NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Misterius

"Apa ini?" tanya Joe seraya meraih lembaran kertas mengilap yang disodorkan oleh Zoe.

Di ruang tengah yang luas itu, denting sendok dan deru halus mesin penyedot debu menjadi latar suara. Karena para pelayan belum ada pengganti nya, Tina, Dika, Siska, dan Maudy tampak sibuk membersihkan sudut-sudut mansion dengan wajah malas dan penuh kebencian.

Namun, aktivitas Tina mendadak terhenti--- jemarinya mencengkeram gagang sapu hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat, mengirimkan tatapan tajam penuh kebencian yang tertuju lurus pada Zoe.

Joe, yang selama ini dibutakan oleh tumpukan berkas pekerjaan, baru menyadari betapa dingin atmosfer di rumahnya sendiri setelah mendengar selentingan pahit tentang bagaimana Zoe diperlakukan selama ia pergi. Penyesalan mulai merayap di hatinya karena telah menyerahkan segalanya pada Tina tanpa pengawasan.

Zoe menyesap tehnya dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh tatapan belati dari ibu tirinya. "Sayembara," jawabnya singkat, suaranya datar namun tegas.

Joe mengernyitkan dahi, membolak-balik brosur di tangannya dengan raut bingung. "Sayembara? Untuk apa, Sayang?"

"Papa sendiri yang bilang kalau sekarang kendali rumah ini ada di tanganku, bukan?" Zoe meletakkan cangkir porselennya dengan dentingan halus yang mematikan. Ia menoleh perlahan, melirik sinis ke arah Tina yang masih mematung. "Aku berniat merekrut bodyguard baru untuk menjaga kediaman ini dan beberapa maid. Aku sendiri yang akan menyeleksi mereka secara ketat. Aku ingin memastikan... tidak akan ada lagi 'tangan panjang' atau penyusup yang berani mencuri apa pun di rumah ini, baik itu harta maupun ketenangan."

Joe mengangguk perlahan, memahami sindiran tajam yang terselip dalam kalimat putrinya. "Lakukan apa pun yang kau mau, Nak. Papa percayakan semuanya padamu sekarang," ucap Joe lembut sembari mengelus rambut Zoe.

Di sudut ruangan, wajah Tina memerah padam, menahan amarah yang meledak-ledak layaknya kepiting rebus---- ia tahu posisi kekuasaannya mulai digerogoti.

"Oh ya, Zoe," sela Joe teringat sesuatu. "Nanti malam kita diundang makan malam di kediaman Henderson. Kamu harus bersiap."

Zoe tertegun sejenak. "Henderson? Maksud Papa... keluarga Evan?"

"Iya. Papa dan Tuan Henderson berencana meresmikan pertunangan kalian secepatnya. Lagi pula, beberapa bulan lagi kalian lulus sekolah, kan? Sudah saatnya ikatan ini dipermanenkan," jelas Joe dengan nada optimis.

Mendengar nama Evander, Zoe terdiam seribu bahasa. Dahulu, kabar ini akan membuatnya melompat kegirangan. Dulu, ia bermimpi membangun istana harmonis bersama pria itu, meski ia sadar betul betapa dingin dan acuhnya sikap Evander selama ini.

Mereka hanya dua orang asing yang dipaksa bersatu karena terikat perjodohan tanpa setitik pun rasa cinta yang berbalas. Zoe menatap kosong ke arah brosur di meja, menyadari bahwa mimpinya yang dulu kini terasa seperti beban yang menyesakkan dada.

Langit di atas Kota Zeland seolah tumpah---- awan-awan hitam bergulung rendah, memuntahkan hujan deras yang membasuh aspal, namun tak mampu melunturkan aroma kematian yang pekat di gang sempit itu.

Di sana, dikelilingi garis polisi yang basah kuyup, tergeletak sesuatu yang dulunya adalah manusia. Tubuhnya menghitam, keriput, dan menyusut drastis hingga menyerupai mumi yang telah kering selama berabad-abad, padahal saksi mata bersumpah pria itu masih bernapas normal lima menit yang lalu.

"Tuan, lihatlah sisa-sisa energi itu. Tekstur jiwanya koyak. Sepertinya ini benar-benar bukan kematian biasa, bahkan untuk standar dunia bawah sekalipun," bisik Papow, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan.

Kebetulan sekali--- Steven dan Papow sedang melintas di daerah itu.

Steven berhenti melangkah. Sosoknya kini jauh berbeda--- rambut perak panjang yang dulu berkilau diterpa angin kuno kini telah dipangkas rapi dengan gaya modern yang tajam. Jubah agungnya telah bertransformasi menjadi setelan mantel hitam slim-fit yang elegan, membuatnya tampak seperti pengusaha muda kelas atas daripada entitas kuno dari masa lalu.

"Iblis memang tidak punya hari untuk beristirahat, Papow. Mereka selalu lapar akan darah manusia," jawab Steven datar, matanya yang sedingin es menatap garis polisi tanpa minat sedikit pun. "Tapi tujuan utamaku menginjakkan kaki di kota busuk ini bukan untuk menjadi detektif amatir bagi manusia-manusia ini. Aku datang untuk menjemput pencuri kecilku. Kali ini, aku akan memastikannya membayar dengan cara yang sangat berbeda. Dia telah menghancurkan pengorbananku, maka aku akan menghancurkan ketenangannya."

Baru saja Steven hendak memutar tumitnya untuk pergi, sebuah suara bariton yang akrab membelah kebisingan hujan. "Steven? Nama itu hampir tidak cocok lagi dengan penampilan barumu."

Papow tersentak, matanya membelalak lebar saat menyadari siapa yang berdiri di balik bayangan tiang lampu. Berbeda dengan asistennya, Steven hanya menoleh perlahan, menatap sosok itu dengan pandangan kosong yang mematikan. Di sana berdiri Yama, sang Asisten Dewa Kematian, dengan aura gelap yang menyelimutinya.

"Aku pikir aku salah lihat dari kejauhan. Ternyata ini benar-benar kau, hei Rubah Tua! Lama tidak bertemu dalam seribu tahun, tapi kau malah langsung membuat kekacauan besar," ujar Yama sambil melangkah maju, senyum tipis menghiasi wajahnya yang pucat. "Kau tahu? Dewa Kematian hampir saja merubuhkan paviliun pribadimu karena murka jika saja aku dan Athena tidak menahan tangannya. Kau benar-benar bermain dengan api."

"Makanya sekarang aku ada di sini, Yama. Agar kekacauan yang kau maksud tidak berkembang menjadi kiamat kecil," jawab Steven acuh tak acuh, merapikan kerah mantelnya yang sedikit basah.

Ekspresi Yama tiba-tiba berubah serius, dia menunjuk ke arah mayat yang menyusut itu dengan dagunya. "Kalau begitu, bicaralah jujur padaku. Apa kau melihat jiwa yang tersesat di sekitar sini sebelum aku datang? Aku mendapatkan laporan tentang kematian yang sangat janggal ini. Manusia malang itu... namanya bahkan tidak ada dalam daftar kematian hari ini, tapi nyawanya terenggut secara paksa dengan cara yang sangat kasar. Dan yang lebih mengerikan, jiwanya tidak ada di sana. Jiwanya hilang sepenuhnya, seolah-olah sesuatu telah menelannya bulat-bulat sebelum aku sempat menjemputnya."

Steven tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah kerumunan manusia yang berlalu-lalang, lalu kembali menatap Yama dengan kilatan misterius di matanya. "Entahlah, mungkin sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan kuno dari sekedar jiwa tersesat telah bangkit dan datang ke tempat ini. Tapi, jika aku melihat dari metode kematiannya, jiwa yang hilang dan nyawa yang dicabut paksa bahkan tubuhnya sampai menyusut. Sepertinya aku bisa menebak siapa dalang di balik semua ini."

"Siapa? Katakan padaku, Steven!" tanya Yama, rasa penasaran sekaligus kecemasan mulai merayap di nada bicaranya.

Steven melangkah maju, mendekatkan wajahnya dan membisikkan satu nama yang sangat spesifik tepat di telinga Yama. Seketika itu juga, mata Yama melotot tajam. Tubuhnya menegang hebat dan bulu kuduknya meremang. Jelas sekali sang Asisten Dewa Kematian itu diliputi ketakutan yang mendalam.

"Dia... bukankah sosok itu sudah kau musnahkan dengan tanganmu sendiri di masa lalu?" tanya Yama dengan suara yang bergetar, berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

Steven menarik diri, sebuah senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya. "Aku memang sudah membunuhnya di masa itu, itu benar. Tapi kau lupa satu hal mendasar, Yama. Yang kubunuh saat itu hanyalah cangkang luarnya, wadah fana yang ia pinjam. Mungkin saat ini, setelah sekian lama bersembunyi di kegelapan, dia telah menemukan wadah baru yang jauh lebih kuat untuk menampung eksistensinya kembali."

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!