Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...
Cahaya biru dari layar laptop adalah satu-satunya sumber penerangan di ruang kerja kecil ku malam ini. Jam dinding menunjukkan pukul 22.15. Jari-jari ku menari di atas keyboard, menyusun laporan bulanan yang harus dipresentasikan besok pagi di depan dewan direksi. Ini adalah deadline yang krusial. Satu kesalahan angka saja bisa berarti bencana bagi karier ku sebagai manajer.
“Fokus, Dimas. Sedikit lagi. Tinggal grafik efisiensi bahan bakar ini, lalu kau bisa tidur,” batin ku dalam hati, mencoba mengabaikan rasa pegal di tengkuk.
Namun, fokus ku mulai teruji. Di balik pintu kayu yang tertutup, aku bisa merasakan kehadiran sesuatu atau seseorang. Bukan sekadar manusia biasa, tapi kehadiran spiritual yang kuat dan... menuntut.
Sret... sret...
Suara sesuatu yang halus bergesekan dengan daun pintu terdengar. Itu bukan suara tikus. Itu adalah suara ekor rubah yang tebal dan lembut yang sedang menyapu permukaan pintu dengan gerakan tidak sabar.
"Dimas...?" suara lembut Linda memanggil dari luar. "Kau masih lama?"
"Sebentar lagi, Sayang. Lima belas menit lagi," jawab ku tanpa menoleh dari layar.
"Kau bilang begitu tiga puluh menit yang lalu," balasnya. Suaranya kini terdengar lebih dekat, seolah ia menempelkan wajahnya di celah pintu.
Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "Ini laporan penting. Kalau aku tidak menyelesaikannya sekarang, besok aku akan kesulitan."
Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Linda masuk dengan langkah yang sengaja dibuat berirama. Ia tidak mengenakan piyama biasa. Ia mengenakan kemeja putih ku, lagi, tapi kali ini kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka cukup rendah, dan ia tidak memakai bawahan apa pun selain pakaian dalam tipis yang nyaris tak terlihat di balik ujung kemeja yang menjuntai. Telinga cokelatnya berdiri tegak, dan ekornya yang besar melambai-lambai dengan gelisah, seolah memiliki pikirannya sendiri.
"Laptop itu lebih menarik dari ku?" tanyanya sambil berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi ku, lalu membungkuk sehingga wajahnya berada tepat di samping telinga ku. Aroma melati dan hawa panas dari tubuh silumannya langsung menyerang indra penciuman ku.
"Bukan begitu, Linda. Ini pekerjaan," kata ku, mencoba mempertahankan nada profesional, meski jantung ku mulai berdegup kencang.
"Pekerjaan tidak bisa memberikan mu kehangatan di malam yang dingin seperti ini," bisiknya. Ia mulai memainkan helaian rambut di belakang kepala ku dengan jemarinya yang lentik. "Pekerjaan tidak akan menjilat leher mu saat kau merasa stres."
Dan benar saja, ia melakukan apa yang baru saja ia katakan. Sentuhan lidahnya yang hangat dan lembut di kulit leher ku membuat ku tersentak, menyebabkan jari ku menekan tombol 'backspace' terlalu lama dan menghapus satu paragraf penuh laporan.
"Linda! Lihat, kau menghapus pekerjaan ku!" aku memutar kursi untuk menghadapnya, mencoba memasang wajah tegas.
Linda justru tersenyum nakal. Ia tidak tampak merasa bersalah sedikit pun. "Oh, maaf. Mungkin itu pertanda dari alam semesta atau dari istri mu, bahwa paragraf itu memang tidak penting."
Ia kemudian duduk di tepi meja ku, tepat di atas tumpukan dokumen fisik yang belum sempat aku pindahkan. Posisinya membuat kakinya yang jenjang dan putih bersih berada tepat di depan mata ku. Ia menggerakkan telapak kakinya pelan, menggoda lutut ku.
"Linda, ini benar-benar penting. Tolonglah, biarkan aku selesai dalam sepuluh menit," pinta ku, kali ini dengan nada memohon.
"Sepuluh menit itu waktu yang lama bagi seorang siluman yang merasa diabaikan, Dimas," Linda mencondongkan tubuhnya ke arah ku. Ekornya kini melingkar di pinggang ku, menarik ku perlahan agar lebih dekat ke mejanya. "Kau tahu, sejak kau pulang tadi, kau hanya menatap kotak perak itu. Kau tidak mencium ku dengan benar. Kau tidak menanyakan bagaimana hari ku. Kau memperlakukan ku seolah aku hanyalah pajangan di apartemen ini."
“Sifat posesifnya mulai keluar lagi,” pikir ku. “Bagi Linda, perhatian adalah segalanya. Baginya, satu jam aku menatap laptop adalah satu jam aku mengkhianati kehadirannya.”
"Aku minta maaf, Sayang. Setelah ini, aku janji akan memberikan seluruh perhatian ku pada mu," kata ku sambil mencoba meraih kembali laptop ku.
Tapi Linda lebih cepat. Ia menutup layar laptop ku dengan satu tangan, suaranya terdengar tajam di keheningan ruangan. Brak.
"Cukup." Matanya kini berkilat hijau neon, tanda ia sedang serius menggunakan otoritasnya sebagai 'nyonya' rumah ini. "Aku mencium aroma kecemasan dari tubuh mu, dan itu merusak suasana rumah. Aku akan membantu mu rileks, apakah kau mau atau tidak."
Ia melompat dari meja dan langsung duduk di pangkuan ku, memaksa kursi ku mundur sedikit. Ia melingkarkan kakinya di pinggang ku, mengunci posisi ku agar aku tidak bisa kabur.
"Linda, jika aku tidak menyelesaikan ini, manajer umum akan—"
"Manajer umum mu tidak ada di sini," Linda memotong kalimat ku sambil menempelkan telapak tangannya di dada ku, merasakan detak jantung ku yang kencang. "Hanya ada kau, dan aku. Dan ekor ku yang sudah sangat gatal ingin membelit mu."
Ia mulai mencium leher ku lagi, kali ini dengan lebih banyak tekanan. Setiap kali ia melakukannya, aku bisa merasakan sihir penenang miliknya merambat masuk ke pori-pori ku, membuat otot-otot ku yang tegang perlahan-lahan mengendur. Logika ku tentang angka, grafik, dan presentasi mulai memudar, digantikan oleh sensasi fisik yang nyata dari kehadiran Linda.
"Kau curang, Linda. Kau menggunakan pesona siluman mu," gumam ku, suara ku mulai melemah.
"Tentu saja," ia terkikik di depan bibir ku. "Untuk apa punya kekuatan jika tidak digunakan untuk menjaga suami ku agar tetap di jalur yang benar? Jalur menuju kamar tidur."
Ia mulai membuka kancing kemeja ku satu per satu dengan giginya, sebuah atraksi yang selalu berhasil membuat ku kehilangan akal sehat. Aku bisa merasakan ekornya yang tebal dan hangat bergerak-gerak di punggung ku, memberikan sensasi geli sekaligus nyaman.
“Mungkin laporan itu bisa diselesaikan besok pagi-pagi sekali,” batin ku mulai berkhianat. “Lagi pula, siapa yang bisa bekerja jika ada siluman rubah secantik ini yang sedang menuntut haknya?”
"Baiklah, kau menang," kata ku akhirnya, menyerah pada keadaan. Aku melingkarkan lengan ku di pinggangnya, menariknya lebih erat. "Tapi jangan salahkan aku kalau besok pagi aku kesiangan dan harus berangkat terburu-buru."
"Jangan khawatir," Linda menggigit bibir bawahnya, tatapannya penuh gairah. "Aku akan memastikan kau bangun dengan energi yang cukup... atau mungkin tidak sama sekali."
Ia menarik ku berdiri, dan tanpa melepaskan kuncian kakinya di pinggang ku, ia memaksa ku untuk menggendongnya menuju kamar tidur. Di sepanjang koridor, Linda terus menggoda telinga ku dengan bisikan-bisikan tentang apa yang akan ia lakukan pada ku sebagai 'hukuman' karena telah mengabaikannya demi laptop.
Sesampainya di kamar, ia menjatuhkan ku ke tempat tidur dan segera berada di atas ku. Cahaya bulan yang masuk dari jendela memberikan siluet yang dramatis pada ekornya yang kini mengembang sempurna.
"Sekarang, lupakan tentang deadline," perintahnya. "Satu-satunya waktu yang penting sekarang adalah waktu di mana kau menjadi milik ku sepenuhnya."
Malam itu, laporan logistik dan grafik efisiensi bahan bakar benar-benar menjadi hal terakhir yang ada di pikiran ku. Linda, dengan segala sifat posesif dan godaan liarnya, sekali lagi membuktikan bahwa di dunia ini, tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada menjaga perasaan seorang istri siluman.
Saat fajar mulai menyingsing dan aku terbaring lemas dengan Linda yang mendengkur halus di dada ku, aku melirik ke arah ruang kerja yang pintunya masih terbuka. Laptop itu masih di sana, mati dan dingin. Sedangkan di sini, di bawah selimut, semuanya terasa begitu hangat dan hidup.
“Pekerjaan bisa menunggu,” pikir ku sebelum akhirnya memejamkan mata. “Tapi Linda? Dia tidak akan pernah menunggu. Dan jujur saja, aku lebih suka begini.”
Ekor rubahnya bergerak sedikit dalam tidurnya, membelit kaki ku seolah ingin memastikan bahwa bahkan dalam mimpi pun, aku tidak akan pergi ke mana-mana.