NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Setelah menghabiskan makan malam yang hambar dan penuh ketegangan, aku segera melangkah kembali ke kamar di sayap barat. Suasana mansion ini begitu sunyi, hanya suara detak jam dinding dan langkah kakiku yang menggema di lorong marmer. Begitu pintu kamar tertutup, rasa sepi yang menyesakkan langsung menyergap.

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur yang luas, menatap langit-langit berukir indah, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas yang sangat membosankan. Tanpa ponsel, tanpa televisi, dan tanpa siapa pun untuk diajak bicara, waktu terasa berjalan sangat lambat.

Aku bangkit dan mulai meneliti setiap sudut kamar yang luas ini. Aku mencari buku atau apa pun yang bisa mengalihkan pikiranku dari nasib malangku. Hingga akhirnya, mataku tertuju pada sebuah lemari kayu besar di sudut ruangan dekat jendela. Saat kubuka, mataku membelalak tak percaya.

Di sana tertata rapi perlengkapan lukis yang sangat lengkap. Mulai dari berbagai jenis kanvas, cat minyak dengan kualitas terbaik, hingga puluhan kuas dengan berbagai ukuran. "Apakah Darrel suka melukis?" gumamku pelan. "Atau ini hanya hiasan?"

Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan sebuah kanvas berukuran sedang. Melukis adalah satu-satunya pelarianku sejak kecil selain bunga. Aku mulai mencampur warna, membiarkan jemariku menari di atas kanvas, mencoba menumpahkan segala sesak, amarah, dan kesedihan yang kupendam sejak dibawa ke tempat ini. Aku terhanyut dalam goresan warna biru yang melambangkan kesepianku.

Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka dengan kasar membuatku tersentak.

BRAKK!

Aku menoleh dengan cepat. Di ambang pintu, berdiri Darrel. Namun, dia tidak terlihat seperti Darrel yang biasanya rapi dan dingin. Kondisinya sangat berantakan. Kemeja hitamnya sudah terlepas dari tubuhnya, memperlihatkan otot-otot dada dan perutnya yang keras. Napasnya memburu, berat, dan tidak beraturan. Wajahnya memerah padam, dan sorot matanya yang biasanya tajam kini nampak liar dan berkabut.

"Darrel? Ada apa denganmu?" tanyaku dengan suara gemetar, menjatuhkan palet warna ke lantai.

Dia tidak menjawab. Darrel melangkah masuk dengan langkah yang sempoyongan namun penuh tekad. Aroma alkohol dan sesuatu yang asing tercium darinya. Sebelum aku sempat menghindar, dia sudah berada di depanku, mencengkeram pergelangan tanganku yang masih memegang kuas dengan sangat kuat.

"Kau..." suaranya terdengar parau dan rendah, nyaris seperti geraman binatang buas.

"Lepaskan, Darrel! Kau menyakitiku!" rintihku, mencoba menarik tanganku.

"Diamlah, Lily," desisnya. Ia mendekatkan wajahnya ke leherku, hembusan napasnya terasa sangat panas membakar kulitku. "Kontrak itu... tiga puluh hari... kita harus menuntaskannya sekarang."

Aku membeku. Tubuhku bergetar hebat karena ketakutan. Aku bisa merasakan suhu tubuh Darrel yang sangat tinggi. Tatapannya tidak menunjukkan cinta atau kasih sayang, melainkan sebuah kebutuhan yang mendesak dan menyiksa.

"Darrel, sadarlah! Kau sedang mabuk!" teriakku, berusaha mendorong dadanya yang bidang.

"Aku tidak mabuk," ia mengerang, mencengkeram pinggangku hingga aku menempel pada tubuhnya yang panas. "Bajingan itu... Ayah... dia memberikan sesuatu ke dalam minumanku."

Deg. Jantungku seolah berhenti. Erlan Grisham benar-benar iblis. Dia tidak hanya mengancam dengan kata-kata, dia menggunakan cara yang paling menjijikkan untuk mempercepat tujuannya. Dia memberikan obat perangsang pada putranya sendiri agar pernikahan ini segera 'tuntas'.

Darrel merintih, ia tampak berusaha melawan pengaruh obat itu di dalam kepalanya, namun tubuhnya berkata lain. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh penderitaan sekaligus hasrat yang meledak-ledak.

"Bantu aku, Lily... atau aku akan gila," bisiknya dengan suara yang pecah, sebelum ia kembali menarikku lebih dekat, mengabaikan kanvas dan cat yang kini berantakan di sekitar kami.

***

Napas Darrel semakin memburu, uap panas keluar dari sela bibirnya saat ia terus menghujani leher dan pundakku dengan ciuman yang menuntut. Cengkeramannya di pinggangku begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Aku sempat meronta, mencoba menyadarkannya dari pengaruh obat yang membakar darahnya, namun kekuatan Darrel jauh di atas kendaliku.

"Lily... kumohon... bantu aku," rintihnya di sela-sela napas yang tersengal.

Saat jemarinya yang gemetar membuka kancing bajuku satu per satu hingga tubuhku terekspos di bawah cahaya lampu temaram, rasa takut itu perlahan bercampur dengan sensasi aneh yang menjalar di seluruh sarafku. Darrel menatapku dengan tatapan lapar yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Sentuh aku," perintahnya serak.

Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, aku menyentuh miliknya yang sudah menegang sempurna. Ukurannya yang besar membuat genggamanku terasa kecil, namun setiap gerakan maju-mundur yang kubuat membuat Darrel mengerang hebat. Suara erangan itu memicu sesuatu di dalam diriku. Ketika aku memberanikan diri untuk menggunakan mulutku, Darrel mendesah begitu dalam, tangannya meremas rambutku dengan lembut namun posesif.

"Ahhh... Lily... kau benar-benar..." suaranya hilang dalam kenikmatan yang memabukkan.

Tak lama kemudian, ia menarik tubuhku, membalikkan posisi hingga kini aku yang berada di bawah kuasa permainannya. Darrel mulai memanjakan setiap titik sensitifku. Lidahnya menyapu lembut kulitku, sementara jemarinya mulai menjelajahi bagian intiku yang sudah sangat basah.

"Kau sangat cantik saat bergetar seperti ini, Lily," bisiknya tepat di depan wajahku.

Saat jemarinya mulai memainkan bagian sensitif di dalam sana, tubuhku melengkung. Aku tak bisa menahan desahan yang keluar begitu saja. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menyerang seluruh tubuhku. Satu jari masuk, disusul jari kedua, bergerak dengan ritme yang semakin cepat. Aku merasa seperti kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Peluh bercucuran di keningku hingga akhirnya puncak itu datang untuk kedua kalinya, membuatku lemas dalam pelukannya.

Namun, aku tahu ini belum berakhir. Kontrak itu menuntut lebih. Aku menatap Darrel yang tampak ragu sejenak, sisa kesadarannya seolah mencoba melindungiku dari rasa sakit yang akan datang.

"Lakukan, Darrel. Masukkan..." bisikku parau.

Melihat keraguannya, aku mengambil alih. Aku menarik tubuhnya dan memposisikan diriku di atasnya. Aku memegang miliknya yang berdenyut panas, lalu perlahan menuntunnya masuk ke dalam intiku.

Sretttt!

Rasa sakit yang tajam menusuk hingga ke perutku. Ukurannya yang luar biasa besar seolah merobek segalanya di dalam sana. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram bahu Darrel hingga kuku-kukuku menancap di kulitnya. Air mata menetes di sudut mataku, namun aku bertahan. Aku harus melakukannya. Demi Nenek, demi kelangsungan hidupku.

"Lily... kau sempit sekali..." Darrel mendesah nikmat, tangannya memegang pinggulku untuk membantuku bergerak.

Aku mulai menggerakkan pinggulku perlahan, naik dan turun. Rasa sakit itu perlahan mulai tertutup oleh gelombang kenikmatan yang panas dan mendesak. Darrel menatapku dengan mata yang mulai sayu, namun penuh dengan gairah yang tak terlukiskan.

***

Bersambung...

1
Mia Camelia
semangat thor😄👍
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
Tuti Handayani
bagus banget
Mia Camelia
lanjut thor🥰🥰🥰
Mia Camelia
thor ceritaiin dong siapa ortu nya liliy???? kepoo nih thor🥰🥰🥰🥰
Mita Paramita
lagi Thor update 🔥🔥🔥
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Vanni Sr
semkiin kereen yaaaa , mungkin lily ank angkt org tua nya dlu py kuasa
Mia Camelia
darel kejam gak mau denger penjelasan lily😔
Nanik Arifin
mengertilah Lily, Darrel hanya ingin melindungimy. dr awal hanya itu yg ingin Darrel lakukan, tapi kamu aj yg keras kepala, pakai acr kabur segala. sepertinya Darrel ingin memutus generasi klan ini. sepak terjang klan ini tak sejalan dg rasa kemanusiaan Darrel yg begitu besar. nyata dia seorang dokter yg empati & jiwa menolongnya tinggi.
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mia Camelia
semangat thor, 🥰🥰🥰
Erna Tazmania
seru..semangat tor
Mita Paramita
lagi Thor update lagi 😘😘😘
seru banget ceritanya
Vanni Sr
kereeeen darrel mulai cmburuu
Mia Camelia
gak sabar mau ngliat pesta nya , mpe lily merasa tertekan😂
Mia Camelia
ceritaiin sedikit thor tentang kaka nya darel ky gimana ??? jdi penasaran😂
Mia Camelia
seru banget thor🥰, ayoo update lgi yg banyak☺😄
Mita Paramita
lagi Thor 🤣🤣🤣seru banget ceritanya
Mia Camelia
seru banget ini👍🥰😄
Fariza Imut: seru aku suka ceritanya
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut lagi double up 🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!