NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan Baru

Tiga hari telah berlalu sejak Xiao Yu bergabung.

Dalam tiga hari itu, gadis kecil itu berubah drastis. Pipinya yang tadinya cekung mulai terisi. Matanya yang tadinya redup dan penuh ketakutan sekarang bersinar dengan keceriaan yang sesuai dengan usianya—dua belas tahun, seperti yang dia ceritakan pada Wei Ling suatu sore. Dan yang paling penting, dia sudah mulai bisa merasakan Qi-nya.

"Aku merasakannya, Ayah!" serunya di pagi hari keempat, berlari ke arah Xiao Chen yang sedang duduk di taman. "Seperti air hangat yang mengalir di dalam perutku!"

Xiao Chen tersenyum. "Bagus. Itu baru permulaan. Dalam beberapa hari lagi, kau akan bisa menggerakkannya ke seluruh tubuhmu."

"Lalu aku bisa jadi kuat seperti Ayah?"

"Lebih kuat."

Xiao Yu tertawa—tawa kecil yang dulu tidak pernah terdengar dari bibirnya. Dia duduk di samping Xiao Chen, kakinya yang kecil menggantung di bangku batu. "Ayah, kenapa rambut Ayah putih? Aku belum pernah lihat orang berambut putih."

"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku berbeda."

"Ayah memang berbeda." Xiao Yu menatapnya dengan kagum. "Waktu aku di jalanan, aku sering dengar orang bisik-bisik tentang 'pengembara surgawi berambut putih'. Aku kira itu cuma dongeng."

"Itu bukan dongeng. Itu aku."

"Mereka bilang pengembara itu bisa menciptakan apa pun dari udara. Dan semua wanita jatuh cinta padanya." Xiao Yu memiringkan kepala. "Apa itu benar?"

Xiao Chen terkekeh. "Mungkin."

"Kalau begitu... apakah aku juga akan jatuh cinta pada Ayah?"

Pertanyaan itu keluar dengan polos, tanpa beban, seperti anak kecil yang bertanya kenapa langit biru. Tapi dari dalam penginapan, Wei Ling—yang kebetulan mendengar—hampir menjatuhkan nampan tehnya.

Xiao Chen menatap Xiao Yu dengan lembut. "Kau masih kecil, Xiao Yu. Bicarakan ini lagi kalau kau sudah dewasa."

"Berapa umur dewasa?"

"Delapan belas tahun."

"Oh." Xiao Yu menghitung dengan jarinya. "Enam tahun lagi. Itu lama."

"Sangat lama. Jadi kau punya banyak waktu untuk belajar kultivasi dulu."

"Baiklah!" Xiao Yu melompat turun dari bangku. "Aku akan latihan lagi! Sampai Qi-ku sebesar bola!"

Dia berlari ke tengah taman, duduk bersila, dan mulai bermeditasi dengan ekspresi serius yang menggemaskan. Wei Ling keluar dari penginapan, membawa nampan teh yang sekarang stabil di tangannya.

"Dia baru saja bilang dia akan jatuh cinta padamu," bisiknya.

"Aku dengar."

"Dan kau menyuruhnya menunggu sampai dewasa?"

"Bukankah itu jawaban yang benar?"

Wei Ling membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Secara teknis... ya. Tapi tetap saja—"

"Dia masih anak-anak, Wei Ling. Biarkan dia tumbuh dulu. Banyak hal bisa berubah dalam enam tahun."

Wei Ling menghela napas, lalu duduk di sampingnya. "Kau tahu, kadang-kadang aku lupa bahwa kau sebenarnya sangat bijaksana di balik semua godaan dan senyum nakalmu."

"Itu karena aku hanya menunjukkan sisi nakalku padamu."

Wajah Wei Ling langsung memerah. "Xiao Chen!"

"Lihat? Kau tersipu lagi. Itu favoritku."

Sore harinya, Liu Ruyan kembali dari Paviliun dengan berita.

"Kapal sudah siap," katanya, meletakkan gulungan konfirmasi di atas meja. "Kita berangkat tiga hari lagi. Kapal dagang bernama 'Bintang Utara'—rute langsung ke Benua Utara, tanpa persinggahan. Perjalanan sekitar enam minggu."

"Kenapa lebih cepat dari perkiraan?" tanya Xu Mei.

"Angin musim sedang menguntungkan. Dan aku... meminta bantuan beberapa kontak lama."

Xu Mei mengangkat alis. "Kontak lama?"

"Jangan tanya."

Lin Yao, yang sedang mengasah pedangnya di sudut ruangan, mendengus. "Kita akan ke Benua Utara. Pegunungan es. Katanya di sana dingin sekali."

"Aku sudah menyiapkan jubah bulu," kata Liu Ruyan. "Untuk semua orang."

"Termasuk Xiao Yu?"

"Terutama Xiao Yu. Dia yang paling butuh."

Xiao Yu, yang baru saja masuk setelah latihan, mendengar namanya. "Aku dapat jubah bulu?"

"Ya. Jubah bulu serigala salju." Liu Ruyan tersenyum. "Bulu paling hangat di Benua Utara."

Mata Xiao Yu berbinar. "Terima kasih, Kak Liu!"

"Panggil aku Bibi Liu. Aku terlalu tua untuk dipanggil 'Kakak'."

"Tapi Bibi Liu cantik. Seperti Kakak."

Liu Ruyan, yang sudah hidup tiga ribu tahun dan sudah tidak tersipu selama dua ribu tahun terakhir, merasakan pipinya sedikit menghangat. "Kau... kau anak yang manis."

Wei Ling dan Xu Mei bertukar pandang dan tersenyum. Bahkan Lin Yao berhenti mengasah pedangnya sejenak, sudut bibirnya terangkat.

Malam harinya, setelah Xiao Yu tidur, kelima orang dewasa berkumpul di ruang tamu.

"Kita perlu membicarakan sesuatu," kata Liu Ruyan. "Tentang perjalanan ke depan."

"Apa yang perlu dibicarakan?" tanya Lin Yao.

"Puncak Es Abadi. Tempat itu bukan hanya reruntuhan kuno—itu adalah wilayah terlarang. Bahkan Sekte Formasi Kuno, yang merupakan sekte raksasa di Benua Utara, tidak berani mengirim murid mereka ke sana."

"Kenapa?"

"Karena tempat itu dijaga oleh sesuatu. Sesuatu yang bukan monster, bukan manusia." Liu Ruyan membuka sebuah gulungan tua. "Aku menemukan ini di arsip Pavilion. Catatan dari ekspedisi terakhir ke Puncak Es Abadi, sekitar seribu tahun yang lalu. Dari lima puluh kultivator yang berangkat, hanya tiga yang kembali. Dan mereka semua... berubah."

"Berubah bagaimana?" tanya Wei Ling.

"Mereka tidak bisa bicara. Hanya menatap kosong. Seolah jiwa mereka diambil."

Keheningan turun.

"Aku akan tetap pergi," kata Xiao Chen. "Sendirian jika perlu."

"Tidak." Keempat wanita itu menjawab hampir bersamaan. Mereka saling menatap, lalu Wei Ling melanjutkan, "Kita sudah bilang akan ikut. Ke mana pun."

"Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya."

"Kau tidak bisa melindungi kami dari segalanya," kata Lin Yao. "Dan kami tidak ingin dilindungi dari segalanya. Kami ingin bersamamu."

Xu Mei mengangguk. "Lagipula, kau butuh kami. Siapa yang akan membacakan peta untukmu?"

"Aku bisa baca peta," jawab Xiao Chen.

"Peta kuno dengan bahasa yang sudah punah?"

"..." Xiao Chen terdiam.

"Itu yang kukira." Xu Mei tersenyum tipis.

Liu Ruyan menutup gulungannya. "Kita akan menghadapi apa pun yang ada di sana bersama-sama. Seperti yang sudah-sudah."

Xiao Chen menatap mereka satu per satu. Wei Ling dengan kesetiaannya yang tak tergoyahkan. Lin Yao dengan keberaniannya yang keras kepala. Xu Mei dengan kecerdasannya yang tajam. Liu Ruyan dengan kebijaksanaannya yang dalam.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jika situasinya terlalu berbahaya, kalian akan mundur. Itu perintah."

"Perintah?" Lin Yao mengangkat alis. "Sejak kapan kau jadi pemimpin?"

"Sejak aku bisa menciptakan Artefak tingkat Raja dalam satu detik."

"Itu... argumen yang sulit dibantah."

Setelah pertemuan selesai, Xu Mei menarik Xiao Chen ke samping di koridor.

"Aku ingin bicara," katanya pelan.

"Tentang apa?"

"Tentang..." Xu Mei ragu. "Tentang malam ini. Aku... aku belum sendiri denganmu sejak malam di padang bunga."

Xiao Chen menatapnya. Di bawah cahaya lentera koridor, wajah Xu Mei terlihat lebih lembut. Rambutnya tergerai, jubah merah marunnya sudah diganti dengan gaun tidur sederhana. Tidak ada riasan profesional. Tidak ada topeng utusan Pavilion. Hanya seorang wanita yang menginginkan seseorang.

"Aku tidak lupa," kata Xiao Chen.

"Aku tahu kau sibuk dengan Xiao Yu. Dan aku senang kau mengangkatnya. Tapi... aku juga merindukanmu."

Xiao Chen meraih tangannya. "Kalau begitu, malam ini."

Mereka berjalan ke kamar Xu Mei—bukan kamar besar seperti milik Liu Ruyan, tapi nyaman, dengan jendela yang menghadap ke taman dan lilin-lilin kecil yang menerangi ruangan.

Begitu pintu tertutup, Xu Mei sudah menarik Xiao Chen ke dalam ciuman. Berbeda dari ciuman pertama mereka yang ragu-ragu, atau ciuman di padang bunga yang penuh gairah terpendam—kali ini ada sesuatu yang lebih dalam. Lebih intim. Seperti dua orang yang sudah saling mengenal dan masih memilih satu sama lain.

"Aku ingin mencoba sesuatu," bisik Xu Mei di antara ciuman.

"Apa?"

Dia mendorong Xiao Chen ke dipan, lalu berbalik. Punggungnya menghadap Xiao Chen, dan dia menurunkan gaun tidurnya perlahan—memberikan pertunjukan yang membuat Xiao Chen menahan napas. Kulitnya yang putih halus terbuka sedikit demi sedikit, sampai akhirnya gaun itu meluncur ke lantai.

"Kau suka?" tanyanya, menoleh sedikit.

"Kau tahu jawabannya."

Xu Mei tersenyum—senyum nakal yang langka darinya—lalu membalikkan tubuhnya dan duduk di pangkuan Xiao Chen, menghadapnya. Posisi ini baru. Lebih intim. Mereka bisa saling menatap mata saat dia menurunkan dirinya perlahan.

"Kau... kau sangat dalam seperti ini," desahnya.

"Aku tahu."

Dia mulai bergerak, perlahan, matanya tidak pernah lepas dari mata Xiao Chen. Tangannya bertumpu di bahunya, kukunya sedikit menyentuh kulitnya. Setiap gerakan membuatnya mendesah, dan setiap desahan membuat Xiao Chen semakin keras di dalam dirinya.

"Aku—aku dekat—"

"Lepaskan. Aku ingin melihat wajahmu."

Xu Mei melepaskan. Seluruh tubuhnya gemetar, dan dia menatap Xiao Chen dengan mata yang berkaca-kaca—bukan karena sedih, tapi karena intensitas. Dia menjatuhkan kepalanya ke bahu Xiao Chen, napasnya tersengal.

"Aku mencintaimu," bisiknya. "Aku tidak pernah bilang sebelumnya. Tapi aku mencintaimu."

Xiao Chen mengusap rambutnya. "Aku tahu."

"Kau selalu tahu."

"Itu karena kau tidak pernah menyembunyikannya."

Xu Mei tertawa kecil di bahunya. "Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki."

"Tapi kau tetap mencintaiku."

"Sayangnya, ya."

Mereka berbaring dalam pelukan, lilin-lilin kecil berkedip di sekitar mereka. Di luar jendela, bulan Kota Zamrud bersinar, dan di suatu tempat di taman, Xiao Yu mungkin sedang bermimpi tentang menjadi kultivator kuat. Tapi di sini, di kamar kecil ini, hanya ada dua orang yang telah menemukan sesuatu yang berharga dalam perjalanan yang belum berakhir.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!