Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam Juga Ternyata
Malam ini sangat berbeda dari malam sebelumnya, tidak ada lagi hawa mencekam hanya saja dinginnya malam menembus hingga ketulang. Cahaya rembulan di temani bintang-bintang yang gemerlapan, seakan kehidupan sehari-hari yang akan terus bersinar terang tidak kenal lelah akan rintangan maupun cobaan.
Aldi belum tertidur dia masih duduk di sofa sambil bermain ponselnya, Niko sendiri sudah terlelap tidur. Niko masih belum stabil kesehatannya, dia masih terbayang-bayang sosok yang telah menunjukkan dirinya kepada Niko.
"Mas belum tidur?," tanya Dinda, yang sedang mau minum air putih.
"Belum Din," jawab Aldi.
"Sudah malam mas. Kenapa gak istirahat sekarang!!," Dinda berkata pelan.
"Setelah ini tidur, tapi gak tau kenapa susah sekali aku tidur malam ini," balas Aldi.
"Kecapean mungkin mas!!," ujar Dinda.
"Sepertinya sih begitu," balas Aldi.
Dinda mengambil minum. Aldi sendiri tetap asik melihat ponselnya, dia masih kesusahan untuk tidur malam ini. Entah mengapa seperti tidak biasa bagi Aldi, baru kali ini Aldi yang ingin istirahat tapi susah sekali untuk tidur.
"Apa perlu di temani mas?," tanya Dinda, setelah dia minum air putih.
"Enggak Dinda, kamu istirahat aja," jawab Aldi.
"Ya sudah mas, saya masuk dulu," balas Dinda.
"Iya," Aldi berkata singkat.
Aldi meletakkan ponselnya, lalu dia berusaha memejamkan matanya. Rasa lelah akan hari terasa di punggung Aldi, dia sangat lelah tapi tetap berusaha kuat agar bisa membantu orang lain.
Malam semakin larut. Aldi sekarang sudah tertidur pulas, namun tubuhnya seakan berkata lain. Badan Aldi tiba-tiba panas dingin, entah sebabnya apa tapi kemungkinan terbesar fakto kelelahan dalam melakukan pekerjaan.
Niko terbangun oleh suara Aldi yang menahan rasa sakitnya.
"Astaga, panas banget sih Aldi," ujar Niko, dia meletakkan tangannya di dahi Aldi yang ternyata panas.
Niko dengan langkah pelan mengetuk pintu kamar Sita, dia ingin membangunkannya agar bisa membantu merawat Aldi yang sedang demam malam ini.
"Mbak Sita bangun!!," teriak pelan Niko.
Sita yang sedikit mendengarkan itu, dengan perlahan membuka matanya lalu menuju pintu kamarnya.
"Ada apa ko?," tanya Sita, dengan mata masih terasa berat untuk di buka.
"Aldi mbak," Niko berhenti sejenak lalu memandang wajah Sita.
"Aldi kenapa ko?, jangan bikin takut aja kamu," tanya Sita dengan sedikit rasa khawatirnya mulai terasa.
"Aldi tiba-tiba panas mbak badannya," ujar Niko.
Sita yang mendengarkan itu tidak bertanya lagi, dia langsung berlari kecil menuju Aldi. Aldi menggigil hebat merasakan sensasi panas di seluruh badannya, kepanikan Sita terdengar oleh Salma dan Dinda.
Mereka terbangun dengan mata sedikit terbuka, dengan langkah pelan mereka keluar dari kamar tidur. Salma dan Dinda tersentak kaget melihat Mbak Sita lari mondar-mandir membawa baskom lalu mengambil kain.
Salma langsung tertuju pada Aldi yang di selimuti tebal oleh Sita dan Niko sedang berada di sampingnya.
"Kak, kenapa kak Aldi?," tanya Salma.
"Gak tau tiba-tiba badannya panas juga," jawab Niko, dia sendiri bingung yang tadi sehat tiba-tiba sekarang sakit.
Salma yang mendengar itu langsung memegang dahi Aldi, dan benar saja sangat panas membuat Salma sangat khawatir dengan keadaan Aldi.
Dia kemudian menelfon Lia dan Lela bergantian untuk meminta bantuan warga atau dokter desa untuk datang kerumah Sita. Lia ternyata baru terbangun karena haus, dengan perlahan mengangkat telfon Salma.
"Lia, tolong minta bantuan Aldi panasnya tinggi malam ini," ujar Salma.
Lia yang mendengarkan itu sangat kelabakan karena bingung harus bagaimana, tepat di kebingungan Lia ayahnya baru pulang dari ronda.
"Kamu kenapa nak?, kok keliatan panik bener," tanya pak RT.
"Aldi panasnya tinggi ayah, ini Salma barusan telfon," jawab Lia.
Pak RT yang mendengarkan itu langsung keluar dari rumah tanpa bertanya apa-apa lagi, dia berlari menuju rumah dokter desa untuk meminta bantuan. Suara lari pak RT itu terdengar oleh beberapa warga yang masih berada di pos Ronda.
"Pak RT kenapa lari-lari?," tanya Kang Darman.
"Mau ke dokter desa. Aldi tiba-tiba panas tinggi," jawab pak RT, kemudian lari lagi menujuk rumah dokter desa yang sebentar lagi sampai.
Pos ronda yang ramai itu langsung berhenti, sekitar enam orang langsung mengikuti pak RT menuju rumah dokter desa. Setelah keributan kecil dan rasa khawatir warga desa kepada Aldi akhirnya mereda ketika sudah mendapatkan pertolongan.
Salma masih memegang tangan Aldi di samping, sambil dokter desa memeriksa kondisi Aldi bagaimana.
"Kecapean aja ini, nanti kalau sudah bangun kasih obat dan suruh istirahat dulu," ujar Dokter desa.
"Untunglah hanya kecapean saja dok," balas Sita.
"Dia seperti memikirkan sesuatu jadi bikin cepat lelah saja. Mungkin ada sesuatu yang bikin dia khawatir jadi bercampur dengan rasa lelahnya," penjelasan dokter.
Sita dan yang lain saling pandang penuh akan kebingungan, apa sebenarnya yang di pikirkan oleh Aldi sehingga sampai panasnya tinggi.
Dalam alam bawah sadar Aldi. Dia duduk dengan santai sambil memejamkan matanya, dengan perlahan di buka namun terkejut Aldi ketika melihat entah dimana membuat rasa panik itu nyata.
"Aku ada dimana ini!!!," seru Aldi, dia melihat keseluruhan yang hanya hutan belantara.
Sosok seekor Harimau Putih berubah menjadi manusia biasa tepat di depan Aldi, membuatnya sangat terkejut hingga sedikit memundurkan tubuhnya.
Ternyata itulah Mbah Danu. Dia memperlihatkan wujud aslinya di depan Aldi, Aldi yang melihat itu hanya bisa terdiam. Dia berusaha untuk mencerna segala apa yang dia lihat dengan matanya sendiri.
"Inilah sebenarnya diriku anak muda, kau tak perlu takut. Aku tidak akan pernah menyakitimu," suara Mbah Danu terasa berat penuh tekanan.
"Saya masih tidak percaya Mbah, tapi kenapa sekarang di perlihatkan apa tujuan sebenarnya?," balas Aldi dengan sebuah pernyataan melintas di pikirannya.
"Kamu telah lupa anak muda," suara Mbah Danu begitu berat.
"Lupa apa Mbah?," Aldi merasa bingung.
"Kau belum puasa 3 hari 3 malam tanpa memakan Nasi tapi hanya makan Singkong," ujar Mbah Danu, dengan suara berat dia menjelaskan kepada Aldi.
Aldi yang mendengarkan itu baru tersadar untuk berpuasa, Aldi hanya bisa menundukkan kepalanya karena kelalaiannya sendiri dan janjinya sendiri tidak di laksanakan.
Dia merenung begitu lama, hingga akhirnya di sadarkan oleh tepukan pelan di bahunya.
"Tidak perlu menyesalinya anak muda, kamu bisa lakukan itu setelah dirimu pulih kembali," suara Mbah Danu pelan di telinga Aldi.
Aldi yang mendengarkan itu menarik napasnya dalam-dalam lalu memandang Mbah Danu. Mbah Danu tersenyum kecil melihat Aldi, dia benar-benar tau bagaimana Aldi sebenarnya kenapa sampai lupa untuk berpuasa.
"Baik Mbah saya akan laksanakan puasa itu setelah sehat kembali," balas Aldi.
"Kau besok siang berendamlah di Kedung Raja," pinta Mbah Danu.
"Siap Mbah," Aldi berkata pelan, dia kembali memejamkan matanya lalu terperanjat kaget di dunianya sendiri.
Aldi terbangun dengan terkejutannya sendiri, melihat Salma tidur di sampingnya. Aldi membelai rambut Salma perlahan, dia merasakan kenyamanan dalam kedekatan mereka. Akan tetapi Aldi hanya menganggapnya adik sendiri.
Aldi hanya ingin sukses sebagai petani, dia berharap apa yang di lakukannya nanti bisa bermanfaat bagi warga desa. Harapan terbesar Aldi hanya ingin bisa memperbaiki ekonomi di desanya.
°°°°