Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Fokus
Bengkel pagi itu seharusnya menjadi tempat paling produktif bagi Zidan. Di depannya, sebuah motor gede milik pelanggan setianya sudah dalam kondisi telanjang, bagian mesinnya terbuka lebar menunggu sentuhan tangan dingin sang mekanik handal. Namun, kenyataannya, tangan Zidan hanya memegang kunci pas tanpa melakukan gerakan apa pun selama lima menit terakhir.
Pandangannya kosong menatap tumpukan baut. Di telinganya, suara lembut namun tegas milik Shakira saat sarapan tadi terus terngiang seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
"Iya, iya... Mas Zidan. Suami aku."
Zidan tiba-tiba mengacak rambutnya sendiri dengan kasar, lalu menepuk pipinya. "Aduh, Dan! Sadar! Jangan kayak bocah baru puber," gumamnya pelan.
"Woy, Bos! Itu bautnya jangan cuma dipandangin, nggak bakal kenceng sendiri!" teriak Bobby dari arah belakang, yang sedang sibuk mengganti ban.
Zidan tersentak, hampir menjatuhkan kunci pasnya. "Gue tau! Lagi mikir ini, kayaknya ada yang nggak beres sama setelannya."
"Yang nggak beres itu otak lo," timpal Indra yang baru keluar dari gudang suku cadang. "Dari tadi lo cuma bengong sambil senyum-senyum nggak jelas. Itu motor orang mahal, Dan. Jangan sampai lo salah pasang piston gara-gara kebanyakan khayal."
Zidan mendengus, mencoba kembali fokus. Namun, tepat saat ia hendak menyentuh mesin, ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja bergetar nyaring.
Bzzzt... Bzzzt...
Satu notifikasi WhatsApp masuk. Zidan segera menyambar ponselnya. Begitu melihat nama pengirimnya, jantungnya kembali melakukan gerakan akrobatik.
Shakira:
Mas Karatan... jangan bengong terus di bengkel. Nanti ada baut yang ketinggalan di dalem mesin loh.
Inget, uang kuliah aku mahal, cari duit yang bener ya, Suamiku.
Zidan seketika terduduk di lantai bengkel yang berdebu. Wajahnya yang semula cemong karena sedikit oli, kini tertutup oleh warna merah yang menjalar hingga ke telinga. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya memegang ponsel dengan erat.
"Allahu Akbar... ini orang mau bikin gue mati muda apa gimana," bisik Zidan frustrasi namun penuh kebahagiaan.
"Kenapa lagi sih lo?" Bobby mendekat, penasaran melihat bosnya yang mendadak lemas di lantai. "Dapet tagihan pajak? Atau motor yang tadi lo servis balik lagi?"
"Bukan... ini lebih parah dari mesin jebol, Bob," sahut Zidan dengan suara serak. Ia menunjukkan layar ponselnya sekilas pada Bobby, lalu segera menariknya kembali seolah itu adalah dokumen rahasia negara.
Bobby sempat membaca kata "Suamiku". Ia langsung terbahak hingga terpingkal-pingkal, memegangi perutnya yang kaku. "Hahahaha! Mampus lo, Dan! Kena batunya kan! Biasanya lo yang paling jago bikin orang baper, sekarang lo dikandangin sama bini sendiri!"
"Diem lo! Gue nggak kuat, Bob. Rasanya tenaga gue abis disedot lewat chat doang," ujar Zidan sambil mencoba berdiri, meski lututnya terasa sedikit lemas.
"Cieee... Mas Karatan... cieee," ledek Indra yang ikut-ikutan nimbrung setelah diberitahu Bobby. "Pantesan tadi pagi lo salting parah. Ternyata Shakira sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya."
Zidan mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai kepala bengkel. Ia mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar.
Zidan:
Kamu ya... pinter banget bikin aku nggak fokus.
Iya, ini lagi kerja rodi demi SPP kamu. Tapi nanti pulangnya minta 'bonus' ya?
Nggak mau tau, panggilannya jangan diganti lagi!
Sementara itu, di kantin fakultas, Shakira sedang duduk bersama Nina sambil menikmati es teh manis. Begitu membaca balasan dari Zidan, ia tidak bisa lagi menahan tawa gelinya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang karena tertawa tanpa suara.
"Sumpah ya, Ra. Lo bener-bener jahat," ujar Nina sambil menyedot minumannya. "Lo apain sih si Zidan sampe dia kayaknya frustrasi gitu?"
"Gue nggak ngapa-apa, Nin. Cuma panggil dia 'Mas' sama 'Suami aku' pas sarapan tadi," jawab Shakira setelah tawanya mereda, meski matanya masih menunjukkan binar jenaka.
"Dan reaksinya?"
"Pipi dia langsung merah kayak tomat mateng. Terus pas gue mau pegang keningnya—kali aja dia demam kan—tangan gue malah ditepis. Kayak orang ketakutan gitu," Shakira kembali tertawa. "Gue baru tau, mekanik segarang Zidan ternyata gampang banget dibikin oleng cuma pake kata-kata."
Nina menggeleng-gelengkan kepala. "Ya iyalah! Selama ini kan dia yang ngejar-ngejar lo, dia yang naruh perhatian. Begitu lo kasih respon balik yang manis, ya sistemnya langsung error. Ibarat motor, lo itu lagi kasih bahan bakar kualitas paling tinggi ke mesinnya, makanya dia overheat."
"Gue cuma mau bales dia aja. Abisnya dia tengil banget belakangan ini. Eh, nggak nyangka efeknya bakal sedahsyat itu," Shakira menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap layar ponselnya yang menampilkan balasan Zidan soal 'bonus'.
"Terus lo bakal lanjutin panggil dia 'Mas'?" tanya Nina penasaran.
Shakira terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana ekspresi Zidan yang tampak sangat bahagia namun malu-malu tadi pagi. Ada rasa hangat yang aneh mengalir di dadanya. "Ya... liat nanti. Kalau dia nggak nakal, mungkin gue lanjutin. Tapi tetep aja, sebutan 'Mas Karatan' kayaknya lebih cocok buat dia kalau lagi nyebelin."
"Lo berdua emang pasangan paling aneh yang pernah gue kenal," Nina bangkit dari duduknya. "Ayo balik ke kelas. Jangan main HP terus, nanti dosen lo yang jadi 'karatan' nungguin lo masuk."
Shakira terkekeh dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Namun, sepanjang jalan menuju ruang kelas, senyum itu tidak pernah hilang dari wajahnya. Ia mulai menyadari bahwa menggoda Zidan ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.
Di sisi lain kota, di dalam bengkel yang panas, Zidan akhirnya kembali bekerja. Namun, setiap kali ia mengencangkan baut, ia bergumam pelan, "Suami aku... suami aku...".
"Dan! Fokus, Dan! Itu baut oli, jangan diputer kenceng-kenceng nanti dol!" teriak Bobby frustrasi.
"Iya, Bob! Gue fokus! Gue lagi semangat cari duit buat bini!" sahut Zidan dengan suara lantang, disambut tawa kompak dari seluruh penghuni bengkel.
Hari itu, produktivitas bengkel "Ardiansyah Motor" memang meningkat pesat, namun tingkat kewarasan bosnya menurun drastis karena radiasi cinta dari seorang mahasiswi tata boga bernama Shakira.
***
Matahari sore meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca spion deretan motor yang mengantre di bengkel. Zidan sedang sibuk mengelap tangannya yang menghitam dengan lap kain perca saat sebuah mobil SUV perak yang sangat ia kenali masuk ke area parkir bengkel dengan perlahan. Ban kiri depannya tampak kempes total, nyaris menyentuh aspal.
Zidan tertegun sejenak. "Loh, Papa?"
Papa Shakira keluar dari mobil sambil mengelap pelipisnya yang berkeringat. Wajah pria paruh baya itu tampak lega saat melihat menantunya sedang berdiri di sana dengan kaos hitam yang sedikit dekil tapi terlihat gagah.
"Eh, Zidan? Kamu belum jalan?" tanya Papa Shakira sambil menunjuk ke arah motor besar Zidan yang sudah siap di posisi keluar. "Mau jemput Shakira ya?"
"Iya, Pa. Ini baru mau berangkat, tadi nanggung beresin sisa baut terakhir," jawab Zidan sopan sambil mendekat dan menyalami tangan mertuanya. "Mobil Papa kenapa? Bocornya parah banget itu kayaknya."
"Iya nih, tadi pas mau ke rumah temen kerasa goyang banget. Pas dicek, eh ternyata kena paku payung gede banget. Untung deket sini, jadi Papa langsung kepikiran mampir," jelas Papa Shakira sambil melihat ban mobilnya yang malang.
Zidan langsung memanggil Bobby yang sedang santai di pojok. "Bob! Ini mobil mertua gue, tolong prioritasin ya. Ganti bannya, cek sekalian yang lain. Jangan sampe ada paku yang ketinggalan."
"Siap, Bos! Aman terkendali," sahut Bobby sigap.
Zidan kembali menoleh ke arah mertuanya. "Papa tunggu di ruang AC aja ya, ada kopi sama camilan di dalem. Biar Bobby yang urus. Aku tinggal dulu ya, Pa, takut Shakira nunggu kelamaan. Tadi dia udah bilang kelasnya udah mau bubar."
"Oh, iya-iya. Sana berangkat. Jangan bikin istri nunggu, nanti makin galak dia," canda Papa Shakira sambil menepuk bahu Zidan. "Hati-hati di jalan, Dan."
"Siap, Pa!"
Baru saja Zidan hendak memakai helmnya, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama "Istri Galak <3" muncul di layar. Zidan tersenyum lebar, ia sengaja menekan tombol loudspeaker karena tangannya masih memakai sarung tangan motor sebelah.
"Iya, Sayang? Kangen ya?" goda Zidan membuka percakapan.
"Mas... masih lama ya? Aku udah di lobi ini. Kakinya udah pegel berdiri terus," suara Shakira terdengar sedikit manja namun ada nada lelah di sana.
"Ini baru mau otw, Sayang. Tadi Papa kamu ke bengkel, bannya bocor kena paku payung. Aku delegasikan ke Bobby dulu tadi," lapor Zidan sambil menstater motornya. "Kamu tunggu di situ ya. Jangan kemana-mana. Jangan jajan sembarangan, jangan ngobrol sama cowok lain yang sok asik tanya skripsi."
"Iya, Mas... Bawel banget sih! Kayak aku anak TK aja dilarang-larang," sahut Shakira di seberang sana, terdengar suara tawa kecil Nina di latar belakang yang sepertinya sedang ikut menguping.
Zidan terkekeh pelan. "Bukan gitu, aku kan protektif. Oh iya, sama aku mau nagih bonus tadi, Sayang."
Di seberang sana, Shakira terdiam sejenak. Zidan bisa membayangkan wajah istrinya yang mulai memerah di lobi kampus. "Apa sih? Bonus apalagi? Jangan aneh-aneh deh, Mas. Ini di tempat umum, jangan bikin aku malu pas kamu dateng nanti."
"Enggak aneh-aneh kok. Cuma mau bilang... hari ini kita kencan ya. Kita nggak langsung pulang ke rumah," ujar Zidan dengan nada yang mendadak jadi serius namun manis.
"Kencan? Ya ampun, Mas... kayak ABG aja pake acara kencan segala. Kita kan udah nikah, tiap hari juga ketemu di rumah," protes Shakira, meski suaranya tidak terdengar keberatan sama sekali.
"Justru itu, Sayang. Pacaran setelah nikah itu lebih sehat, lebih halal, dan pastinya lebih seru karena nggak ada jam malam dari Papa," Zidan melirik Papa mertuanya yang sedang asyik mengobrol dengan Indra di kejauhan. "Aku pengen ngajak kamu makan sesuatu yang bukan buatan kamu sendiri. Biar lidah kamu istirahat jadi koki hari ini."
"Terus mau ke mana?" tanya Shakira, rasa penasarannya mulai muncul.
"Rahasia. Pokoknya tunggu di situ. Aku bakal sampe dalam sepuluh menit. Pakai jaket denim aku yang tadi pagi ya, angin sore mulai nggak enak," pesan Zidan lagi.
"Iya, Mas Karatan... cepetan ya," jawab Shakira lirih.
"Bye Sayang, love you!" tutup Zidan sebelum Shakira sempat membalas dengan omelan "jijik"-nya.
Zidan memasukkan ponselnya, memakai helm, dan menarik gas motornya. Deru mesinnya seolah mewakili rasa semangatnya sore itu. Di pikirannya, ia sudah menyusun rencana kencan sederhana: makan martabak favorit di pinggir jalan yang pemandangannya langsung ke arah lampu-lampu kota, atau mungkin sekadar jalan-jalan di pasar malam dekat komplek.
Baginya, melihat Shakira tersenyum lepas tanpa beban skripsi adalah misi utamanya sore ini. Ia ingin membuktikan pada istrinya bahwa meski status mereka sudah suami-istri, api "pacaran" itu tidak boleh padam.
"Duh, moga-moga dia nggak pake guling pembatas nanti malem gara-gara kencan ini," gumam Zidan sambil tersenyum di balik kaca helmnya.
Sementara itu di kampus, Shakira melipat ponselnya dengan wajah yang benar-benar cerah. Nina yang ada di sampingnya langsung menyenggol lengannya.
"Cieee... kencan ya? Paksu emang paling jago bikin lo oleng, Ra."
"Apa sih, Nin. Udah sana lo pulang, nunggu jemputan lo juga kan?" sahut Shakira mencoba menutupi rasa senangnya.
"Gue mah jomblo, nunggu ojek online. Beda sama yang nunggu pangeran bengkel," ledek Nina lagi.
Shakira hanya menggelengkan kepala, tangannya meraba jaket denim Zidan yang ia kenakan. Ada aroma Zidan di sana, aroma yang membuatnya merasa aman. Dan untuk pertama kalinya, Shakira benar-benar menantikan kencan itu dengan perasaan berdebar, persis seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo