Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana pagi di vila Alpen biasanya diisi dengan suara mesin penyaring udara yang menderu halus, namun pagi ini, ada frekuensi baru yang mengganggu ketenangan Arkan Alesandro Knight. Di ruang makan yang lantainya mengkilap seperti cermin, berdiri seorang wanita muda dengan seragam pelayan yang sangat pas di tubuhnya, rambut pirang yang tertata rapi, dan senyum yang menurut Arkan "terlalu banyak mengandung kuman keramahan".
"Selamat pagi, Tuan Knight. Saya Clara , pelayan baru yang dikirim oleh agensi pusat untuk membantu kebutuhan Nona Lana dan Nyonya Evelyn," ucap wanita itu dengan suara yang mendayu.
Arkan tidak mengangkat wajahnya dari tablet yang sedang menampilkan grafik bursa efek. "Kenan, apakah dia sudah melewati ruang dekontaminasi level empat?"
Kenan Miller mengangguk mantap. "Sudah, Bos. Dia sudah mandi cairan antiseptik, berganti baju di ruang steril, dan hasil tes swab-nya negatif dari lima ratus jenis virus populer."
Evelyn, yang duduk di seberang Arkan, sedang sibuk berjuang memotong pancake yang sengaja ia buat terlihat berantakan. Di balik kacamata tebalnya, matanya menyipit tajam. Melalui lensa kontak canggihnya, ia melakukan pemindaian wajah instan.
Bip!
Data muncul di sudut pandang Evelyn: *
[IDENTITAS DETEKSI: CLARA BENNETT - ANGGOTA FAKSI SEBASTIAN BLACK - SPESIALIS RACUN DAN INFILTRASI]*
.
Evelyn hampir saja tersedak potongan stroberi. Wah, Sebastian benar-benar tidak sabar. Mengirim 'ular' cantik ini langsung ke sarang singa higienis? batin Evelyn.
"Wah, pelayannya cantik ya, Kak Arkan?" celetuk Lana yang baru turun sambil menguap. Ia melirik Clara dari atas ke bawah. Sebagai sosialita kelas atas, Lana tahu mana pelayan sungguhan dan mana "pelayan" yang pakai parfum merk *Chanel* di balik seragamnya.
Clara tersenyum manis, lalu mendekati Arkan untuk menuangkan kopi. "Tuan Knight, saya dengar Anda sangat menyukai kebersihan. Saya sudah menyiapkan biji kopi yang dicuci satu per satu dengan air mineral murni."
Saat Clara membungkuk, tangannya dengan sangat halus bergerak menuju pinggiran cangkir Arkan. Di balik kukunya yang cantik, tersimpan serbuk mikro yang bisa memicu henti jantung perlahan.
Sret!
"Hwaaaa! Tuan Arkan, lihat! Ada lalat pakai sepatu roda di atas kopinya!"
Evelyn tiba-tiba melompat berdiri, tangannya "tidak sengaja" menyenggol nampan yang dibawa Clara.
Prang!
Cangkir kopi mahal itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Cairan kopi (dan racun di dalamnya) tumpah membasahi sepatu bot kulit Arkan yang mengkilap.
Hening sejenak.
Arkan perlahan menatap sepatunya yang kini ternoda cairan cokelat. Urat di dahinya menegang. "E... VE... LYN..."
"Maafkan Eve, Tuan! Eve tadi panik! Lalatnya tadi besar banget, kayaknya dia habis pulang dari pasar kuman!" Evelyn segera berlutut, mencoba mengelap sepatu Arkan dengan ujung dasternya yang kuning cerah.
"Jangan sentuh!" bentak Arkan, namun nada suaranya lebih terdengar panik karena Evelyn berlutut di lantai yang menurutnya "kotor". "Berdiri, Evelyn! Lantai itu belum dipel ulang setelah pelayan ini masuk!"
Clara Bennett menggertak gigi di balik senyum palsunya. Rencananya gagal total karena kecerobohan gadis culun itu. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera membersihkannya."
"Tidak perlu," potong Lana sambil bersedekap. "Kak Eve, ayo ikut aku ke dapur. Kita cari lalat sepatu roda itu. Clara, kau bersihkan lantai ini pakai sikat gigi sampai tidak ada satu pun molekul kopi yang tersisa. Kak Arkan sangat tidak suka noda, kan?"
Arkan mendengus, ia berdiri dan menatap Clara dingin. "Jika hal seperti ini terulang lagi, kau akan kukirim ke pabrik pengolahan limbah. Pergi."
Di dapur, Evelyn memastikan tidak ada CCTV yang aktif. Ia segera menghubungi Edward lewat jam tangannya. "Ed, ambil sampel kopi di sepatu Arkan lewat robot pembersih lantai otomatis. Aku yakin ada racun di sana."
"Sudah dilakukan, Queen. Dan tebakanmu benar. Itu racun Digitalis konsentrasi tinggi. Jika Arkan meminumnya, dia akan mati dalam waktu enam jam tanpa jejak," lapor Edward.
Evelyn menyeringai. "Berani sekali dia menyentuh 'barang' milikku."
"Barang milikmu, Queen? Maksudmu Tuan Arkan?" goda Edward.
"Maksudku... Tuan Higienis itu adalah target investasiku! Kalau dia mati, siapa yang mau menyemprotkan disinfektan ke hidupku yang penuh debu ini?" dalih Evelyn dengan wajah memerah.
Tak lama kemudian, Lana masuk ke dapur dengan wajah serius. Ia menutup pintu dan menguncinya. Lana berjalan mendekati Evelyn yang sedang pura-pura mencuci piring dengan sabun yang meluap-luap.
"Kak Eve," panggil Lana.
"I-iya, Lana? Ada apa? Mau sabun? Ini busanya lembut lho, kayak awan," ucap Evelyn bodoh.
Lana menarik kacamata Evelyn hingga melorot, menatap langsung ke mata tajam kakak iparnya. "Berhenti akting, Kak. Aku tahu lalat sepatu roda itu tidak ada. Dan aku tahu pelayan pirang itu punya niat jahat. Kau baru saja menyelamatkan nyawa Kak Arkan, kan?"
Evelyn membeku. Ia menatap Lana yang kini tersenyum licik.
"Tenang saja, Kak. Rahasiamu aman denganku. Tapi... sebagai bayarannya, biarkan aku membantumu menjahili ular itu. Aku bosan kalau cuma nonton Kak Arkan semprot-semprot alkohol seharian," bisik Lana.
Evelyn terdiam sejenak, lalu perlahan senyum nerdy-nya berubah menjadi seringai tipis yang dingin. Ia membetulkan kacamatanya. "Baiklah, adik ipar. Tapi ingat, kalau kau terluka, Kak Franco akan membunuhku karena membiarkanmu ikut campur."
"Deal!" seru Lana senang.
Malam harinya, Clara Bennett mencoba masuk ke kamar Arkan dengan membawa handuk hangat yang sudah dibasahi cairan kimia pemancing halusinasi. Ia berharap Arkan akan berhalusinasi dan melakukan sesuatu yang memalukan dengannya, agar ia bisa memeras King Black Eclipse itu.
Namun, saat ia membuka pintu kamar yang gelap, ia justru terjatuh ke dalam lubang jebakan yang sudah disiapkan.
"BYURRR!"
Clara basah kuyup dari ujung kepala sampai kaki. Namun itu bukan air biasa. Itu adalah campuran limbah cair cucian piring, tepung terigu, dan bulu ayam.
"Hwaaaa! Tuan Arkan! Ada monster ayam masuk ke kamar Tuan!" teriak Evelyn yang tiba-tiba muncul di koridor bersama Lana, keduanya memegang senter dan... botol semprotan raksasa.
Arkan keluar dari ruang kerjanya dengan wajah bingung. Ia melihat pelayannya yang cantik kini tampak seperti ayam goreng yang gagal tepung.
"Apa yang terjadi?!" bentak Arkan.
"Dia tadi mau masuk kamar Tuan tanpa izin, Tuan! Eve takut dia bawa kuman jahat, jadi Eve dan Lana pasang 'perangkap sterilisasi'!" ucap Evelyn sambil menahan tawa.
Lana mengangguk mantap. "Iya, Kak Arkan! Ternyata dia kotor banget! Lihat tuh, bulu ayamnya nempel semua!"
Arkan menatap Clara dengan pandangan paling jijik yang pernah ia tunjukkan. "Kau... berani masuk ke kamarku dalam keadaan sebusuk itu? KENAN! BUANG WANITA INI KE HUTAN SALJU SEKARANG! DAN BAKAR SEMUA HANDUK YANG DIA SENTUH!"
Clara Bennett hanya bisa menangis histeris saat Kenan menyeretnya keluar. Misinya gagal total, harga dirinya hancur, dan yang paling parah... ia harus mandi dengan air dingin di tengah salju untuk menghilangkan bau bulu ayam itu.
Evelyn berdiri di samping Arkan, pura-pura gemetar ketakutan. Arkan menoleh ke arah istrinya. Ia melihat ada sedikit tepung yang menempel di hidung Evelyn.
Tanpa sadar, Arkan mengulurkan tangannya. Dengan ibu jarinya, ia menghapus tepung itu dari hidung Evelyn. Sentuhannya lembut, tanpa ragu, dan bertahan selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
"Lain kali, jangan main-main dengan tepung. Itu bisa mengganggu pernapasanmu," ucap Arkan pelan.
Evelyn terpaku. Getaran aneh kembali menyerang jantungnya. Di bawah cahaya lampu koridor yang remang, Arkan tampak tidak lagi seperti King Mafia yang dingin, melainkan seorang pria yang sedang berusaha menjaga miliknya dengan cara yang... romantis.
"T-terima kasih, Tuan Higienis," bisik Evelyn.
Lana yang menonton dari kejauhan memotret momen itu dengan ponselnya. "Skor hari ini: Evelyn 1, Penjahat 0, dan Kak Arkan... mulai bucin."
.