Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 - Di Titik Hati yang Retak 1
Di teras villa, udara pagi yang dingin terasa semakin menusuk.
Aga mendorong Nadine menjauh dengan kasar, kedua tangannya mencengkeram bahu wanita itu kuat-kuat hingga pelukannya terlepas paksa. Matanya gelap oleh amarah yang sudah lama terpendam.
"Lo gila ya, Nadine? Siapa yang kasih tahu lo gue ada di sini?!" bentaknya keras, suaranya menggema di antara pepohonan pinus.
Nadine tersentak, tapi ia cepat memasang senyum manja yang sudah terlatih. Air mata menggenang di matanya dengan sempurna.
"Angga… aku kangen kamu. Kamu hilang seminggu tanpa kabar. Aku cuma mau pastikan kamu baik-baik saja—"
"Berhenti sialan!" Aga memotong kasar. "Gue nggak pernah suka sama lo. Satu tahun lalu gue cuma nyoba buka hati karena gue dengar Gwen mau menikah, dan bokap gue terus mendesak gue mati-matian supaya nikah sama lo. Gue ajak lo makan, gue temenin lo ke acara keluarga, gue benar-benar coba lihat lo sebagai perempuan. Tapi tetap nggak bisa, Nadine. Hati gue kosong setiap kali sama lo. Gue sudah bilang jujur waktu itu—gue nggak bisa. Tapi lo yang tetap ngotot, lo yang terus bilang ke orang-orang bahwa kita tunangan!"
Nadine mundur selangkah, wajahnya pucat. Air matanya jatuh, tapi kali ini ada kemarahan yang nyata di baliknya.
"Kamu bohong… Kamu pernah bilang kamu mau mencoba—"
"Iya, gue bilang mau coba! Tapi setelah itu gue langsung mundur. Lo yang nggak terima. Lo yang terus mendekat, lo yang sengaja bikin gosip di kalangan keluarga besar. Sekarang lo datang ke sini, peluk gue di depan orang lain, lalu dengan bangga bilang lo tunangan gue. Lo sengaja mau bikin rusuh!"
Pandji berdiri membeku di ambang pintu. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia melihat Nadine—gadis yang selama ini ia cintai diam-diam—memeluk Aga dengan begitu posesif, air matanya mengalir karena takut kehilangan Aga. Nadine benar-benar mencintai Aga. Wanita itu menangis karena takut kehilangan pria yang ia cintai.
Dan pria itu adalah sahabatnya sendiri.
Pandji merasa dunianya runtuh. Ia berharap masih ada ruang untuknya di hati Nadine, tapi melihat betapa dalam perasaan wanita itu pada Aga, harapan itu sepertinya tak mungkin.
Aga menoleh tajam ke arah Pandji, matanya penuh tuduhan.
"Lo yang kasih tahu dia, kan?!" bentaknya marah. "Lo cerita ke Nadine gue ada di villa ini. Lo yang bilang lokasinya! Sahabat macam apa lo, Pandji?!"
Pandji tersentak. Matanya melebar kaget, lalu sakit yang teramat dalam muncul di wajahnya.
"Gue… gue nggak bilang apa-apa, Ga," suaranya gemetar. "Gue nggak pernah kasih tahu Nadine—"
"Jangan bohong!" Aga melangkah mendekat, amarahnya memuncak. "Siapa lagi yang tahu gue di sini selain lo? Lo yang paling dekat sama Nadine! Karena lo, sekarang semuanya berantakan!"
"Pandji nggak salah, Angga. Aku yang cari tahu sendiri. Aku dengar dari Chandra, asisten kamu."
Aga mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu.
"Nadine, lebih baik lo pulang sekarang. Gue akan hubungi bokap lo sore ini. Perjodohan ini batal. Gue nggak peduli lagi soal bisnis atau nama keluarga. Gue nggak mau nikah sama lo. Titik."
Nadine menggeleng, air matanya semakin deras.
"Aku cinta kamu, Angga. Benar-benar cinta. Kenapa kamu nggak bisa lihat itu? Aku rela melakukan apa saja buat kamu. Aku nggak peduli kalau kamu cuma nyoba buka hati dulu. Aku yakin suatu saat kamu akan jatuh cinta sama aku juga.. "
"Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama lo," Ucap Aga dingin. "Karena gue sudah jatuh cinta sama orang lain. Sama Gwen."
Nadine tertawa getir di antara isakannya.
"Cewek itu? Kakaknya Pandji? Kamu lebih pilih dia daripada aku? Dia nggak punya apa-apa dibandingkan aku!"
Aga tersenyum tipis, "Justru karena itu gue pilih dia. Karena dia nggak pernah maksa gue jadi orang yang bukan gue. Pulang, Nadine. Jangan bikin malu diri lo sendiri lebih jauh."
"Kamu jahat banget, Angga!" jerit Nadine, suaranya pecah.
"Terserah," balas Angga datar. Matanya lalu melirik ke arah Pandji. "Urus cewek lo."
Tanpa menunggu jawaban, Angga berbalik dan masuk ke dalam villa, meninggalkan Nadine yang menangis meraung-raung di tempat.
...__KejarTenggat__...
"Baby... buka pintunya. Please."
Di dalam, Gwen duduk di lantai dengan punggung bersandar di pintu. Ia mendengar hampir semua teriakan tadi. Dadanya terasa sesak. Air matanya sudah kering, tapi rasa sakit masih menusuk tajam.
"Gwen, aku tahu kamu dengar semuanya," kata Aga di balik pintu, suaranya parau. "Aku nggak pernah suka Nadine. Satu tahun lalu aku cuma nyoba buka hati karena aku dengar kamu mau menikah, dan papa terus mendesakku supaya nikah sama Nadine. Aku benar-benar putus asa waktu itu. Tapi tetap nggak bisa. Hati aku nggak pernah bergerak buat dia. Aku sudah bilang jujur waktu itu. Nadine yang tetap maksa. Hari ini… dia datang karena dia tahu aku dekat sama kamu. Dia sengaja ingin menghancurkan kita."
Gwen menelan ludah pahit. Kata-kata "Aku dengar kamu mau menikah" tadi seperti ditusuk ke dadanya.
"Kamu tetap salah," bisiknya serak. "Kamu seharusnya bilang dari awal soal Nadine. Aku hampir menyerah sama kamu di danau tadi pagi… padahal kamu punya bayang-bayang 'tunangan' di belakangmu."
"Aku takut kamu langsung pergi kalau tahu," jawab Aga jujur. "Aku nggak pernah punya perasaan apa pun ke Nadine. Yang Aku mau cuma kamu, Gwen. Bukan yang lain."
Gwen memejamkan mata rapat-rapat.
"Aku butuh waktu sendiri. Kasih aku ruang dulu. Kalau kamu benar-benar serius… tunggu aku sampai aku siap bicara."
Aga bersandar di pintu, dahinya menempel pada kayu dingin.
"Baik. Aku tunggu. Berapa lama pun."
Ia berdiri lama di sana sebelum akhirnya berjalan pergi dengan langkah berat.
Di dalam kamar, Gwen memeluk lututnya lebih erat.
Dadanya masih sakit, tapi di antara semua kekacauan itu, ada satu kalimat Aga yang terus berputar di kepalanya.
"Aku nggak pernah suka Nadine… Yang Aku mau cuma kamu."
Ia tidak tahu harus percaya apa lagi.
Tapi hatinya yang lelah mulai bertanya pelan.
Apakah kali ini Aga benar-benar jujur?
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍