NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Belas

Hana tidak benar-benar ingat bagaimana ia bisa kembali ke hotel tempatnya menginap.

Yang ia ingat hanya langkah kakinya yang terasa ringan tapi juga kosong, seperti berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, hanya mengikuti insting untuk menjauh. Menjauh dari kamar itu. Dari pria itu. Dari dirinya sendiri. Lift hotel terasa sunyi.

Pantulan dirinya di dinding cermin membuatnya ingin berpaling. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan matanya sembab. Entah sejak kapan air mata itu jatuh, ia bahkan tidak sadar. Pintu lift terbuka.

Hana melangkah keluar dengan langkah cepat, hampir tergesa. Ia berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Setiap langkah terasa berat sekarang. Bukan lagi karena fisik, tapi karena sesuatu yang menekan di dalam dadanya.

Tangannya gemetar saat memasukkan kartu kunci. Pintu terbuka.

Begitu masuk, Hana langsung menutup pintu di belakangnya dan bersandar di sana. Napasnya naik turun tidak teratur. Seolah baru saja berlari jauh, padahal ia hanya berjalan. Beberapa detik ia diam.

Lalu tanpa berkata apa pun, ia mendorong tubuhnya menjauh dari pintu dan berjalan lurus menuju kamar mandi.

Ia tidak melepas sepatu dengan benar. Tidak merapikan tas. Tidak melakukan apa pun selain satu hal, ingin membersihkan dirinya.

Kran shower diputar. Air langsung mengalir deras, menghantam lantai dengan suara yang memecah sunyi.

Hana berdiri di sana beberapa detik, menatap air itu, sebelum akhirnya melangkah masuk ke bawahnya. Dingin. Air itu dingin, tapi ia tidak peduli.

Ia membiarkan air membasahi rambutnya, wajahnya, seluruh tubuhnya. Gaun yang masih melekat di tubuhnya ikut basah, menempel, terasa berat. Namun Hana tetap diam. Tidak bergerak.

Seolah ia ingin semua itu hilang. Terhapus. Larut bersama air yang terus mengalir.

Tangannya perlahan terangkat, menyentuh wajahnya sendiri. Dan saat itulah, air mata itu jatuh. Awalnya pelan. Lalu semakin deras.

Nafasnya mulai tersengal. Bahunya bergetar. Suara tangisnya pecah, tertelan oleh suara air yang jatuh tanpa henti.

“Kenapa …?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Ia meremas rambutnya sendiri, menunduk. Air bercampur dengan air mata. Semuanya terasa sama basah, dingin, menyakitkan.

“Apa yang sudah aku lakukan .…”

Bayangan semalam kembali muncul, seperti potongan-potongan yang dipaksakan masuk ke dalam kepalanya.

Lampu bar yang redup. Musik yang terlalu keras. Gelas minuman yang tak berhenti diisi. Tawa yang terasa asing. Dan kemudian pria itu.

Tangan yang menahannya saat hampir jatuh. Suara yang samar. Tatapan yang tidak ia mengerti.

Hana menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak ingat semuanya. Itu yang paling menyakitkan. Ia tidak ingat kapan batas itu terlewati. Tidak ingat kapan ia kehilangan kendali.

Yang ia tahu saat ia membuka mata, semuanya sudah terjadi. Tangisnya semakin keras.

Ia menggosok lengannya sendiri, berkali-kali, seolah ingin menghapus sesuatu yang tidak terlihat.

“Kotor …,” bisiknya.

Kata itu keluar begitu saja. Tanpa pikir panjang. Tapi terasa begitu dalam menghantam dirinya sendiri.

Hana terduduk di lantai kamar mandi, masih di bawah guyuran air. Lututnya ditarik mendekat ke dada. Tangannya memeluk dirinya sendiri.

Sudah berapa lama ia di sana, ia tidak tahu. Waktu terasa berhenti. Yang ada hanya suara air dan tangis yang perlahan berubah menjadi isakan pelan.

Tiga puluh menit kemudian, air sudah dimatikan. Kamar mandi kembali sunyi.

Hana berdiri di depan cermin. Rambutnya basah, menempel di pipi. Matanya merah. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.

Ia menatap dirinya sendiri cukup lama. Lalu menghela napas panjang dan pelan. Seolah mencoba mengumpulkan sisa kekuatan yang masih ia punya.

Ia mengambil handuk, mengeringkan tubuhnya, lalu berganti pakaian dengan gerakan lambat. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak santai. Setiap gerakan terasa seperti kewajiban. Bukan keinginan.

Setelah itu, Hana berjalan keluar dari kamar mandi. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara.

Ia menuju sofa di dekat jendela. Duduk di sana. Menarik lututnya sedikit, lalu memeluknya.

Pandangan matanya kosong, menatap ke luar jendela. Langit sudah terang.

Orang-orang di bawah terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Kendaraan berlalu lalang. Dunia berjalan seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah tidak ada yang berubah.

Tapi bagi Hana semuanya terasa berbeda. Ia menutup matanya sebentar. Mencoba mengingat lagi. Mencoba menyusun ulang semuanya.

“Ya Tuhan …,” bisiknya pelan.

Tangannya mencengkeram kain bajunya sendiri. “Kenapa aku bisa terjebak begini …?”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Tapi cukup untuk menggambarkan betapa hancurnya ia saat ini.

Ada banyak pertanyaan di kepalanya. Kenapa ia minum sebanyak itu? Kenapa ia tidak pulang lebih cepat? Kenapa ia membiarkan dirinya sampai kehilangan kesadaran?

Dan yang paling menyakitkan, kenapa ia tidak bisa mengingat dengan jelas?

Hana membuka matanya lagi. Air mata kembali menggenang, tapi kali ini tidak jatuh.

Ia hanya diam. Menatap kosong. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kehilangan arah.

Di tempat lain.

Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Farhan berdiri di ruang tengah, menatap pintu depan yang masih tertutup rapat.

Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh pagi. Namun Hana belum juga pulang.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan. Mungkin Hana hanya butuh waktu sendiri. Mungkin ia sedang menenangkan diri. Lagipula, pertengkaran mereka semalam bukan hal kecil. Kata-kata yang keluar terlalu tajam.

Terlalu dalam. Dan Farhan tahu, Hana bukan tipe yang mudah melupakan. Tapi semakin waktu berjalan, ada sesuatu yang mulai terasa tidak beres.

Farhan berjalan mondar-mandir. Sesekali ia melirik ponselnya. Tidak ada pesan dan panggilan.

Ia sudah mencoba menghubungi Hana beberapa kali sejak pagi. Tapi hasilnya sama—tidak diangkat.

Farhan mengusap wajahnya kasar. “Ke mana sih kamu, Hana …,” gumamnya pelan.

Nada suaranya tidak lagi kesal. Lebih ke arah gelisah.

Ia mencoba duduk. Lalu berdiri lagi. Duduk lagi. Tidak bisa diam.

Pikirannya mulai ke mana-mana. Apakah Hana benar-benar pergi?

Farhan langsung menggeleng keras, seolah menolak pikiran yang mulai muncul.

“Jangan berpikir macam-macam …,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Tapi semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin pikirannya justru berlari lebih jauh. Wajah Hana tadi malam muncul di benaknya.

Tatapan itu kosong tapi juga penuh luka. Kalimat terakhir yang ia ucapkan. Dan cara ia pergi tanpa menoleh.

Dada Farhan terasa sesak. Ia tidak pernah melihat Hana seperti itu sebelumnya.

Selama ini, Hana selalu sabar. Selalu bertahan. Selalu mencoba mengerti. Tapi semalam berbeda.

Seolah ada sesuatu yang akhirnya benar-benar pecah. Farhan menghela napas panjang.

Tangannya mengepal pelan. “Jangan bilang …,” gumamnya.

Kali ini suaranya lebih pelan. Hampir seperti takut didengar oleh dirinya sendiri.

“Jangan bilang … kali ini dia benar-benar ingin pergi .…”

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak selesai. Tapi cukup untuk membuat suasana terasa semakin berat.

Farhan menatap pintu sekali lagi. Masih tertutup. Masih sunyi.

Kali ini benar-benar berpikir, Apakah kali ini Hana memang serius ingin meninggalkannya?

Pertanyaan itu tidak langsung terjawab. Tapi cukup untuk membuat hatinya tidak lagi tenang.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!