NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

POV: WAHYU

Kamis pagi, Wahyu membuka email sambil minum kopi di meja belajarnya.

Di antara notifikasi biasa—update dari platform translation, promo minimarket yang langsung dia abaikan, email dari BEM tentang agenda bulan depan—ada satu email yang membuatnya berhenti.

Pengirim: Sistem Akademik Universitas

Subject: Pengumuman Hasil Ujian Tengah Semester - Hukum Perdata

Wahyu meletakkan cangkir kopinya.

Membuka email itu.

Kepada Wahyu Aditama Setiawan,

Nilai Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Hukum Perdata:

A (95/100)

Nilai Akhir akan diakumulasikan dengan tugas dan UAS.

Sistem Akademik Universitas

Wahyu membaca angka itu dua kali.

Sembilan puluh lima.

Dia menarik napas panjang—bukan napas lega yang dramatis, tapi napas yang perlahan, seperti melepaskan tekanan yang sudah menumpuk selama dua minggu.

Dia mengangkat cangkir kopinya kembali, meminumnya pelan.

Sembilan puluh lima.

Itu bukan angka yang bisa dicapai dengan belajar setengah-setengah. Itu hasil dari malam-malam tidur empat jam, dari buku yang dibaca sampai halaman terakhir, dari konsep yang tidak hanya dihafal tapi benar-benar dipahami.

Dan dari satu malam kuis bersama Riani yang—meskipun dia tidak akan mengakuinya dengan mudah—ternyata benar-benar efektif.

Wahyu membuka WhatsApp, mengetik pesan.

Wahyu: "Nilai Hukum Perdata keluar. 95."

Send. Ke Riani.

Balasan datang dalam tiga puluh detik.

Riani: "WAHYU!!! 95?!?! ITU LUAR BIASA!!! 🎉🎉🎉"

Wahyu menatap emoji pesta itu.

Riani: "Aku bangga banget sama kamu! Itu hasil kerja kerasmu sendiri. Kamu deserve it!!"

Wahyu: "Sesi kuis kita membantu."

Riani: "Itu cuma kamu yang jelasin ulang ke aku dengan kata-kata sendiri. Yang paling bantu itu kamu sudah paham konsepnya dari awal."

Wahyu meletakkan ponsel.

Dia tidak langsung pergi dari meja belajar. Masih duduk, menatap layar laptop yang sekarang menampilkan halaman kosong—translation project baru yang harus dia mulai hari ini.

Dua puluh halaman. Deadline Jumat depan.

Tapi untuk beberapa menit, Wahyu hanya duduk.

Menikmati sebuah kabar baik.

Hal yang jarang dia izinkan dirinya lakukan—biasanya dia langsung lanjut ke hal berikutnya, tidak memberi waktu untuk merasakan keberhasilan kecil karena selalu ada hal yang lebih urgent, lebih penting, lebih perlu diselesaikan.

Tapi hari ini, untuk beberapa menit, dia duduk.

Dan membiarkan 95 itu terasa baik.

Siang harinya, ada satu hal yang tidak Wahyu rencanakan.

Dia sedang di perpustakaan kampus tiga—perpustakaan fakultas hukum yang jauh lebih sepi dari perpustakaan kampus satu—ketika ponselnya berdering. Nomor yang tidak dia kenal.

Wahyu hampir tidak mengangkat. Tapi ada sesuatu yang membuatnya menekan tombol terima.

"Halo?"

"Halo, ini dengan Wahyu Aditama?" Suara pria di ujung telepon terdengar profesional, terukur.

"Iya. Siapa ini?"

"Saya Deni, dari firma hukum Sinar Keadilan. Kami mendapatkan kontak Anda dari platform freelance translator online. Kami butuh penerjemah dokumen hukum yang kompeten dan berpengalaman untuk beberapa project jangka panjang. Apakah Anda tertarik?"

Wahyu diam sebentar.

Firma hukum.

"Bisa dijelaskan lebih lanjut?"

"Tentu. Kami punya klien korporat yang butuh penerjemahan dokumen kontrak dan perjanjian secara rutin—rata-rata lima sampai delapan dokumen per bulan. Honornya kami tawarkan dua ratus ribu per halaman untuk dokumen standar, dan tiga ratus ribu untuk dokumen dengan terminologi teknis tinggi."

Wahyu menghitung cepat di kepalanya. Lima dokumen per bulan, rata-rata sepuluh halaman per dokumen. Lima puluh halaman. Dua ratus ribu per halaman—itu sepuluh juta rupiah per bulan.

Sepuluh juta.

Itu hampir delapan kali lebih besar dari penghasilannya sekarang dari platform freelance.

"Anda masih di sana?" suara Deni bertanya.

"Masih. Saya tertarik. Tapi saya perlu tahu beberapa hal terlebih dahulu."

"Tentu, silakan."

"Pertama, apakah kontrak kerja sama ini bersifat eksklusif? Artinya apakah saya tidak boleh menerima project dari klien lain?"

"Tidak eksklusif. Kami hanya minta komitmen pada deadline yang disepakati."

"Kedua, apakah ada NDA atau kerahasiaan dokumen?"

"Ada. Standar NDA. Kami akan kirimkan untuk direview sebelum Anda menandatangani."

"Ketiga, saya mahasiswa aktif. Ada kemungkinan deadline perlu disesuaikan saat periode ujian."

Jeda singkat. "Itu bisa dikomunikasikan. Kami lebih suka penerjemah yang jujur tentang kapasitasnya daripada yang overpromise."

Wahyu mengangguk sendiri. "Oke. Kirim detail dan draf NDA ke email saya. Saya akan review."

"Baik. Terima kasih, Wahyu. Kami harap bisa bekerja sama."

Sambungan terputus.

Wahyu meletakkan ponsel di meja, menatapnya beberapa detik.

Sepuluh juta per bulan.

Kalau tawaran itu riil—kalau firma itu legitimate dan dokumen-dokumennya sesuai deskripsi—itu akan mengubah kondisi finansialnya secara signifikan. Kost bisa upgrade ke yang lebih layak. Makanan tidak harus selalu mie instan. Bisa mengirim lebih banyak ke keluarga. Bahkan... bisa mulai menabung.

Tapi dia tidak akan terlalu berharap sebelum melihat kontraknya.

Wahyu membuka laptop, kembali ke translation project yang sedang berjalan. Fokus dulu pada yang ada di tangan. Urusan firma hukum itu nanti setelah kontraknya dia baca dengan seksama.

Dia mulai mengetik.

Jumat sore, email dari firma Sinar Keadilan masuk. Tiga lampiran: profil perusahaan, draf NDA, dan contoh dokumen yang akan diterjemahkan.

Wahyu membuka profil perusahaan dulu.

Firma hukum dengan kantor di Jakarta Selatan, berdiri sejak 2009, spesialisasi di hukum korporasi dan kontrak bisnis internasional. Ada daftar klien yang tidak bisa disebutkan secara publik tapi ada catatan "Fortune 500 companies" dan beberapa perusahaan multinasional yang Wahyu kenali namanya.

Legitimate.

Dia membuka draf NDA. Membacanya baris per baris—kebiasaan yang sudah tertanam: jangan pernah tanda tangani dokumen yang belum dibaca sampai habis.

NDA-nya standar. Tidak ada klausul yang mencurigakan. Kewajiban kerahasiaan terbatas pada dokumen yang dia tangani, bukan pengetahuannya secara umum. Ada klausul terminasi yang adil untuk kedua pihak.

Lalu dia membuka contoh dokumen—tiga halaman dari kontrak distributor internasional. Terminologinya teknis tapi dalam kapasitas Wahyu untuk ditangani.

Wahyu duduk kembali di kursinya.

Ini tawaran yang baik. Terlalu baik untuk langsung ditolak.

Tapi dia perlu satu pendapat dari luar penilaiannya sendiri.

Dia membuka WhatsApp. Mengetik pesan—bukan ke Riani, tapi setelah beberapa detik, jemarinya bergerak ke nama Riani juga.

Wahyu: "Kamu ada waktu sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku minta pendapatmu."

Balasan datang dalam satu menit.

Riani: "Ada! Aku lagi di kamar kost. Mau telepon atau chat?"

Wahyu mempertimbangkan.

Wahyu: "Chat saja. Aku dapat tawaran kerja. Firma hukum butuh penerjemah tetap. Honornya jauh lebih besar dari platform sekarang. Tapi aku ragu karena ini komitmen jangka panjang dengan satu klien."

Riani: "Wah, serius? Itu kedengarannya bagus banget! Kenapa ragu?"

Wahyu: "Kalau satu klien ini tidak perform atau tiba-tiba putus kontrak, pendapatanku jadi nol. Platform freelance sekarang lebih stabil karena bisa dari banyak klien."

Riani: "Tapi mereka bilang tidak eksklusif kan? Berarti kamu masih bisa terima project dari platform lain. Jadi ini bukan either/or, tapi keduanya bisa jalan bersamaan."

Wahyu menatap layar. Riani benar—dia sudah berpikir ke arah itu, tapi mendengar orang lain mengkonfirmasi membantu.

Wahyu: "Iya. Tapi waktunya mungkin tidak cukup kalau dua-duanya jalan bersamaan sambil kuliah."

Riani: "Wahyu... kamu sekarang tidur berapa jam semalam?"

Jeda.

Wahyu: "Tergantung."

Riani: "Rata-rata?"

Wahyu: "Empat sampai lima."

Riani: "Itu sudah terlalu sedikit. Kalau pendapatan dari firma itu cukup, kamu tidak perlu terus ambil semua project dari platform lain. Kamu bisa selektif. Ambil yang pas, tolak yang terlalu berat."

Wahyu membaca pesan itu pelan-pelan.

Bisa selektif.

Itu konsep yang terasa asing. Selama ini Wahyu tidak pernah menolak project—setiap tawaran yang masuk hampir selalu dia terima, karena tidak ada jaminan tawaran berikutnya akan datang.

Wahyu: "Aku tidak terbiasa menolak project."

Riani: "Aku tahu. Tapi kalau kamu terus ambil semua, kamu akan collapse sebelum lulus. Dan itu tidak membantu siapa pun—termasuk ayahmu."

Kata-kata itu menghantam dengan tepat.

Termasuk ayahmu.

Wahyu menarik napas.

Wahyu: "Aku akan review kontraknya lebih dalam dulu. Kalau tidak ada klausul yang bermasalah, mungkin aku terima."

Riani: "Itu keputusan yang baik. Oh iya, kamu sudah makan siang?"

Wahyu melirik jam. Pukul empat sore.

Wahyu: "Belum."

Riani: "WAHYU."

Wahyu: "Aku akan makan sekarang."

Riani: "Janji?"

Wahyu hampir tersenyum tanpa sadar.

Wahyu: "Janji."

Sabtu paginya, Wahyu menandatangani NDA dengan firma Sinar Keadilan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada perasaan yang berbeda ketika dia membuka laptop di pagi hari—bukan tekanan yang segera menggencet dada, bukan kalkulasi cemas tentang cukup atau tidak cukup.

Tapi sesuatu yang lebih tenang.

Seperti tanah di bawah kakinya sedikit lebih solid dari kemarin.

Dia membuka laptop, mulai review dokumen pertama dari firma—kontrak distribusi dua belas halaman.

Tangannya mengetik dengan mantap.

Dan pikirannya, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tidak melayang ke sepuluh tempat sekaligus.

Hanya di sini. Hanya sekarang.

Cukup.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!