NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: TATAPAN BAGAI DURI MAWAR

​Seminggu setelah malam perjamuan itu, kehidupan Rhea tidak lagi sama. Bayangan tatapan elang Adrian dan aroma parfum maskulinnya seolah tertinggal di lipatan ingatannya. Namun, realita sebagai mahasiswi kedokteran segera menariknya kembali ke bumi—setidaknya sampai sebuah mobil sedan hitam mewah dengan pelat nomor khusus berhenti tepat di depan gerbang kampus.

​"Nona Rhea Candrakirana?" Seorang pria tegap dengan setelan safari—Ajudan Yusuf—turun dan membukakan pintu. "Tuan Muda Adrian meminta Anda untuk bergabung dalam makan siang."

​Rhea menelan ludah. "Makan siang? Saya ada kelas anatomi satu jam lagi."

​"Tuan Muda tidak terbiasa menerima penolakan, Nona. Dan Tuan Muda Zavier juga sudah menunggu di dalam," tambah Yusuf dengan senyum tipis yang berusaha menenangkan.

​Restoran itu telah dikosongkan. Hanya ada satu meja di tengah ruangan dengan pemandangan kota dari ketinggian lantai 50. Ian duduk di sana, menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas, sementara Vier melambai heboh saat melihat Rhea datang.

​"Rhea! Akhirnya kamu datang. Kakakku ini hampir saja menyuruh Yusuf menjemputmu dengan helikopter jika kamu telat lima menit lagi," seloroh Vier berusaha mencairkan suasana.

​Ian menutup berkasnya. Ia menatap Rhea dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hari ini Rhea hanya memakai kardigan rajut dan jins, sangat kontras dengan Ian yang selalu tampak seperti siap menghadiri sidang kabinet.

​"Duduklah," perintah Ian. Suaranya yang soft-spoken namun berat itu selalu berhasil membuat Rhea patuh tanpa bantahan. "Vier bilang kamu kesulitan dengan biaya praktikum semester ini."

​Rhea tersedak air putih yang baru saja diminumnya. Ia menatap Vier dengan tatapan 'kenapa-kamu-memberitahunya', namun Vier hanya mengedikkan bahu.

​"Saya bisa mengatasinya sendiri, Tuan Muda," jawab Rhea tegas.

​"Jangan panggil aku begitu. Panggil Ian jika kita sedang bertiga," sela Ian. Ia menyandarkan punggungnya, matanya yang lelah karena insomnia menatap Rhea intens. "Aku tidak suka berbelit-belit. Aku butuh seseorang yang berada di luar lingkaran politik untuk menjadi 'mata' dan 'telingaku'. Sebagai imbalannya, pendidikanmu dan karier ayahmu akan terjamin."

​"Anda sedang mencoba menyuap saya?" tanya Rhea, keberaniannya mulai muncul.

​Ian terkekeh kecil—suara yang jarang sekali terdengar. "Bukan suap. Sebut saja investasi. Karena sebentar lagi, istana akan menjadi sangat bising, Rhea. Dan aku butuh tempat untuk pulang yang tidak berbau pengkhianatan."

​Tiga bulan berlalu dengan cepat. Hubungan rahasia mereka—yang lebih mirip persahabatan aneh antara singa dan kelinci—berjalan di bawah radar. Hingga suatu sore, Ian dipanggil ke ruang kerja Cansu di kediaman utama.

​Ruangan itu beraroma bunga mawar yang kuat, namun udaranya terasa mencekik. Cansu berdiri di balik meja kerjanya yang megah, menatap foto-foto Ian yang tertangkap kamera sedang makan di pinggir jalan bersama Rhea.

​"Apa ini, Adrian?" tanya Cansu dingin. "Gadis jelata ini? Kamu ingin mempermalukan ayahmu dengan mengencani anak seorang dokter biasa?"

​"Setidaknya dia tidak menikahi ayah dari pria yang pernah dicintainya, Ibu Negara," balas Ian dengan nada menusuk.

​PLAK!

​Suara tamparan itu menggema di ruangan yang kedap suara. Napas Cansu memburu, wajah cantiknya yang biasanya tenang kini nampak retak oleh amarah. "Jangan pernah lancang! Aku melakukan ini semua demi posisi keluarga ini, jauhi gadis itu!"

Ian tertawa rendah dengan masih memegangi pipinya yang terasa panas ​"Kenapa? anda takut dia akan menggeser posisi anda dalam hati ku? Oh maaf, aku lupa jika anda sudah tidak punya hati sejak memilih tidur di samping ayahku! "

"IAN!! ", Membentak tegas lalu melemparkan buku novel tebal ke arah punggung ian dan mengenai punggung ian saat ian berbalik.

Dukkk

​Ian berbalik dan keluar dengan langkah tegap, meski matanya mulai memerah dan rahangnya mengeras menahan badai emosi. Ia masuk ke mobilnya, menginjak pedal gas dalam-malam menuju sebuah nightclub eksklusif. Di sana, ia menenggak botol demi botol alkohol, mencoba membunuh bayangan Cansu saat masa pacaran dulu, dan bayangan Cansu yang sekarang menjadi duri di dalam dagingnya.

​Pukul 12 malam. Rhea dan Vier tiba di sebuah hotel elit setelah menjemput Ian yang sudah tidak sadarkan diri dari klub. Yusuf membantu memapah tubuh kekar Ian masuk ke dalam presidential suite.

​"Dia tidak bisa pulang ke rumah pribadi," bisik Yusuf cemas. "Mbok Yem akan panik melihatnya seperti ini. Dan jika Presiden tahu, ini akan jadi skandal."

​Vier segera menelepon dokter pribadi keluarga yang paling tepercaya. "Dok, tolong ke Hotel Grand Astoria sekarang. Rahasia."

​Setelah dokter selesai memeriksa dan memberikan infus vitamin untuk menetralkan alkohol, Vier memutuskan untuk mengantar dokter tersebut pulang guna memastikan tidak ada informasi yang bocor. Di dalam kamar, kini hanya tersisa Rhea yang duduk di tepi ranjang, mengganti kompres di dahi Ian, dan Yusuf yang berjaga di ruang tamu sambil meminum kopi pahit.

​Tiba-tiba, ponsel Yusuf bergetar hebat. Sebuah pesan dari Vier muncul:

​“Yusuf! Ibu! Dia menuju hotel sekarang dengan ajudan wanita. Atur rencana kalian!”

​Wajah Yusuf memucat. Ia berlari masuk ke kamar Ian. "Nona Rhea! Cepat berdiri! Nyonya besar mau ke sini!"

​"Apa?!" Rhea melompat kaget. "Bagaimana bisa?"

​"Cepat sembunyi di balik tirai atau di kamar mandi! Cepat!"

​Suara bel pintu berbunyi dengan nada yang menuntut. Yusuf merapikan pakaiannya, menarik napas panjang, dan membuka pintu.

​"Selamat malam, Nyonya Besar. Ada gerangan apa Anda malam-malam—"

​"Minggir!" Cansu mendorong pintu dengan kasar. Di belakangnya, empat ajudan wanita berdiri seperti tembok beton.

​Cansu melangkah masuk, aroma mawar mahalnya memenuhi ruangan yang tadinya berbau alkohol. Yusuf berjalan dibelakang asisten maya dengan mulut berkomat kamit karena ketakutan.Cansu langsung menuju kamar utama tanpa mengetuk pintu. Di sana, ia terhenti. Ian sudah berdiri di samping ranjang, bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh kekarnya yang penuh keringat dingin.

​"Haruskah setidak sopan itu Anda pada saya, Bu?" tanya Ian dengan suara serak yang seksi namun mematikan.

Sementara Itu Yusuf bernafas lega karena Rhea sudah bersembunyi.

​Cansu tertegun sejenak melihat kondisi anak tirinya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada botol minuman, tidak ada obat-obatan. Namun, matanya yang jeli menangkap sesuatu di rak dekat pintu masuk: sepasang sepatu flats wanita.Jantung yusuf kembali mendapatkan jumpscare sampai ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata.

​Cansu kembali masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat, menyibak tirai, dan menemukan Rhea yang sedang memegang kemeja putih Ian dengan wajah pucat pasi.

​Suasana seketika membeku. Detak jantung Rhea terasa seperti genderang perang yang siap meledak. Cansu menatap Rhea dengan tatapan yang bisa membunuh, lalu beralih pada Ian.

​"Berpakaian yang rapi dan temui aku di kediaman utama besok pagi. Katakan itu padanya," ucap Cansu pada Yusuf tanpa melepaskan pandangan dari Rhea.

​Setelah Cansu pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam, Ian terduduk di tepi ranjang karena masih sempoyongan, nafasnya tersengal-sengal efek alkohol. Ia menatap Rhea yang masih gemetar.

​"Bagaimana ini?? ", Rengek Rhea

Saat keluar dari kamar Cansu berpapasan dengan Vier yang ngos-ngosan karena baru datang.

"Ibu!! ", Sapa Vier dengan senyum polos seakan-akan tidak terjadi apa apa

Cansu berhenti melangkah dan mengamati kondisi Putra tirinya yaitu vier yang sudah amburadul acak acakan. Dalam hitungan 10 detik cansu langsung menatap lurus kembali dan pergi meninggalkan hotel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!