NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Yang Harus Diterima

Mobil berhenti perlahan di halaman rumah yang megah itu. Mesin dimatikan, namun Fatan masih duduk diam beberapa detik, tangannya bertahan di setir, napasnya terasa lebih berat dari biasanya.

Perjalanan tadi… terlalu panjang.

Bukan karena jarak.

Tapi karena pikirannya sendiri.

Ia melihat bagaimana Viktor dan Kanaya berbincang santai di dalam mobil, sesekali terdengar tawa kecil yang samar sampai ke kursi depan. Tidak jelas, tidak utuh… tapi cukup untuk membuat hatinya terasa sesak.

“Aku hanya mengantar…” bisiknya dalam hati.

Namun begitu mobil benar-benar berhenti dan pintu dibuka

dunia seolah kembali menghantamnya.

Di depan pintu rumah, seorang wanita paruh baya berdiri dengan senyum hangat.

Ibu Kanaya.

Dan di tangannya

sebuah stroller.

Di dalamnya… seorang bayi kecil.

Fatan membeku.

Langkahnya terhenti begitu saja.

Ia tidak mendengar apa-apa lagi selama beberapa detik.

Hanya melihat.

Bayi itu tampak tenang, matanya besar, pipinya bulat. Terbungkus rapi dalam selimut lembut berwarna pink warna yang sama seperti barang-barang yang tadi mereka beli.

Kanaya langsung mendekat.

“Sayang…” ucapnya lembut.

Nada suara itu…

berbeda.

Sangat berbeda dari yang pernah Fatan dengar dulu.

Kanaya membungkuk sedikit, menyentuh pipi bayi itu dengan penuh perhatian.

“Kamu sudah bangun?” lanjutnya pelan.

Bayi itu menggerakkan tangan kecilnya, seolah merespon.

Viktor berdiri di sampingnya, tersenyum.

“Sepertinya dia menunggu kamu,” katanya.

Kanaya tersenyum tipis.

Dan senyum itu

terasa hangat.

Nyata.

Tanpa beban.

Fatan berdiri di belakang.

Matanya tidak bisa berpaling.

Dadanya terasa sesak.

“Jadi… benar…” gumamnya dalam hati.

Semua yang ia lihat di toko tadi

semua yang ia pikirkan

semuanya seperti terjawab sekarang.

Bayi itu.

Kehangatan itu.

Kebersamaan itu.

“Ini keluarga mereka…” pikirnya.

Langkahnya terasa berat.

Ia ingin bergerak, tapi kakinya seperti tertahan.

Seolah tubuhnya menolak untuk menerima apa yang sedang ia lihat.

Lamunannya begitu dalam

sampai suara seseorang membuyarkannya.

“Fatan?”

Ia tersentak.

Mengangkat wajah.

Ibu Kanaya menatapnya dengan lembut.

“Iya, Bu…” jawabnya cepat, sedikit gugup.

“Masuk dulu,” kata wanita itu. “Kita makan bersama.”

Fatan terdiam.

Pandangan itu terlalu hangat.

Terlalu tulus.

Dan justru itu… membuatnya semakin tidak nyaman.

Ia menunduk sedikit.

“Tidak, Bu…” jawabnya sopan. “Saya langsung pulang saja.”

Ibu Kanaya mengernyit halus.

“Kenapa?” tanyanya. “Kamu pasti lelah. Dari tadi seharian bekerja.”

Fatan menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, Bu,” katanya. “Saya hanya mengantar mobil.”

Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan,

“Ibu saya… sudah menunggu di kontrakan.”

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup untuk menjelaskan.

Ibu Kanaya terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Baiklah kalau begitu,” katanya.

Fatan mengangguk.

“Terima kasih, Bu.”

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada lembut,

“Fatan… sampaikan salam untuk ibumu, ya.”

Fatan sedikit terkejut.

“Iya, Bu.”

“Saya berharap… suatu saat nanti saya bisa dipertemukan lagi dengan ibumu,” lanjutnya.

Kalimat itu membuat dada Fatan terasa hangat sekaligus perih.

Ia menunduk lebih dalam.

“Iya, Bu,” jawabnya lirih.

Sunyi sejenak.

Di belakang, suara kecil bayi terdengar pelan.

Kanaya dan Viktor masih di sana.

Bercengkrama.

Tertawa kecil.

Dan Fatan… tidak berani menoleh.

Ia takut.

Takut jika ia melihat lebih lama

ia tidak akan mampu menahan apa yang ada di dalam dirinya.

“Kalau begitu… saya pamit, Bu,” katanya.

Ibu Kanaya mengangguk.

“Hati-hati di jalan.”

“Iya, Bu.”

Fatan berbalik.

Langkahnya pelan, tapi pasti.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam.

Hari ini…

terlalu banyak.

Terlalu berat.

Ia menutup mata sejenak.

Mencoba mengatur napas.

Mencoba menerima.

“Aku memang tidak punya tempat di sana lagi…” bisiknya dalam hati.

Sekilas.

Dan yang ia lihat

cukup untuk membuatnya kembali diam.

Kanaya dan Viktor

Masih di sana.

Di samping bayi itu.

Dengan senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Bahagia.

Tulus.

Tanpa luka.

Fatan mengalihkan pandangan cepat.

Dadanya terasa semakin sesak.

“Ternyata… dia benar-benar sudah melanjutkan hidupnya,” gumamnya.

Ia menarik napas panjang.

“Dan aku…” ia tertawa kecil, hambar, “aku masih di sini.”

Sesaat motor berhenti di depan gerbang tepatnya ojek pesanan Fatan karena rumah Kanaya dan kontrakan Fatan cukup jauh jika harus di lalui dengan jalan kaki,

Dengan menaiki ojeg Fatan perlahan

Meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan pemandangan itu.

Namun tidak dengan pikirannya.

Sepanjang perjalanan pulang, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya

“Bagaimana aku akan menghadapi ini setiap hari?”

Ia mengepalkan tangannya

“Ini baru hari pertama…”

Kalimat itu terasa berat.

Sangat berat.

Ia menggeleng pelan.

“Kalau aku tidak kuat bagaimana” bisiknya, “tapi aku harus belajar untuk kuat.”

Tidak ada pilihan lain.

Ia tidak bisa lari.

Tidak bisa menghindar.

Ini pekerjaannya.

Ini tanggung jawabnya.

Dan ini… konsekuensi dari masa lalunya.

Fatan menatap lurus ke jalan.

Lampu-lampu kota mulai menyala, menerangi jalannya yang panjang.

Sunyi.

Sepi.

Namun untuk pertama kalinya

ia tidak ingin menyerah.

Meski sakit itu masih ada.

Meski luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Ia tahu satu hal

ia harus tetap berjalan.

Karena berhenti…

bukan lagi pilihan.

Dan di tengah perjalanan malam itu, Fatan akhirnya menerima satu kenyataan yang paling sulit

bahwa kebahagiaan orang lain…

tidak selalu bisa ia miliki kembali.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!