Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Harus Diterima
Mobil berhenti perlahan di halaman rumah yang megah itu. Mesin dimatikan, namun Fatan masih duduk diam beberapa detik, tangannya bertahan di setir, napasnya terasa lebih berat dari biasanya.
Perjalanan tadi… terlalu panjang.
Bukan karena jarak.
Tapi karena pikirannya sendiri.
Ia melihat bagaimana Viktor dan Kanaya berbincang santai di dalam mobil, sesekali terdengar tawa kecil yang samar sampai ke kursi depan. Tidak jelas, tidak utuh… tapi cukup untuk membuat hatinya terasa sesak.
“Aku hanya mengantar…” bisiknya dalam hati.
Namun begitu mobil benar-benar berhenti dan pintu dibuka
dunia seolah kembali menghantamnya.
Di depan pintu rumah, seorang wanita paruh baya berdiri dengan senyum hangat.
Ibu Kanaya.
Dan di tangannya
sebuah stroller.
Di dalamnya… seorang bayi kecil.
Fatan membeku.
Langkahnya terhenti begitu saja.
Ia tidak mendengar apa-apa lagi selama beberapa detik.
Hanya melihat.
Bayi itu tampak tenang, matanya besar, pipinya bulat. Terbungkus rapi dalam selimut lembut berwarna pink warna yang sama seperti barang-barang yang tadi mereka beli.
Kanaya langsung mendekat.
“Sayang…” ucapnya lembut.
Nada suara itu…
berbeda.
Sangat berbeda dari yang pernah Fatan dengar dulu.
Kanaya membungkuk sedikit, menyentuh pipi bayi itu dengan penuh perhatian.
“Kamu sudah bangun?” lanjutnya pelan.
Bayi itu menggerakkan tangan kecilnya, seolah merespon.
Viktor berdiri di sampingnya, tersenyum.
“Sepertinya dia menunggu kamu,” katanya.
Kanaya tersenyum tipis.
Dan senyum itu
terasa hangat.
Nyata.
Tanpa beban.
Fatan berdiri di belakang.
Matanya tidak bisa berpaling.
Dadanya terasa sesak.
“Jadi… benar…” gumamnya dalam hati.
Semua yang ia lihat di toko tadi
semua yang ia pikirkan
semuanya seperti terjawab sekarang.
Bayi itu.
Kehangatan itu.
Kebersamaan itu.
“Ini keluarga mereka…” pikirnya.
Langkahnya terasa berat.
Ia ingin bergerak, tapi kakinya seperti tertahan.
Seolah tubuhnya menolak untuk menerima apa yang sedang ia lihat.
Lamunannya begitu dalam
sampai suara seseorang membuyarkannya.
“Fatan?”
Ia tersentak.
Mengangkat wajah.
Ibu Kanaya menatapnya dengan lembut.
“Iya, Bu…” jawabnya cepat, sedikit gugup.
“Masuk dulu,” kata wanita itu. “Kita makan bersama.”
Fatan terdiam.
Pandangan itu terlalu hangat.
Terlalu tulus.
Dan justru itu… membuatnya semakin tidak nyaman.
Ia menunduk sedikit.
“Tidak, Bu…” jawabnya sopan. “Saya langsung pulang saja.”
Ibu Kanaya mengernyit halus.
“Kenapa?” tanyanya. “Kamu pasti lelah. Dari tadi seharian bekerja.”
Fatan menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Bu,” katanya. “Saya hanya mengantar mobil.”
Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan,
“Ibu saya… sudah menunggu di kontrakan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk menjelaskan.
Ibu Kanaya terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Baiklah kalau begitu,” katanya.
Fatan mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
Wanita itu menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada lembut,
“Fatan… sampaikan salam untuk ibumu, ya.”
Fatan sedikit terkejut.
“Iya, Bu.”
“Saya berharap… suatu saat nanti saya bisa dipertemukan lagi dengan ibumu,” lanjutnya.
Kalimat itu membuat dada Fatan terasa hangat sekaligus perih.
Ia menunduk lebih dalam.
“Iya, Bu,” jawabnya lirih.
Sunyi sejenak.
Di belakang, suara kecil bayi terdengar pelan.
Kanaya dan Viktor masih di sana.
Bercengkrama.
Tertawa kecil.
Dan Fatan… tidak berani menoleh.
Ia takut.
Takut jika ia melihat lebih lama
ia tidak akan mampu menahan apa yang ada di dalam dirinya.
“Kalau begitu… saya pamit, Bu,” katanya.
Ibu Kanaya mengangguk.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, Bu.”
Fatan berbalik.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam.
Hari ini…
terlalu banyak.
Terlalu berat.
Ia menutup mata sejenak.
Mencoba mengatur napas.
Mencoba menerima.
“Aku memang tidak punya tempat di sana lagi…” bisiknya dalam hati.
Sekilas.
Dan yang ia lihat
cukup untuk membuatnya kembali diam.
Kanaya dan Viktor
Masih di sana.
Di samping bayi itu.
Dengan senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bahagia.
Tulus.
Tanpa luka.
Fatan mengalihkan pandangan cepat.
Dadanya terasa semakin sesak.
“Ternyata… dia benar-benar sudah melanjutkan hidupnya,” gumamnya.
Ia menarik napas panjang.
“Dan aku…” ia tertawa kecil, hambar, “aku masih di sini.”
Sesaat motor berhenti di depan gerbang tepatnya ojek pesanan Fatan karena rumah Kanaya dan kontrakan Fatan cukup jauh jika harus di lalui dengan jalan kaki,
Dengan menaiki ojeg Fatan perlahan
Meninggalkan rumah itu.
Meninggalkan pemandangan itu.
Namun tidak dengan pikirannya.
Sepanjang perjalanan pulang, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya
“Bagaimana aku akan menghadapi ini setiap hari?”
Ia mengepalkan tangannya
“Ini baru hari pertama…”
Kalimat itu terasa berat.
Sangat berat.
Ia menggeleng pelan.
“Kalau aku tidak kuat bagaimana” bisiknya, “tapi aku harus belajar untuk kuat.”
Tidak ada pilihan lain.
Ia tidak bisa lari.
Tidak bisa menghindar.
Ini pekerjaannya.
Ini tanggung jawabnya.
Dan ini… konsekuensi dari masa lalunya.
Fatan menatap lurus ke jalan.
Lampu-lampu kota mulai menyala, menerangi jalannya yang panjang.
Sunyi.
Sepi.
Namun untuk pertama kalinya
ia tidak ingin menyerah.
Meski sakit itu masih ada.
Meski luka itu belum sepenuhnya sembuh.
Ia tahu satu hal
ia harus tetap berjalan.
Karena berhenti…
bukan lagi pilihan.
Dan di tengah perjalanan malam itu, Fatan akhirnya menerima satu kenyataan yang paling sulit
bahwa kebahagiaan orang lain…
tidak selalu bisa ia miliki kembali.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?