NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Alvian Unjuk Gigi

Ballroom Garuda, Nusa Dua.

Mewah, lampu kristal. Meja bulat sepuluh kursi, taplak putih turun sampai ke lantai. Meski belum jam tujuh tepat, tetapi sudah banyak sekali yang datang. Berkumpul dengan kelompok masing-masing, mengenakan batik berbagai macam corak.

Clarissa mengenakan batik coklat lengan panjang, celana bahan hitam, masih dengan sepatu flat. Rambut digelung rapi, tidak ada satu pun anak rambut yang keluar. Duduk di meja 3, bersama 6 SpJP lain. Meja pembicara dan moderator. Dia diam, mengaduk es teh gunakan sedotan "paper straws". Sesekali menengok Alvian, takut lepas, membuat masalah.

Alvian sendiri duduk di kursi pojok meja 3. Batik coklat juga, tapi punya dia lengannya kepanjangan. Kedodoran, bisa digunakan melambai.

Dokter sebelah Clarissa, Prof. Danang, SpJP senior dari RSCM. Rambutnya sudah beruban, mengenakan kaca mata setengah bingkai.

"Ini +1 nya siapa, Clara? Residen baru?"

Clarissa menatap Alvian sekilas sebelum menggelengkan kepala. "Bukan. Dia dokter umum."

Prof. Danang langsung "Oh", dan tatapannya berubah meski senyumnya tidak hilang. "Dokter umum ya. Bagus. Perlu juga refreshing."

Alvian mendengarnya tak merespon apapun. Lanjut memakan sate, dua tusuk sekaligus, seperti tidak makan tiga hari.

___

Seminar dibuka. Sekitar jam tujuh lewat sepuluh menit, ketika MC masih bicara di panggung, pelayan bawa nampan isi gelas wine, jalan cepat tanpa lihat kabel mic di lantai. Kesandung.

Bruk!

Nampan yang dibawanya langsung terbang. Tubuhnya jatuh tepat ke meja, "Prang! Prang! Prang!"

Tamu terkejut. "Aduh!" "Awas!"

Satu pecahan kaca besar, panjangnya sejengkal, mental ke kanan. Tanpa sengaja mengenai lengan atas pelayan hotel yang berdiri deket meja 3.

Srat!

Darah muncrat. Menyembur, terkena taplak putih, karpet, juga sedikit celana Prof. Danang.

"..."

Di sisi lain, pelayan ketika melihat darah mengalir tak mau berhenti mulai berteriak panik. Tubuhnya langsung lemas. Dia berjongkok, lalu duduk di lantai dengan muka pucat.

Panik. Semua tamu berdiri. Menggeser kursi, berusaha menghindar dari kekacauan.

"Tekan! Tekan lukanya!"

"Mana P3K?"

"Ya Tuhan, banyak sekali darahnya!"

Petugas hotel lari, balik bawa kotak P3K kecil. Dibuka, isinya betadine, kasa kotak, plester coklat, minyak kayu putih. Tidak ada hemostat, tidak ada benang jahit. Tidak ada apa-apa.

Prof. Danang jongkok, kemudian menekan luka pake serbet putih. Dalam hitungan detik serbet itu langsung berubah merah. "Ini arteri radialis. Harus diikat. Kalau nggak, 5 menit lagi syok."

Tangannya gemetar. Dia jago pasang stent ke jantung, tapi seumur hidup alatnya lengkap di OK. Tidak pernah menambal orang di lantai ballroom.

Clarissa berdiri, jantungnya berdegup kencang. Dia dokter SpJP. Dia tau algoritma. Tapi jahit arteri? Itu di luar kompetensinya. Dia melihat sekeliling. 40 dokter, 10 profesor, semua menatap ke dia dan Prof. Danang. Kalau maju lalu gagal, besok akan terbit artikel, "SpJP Moderator buat pasien Meninggal di Seminar."

Tak perlu tunggu satu minggu, bisa dipastikan kariernya habis.

1 detik. 2 detik. 3 detik. Darah mengalir terus dari sela serbet.

Alvian yang duduk perlahan menaruh sisa sate di tangannya. Mengelap tangan gunakan tisu, berdiri, jalan ke tengah.

Tidak cepat, tidak lambat. Langkahnya biasa aja kayak orang mau ke toilet.

Jongkok di depan pelayan, tanpa bilang "permisi", tanpa bilang "saya dokter", langsung beraksi.

Matanya ke Clarissa, hanya berkata, "Pinjam sebentar."

Dua kata, lalu tangannya mengambil klip rambut dari blazer Clarissa. Klip besi kecil, warna hitam, yang dipakai Clarissa untuk mengaitkan nametag-nya.

Clarissa diam. Mungkin dia terlalu syok sehingga tidak cukup cepat bereaksi.

"Lepas serbetnya."

Ketika mendengar ini Prof. Danang tidak tahu harus bagaimana. Dia ikuti saja ucapan Alvian, membuat darah langsung nenyembur keluar.

Phuah!

Alvian tidak berkedip. Tangan kirinya menekan pangkal lengan pramugari, tangan kanannya gunakan klip rambut, jepit arteri yang putus.

Klik!

Darah berhenti mancur. Yang sebelumnya menyemprot seperti air kran, sekarang hanya menetes pelan.

Seisi ballroom terdiam. Clarissa, bahkan Prof. Danang. Tidak ada yang bicara, sampai MC di panggung sekalipun tanpa sadar memegang mic dengan terbalik.

"Ada scalpel?" tanya Alvian menengok ke manager hotel yang pucat.

"A-a-ada, Dok! Saya ambil!" Dia lari terbirit-birit.

Tepat 37 detik, manager hotel kembali dengan nafas ngos-ngosan membawa satu kotak aluminium. Saat dibuka, isinya scalpel disposable no.11, lidocaine 2%, spuit, benang chromic 3.0, needle holder, pinset, sarung tangan steril.

Alvian buka sarung tangan dan langsung memakainya. Mengambil scalpel yang terbungkus, menyuntikkan lidocaine sedikit di sekitar luka.

Pelayan menjerit, tapi Alvian tak menghiraukan dan terus melanjutkan persiapannya.

"Saya mulai," ucapnya.

Alvian mengiris kulit 1 cm, membuat akses. Membersihkan darah dengan kasa, mengangkat ujung arteri yang dijepit klip gunakan pinset.

Cepat. Presisi. Jari-jarinya bergerak seperti tahu hal apa yang harus dilakukan. Seolah sudah ribuan kali melakukannya, dalam kondisi serupa. Tidak ada ragu, tidak ada gemetar. Seperti orang mengupas jeruk.

Benang masuk needle holder atau gunting bedah, lalu mulai menjahit. Ujung arteri satu ke ujung satunya, membuat simpul. Simpul pertama kencang, simpul kedua mati, lalu simpul 3 kunci.

Lagi-lagi tindakannya begitu halus dan tanpa celah.

"Sedikit lagi selesai."

Alvian melepas klip rambut. Darah sudah tidak mancur deras, suma rembes sedikit dari kapiler. Itu normal.

Lanjut Alvian menekannya, melilit perban, kencang tapi tidak sampai mencekik. Selesai.

Total 3 menit 12 detik dan Alvian berdiri seperti tidak terjadi apa-apa. Dia melepas sarung tangan, membuangnya ke nampan. "Bawa ke UGD. Butuh observasi sama antibiotik IV. Bilang dokter jaga, arteri radialis kanan, ligasi dan repair primer, 3 simpul chromic 3.0. Tungkai aman, cap refill di bawah 2 detik."

Manajer hotel bengong. "B-b-baik, Dok." Dia langsung pergi dengan empat orang yang mengangkat pelayan gubakan kursi.

Hening 2 detik. Kemudian ballroom dipenuhi dengan suara tepuk tangan. Satu, dua, terus bergemuruh.

Prof. Danang napas panjang. Nepuk bahu Alvian. "Luar biasa, Dok. Itu... itu teknik militer. Saya cuma pernah melihatnya di jurnal perang. Belum lihat langsung."

Alvian garuk kepala yang tidak gatal. Balik ke kursi meja 3, lalu lanjut menyantap satenya. "Hanya beruntung, hanya beruntung," ucapnya sambil nyengir.

Namun siapa yang percaya ucapan itu? Setiap tindakan terlihat sangat terlatih. Pasti bukan pertama, atau kedua kali melakukannya.

"..."

Clarissa juga tidak mampu berkata-kata. Dia masih berdiri, matanya tak lepas dari tangan Alvian. Tangan yang 10 menit lalu belepotan saus kacang, barusan malah menyambung pembuluh darah. Stabil, kuku bersih, tidak gemetar sama sekali.

Meski memikirkannya berulang kali semua terasa tidak nyata.

___

Malamnya, di kamar 1208.

Begitu sampai Clarissa langsung masuk ke kamar mandi. Berendam air panas cukup lama, sementara Alvian di luar duduk di kasur sambil nonton televisi.

Bali TV live. "Gempar! Dokter Heroik Selamatkan pelayan di Acara Seminar Kardiologi". Ada video rekaman HP tamu. Meski tidak menyorot langsung wajah Alvian, tapi siapapun yang mengenalnya pasti tahu itu dirinya.

Alvian cepet-cepet ganti channel. Ketemu sinetron azab, siksa kubur. Ditonton 5 detik, lalu langsung mematikan televisi.

Clarissa keluar. Handuk di kepala, mengenakan kimono, masker full wajah sticker panda.

Ketika mereka bertatapan, tidak ada kata, hening tiga detik tanpa suara.

Clarissa pertama berpaling. Membuka laptop, buka browser, tidak file kerja.

Dia cari, "Dokter umum jahit arteri hotel nusa dua", tapi tidak ada berita.

Ganti kata pencarian, "Klip rambut hemostat darurat". Hasilnya, forum militer, artikel 2012, _Improvised Hemostats in Battlefield_. Dia membaca 3 detik, lalu tutup.

Buka IG. Search akun @nightingale.id. Akun relawan medis. Centang biru, postingan banyak, dia menjelajah ke postingan 3 tahun lalu.

Sebuah foto, close up, sarung tangan steril berlumur darah, memegang needle holder dan arteri. Di jempol sarung tangan ada bekas luka irisan tipis bentuk bulan sabit. Captionnya, "Sedang bertugas. 3 menit. Tidak ada tremor. Lokasi, Dirahasiakan. Pasien stabil."

Clarissa zoom pake 2 jari. Bekas luka itu... Dia melirik tangan Alvian yang lagi buka botol air mineral. Tangan kanannya, jempolnya. Ada bekas luka tipis, putih, bentuk bulan sabit. Sama persis. Posisinya sama.

Clarissa menutup HP, menaruhnya di nakas lalu rebahan di kasur. Menghadap tembok, selimut ditarik sampai bahu.

"Sudah tidur?"

Hanya terdengar suara "Hmm" dari balik selimut.

Reaksinya mengejutkan Alvian. Karena istrinya yang biasanya dingin sekarang mulai merespon. Senyumnya mengembang. "Kalau mimpi buruk, bangunin aja. Aku jaga."

Clarissa diam 10 detik. Tiba-tiba bicara, "Klip rambutnya mana?"

"Oh, ini dia." Alvian rogoh saku batik, klip besi sudah dicuci sampai kinclong. Ditaruhnya di nakas Clarissa. "Udah bersih. Steril pake air panas."

"Buang aja."

"Kenapa dibuang? Sayang. Klip rambutnya masih bagus." Alvian mengambilnya lagi, menyimpannya di dalam saku.

"..."

Sepuluh menit kemudian, lampu kamar sudah dimatikan. Namun mata Clarissa masih terbuka memikirkan kejadian di ballroom. Dia mau tanya "Kamu belajar dimana? Keadaan apa?", tapi belum sempat suara keluar dari mulutnya, bibir terkatup dan langsung memejamkan mata.

Di kasur seberang, 1 meter dipisah nakas, Alvian juga belum tidur. Dia terlentang menatap luka di tangannya, luka yang tak mungkin lupa bagaimana itu menjadi bagian dari dirinya.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!