.

Sementara itu, di gedung Darmawan Group, Serli sedang menghadapi masalah yang tak terduga. Meskipun perusahaan itu makin besar, keuntungan mereka justru mulai menurun.

Banyak klien lama yang tiba-tiba memutuskan kontrak, bukan karena paksaan, tapi karena mereka menemukan penawaran yang jauh lebih menguntungkan dan berkualitas dari perusahaan-perusahaan kecil yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya.

"Klien dari wilayah utara batal menandatangani kontrak, Bu Serli," lapor sekretarisnya dengan wajah cemas. "Mereka bilang ada pemasok lain yang menawarkan harga setengah dari harga kita, tapi dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik."

Serli mengerutkan kening, rasa was-was mulai merayap di hatinya. Ia membuka berkas-berkas itu satu per satu. Nama-nama perusahaan baru itu asing baginya, tapi pola pergerakannya... sangat familier. Cara mereka bernegosiasi, cara mereka menyusun strategi harga, semuanya mengingatkannya pada seseorang.

"Rian..." bisiknya pelan. "Kau masih ada di sana, bukan? Kau tidak menyerah."

Sore itu, Serli mendapat undangan untuk menghadiri sebuah seminar industri kecil yang diadakan di pusat konvensi kota. Darmawan menolaknya, menganggap acara itu remeh dan tidak penting.

"Buang-buang waktu saja. Kita adalah pemimpin pasar, kita yang mengatur aturan main, bukan mendengarkan celotehan pengusaha kecil," kata Darmawan dengan angkuh.

Namun, Serli memutuskan untuk datang diam-diam. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk memastikan dugaannya. Ia berpakaian sederhana, tanpa lencana perusahaan, masuk ke dalam ruangan seminar yang cukup ramai itu.

Di depan panggung, seorang pemuda sedang mempresentasikan teknologi baru. Saat layar proyektor menampilkan diagram alur kerja sistem itu, napas Serli tertahan. Itu adalah desain yang sama persis dengan yang pernah ia lihat di buku catatan pribadi Rian, halaman-halaman yang sengaja tidak ia salin saat mencuri data dulu karena ia pikir itu hanya coretan tak berguna.

Dan saat pembicara itu mundur ke samping, sosok yang berdiri di sudut panggung, mengenakan kemeja polos dan senyum tenang yang menusuk hati, adalah Rian.

Wajah Rian tampak lebih kurus, ada garis-garis lelah di matanya, tapi sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya. Ia tidak terlihat seperti orang yang kalah, melainkan seperti orang yang sedang bersiap mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

Rian menoleh, dan matanya bertemu langsung dengan mata Serli yang berdiri di ambang pintu.

Tidak ada kejutan di wajah Rian. Ia seolah sudah tahu Serli akan ada di sana. Di antara keramaian ruangan itu, bagi mereka berdua, waktu seakan berhenti berputar. Ingatan akan malam-malam panjang mereka bekerja bersama, tawa mereka, janji-janji yang terucap, semuanya berputar cepat. Namun, yang tersisa kini hanyalah tatapan dingin dan penuh perhitungan dari Rian.

Setelah sesi selesai, Serli mengikuti Rian ke lorong belakang, menjauh dari kerumunan. Suaranya bergetar saat ia memanggil nama itu, nama yang sudah lama ia coba hapus dari bibirnya.

"Rian..."

Pria itu berhenti melangkah, namun tidak segera berbalik. Ia berdiri tegak, tangannya masuk ke dalam saku celana.

"Aku kira kau sudah terlalu sibuk menikmati kemewahan di menara gedungmu untuk turun ke tempat seperti ini, Serli," ucap Rian tanpa menoleh, nadanya datar dan tajam, menusuk lebih sakit daripada teriakan apa pun.

"Kenapa kau tidak memberitahu siapa pun bahwa kau masih berjuang? Kenapa kau diam saja membiarkan kami berpikir kau sudah hancur?" tanya Serli, berusaha menahan emosinya. Ia ingin sekali meminta maaf, menjelaskan segalanya, tapi ia sadar sudah terlambat untuk itu.

Rian perlahan berbalik. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak lagi memancarkan cahaya cinta yang dulu membuat Serli merasa menjadi wanita paling istimewa.

"Untuk apa aku berteriak? Agar kau dan tuan besarmu itu bisa menghancurkan aku untuk kedua kalinya? Kau sudah mengambil semuanya, Serli. Uangku, gedungku, nama baikku... bahkan hatiku pun kau bawa serta." Rian melangkah selangkah mendekat, membuat Serli mundur sedikit karena tekanan aura yang dipancarkannya.

"Tapi ada satu hal yang kau lupa ambil," lanjut Rian, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kekuatan untuk bangkit kembali. Kau pikir ayahku membangun semua itu hanya dengan uang? Tidak. Ia membangunnya dengan kepercayaan, dengan jaringan, dengan pengetahuan yang tidak bisa kau salin hanya dengan mencuri berkas."

Serli menunduk, air mata mulai menggenang. "Aku terpaksa, Rian... Darmawan mengancam nyawa keluargaku. Dia tahu segalanya tentang masa laluku. Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang dia suruh."

Rian tertawa kecil, tawa yang pahit dan menyakitkan.

"Kau punya pilihan, Serli. Kau selalu punya pilihan. Dan kau memilih pengkhianatan. Kau memilih jalan yang paling mudah dan paling menguntungkan bagimu. Jangan cari alasan sekarang, itu hanya akan membuatmu terlihat lebih menyedihkan." Rian menatapnya lekat-lekat. "Kau tahu apa hukuman terbesar untukmu? Bukan aku yang akan menghancurkanmu. Kau yang perlahan akan hancur sendirian. Karena apa yang kau bangun di sana... itu dibangun di atas kebohongan dan darah orang yang pernah mencintaimu lebih dari apa pun. Dan pondasi seperti itu tidak akan bertahan lama."

"Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Serli dengan suara parau, berusaha menggenggam sisa harapan yang masih ada di hatinya.

Rian terdiam sejenak, menatap wajah wanita yang pernah menjadi seluruh dunianya. Kenangan indah beradu dengan rasa sakit yang mendalam.

"Cinta itu seperti kepercayaan, Serli. Sekali kau hancurkan, kau tidak bisa menyusunnya kembali menjadi sama seperti semula. Sekarang... yang tersisa di hatiku hanyalah keinginan untuk menegakkan keadilan atas apa yang telah kau dan tuamu perbuat. Bersiaplah. Karena mulai hari ini, setiap kemenangan yang kau rasa kau dapatkan... akan berubah menjadi debu di tanganmu."

Rian berbalik dan pergi meninggalkan Serli yang terdiam kaku di lorong kosong itu. Langkahnya mantap, meninggalkan masa lalu yang menyakitkan, dan berjalan menuju pertempuran besar yang akan datang.

Serli berdiri sendirian di sana, menyadari satu hal yang menyakitkan: ia telah memenangkan dunia bisnis, mendapatkan kekayaan dan kekuasaan, tapi ia telah kehilangan satu-satunya orang yang tulus mencintai dirinya, dan kini, orang itulah yang menjadi ancaman terbesar bagi segalanya yang ia rebut dengan cara kotor.

Di kejauhan, telepon genggam Serli berdering. Nama Darmawan muncul di layar. Serli mengusap air matanya, menarik napas panjang, dan kembali memasang topeng kekuasaan dan kekerasannya. Ia tahu, perang ini baru saja benar-benar dimulai, dan ia harus memilih sisi dengan tegas—meski hatinya sudah terbelah dua.

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!