Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESIGN
"Hah?" Yovi kaget saat membaca surat pengunduran diri Tania dari laporan HRD, memang beberapa hari ini kasak-kusuk terdengar para karyawan banyak yang membicarakan Tania, akibat status Lingga.
Yovi sendiri tak tahu status Lingga bagaimana, bersumber dari anak keuangan katanya. "Panggil Tania ke ruangan saya," pinta Yovi pada sang sekertaris.
Tak lama Tania pun sudah menghadap Yovi dan sudah memprediksi bahwa pengunduran dirinya akan segera diproses. Saat menghadap HRD kemarin, belum ada keputusan final, menunggu keputusan Yovi juga, terlebih alasan Tania tidak masuk akal bagi HRD.
"Kenapa?" tanya Yovi.
"Karena saya sudah tidak nyaman bekerja di sini Pak Yovi," jawab Tania sebijak mungkin.
"Tidak nyaman karena?" tanya Yovi lagi.
"Sebenarnya saya akan resign saat kandungan saya mulai membesar, namun terpaksa saya percepat karena beberapa karyawan sudah membicarakan kehamilan saya."
"Mereka tahu dari mana?"
"Pak Lingga!" jawab Tania tegas. Memang adik sang bos yang memunculkan polemik ini. Gak bisa diam dan abai pada hidup Tania.
Yovi menghela nafas pelan. "Lingga marah karena kamu tidak mengaku siapa laki-laki yang menghamili kamu."
"Buat apa, Pak. Kalau pun saya mengaku, juga percuma. Pak Lingga mau membunuhnya? Atau menghajarnya? Sedangkan dia sudah tak punya hak mencampuri kehidupan saya, dia suami orang."
"Kalian berdua memang keras kepala." Tania diam.
"Rencana kamu setelah resign apa?" tanya Yovi, dia mengenal Tania, kinerjanya juga bagus. Berat juga kalau sampai melepasnya.
"Jualan skincare di rumah saja, Pak. Apalagi beberapa bulan ke depan, perut saya juga akan membuncit, biarlah saya di rumah saja daripada saya mendengar omongan pedas karena hamil di luar nikah!" ucap Tania logis. Yovi mengangguk, menyadari keputusan Tania ada benarnya. Terbiasa hidup mandiri, tahan banting, akan kalah bila menyangkut anak, jiwa keibuan akan keluar secara sendirinya.
"Biaya hidup kamu?" tanya Yovi, kehilangan gaji paten tiap bulan jelas akan berpengaruh pada finansial Tania.
"InsyaAllah cukup, Pak. Saya sudah membuka usaha skincare, dan saya yakin meski saya hamil di luar nikah, rezeki anak pasti ada!" Yovi mengangguk. Sebagai seorang suami, ia sering mendengar ucapan sang istri saat hamil, jangan membuat ibu hamil sedih, apalagi membuatnya overthinking, karena perasaan ibu akan berpengaruh pada janinnya.
Yovi ingin sekali menawarkan Tania untuk cuti saja, tapi karena alasan sudah tak nyaman mau sampai kapan pun akan ada moment mereka membicarakan Tania, apalagi kalau bayinya lahir. Lebih baik menjaga mental Tania saja. Pesangon dari perusahaan semoga bisa mencukupi kebutuhan Tania dan bayinya beberapa bulan ke depan.
"Saya ACC bukan berarti saya tidak memikirkan masa depan kamu, Tan. Kamu juga pernah berharga di kehidupan adik saya. Nanti kalau kamu butuh pekerjaan, hubungi saya!" Yovi pun membubuhkan tanda tangan di surat pengunduran diri Tania. Tania resmi resign di awal bulan nanti, ada waktu kurang lebih 10 hari untuk menyelesaikan tanggungannya sekaligus pencairan pesangon serta berkas pencairan asuransi.
Berita resign Tania terdengar oleh karyawan lain, ada rasa tak tega, tapi omongan julid pasti ada. Siska merasa tak enak hati, dia juga sempat menjauhi Tania akibat status Lingga tersebut.
"Maaf, Tania!" ucap Siska pelan, kursi mereka berdekatan, Tania pasti dengar.
"Sudah gak pa-pa, santai saja. Setelah ini gak ada perempuan murahan kok di kantor ini," jawab Tania enteng. Sejak dulu, ia tak mau dianggap lemah oleh orang lain. Prinsipnya dia hidup tidak mau menyinggung orang lain, bila disinggung lebih baik menjauh dan tak berhubungan baik dengan pihak tersebut.
Tania tetap memegang prinsip itu, pandangan rekan kerjanya antara iba dan kesal pada kemunafikan Tania, tapi Tania berusah profesional. Laporan dan berbagai tugas yang berhubungan dengan rekan lain, ia selesaikan sebelum ia resign. Saat tanda tangan berkas pencairan pesangon pun, manajer keuangan masih bertanya gak mau stay aja? Dan Tania menggeleng. Keputusannya sudah bulat, ia hanya ingin menjaga mentalnya saja.
Kesalahan dia tak sepatutnya dijadikan konsumsi rekan kerja lain, jadi lebih baik Tania yang mundur agar kantor kondusif. Di hari terakhir kerja, Tania menyalami satu per satu teman kantornya sekaligus memberikan nasi box untuk makan siang. Ia minta maaf sempat membuat gaduh akan kehamilannya.
"Saya memang salah, saya minta maaf, tapi saya mohon, suatu saat nanti bila bertemu dengan anak saya, tolong jangan bilang dia anak haram ya, saya yang sepenuhnya salah di sini," ucap Tania berkaca-kaca dengan bibir bergetar.
Tidak ada perempuan yang mau seperti Tania, dan tidak dibenarkan juga kesalahan yang dilakukan oleh Tania dan pasangannya itu, cuma sebagai manusia pasti ada rasa sesal dan lekas bertaubat saja.
Tania keluar kantor sebelum jam 3, Siska menangis sesenggukan, ingin memeluk Tania, tapi dia tidak mau mendekat pada Siska sama sekali. Bonus pesangon pun langsung cair ke rekening Tania.
Yovi melihat Tania menunggu taksi online di halaman kantor, ia memotret dan mengirim pada sang adik.
Hebat ya kamu, sudah berhasil membuat Tania menyerah di kantor ini. Kamu pengecut sih kalau Abang bilang.
Lingga sedang meeting, dia tidak membuka ponselnya. Baru buka saat pulang kantor dan mendadak tubuhnya langsung lemas.
"Pasti kekasihmu berani menanggung hidupmu dan bayi itu," pikiran buruk Lingga pada Tania masih mendominasi, mengalihkan sakit hati dengan berpikiran buruk pada wanita itu.
Sedangkan Tania, pulang kantor hanya bisa menangis di balik pintu. Ia melepas id cardnya, memandangi lama, bahwa kerja kerasnya selama ini harus berakhir. Tiba-tiba saja ada rasa khawatir kalau jualannya tak laku, bagaimana dengan kondisi anaknya nanti.
"Sungguh, mama tak mau kamu hidup sengsara, Nak!" keluh Tania dengan tangis sesenggukan.
Ia pun mulai bangkit, karena lapar. Segera membuat omelet dan juga memotong beberapa buah, meski tak selera, ia tetap makan karena tahu ada nyawa yang butuh nutrisi.
Maaf.
Sebuah pesan dari Lingga datang saat Tania asyik makan semangka. Tangannya berhenti sejenak, matanya spontan berair. Ah gara-gara lelaki ini, rencananya berantakan.
"Kamu tahu gak, hidupku sekarang sudah tidak ada pemasukan pasti. Dan kamu tahu gak aku takut kalau aku membuat bayi ini kekurangan, kenapa sih, kamu setega ini sama aku, Ngga. Padahal keputusanku menjauh demi kebahagiaanmu juga agar tidak menjadi miskin," dada Tania sesak sekali, kembali menangis sedangkan perutnya masih lapar. Bisa dibanyangkan betapa rapuhnya Tania malam ini.
Tak perlu berpikir panjang, Tania kembali memblokir nomor Lingga. Ia mengusap air matanya, berusaha segera bangkit lagi. "Aku gak boleh cengeng, yang penting aku punya tempat tinggal, sehingga anakku nanti tidak kedinginan. Bukankah aku sudah terbiasa hidup sendiri ya," ucap Tania membesarkan hatinya.
GO go Tania semangat