"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan SELA
Budi benar-benar sudah kehilangan kewarasannya sebagai staf logistik. Melihat tangan Adrian yang menggenggam erat pergelangan tangan Gisel dengan tatapan mata yang seolah sedang mengunci target masa depan Budi langsung meletakkan serbetnya ke kepala seolah-olah itu adalah kerudung pengantin.
Budi berteriak dengan nada operet, tangannya menggapai-gapai udara "YA TUHAN! LIAT TUH! GISEL JANGAN DILEPASIN! PAK BOS, TANGANNYA JANGAN KASIH KENDOR! INI MAH BUKAN CEO LAGI, INI MAH ADEGAN TERAKHIR DI DRAMA KOREA YANG EPISODENYA BIKIN GAGAL MOVE ON! HADIDIT, LIAT! MATA PAK BOS BRAMANTYO UDAH KAYAK MAU NELEN GISEL BULAT-BULAT!"
Budi mulai melompat-lompat kecil di samping meja, membuat vas bunga kaktus yang sengaja dipesan Adrian tadi bergetar hebat. Pengunjung di meja sebelah sampai menaruh garpu mereka, mengira ada aksi unjuk rasa di dalam restoran bintang lima.
"DOKUMENTASIKAN! MANA HP GUE?! INI HARUS JADI REKOR MURI: CEO TER-COOL SEDUNIA JADI BUCIN TER-HOT SE-GUDANG LOGISTIK! GISEL, SENYUM DIKIT NAPA! JANGAN KAYAK ORANG MAU DI-PHK, ITU MUKA APA KANVAS LUKISAN ABSTRAK?!" kata Budi dengan histeris
Gisel menoleh ke arah Budi dengan wajah yang sudah melampaui warna merah ia sekarang sudah berwarna ungu saking malunya.
Gisel mendesis tajam "MAMI! Tutup mulut lo atau gue telen hp lo sekarang juga! Lo bikin malu tujuh turunan kita di sini!"
Adrian sama sekali tidak menoleh ke arah Budi, matanya tetap tertuju pada Gisel dengan ketenangan yang mematikan "Biarkan dia, Gisel. Biarkan dia berteriak sampai suaranya habis. Fokus pada saya. Fokus pada tangan saya yang tidak akan melepaskan kamu sampai kamu setuju untuk pulang dengan saya."
Hadi kini sudah tidak sanggup lagi duduk tegak. Ia merosot ke bawah meja, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik taplak meja yang menjuntai.
Hadi bergumam dengan nada meratap) "Mati gue... Besok gue pasti dipanggil HRD karena punya temen kayak Budi. Bud, turun! Lo bukan cheerleader! Ya Tuhan, kalau bisa tuker tambah temen, saya mau tuker Budi sama palet kayu yang baru aja, lebih diem dan nggak malu-maluin..."
Hadi melihat manajer restoran mulai berjalan mendekat dengan wajah khawatir, dan Hadi hanya bisa memberikan kode "Tolong jangan panggil polisi" dengan tangannya yang gemetar.
Suasana restoran bintang lima itu resmi berubah menjadi set film komedi romantis yang kacau balau. Begitu Adrian berdiri tanpa melepaskan tangan Gisel, ia melakukan gerakan yang tidak pernah ada dalam SOP perusahaan mana pun ia menarik Gisel mendekat, lalu dengan satu gerakan lugas, Adrian mengangkat Gisel dalam gendongan bridal style.
Gisel mekik tertahan, tangannya refleks mengalung di leher Adrian karena takut jatuh "P-PAK ADRIAN! TURUNIN! SEMUA ORANG LIATIN! BAPAK UDAH GILA YA?! HARGA DIRI SAYA SEBAGAI MACAN GUDANG MAU DI TARUH MANA?!"
Adrian wajahnya tetap sedatar papan penggilesan, namun matanya berkilat penuh kemenangan "Diam, Gisel. Kakimu sakit, dan saya tidak mau mendengar alasan kamu mau pulang naik angkot. Anggap saja ini... layanan antar jemput eksklusif dari CEO-mu."
Budi, melihat adegan "mahal" itu secara live, langsung mengalami lonjakan adrenalin yang melampaui batas kewarasan manusia normal.
Budi berlari-lari kecil mengitari Adrian dan Gisel sambil menaburkan kelopak bunga mawar yang ia preteli dari vas meja "YA TUHAN! GOALLL! HADIDIT, LIAT! INI LEBIH INDAH DARI FINAL PIALA DUNIA! GISEL DIGENDONG KAYAK KARUNG BERAS MAHAL! PAK BOS, JANGAN TURUNIN SAMPAI KE KUA! LANJUT TERUS, PAK! GUE JADI SAKSI NIKAH GRATISAN SEKARANG JUGA!"
Budi mulai mengeluarkan ponselnya, merekam dengan tangan gemetar saking semangatnya.
"HALO FOLLOWERS MACAN GUDANG! LIAT NIH! BOS KULKAS KITA TERNYATA PUNYA MESIN PENGHANGAT DI DALEMNYA! GISEL, MUKA LO JANGAN DITUTUPIN, BIAR SEMUA TAU KALO LO UDAH JADI RATU LOGISTIK YANG SEBENERNYA!" kata Budi dengan sumringah.
Sementara Budi sedang dalam puncak kebahagiaannya, Hadi justru berada di titik nadir kehidupannya. Ia berjalan mengekor di belakang dengan bahu yang merosot, membawa tas kantor Gisel di tangan kiri dan dua kantong plastik sisa steak di tangan kanan.
Hadi dengan suaranya serak, matanya menatap kosong ke lantai marmer "Mati... beneran mati gue. Besok pagi nama gue pasti masuk daftar hitam dunia perbankan karena temenan sama orang gila kayak Budi. Bud, berhenti naburin bunga... itu properti restoran, entar disuruh ganti rugi satu kelopak sejuta gimana?!"
Hadi merasa dunianya sudah runtuh berkeping-keping. Ia melihat manajer restoran membungkuk hormat pada Adrian, tapi menatap sinis ke arah Budi dan dirinya.
Hadi bergumam pada diri sendiri "Selamat tinggal bonus... Selamat tinggal mobil cicilan... Besok gue bakal jualan gorengan di depan gudang. Ya Tuhan, kenapa hamba harus jadi saksi mata skandal abad ini? Kenapa nggak Gisel aja yang pingsan, biar gue nggak perlu liat semua ini?!"
Adrian sampai di depan mobil mewah miliknya. Ia tetap menggendong Gisel meskipun wanita itu sudah memukul-mukul bahunya dengan pelan yang lebih mirip elusan daripada pukulan.
Adrian menatap Budi dan Hadi sebentar)"Budi, berhenti teriak. Hadi, jangan menangis. Kalian pulang naik taksi, tagihan sudah saya selesaikan termasuk 'biaya keributan' kalian. Gisel... dia punya urusan lembur dengan saya malam ini."
Gisel mendelik tajam ke arah Adrian "LEMBUR APAAN?! LEMBUR MAKI-MAKI BAPAK?!"
Adrian tersenyum miring, sangat tipis namun mematikan "Bukan. Lembur untuk menulis bab baru di blog kamu. Judulnya: 'Malam Saat Sang Macan Menyerah di Pelukan Kulkas'."
**
Mobil mewah itu melaju membelah malam yang makin larut. Di dalam kabin, suasananya jauh lebih panas daripada suhu mesin di luar. Gisel duduk mepet ke pintu, tangannya memeluk tas erat-erat seolah itu adalah pelampung di tengah badai.
Gisel menatap kaca jendela yang memantulkan wajahnya yang berantakan. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tatapan orang-orang di restoran tadi, apalagi histeria Budi yang pasti sudah tersebar di grup WhatsApp kantor dalam hitungan detik.
Gisel dengan suaranya bergetar, antara marah dan mau nangis "Pak... stop. Berhenti di perempatan depan. Saya mau turun sekarang juga."
Adrian tetap fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi mengetuk-ngetuk setir dengan santai "Lampu merahnya masih jauh, Gisel. Dan saya tidak akan menurunkan kamu di pinggir jalan seperti barang paket logistik."
"SAYA BUKAN PAKET! Teriak Gisel
Sesaat kemudian suaranya merendah "Pak, tolong... harga diri saya hari ini sudah terjun bebas ke jurang gara-gara Bapak! Bapak gendong saya di depan umum, Bapak biarin Budi teriak-teriak kayak orang kesurupan... mental saya rusak, Pak! Saya nggak bisa mikir jernih lagi!" Kata Gisel dengan nada memelas.
Adrian memperlambat laju mobilnya, lalu ia melirik Gisel. Ia melihat setetes air mata mulai jatuh di pipi asistennya yang galak itu. Sesuatu di dalam dada Adrian terasa tercubit.
"Kenapa kamu harus merasa harga dirimu hancur? Karena saya menunjukkan kalau saya peduli? Atau karena kamu takut mengakui kalau kamu juga menikmatinya?" kata Adrian
Gisel menoleh dengan cepat, matanya berkilat nyalang "Menikmati?! Bapak pikir lucu dipermalukan di depan Hadi yang ketakutan setengah mati itu?! Bapak itu egois! Bapak lakuin semua itu cuma buat muasin ego Bapak sebagai 'CEO Kulkas' yang bisa dapetin apa aja, termasuk ngejadiin saya mainan Bapak!"
Adrian mendadak menginjak rem, memarkirkan mobil di bahu jalan dengan gerakan tegas "Mainan? Kamu pikir saya serendah itu, Gisel?" Kata Adrian dengan nada rendah dan menekan.
Adrian memutar tubuhnya menghadap Gisel. Suasana kabin mendadak terasa sempit.
"Kalau saya cuma mau main-main, saya tidak akan membaca blog kamu itu untuk saya jadikan panduan. Saya tidak akan membiarkan kamu memaki saya di depan umum tanpa sanksi apa pun. Dan saya tidak akan repot-repot memesan kaktus di restoran tadi karena saya tahu kamu benci mawar yang klise." ucap Adrian
Gisel terdiam, bibirnya gemetar "Bapak... Bapak beneran merhatiin itu?"
"Saya merhatiin segalanya, Gisel. Termasuk bagaimana cara kamu menarik napas panjang tiap kali kamu mau marah sama saya. Jadi, berhenti minta turun di perempatan jalan. Kamu nggak akan kemana-mana sampai kamu paham kalau saya serius... bukan cuma buat konten blog kamu." Tegas Adrian.
Suasana di dalam mobil mendadak hening, hanya suara deru mesin halus yang terdengar. Gisel memalingkan wajah ke jendela, air matanya kini benar-benar jatuh menetes di pipi. Ia merasa seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri dalam satu malam.
Adrian menghela napas panjang bukan helaan napas dingin yang biasanya, tapi helaan napas penuh penyesalan. Ia mematikan mesin mobil, membuat kabin itu sunyi senyap di bawah lampu jalanan yang remang-remang.
Adrian dengansuaranya melunak, hampir terdengar seperti bisikan "Gisel... saya minta maaf. Kalau menurut kamu cara saya tadi merusak mental kamu, saya minta maaf. Saya terlalu terbiasa mendapatkan apa yang saya mau dengan cara saya sendiri."
Gisel mulai terisak, bahunya bergetar) "Bapak itu... Bapak itu nggak ngerti." Protes Gisel dengan suara cepreng mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Saya ini cuma staf gudang logistik yang secara tiba-tiba menjadi sekertaris Bapak. Besok pagi, semua orang di kantor bakal liat saya sebagai 'cewek yang cari muka ke CEO'. Budi bakal bikin gosip, Hadi bakal terus ketakutan... dan saya? Saya bakal kehilangan identitas saya sendiri pak!" Kata Gisel dengan segugukan, namun bukannya sedih, Adrian justru gemas dengan tangis Gisel.
Gisel menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bayangan maki-makiannya di blog kini terasa seperti bumerang yang menghantam kepalanya sendiri.
Adrian tidak memaksa Gisel untuk berhenti menangis. Ia justru meraih kotak tisu dari kursi belakang, mengambil selembar, dan dengan gerakan yang sangat ragu namun tulus, ia mengusap pipi Gisel yang basah.
"Tidak akan ada yang berani menghina kamu. Saya yang akan pastikan itu. Budi... dia memang berisik, tapi dia menyayangi kamu. Dan Hadi... saya akan pastikan dia tahu kalau bonusnya bertambah bukan karena kamu, tapi karena kinerjanya yang selama ini saya abaikan." ucap Adrian lembut.
Adrian terdiam sejenak, menatap Gisel yang mulai menurunkan tangannya dari wajah. "Gisel, kamu bilang saya tiran. Kamu bilang saya kulkas. Tapi kamu lupa satu hal yang kamu tulis di draf blogmu dua tahun lalu... kamu bilang, kamu butuh seseorang yang bisa 'menahan' amukanmu dengan ketenangan. Apa saya belum cukup tenang untukmu?"
Gisel menatap Adrian. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, wajah Adrian tidak lagi terlihat seperti bos yang angkuh. Ada garis lelah dan kejujuran di sana.
"Bapak... Bapak beneran baca semua tulisan sampah saya itu ya?" tanya Gisel
"Itu bukan sampah. Itu satu-satunya hiburan saya saat saya harus menghadapi tumpukan kontrak yang tidak punya jiwa. Tulisan kamu punya jiwa, Gisel. Dan malam ini... saya hanya ingin jadi bagian dari jiwa itu."
Gisel tertawa kecil di sela isaknya, sebuah tawa yang getir tapi lega) "Bapak gombalnya pinter banget ya. Belajar dari mana? Audit internal?" ucap Gisel
Adrian tersenyum tipis, kali ini senyumnya sangat manis tanpa ada kesan tajam "Belajar dari draf blog kamu yang judulnya: 'Cara Menaklukkan Macan Gudang dengan Kata-Kata Maut'. Kamu yang ngajarin saya, Gisel."
Gisel membeku dengan ucapan Adrian, dalam hatinya apakah Adrian adalah pembaca setianya atau hanya sekedar untuk mengisi waktu kekakuannya.
**
Suasana di dalam mobil yang terparkir di bahu jalan itu mendadak menjadi sangat kedap udara. Aroma sandalwood dari parfum Adrian terasa makin kuat menyergap indra penciuman Gisel. Adrian melepaskan sabuk pengamannya, lalu perlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Gisel.
Gisel menahan napas, punggungnya menempel rapat ke pintu mobil. Jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa sentimeter. Ia bisa merasakan hembusan napas Adrian yang hangat di pipinya.
Adrian dengan suaranya rendah, serak, dan sangat intimidatif namun lembut "Jadi... bagaimana, Sela? Lampu merah di perempatan itu sudah berganti hijau tiga kali. Kamu masih mau turun di sana dan jalan kaki dalam keadaan 'mental rusak'..."
Adrian semakin mendekatkan wajahnya, matanya menatap bibir Gisel sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya. Ia menyunggingkan senyum bukan senyum tiran, bukan senyum kulkas, tapi senyum seorang pria yang sedang sangat memuja wanitanya.
"...atau kita lanjut perjalanan ini sampai saya pastikan kamu aman di depan pintu rumahmu? Pilihan ada di tanganmu, Macan Kecil." Lanjut Adrian
Gisel terpaku. Amarahnya yang tadi meluap-luap mendadak menguap entah ke mana, digantikan oleh debaran jantung yang suaranya sampai bisa ia dengar sendiri. Dalam jarak sedekat ini, Adrian terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Garis rahangnya yang tegas, matanya yang teduh, dan senyum yang selama ini ia maki di blog ternyata adalah kelemahan terbesarnya.
Gise berbicara dengan nada terbata-bata, nyaris seperti bisikan "B-Bapak... Bapak curang. Bapak pake trik visual buat bungkam saya."
Adrian terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat renyah di telinga Gisel "Ini bukan trik. Ini hanya cara saya memastikan kamu tidak kabur lagi. Jadi? Lanjut?"
Gisel menelan ludah, ia mencoba membuang muka tapi magnet di mata Adrian terlalu kuat. Akhirnya, ia hanya bisa mengangguk pelan, sangat pelan sampai hampir tidak terlihat.
"Lanjut... Tapi jangan deket-deket begini! Napas saya beneran mau putus, Pak!" Ucap Gisel sambil mendorong pelan dada bidang Adrian.
Adrian kembali ke posisi duduknya dengan gerakan elegan, menyalakan mesin mobil "Bukan 'Pak', Sela. Coba sebut nama saya sekali saja tanpa embel-embel jabatan. Kalau berhasil, saya janji besok Budi tidak akan saya jadikan konten di mading kantor."
Gisel membatin panik "Sialan... ini orang beneran tau cara mainin perasaan gue. Tapi kenapa gue malah seneng ya?!"
Mobil mewah itu kembali meluncur tenang menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Cahaya lampu jalanan yang masuk ke kabin mobil menciptakan bayangan dramatis di wajah Adrian, sementara Gisel masih berusaha mengatur detak jantungnya yang berantakan.
Gisel menggeleng kuat-kuat sampai rambutnya sedikit berantakan "Nggak! Nggak bisa! Nggak mau! Panggil 'Pak' itu sudah harga mati, atau maksimal 'Bos'. Tadi Bapak nyuruh panggil nama langsung? Itu namanya percobaan pembunuhan karakter buat saya, Pak! dan lagi nama saya Gisel, bukan SELA!"
Adrian melirik Gisel sekilas, tangannya masih santai di setir "Kenapa? Apa nama saya terdengar seperti mantra yang bisa bikin kamu pingsan?"
"Lebih dari itu! Bapak nggak tau ya? Di logistik, nama Bapak itu kayak sebutan buat dewa penguasa stok barang. Kalau saya panggil 'Adrian' doang, rasa-rasanya saya kayak lagi nantang petir di siang bolong. Nyawa saya bisa melayang seketika karena kaget sama keberanian saya sendiri!" kata Gisel
Gisel memeluk tasnya makin erat, membayangkan betapa anehnya jika bibirnya mengucapkan nama sang CEO tanpa embel-embel jabatan. Baginya, itu adalah pelanggaran hukum alam yang paling berat.
Adrian terkekeh pelan suara rendah yang terdengar sangat seksi di keheningan kabin. Ia tidak terlihat kecewa, justru sebaliknya, ia tampak menikmati proses "penjinakan" ini.
Adrian tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke depan dengan penuh arti "Baiklah. Saya tidak akan memaksa untuk malam ini. Saya tahu 'Macan' butuh waktu untuk keluar dari sangkarnya."
"Bukan butuh waktu lagi, Pak. Butuh keajaiban!" Kata Gisel
"Keajaiban itu sedang menyetir di samping kamu, Gisel. Saya punya banyak waktu. Kalau dua tahun saya bisa menunggu hanya untuk melihat kamu berlutut memakaikan plester, saya rasa menunggu kamu memanggil nama saya... adalah investasi waktu yang sangat menguntungkan." Kata Adrian
Gisel terdiam. Ia baru menyadari kalau Adrian benar-benar serius dengan strateginya. Pria ini bukan tipe yang terburu-buru; dia adalah pemain catur yang handal. Dia tahu kapan harus maju, kapan harus menahan diri, dan kapan harus membuat lawannya atau pasangannya merasa benar-benar diinginkan.
"Jangan terlalu dipikirkan malam ini. Simpan energimu untuk besok pagi. Karena besok... saya mungkin akan melakukan sesuatu yang lebih parah daripada sekadar meminta dipanggil nama." Kata Adrian
Gisel mata Gisel melotot "Apalagi, Pak?! Mau gendong saya keliling gudang?!"
"Mungkin. Atau mungkin... saya akan membalas tulisan blogmu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan. Dan Panggilan SELA adalah nama panggilan kesayangan saya buat kamu" ucap Adrian menatap Gisel dengan tatapan teduh dengan senyum membuat hati Gisel meleleh.
"Terserahlah,, Kulkasnya lagi habis Freon kayaknya" Ucap Gisel mengaihkan perasannya. Adrian tertawa kecil mendengar ucapan Gisel.
To Be Continue