Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
014
Para pekerja yang tadinya sibuk bekerja di kebun sayur tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka saat melihat seorang wanita cantik yang turun dari mobil Roseo.
Penampilan wanita itu jelas menyita perhatian semua pekerja. Rok jeans mini di atas lutut, kaus putih ketat dengan sweater hitam yang ia sampirkan di lengan kirinya. Ditambah sepatu boots tinggi turut menyempurnakan penampilan wanita modern yang tidak mungkin ada di kampung tersebut.
Wanita itu membawa satu buah tas tangan dan menenteng sebuah tas tote di bahu kanannya.
Mata para pria mengikutinya hingga Roseo berdeham kepada para pekerja.
“Ehem, apa yang kalian lihat? Kembalilah bekerja,” perintah Roseo.
“Iya..iya, Mas Ros,” sahut mereka.
Mary masih tersenyum cerah sambil melambaikan tangan kepada para pekerja.
“Apa kau tidak memperkenalkanku pada mereka?” Tanya Mary.
Roseo melemparkan tatapan skeptis. Baru dua jam yang lalu mereka pergi dari balai nikah di kampung sebelah untuk melangsungkan akad nikah lantaran mereka di boikot di kampung sendiri.
Sementara dokumen pernikahan mereka akan diurus oleh asisten Roseo begitu sang asisten kembali dari cuti.
“Aku ini sudah resmi menjadi istrimu, Ros,” kata Mary.
“Apa kau sungguh sebangga itu menjadi istriku?” Tanya Roseo dengan nada sinis.
“Tentu saja!” Jawab Mary dengan cerah. “Kalau aku tidak menikah denganmu, aku pasti harus dipaksa menikah dengan Jono,” sahut Mary.
Mary benar-benar sangat senang karena ia terbebas dari keinginan orang tuanya agar menikah dengan Jono.
Roseo hanya diam sambil membuka pintu gerbang rumahnya, mempersilahkan Mary masuk.
“Oh ya, Ros, ngomong-ngomong, kapan kau akan pergi ke kota?” Tanya Mary.
Roseo melemparkan tatapan penuh selidik.
“Mengapa kau bertanya begitu? Apa kau berencana untuk kabur?” Tanya Roseo penuh selidik.
Mary terkejut, apakah keinginannya untuk kabur ke kota terlihat jelas?
“Kau tidak lupa dengan kesepakatan yang sudah kita sepakati makanya aku bersedia menikahimu, kan?” Tanya Roseo.
“Ros! Tentu saja aku tidak mungkin lupa! Aku hanya bertanya kapan kau akan ke kota karena aku akan pergi bersamamu untuk membeli apapun yang kubutuhkan,” jawab Mary.
“Terlebih sekarang aku sedang menginginkan makanan yang manis-manis karena sebentar lagi adalah jadwal datang bulanku,” lanjut Mary.
“Jadi, bisakah aku ikut ke kota bersamamu?” Tanya Mary.
“Maaf, tidak bisa,” jawab Roseo dengan cepat.
“Hah?! Apa?!” Mary terperangah.
“Kenapa tidak bisa?!” Protes Mary.
“Aku butuh jaminan agar kau tidak kabur sebelum kau memberiku seorang anak,” sahut Roseo.
Mary kembali tersenyum cerah sambil menepuk lengan Roseo.
“Roseo, masalah anak itu mudah! Kau tidak perlu cemas, kau bahkan bisa langsung punya selusin anak untuk membentuk tim sepak bola nasional!” Kata Mary.
Roseo tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingungnya.
“Hah?! Apa kau serius dengan ucapanmu?” Tanya Roseo.
“Tentu saja!” Jawab Mary penuh semangat.
“Apa kau yakin sanggup hamil dan melahirkan dua belas anak dengan tubuhmu yang ramping dan nampak begitu rapuh itu?” Tanya Roseo.
“Hah?! Apa?! Aku harus hamil dan melahirkan?” Kini giliran Mary yang balik bertanya.
“Tentu saja, memangnya kau pikir seorang anak bisa muncul dari dalam mentimun atau labu!” Sahut Roseo dengan nada ketus.
“Ehem, Roseo, bagaimana jika bicarakan hal ini sambil minum kopi di kafe?” Usul Mary.
“Kau ini bicara apa? Mana ada kafe di kampung ini! Lagipula masih banyak pekerjaan yang harus kuurus di ladang. Kau bersihkan saja paviliun itu lebih dulu, jadi kau bisa beristirahat di sana,” Roseo menunjuk paviliun yang berada di seberang paviliun kamarnya.
“Oke baiklah,” sahut Mary. “Kalau begitu, mari kita bicara lagi setelah urusanmu di ladang selesai”.
Mary bergegas menuju ke paviliun yang ditunjukan Roseo sementara pria itu pun pergi ke ladang.
Mary membuka pintu paviliun dengan cara menggesernya.
Mary langsung terbatuk-batuk karena debu yang memenuhi ruangan kosong tersebut.
“Uhuk! Uhuk! Yang benar saja, aku tidak mungkin membersihkan ruangan ini! Biar pria itu saja yang melakukannya, ini kan rumahnya!” Keluh Mary.
Mary keluar dari ruangan itu, ia memutuskan melakukan tur ruangan yang ada di rumah tersebut. Di samping ruangan yang harus dibersihkannya terdapat gudang penyimpanan barang-barang.
Mata Mary langsung tertuju pada mesin jahit manual yang terbungkus dengan plastik besar yang dipenuhi debu.
Mary jadi berpikir, apakah mesin jahit itu bisa dipergunakannya?
Nanti akan kutanya pada, Tuti, batin Mary.
Mary kembali berjalan-jalan lagi hingga menemukan kesimpulan denah dari rumah pria itu.
Secara keseluruhan rumah Roseo membentuk huruf H. Di sisi tengah terdapat paviliun yang ruangannya terkunci. Paviliun di sisi lain pun pintunya terkunci rapat.
Di belakang paviliun tengah terdapat toilet dan kamar mandi yang terpisah.
Lalu ada dapur yang tempat perapiannya masih begitu tradisional, menggunakan tungku dan kayu bakar sebagai sumber energinya.
Tak terbayangkan oleh Mary saat ia merasa lapar di tengah malam dan hujan mengguyur deras, betapa merepotkannya hanya sekedar memasak mie instan.
Mary benar-benar merindukan kehidupan kota yang modern. Tinggal di kampung seperti ini jelas membuat Mary sangat stress.
Seandainya saja ia bisa pergi lebih cepat dari kampung ini, hal itu pasti lebih baik.
“Aduh aku lapar, apa tidak ada yang bisa dimakan?”
Mary mengitari dapur sederhana yang lantainya pun masih tanah.
Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan membuat Mary keluar menyusul Roseo di ladang.
“Ros! Roseo!” Panggil Mary.
Pria itu melemparkan tatapan kesal karena Mary muncul dan lagi-lagi membuat perhatian semua pekerja tersita.
Terlebih sekarang Mary sudah mengganti sepatu boots yang tadi dipakainya dengan sandal jepit yang membuat kaki jenjang nya yang mulus terekspos jelas.
Merasa diabaikan, Mary pun kembali berseru.
“Roseo suamiku sayang!”
“Cie..cie..Mas Ros sudah jadi suami tersayang ya,” goda para pekerja.
“Ck, teruskan pekerjaan kalian,” Roseo berdecak kesal.
Mary menghampiri Roseo yang sedang sibuk memasukan hasil panen mentimun ke dalam karung.
“Ros! Roseo suamiku tersayang,” sapa Mary.
Roseo langsung melotot tajam ke arah Mary, Mary menyeringai, sepertinya pria itu tidak suka dipanggil dengan panggilan seperti itu.
“Ada apa lagi?” Tanya Roseo.
“Aku lapar, apa tidak ada yang bisa kumakan?” Tanya Mary.
Para pekerja mencuri pandang ke arah Mary, bahkan ada yang terang-terangan melotot langsung ke kaki Mary.
“Bawa dan makanlah ini!”
Roseo menyerahkan sebuah mentimun berukuran besar dan panjang yang beratnya mencapai satu kilo gram.
“Hah?! Kau menyuruhku makan ini?” Tanya Mary sambil memegangi buah mentimun jumbo itu.
Para pekerja langsung saling lempar pandang melihat cara Mary memegangi buah mentimun itu.
Roseo bisa melihat otak para pria itu berkeliling mesum.
“Lekas pergi, mau apalagi kau di sini,” usir Roseo.
Mary hendak protes, namun ia langsung kembali pura-pura tersenyum cerah.
“Terima kasih, suamiku sayang, muach!” Kata Mary berpamitan dengan genitnya.
Roseo terperangah melihat kelakuan Mary.
“Wah! Wah! Wanita kota memang begitu berani!”
Para pekerja berbisik-bisik heboh.
Sementara itu Mary harus kembali mendaki meninggalkan ladang mentimun.
Yang benar saja, bagaimana bisa pria itu menyuruhku makan mentimun! Memangnya dia pikir aku ini kelinci! Batin Mary.
“Mary!”
Seruan itu membuat Mary terkejut dan menoleh ke arah Jijah yang berlari menghampirinya.
“Jijah!”