NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - BERHENTI!!

"Apa maksudm—"

Pukulan itu tidak bisa lagi dihindari. Atlas dengan brutal dan berulang kali menghantam wajah Stevan.

"Akan kupastikan kau mati, Stevan! Bajingan!"

"AHHH! Tolong!" Bianca berteriak, memanggil petugas keamanan untuk menghentikan Atlas.

Perkelahian itu tiba-tiba menjadi hiburan tersendiri bagi para karyawan. Alih-alih memisahkan kedua pria itu, mereka malah mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.

"Aku mendukungmu, Atlas!"

"Atlas sekali lagi memberikan hiburan yang menarik!"

"Sepertinya Stevan tidak akan bisa mengalahkan Atlas!"

Bisikan para karyawan justru semakin memicu kegilaan Atlas. Wajahnya kini tersenyum saat melihat darah mengalir dari hidung Stevan.

Sementara itu, Alicia hanya bisa menangis sambil berusaha menarik tubuh kakaknya. Namun semua itu sia-sia. Atlas sudah dikuasai amarah dan keinginan untuk membungkam Stevan.

"Hei, hentikan! Apa yang kalian lakukan di sana, bubar!"

Seorang pria berteriak dari aula, membuat para karyawan yang menonton keributan itu langsung bubar dengan tergesa-gesa. Namun, Atlas sama sekali tidak terpengaruh. Dia tetap fokus menghantam wajah Stevan yang sudah lebam.

Seorang pria dengan jas biru tua muncul dan berteriak, "Atlas! Berhenti!"

Bersamaan dengan itu, tiga penjaga dengan cepat menarik Atlas dari tubuh Stevan. Atlas menyeringai lebar dan berbicara pada pria berjas biru itu, yang merupakan CEO perusahaan.

"Ah, Tuan, ini menyenangkan, kenapa kau menghentikanku? Padahal sedikit lagi, dan dia sudah melihat neraka!"

"Sialan kau, Atlas!" Bianca berteriak sambil menangis, memeluk Stevan yang hendak dievakuasi oleh beberapa penjaga.

"Ah, aku juga akan mengirimmu ke neraka, Bianca. Tenang saja, kalian tidak akan terpisah!"

"Diam, Atlas!"

Tatapan Atlas kemudian beralih ke CEO yang marah. Wajahnya memerah, dan dia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan tatapan tajam di matanya.

"Kau tahu kesalahanmu, bukan?" tanya CEO.

"Tidak ada yang salah, Tuan. Bayangkan jika anak atau pasanganmu dihina oleh seseorang? Apa yang akan kau lakukan? Akankah kau diam saja? Aku rasa tidak. Harga diri jauh lebih penting, kau mengerti itu."

CEO itu mendekat dan menatap Atlas, lalu berbisik pelan. "Ya, tapi sebaiknya kau mengerti sampah seperti apa yang kau lawan. Sampah kertas? Atau rongsokan yang bisa membunuhmu dengan karat dan sisi tajamnya? Kau telah membuat kesalahan, Atlas!"

CEO itu melirik para penjaga di belakangnya. "Habisi dia, buat lebih parah dari Stevan."

"Tidak, jangan lakukan apa-apa pada kakakku! Aku mohon padamu!" Alicia mencoba menghentikan para penjaga agar tidak menyentuh Atlas, tetapi sia-sia. Para penjaga yang kekar mendorong Alicia ke samping dan bersiap menyerang Atlas.

Atlas tampak tenang dan tetap tersenyum. Tepat sebelum pukulan itu mengenai wajahnya, seorang pria tiba-tiba berteriak dan menghentikan tindakan itu.

"BERHENTI!"

Atlas dan yang lainnya serentak menoleh ke arah sebuah mobil mewah hitam yang terparkir di halaman perusahaan. Seorang pria berjas hitam keluar dan mendekati mereka.

"Aku datang ke sini untuk membawa Tuan Atlas bertemu dengan Tuan Benjamin, dan aku bisa memastikan bahwa orang yang kau tahan ini adalah Tuan Atlas."

Seketika, ekspresi CEO berubah drastis. Semua orang tampak terkejut saat mendengar nama yang disebutkan oleh pria itu.

Secara bersamaan, para penjaga melepaskan cengkeraman mereka dari tubuh Atlas. Pria berjas hitam itu mendekati CEO yang terdiam.

"Hei, sepertinya kau memiliki masalah dengan Tuan Atlas, tapi biar kuberitahu, Tuan Benjamin meninggalkan pesan agar aku membawa Tuan Atlas dengan selamat seperti saat mereka bertemu kemarin. Aku khawatir jika Tuan Atlas memiliki luka sedikit saja, bahkan yang paling kecil, Tuan Benjamin tidak akan senang," bisik pria berjas hitam itu.

CEO itu menelan ludah, menggelengkan kepala, dan berkata, "Y-Ya, tidak apa-apa. Ini semua hanyalah kesalahpahaman. Kami tidak berniat memukul Atlas. Kau bisa membawanya!"

Atlas terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Dia memeluk adiknya dan menatap pria berjas hitam di hadapannya. Namun, dia mengerti bahwa pria yang dimaksud adalah orang tua yang dia tolong kemarin.

"Tuan Atlas, ayo kita pergi. Tuan Benjamin sedang menunggumu di rumah."

"Ya, tapi aku bersama adikku. Apakah baik-baik saja jika aku membawanya juga?" tanya Atlas.

"Tentu saja tidak masalah. Itu malah lebih baik. Ayo pergi."

Atlas berjalan menjauh dari CEO dan para penjaga yang masih terkejut, yang hanya bisa menatap mobil mewah yang membawa Atlas hingga mobil itu menghilang dari pandangan.

CEO kemudian segera masuk ke dalam untuk menemui Stevan, yang sebelumnya telah dibawa ke kantornya.

Wajah Stevan yang lebam menunjukkan ekspresi marah saat menatap tajam ke arah CEO ketika pria berjas biru itu masuk.

"Jadi, seberapa parah kondisi Atlas? Pasti kondisi dia lebih parah dariku sekarang, kan?"

"Aku minta maaf, Tuan Muda, tetapi Atlas dijemput oleh orang suruhan Tuan Benjamin, jadi... kami tidak sempat memukulnya."

"Apa?!" Stevan melempar kain yang sebelumnya digunakan untuk menempel di wajahnya. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berteriak di hadapan CEO. "Apa yang sudah kau lakukan?! Kau membiarkannya pergi begitu saja?! Apakah kau ingin pekerjaanmu berakhir?!"

"Sayang, tenanglah," kata Bianca.

"Aku tidak bisa tenang! Orang bodoh ini bahkan tidak bisa melakukan tugasnya dengan benar, padahal tugasnya hanya mengawasi para penjaga dan membuat kondisi Atlas lebih buruk! Aku tidak akan membiarkannya lepas dari genggamanku!"

"Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Muda Stevan, tetapi saat mendengar nama Tuan Benjamin, kami semua kehilangan keberanian...."

"Apa hubungannya itu denganku? Siapa sebenarnya Tuan Benjamin itu? Aku tidak peduli! Yang kuinginkan hanyalah agar Atlas menderita lebih parah dan dikurung dipenjara! Aku ingin dia hidup dalam penderitaan di sana, bahkan jika itu berarti mati di penjara! Aku akan menelepon ayahku untuk menangani semua ini dan memastikan kau menerima surat peringatan, dasar CEO bodoh!"

"Sebaiknya jangan melakukan itu, Tuan Muda."

Kata-kata CEO membuat Stevan berhenti saat sedang mencari nomor ayahnya di ponsel. "Apa maksudmu?!"

"Kita tidak sedang berurusan dengan orang biasa. Tuan Benjamin adalah sosok yang sangat berkuasa di kota ini. Semua orang tahu betapa dingin dan tegasnya dia. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, dia bisa menghancurkannya. Terlebih lagi jika itu sudah menjadi miliknya, kita tidak akan bisa mengganggunya. Mungkin, satu-satunya hal baik adalah Atlas telah melakukan kesalahan dan dipanggil untuk menerima hukuman yang mengerikan. Kita tidak tahu, Tuan Muda."

Penjelasan singkat CEO membuat Stevan berpikir. Dia mematikan ponselnya dan berkata, "Baiklah, kalau begitu, aku ingin kau mengumpulkan informasi tentang kondisi Atlas. Jika dia masih baik-baik saja, aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak peduli jika dia dikurung dalam kandang bersama seribu harimau dewasa! Dia harus menderita!”

~ ~ ~

"Tuan Atlas, aku minta maaf, tapi kita akan segera tiba di kediaman Tuan Benjamin."

Suara pria berjas hitam yang menjemput mereka membangunkan Atlas dan Alicia. Mereka tertidur setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam.

"Kita mau ke mana, Atlas?" tanya Alicia.

"Ssst, diam saja. Aku juga tidak tahu, tapi satu hal yang pasti, kau tidak perlu khawatir karena aku akan selalu melindungimu."

Atlas memilih untuk tetap diam dan tidak banyak bertanya kepada pria berjas hitam yang membawanya. Saat ini mereka jelas sudah jauh dari pusat kota. Bahkan, mereka dikelilingi hutan lebat, dan jalanan yang sepi membuat Atlas berspekulasi bahwa mereka sedang menuju ke arah timur.

"Lihat itu!" Alicia menyenggol Atlas dan menunjuk ke jendela di sampingnya.

Sebuah rumah mewah dengan gerbang hitam yang menjulang tinggi muncul di antara pepohonan.

Atlas cukup terpesona oleh pemandangan itu.

Mobil mereka mengikuti jalan yang mengarah ke rumah besar tersebut.

Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan gerbang yang mereka lihat sebelumnya. Jantung Atlas berdegup kencang, dan ribuan pertanyaan muncul di benaknya.

"Apa yang mereka inginkan dariku? Apakah ada sesuatu yang membuat mereka marah? Apa pun itu, semoga kekuatan yang ditinggalkan nenek bisa membantuku."

Pria berjas hitam itu turun dari mobil, namun tak lama kemudian ia kembali masuk dan mobil kembali melaju.

Jalan menuju rumah ini sebelumnya hanyalah tanah biasa, karena berada di pinggiran hutan.

Namun, saat gerbang terbuka, jalan aspal mulus membentang hingga ke depan rumah bergaya klasik itu.

"Kita sudah sampai, Tuan Atlas, mari turun."

Pria berjas hitam itu kemudian turun dan membukakan pintu untuk Alicia dan Atlas. Kedua saudara itu terpukau saat mata mereka menangkap seluruh bangunan di depan mereka.

"Ayo, Tuan Atlas, Tuan Benjamin sudah menunggu di dalam."

Mereka mengikuti langkah pria berjas hitam itu, berjalan melewati interior rumah yang jauh lebih mewah dan berkelas.

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kemegahan bangunan berwarna putih itu. Alicia hanya bisa terpana sambil sesekali menelan ludah.

"Nona Alicia, karena pertemuan ini akan sangat pribadi, kau bisa menunggu di ruang tamu. Ruben akan mengantarmu."

Pria berjas hitam itu menunjuk seorang pria paruh baya yang tampak menundukkan kepalanya kepada Alicia.

Atlas mengangguk sebagai isyarat agar Alicia segera mengikuti pria bernama Ruben itu. Kedua saudara itu berpisah, Alicia menuju koridor di sisi kiri, sementara Atlas masuk ke dalam lift yang terletak tidak jauh dari tangga megah.

Lift berhenti di lantai tiga. Saat pintu lift terbuka, mereka langsung dihadapkan pada sebuah ruangan dengan pintu kayu hitam berukir wajah harimau. Pria berjas hitam itu membuka pintu dan memberi isyarat agar Atlas masuk.

"Silakan, Tuan Atlas."

Pintu itu tertutup segera setelah Atlas masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu tampak kosong, hanya ada lukisan abstrak yang tergantung di dinding, dan karpet mewah yang membentang menuju sebuah koridor kecil yang remang-remang.

"Sepertinya aku harus menuju ke koridor itu," gumam Atlas.

Dia mengumpulkan keberaniannya dan melangkah maju. Saat mencapai koridor kecil itu, Atlas mendengar suara seorang pria yang memohon ampun.

Atlas mengikuti sumber suara itu, yang membawanya ke sebuah ruangan di sisi kanan koridor. Saat ia mengintip, ia melihat Tuan Benjamin, yang tidak lain adalah pria tua kemarin, mengangkat kepalanya ke arah Atlas dan memberi isyarat agar ia masuk.

Atlas merasa panik saat melihat pria yang menangis itu tampak bersujud di hadapan Benjamin.

"Ini tidak baik. Apa aku akan berakhir seperti dia?" gumam Atlas.

Keraguannya membuat Atlas menangkupkan tangannya dan berniat menunggu di luar. Namun, Benjamin membanting meja dan berkata, "Atlas, tunggu di sini!"

Atlas terkejut oleh suara Benjamin yang menggema di seluruh ruangan. Dengan enggan, ia mendekati kursi yang ditunjuk oleh Benjamin.

"Kau, pergi sekarang. Waktuku untuk mendengar alasanmu sudah habis. Jangan biarkan dirimu hancur di depan orang lain, itu bukan sesuatu yang kau inginkan, bukan?"

Benjamin berkata kepada pria yang menangis itu.

Atlas menelan ludah. Benjamin benar-benar tampak tegas dan menakutkan, jauh dari kesan pria tua yang menyedihkan. Pria yang menangis itu bersujud di hadapan Benjamin. Benjamin, yang berdiri di samping Atlas, menepuk bahunya sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih, Tuan Benjamin, karena telah memaafkanku."

Pria itu berulang kali mencium kaki Benjamin. Namun, apa yang terjadi selanjutnya tidak terduga. Benjamin menendang pria itu hingga darah mengalir dari hidungnya.

"Siapa bilang aku memaafkanmu? Aku bilang, keluar!"

Pria itu akhirnya berlari pergi dengan tergesa-gesa. Benjamin menarik napas dalam sambil menatap Atlas. "Itulah hidup, Atlas. Abaikan saja dia, dia hanya pria bodoh yang melanggar aturan. Ngomong-ngomong, bagaimana perjalananmu ke sini? Menyenangkan?"

"Sejujurnya, aku dan adikku tertidur. Mobilmu cukup nyaman hingga membuat kami mengantuk."

"Ah, kau datang bersama adikmu? Aku ingin bertemu dengannya setelah ini," kata Benjamin dengan ramah.

"Ya, dia ada di lantai satu. Ngomong-ngomong, Tuan, bagaimana aku bisa membantumu? Pasti ada alasan kau memanggilku ke sini, bukan?"

Benjamin tersenyum dan duduk di atas meja di depan Atlas. Dia mengangguk dan berkata, "Tentu saja, aku tidak membawamu ke kediamanku hanya untuk berbincang-bincang. Aku ingin kau membantuku, aku ingin kau menyembuhkanku, Atlas."

"Menyembuhkanmu?" Atlas menunjukkan keraguan terhadap permintaan Benjamin, mengingat dia baru saja menendang seseorang, yang menunjukkan bahwa dia terlihat sangat sehat. Tidak mungkin orang sakit bisa menendang sekeras itu.

"Ya, seperti yang kau lakukan saat aku tiba-tiba pingsan kemarin. Aku sedang sekarat, Atlas. Aku ingin kau menyelamatkan hidupku. Aku mungkin terlihat sangat baik dan tampak sehat, tapi itu tidak benar. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, waktuku hampir habis..."

Atlas mengernyitkan dahi, terlihat bingung. Meskipun dia tahu bahwa dia bisa melakukan sesuatu dengan kekuatannya, permintaan Benjamin membuatnya khawatir kemampuannya akan diketahui oleh Benjamin.

"Yah, aku masih cukup bingung. Tapi kenapa kau harus meminta bantuan dariku? Bukankah orang sepertimu memiliki dokter pribadi dengan peralatan canggih untuk menyembuhkan penyakit apa pun?"

Benjamin berdiri dan berpindah ke kursi di belakang meja. Dia meletakkan kakinya di atas meja dan menyalakan cerutu. Dia tampak menikmati asapnya saat mengisapnya, lalu berkata, "Jika dokter bisa menyembuhkanku, aku tidak akan tergeletak di jalan dan ditolong oleh pemuda biasa sepertimu, Atlas. Kau tahu maksudku..."

Atlas tersenyum mengerti. Pilihan kata Benjamin membuatnya tertarik, dan dia mulai tertarik untuk mengikuti apa yang diinginkan Benjamin sekarang.

1
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Budiman
ditunggu up berikutnya ya kak
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!