"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 32
Dua bulan kemudian, Mila sudah bekerja di toko pakaian setelah 2 minggu menganggur. Parasnya yang manis dan bentuk tubuh yang cukup ideal menjadi salah satu kriteria dirinya dapat bekerja di toko fashion dan ternama.
Hari ini toko begitu ramai pengunjung karena memasuki musim anak baru masuk sekolah. Mila bersama rekan lainnya sibuk melayani para pembeli. Diantara para pengunjung datang ada sepasang mata memperhatikannya dan mengulas senyum di bibir. Ada rasa rindu besar yang ingin disampaikan.
Mila tak sadar. Ia tetap terus bekerja dan tak memperhatikan sosok itu karena sangat banyaknya pengunjung.
Hampir 5 jam, Mila berdiri dan berjalan mencari barang-barang yang diinginkan dan diminta calon pembeli.
Waktunya istirahat.
Mila akhirnya dapat bernapas dan duduk tenang. Hari ini sungguh begitu melelahkan. Ia pun segera menyantapnya makan siangnya yang terlewati 1 jam.
"Mil...ini ada buah dan susu dari seseorang!" rekan wanitanya menyodorkan kantong plastik putih bening.
Mila yang baru saja selesai makan, mendongakkan kepalanya dan meraih kantong itu. Lalu bertanya, "Dari siapa?"
"Enggak tau namanya, tapi dia laki-laki."
"Ciri-cirinya bagaimana?" Mila bergegas berdiri.
"Dia tinggi, kulitnya putih, hanya wajahnya enggak kelihatan tertutup masker dan memakai topi," jelas temannya Mila.
"Kapan dia memberinya?" tanya Mila.
"Baru aja sekitar lima menit lalu."
Tak bertanya lagi, Mila dengan cepat ke luar dari ruangan karyawan. Ia melangkah lebar menuju parkiran toko. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang memberikan 2 buah apel dan susu rendah lemak ukuran 1 liter.
Mila tak berhasil menemukannya. Ada perasaan kecewa di hatinya. "Semoga aja dia datang ke sini lagi."
Mila kembali ke ruangan karyawan membawa bungkusan itu dengan langkah gontai.
"Ketemu, Mil?" tanya temannya.
Mila menggelengkan kepalanya pelan.
"Penggemar kamu, tuh!" celetuk rekan wanita lainnya menggoda.
"Kayak artis aja!" Mila mengerucutkan bibirnya.
"Kalau ragu, biarkan kami aja yang makan!" kata yang lainnya lagi.
"Nah, makanlah!" Mila meletakkannya di meja.
Sepanjang perjalanan pulang, Mila memikirkan sosok itu. Dia jadi semakin penasaran.
Ketika sampai di rumah pun, Mila masih terus menerka. Ia mencoba mengingat beberapa teman pria yang dekat dengannya.
"Dari ciri-cirinya seperti Mas Hasbi, tapi enggak mungkin. Dia bukan tinggal di kota ini," gumam Mila. Meskipun ia dan Hasbi berada pada 1 provinsi yang sama.
"Apa mungkin Hardi?" Mila yang duduk di sisi ranjang.
Mila segera menggelengkan kepalanya.
Tak mungkin Hardi. Meskipun putih, Hardi memiliki postur tubuh lebih pendek dari Hasbi.
"Apa jangan-jangan Mas Alan? Dia tau di mana sekarang tempat tinggal aku?" terka Mila.
Mila memegang kepalanya. Otaknya sekarang bekerja dua kali lipat dari biasanya karena rasa penasarannya.
Dia berharap besok bertemu sosok pria itu, biar dia dapat bekerja dengan tenang dan nyaman.
***
Esok paginya, Mila kembali mendapatkan paket meskipun isinya berbeda. Seorang kurir yang mengantarkannya tanpa memberitahu namanya. Seporsi nasi ayam bakar dan sebotol jus buah alpukat serta sekotak kue coklat.
Ingatan Mila tertuju kepada Hasbi yang selalu mengucapkan, "Besok tambah durasi waktu olahraganya!" sembari memandangi bungkusan itu.
"Mil, jangan dilihat aja. Makan. Kalau enggak mau, berikan kepada kami!" celetuk teman lainnya.
"Hari ini makanannya sangat enak. Aku mau!" Mila tersenyum semangat meskipun hatinya sebenarnya ragu.
Membuka wadah makanan itu, perlahan ia menyantapnya seraya mengingat hal-hal yang diberikan, dilakukan dan diucapkan Hasbi. Semua tanda-tanda yang ditunjukkan mengarah kepada Hasbi. Apalagi makanan dan minuman yang dikirim sesuai kesukaannya.
"Ingat, Mila. Jangan berharap lebih, lupakan Hasbi. Dia bukan jodohmu. Berhenti mengejarnya yang sulit digapai!" batin Mila walaupun mulutnya terus mengunyah.
***
Tiga hari berlalu...
Kiriman paket terus datang, bukan hanya Mila saja yang kenyang. Rekan-rekan kerjanya juga merasakan nikmat berbagai makanan dan minuman pemberian dari orang asing itu. Mereka sama sekali tak curiga atau ragu. Karena mereka yakin, jika memang ada niat jahat dari si pengirim pasti hari pertama dimakan sudah bermasalah.
"Mil, terima kasih, ya. Bilang penggemarmu itu sering-seringlah mengirimkan makanan!" kata rekan kerja pria seraya mengelus perut karena makan siangnya dengan lauk ikan nila bakar.
"Kalau dia minta ganti rugi dan tanggung jawab, kalian juga harus menanggungnya!" ucap Mila tersenyum.
"Paling dia minta tanggung jawab kamu, biar diterima cintanya!" celetuk rekan pria lainnya.
"Memang enak, ya, jadi orang cantik. Banyak penggemarnya!" canda pria pertama diiringi tawa rekan lainnya.
"Kalian bisa aja. Malah wajah cantik dan tampan itu ujian!" Mila geleng-geleng kepala, melihat tingkah temannya.
Satu jam lagi waktu kerja Mila berakhir, sebelum pulang ia menyusun produk perawatan tangan dan tubuh yang tak berada ditempatnya. Toko tempatnya bekerja bukan hanya menjual pakaian untuk berbagai kalangan saja tetapi parfum dan produk perawatan lainnya juga.
Terdengar suara derap kaki dan langkah itu berhenti tepat di belakang Mila. "Permisi, Mbak. Di mana letak pakaian gamis wanita?"
Mila tak segera balik. Ia sangat mengenal suara itu. Sejenak menutup mata dan berkata dalam hati. "Bukan dia, Mila!"
Perlahan membuka matanya dan berbalik badan. Matanya membulat dan botol hand and body lotion yang dipegangnya terlepas dari tangannya. "Mas......"
...****************...
Kira-kira siapa, ya?