Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Lembur Berbalut Gengsi
Jarum jam digital di sudut kanan bawah monitor resolusi tinggi itu berkedip dengan ritme yang terasa mengejek, menunjukkan pukul 23:45 WIB.
Lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara, yang di siang hari selalu bising oleh dering telepon yang tak henti-hentinya, perdebatan teknis dari puluhan desainer, dan suara ketukan pantofel serta sepatu hak tinggi di atas karpet tebal, kini telah sepenuhnya ditelan oleh kesunyian yang absolut. Dimensi beton dan kaca itu telah berubah menjadi semacam ruang hampa. Satu-satunya suara yang tersisa hanyalah dengungan konstan dari mesin pendingin ruangan sentral yang suhunya secara otomatis diturunkan pada malam hari, dan ketukan kasar kuku Kanaya Larasati di atas tombol tetikusnya.
Hanya ada satu lampu meja yang dibiarkan menyala di seluruh area divisi desain yang luas tersebut. Pendaran cahaya LED putih pucat itu menyoroti wajah Naya layaknya sebuah lampu sorot di ruang interogasi, mencetak bayangan gelap yang sangat kontras di bawah matanya. Di sebelahnya, tiga buah cangkir kertas berlogo kedai kopi murahan di lantai dasar, yang kini hanya menyisakan ampas hitam mengering, berdiri berjejer bagai saksi bisu atas penyiksaan fisik dan mental yang sedang ia jalani.
Di layar monitor raksasanya, perangkat lunak render tiga dimensi sedang memproses instruksi penghapusan massal. Kursor Naya melayang di atas layer utama file tersebut. Ia menekan tombol Delete pada papan ketiknya dengan tenaga ekstra, seolah tombol plastik itu adalah proyeksi dari wajah arogan atasannya.
Dalam hitungan detik, instalasi taman vertikal indoor bergaya biophilic—sebuah konsep ruang hijau yang ia rancang dengan peluh, riset mendalam tentang sirkulasi udara, dan kurang tidur selama berminggu-minggu—lenyap tak berbekas dari layar. Karya idealisnya itu terhapus secara digital, digantikan oleh ruang kosong berupa jaring-jaring kawat virtual (wireframe) yang menanti untuk diisi ulang.
'Ini bukan lagi tentang mendesain sebuah ruang fungsional yang bernapas. Ini murni pelacuran idealisme,' batin Naya getir, sebuah rasa mual yang tidak berasal dari lambungnya mengaduk-aduk dadanya. Rahangnya terkatup rapat hingga berbunyi gemeretak pelan di tengah keheningan.
Naya melepaskan tetikusnya sejenak dan memijat pangkal hidungnya yang berdenyut ngilu. Matanya terasa seperti digosok dengan serpihan kaca yang dihaluskan; luar biasa kering, perih, dan memanas menahan air mata frustrasi. Dengan gerakan kaku bak mesin pabrik yang belum dilumasi, ia menarik kursor ke pustaka material digital milik perusahaan. Ia mulai memblok dinding dan lantai virtual lobi hotel itu dengan tekstur marmer Calacatta Gold impor lapis demi lapis.
Warnanya putih bersih dengan urat emas yang mencolok dan angkuh. Dingin. Kaku. Dan luar biasa mahal.
'Kemewahan fasis yang absolut dan mengintimidasi. Itu kan yang dia mau? Dasar robot kapitalis tanpa jiwa,' rutuk Naya dalam hati, mengarahkan kursornya dengan tarikan yang sarat akan amarah, seolah ia sedang menggoreskan pisau. 'Dia pikir mengganti komposisi material seluruh lantai dasar sebuah mega-proyek itu semudah mengganti kemeja sutranya di pagi hari? Aku harus menghitung ulang seluruh persentase pantulan cahaya (albedo) agar marmer sialan ini tidak membutakan mata para tamu VIP saat matahari siang menembus fasad kaca. Tapi tentu saja, sang pewaris takhta Dirgantara itu tidak memedulikan detail teknis yang menyiksa seperti itu. Yang dia pedulikan hanyalah seberapa silau kilau hartanya bisa menampar wajah kompetitornya.'
Naya menghela napas panjang, menelan ludah yang terasa sepahit empedu akibat overdosis kafein dan tenggorokan yang mengering.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi dengan nada panjang yang melengking. Tangannya tanpa sadar terlipat menyilang, menekan ulu hatinya yang melilit kencang karena kram lambung. Naya baru menyadari bahwa ia belum memasukkan makanan padat apa pun ke dalam sistem pencernaannya sejak mengunyah selembar roti gandum hambar tadi pagi. Rapat jahanam yang menguras emosinya di ruang CEO siang tadi telah merenggut jam makan siangnya, dan kepanikannya mengejar tenggat waktu tiga hari telah membunuh nafsu makannya saat jam makan malam tiba.
'Tahan, Kanaya. Jangan tumbang sekarang. Kau tidak boleh menyerah di gedung ini,' Naya merapal mantra pertahanan di kepalanya, memaksakan tulang punggungnya untuk kembali tegak lurus menantang gravitasi kelelahan. 'Kau bukan lulusan universitas luar negeri elit seperti anak-anak magang manja di lantai ini. Kau tidak punya jaring pengaman berupa keluarga kaya raya yang akan menampungmu jika kau dipecat. Jika kau menyerah hanya karena tekanan dari satu CEO lalim, cibiran orang-orang yang meremehkanmu sejak dulu akan terbukti benar. Selesaikan revisi ini, pastikan semuanya sempurna tanpa celah, lalu lemparkan cetak biru sialan ini tepat ke wajah tampannya besok lusa.'
Sementara itu, dua lantai di atas penderitaan Naya, di balik dinding kedap suara ruang kerja CEO yang luar biasa mewah.
Arjuna Dirgantara belum menyentuh sofa kulitnya sama sekali sejak para direktur lain pulang beberapa jam yang lalu. Jas navy miliknya yang dijahit khusus secara bespoke sudah ditanggalkan dan tersampir sembarangan di sandaran kursi direkturnya. Lengan kemeja putihnya digulung secara kasar hingga ke batas siku, mengekspos urat-urat yang menonjol di lengannya. Dasi sutranya sudah dilonggarkan secara paksa dan kancing kerah teratas kemejanya dibuka, memberikan sedikit ruang bagi napasnya yang entah mengapa terasa sesak malam ini.
Juna berdiri dalam diam, menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja kerja mahoni berukuran raksasa tersebut. Sebelah tangannya memegang sebuah tablet tipis beresolusi sangat tinggi. Namun, alih-alih menampilkan grafik fluktuasi saham bursa global, draf kontrak vendor, atau laporan margin kuartal seperti biasanya, layar tablet itu justru menampilkan rekaman langsung (live feed) dari sistem kamera keamanan internal beresolusi tinggi milik perusahaan.
Mata hitam Juna yang tajam dan tidak berkedip, terkunci pada sebuah kotak layar kecil di sudut kanan atas—kamera yang secara spesifik menyorot area divisi desain interior. Rekaman monokrom inframerah itu memperlihatkan seorang perempuan berambut sebahu yang diikat asal-asalan, sedang bertarung sendirian melawan tenggat waktu yang tak masuk akal di tengah lautan kubikel yang kosong melompong.
'Dia benar-benar belum pulang,' gumam Juna dalam hati, alis tebalnya bertaut menciptakan kerutan dalam di dahinya yang lebar. 'Gadis keras kepala. Apakah dia sama sekali tidak tahu di mana batas utilisasi fisik organ tubuhnya sendiri? Ini sudah nyaris tengah malam. Seharusnya dia mengibarkan bendera putih, mengirim email pengunduran diri ke HRD, atau setidaknya datang mengetuk pintuku dan memohon perpanjangan waktu seperti karyawan normal lainnya.'
Juna meletakkan tablet itu tertelungkup ke atas meja kaca dengan gerakan yang sedikit kasar, menciptakan bunyi benturan tajam yang memecah keheningan ruangannya. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas. Langkah kakinya yang berat mencerminkan pergolakan di dalam kepalanya.
'Gengsinya terlalu tinggi. Terlalu angkuh. Sama sepertiku,' batin Juna, mencoba mencari rasionalisasi klinis atas perasaan tidak nyaman yang mendadak bersarang di rongga dadanya, sebuah anomali emosi yang sangat ia benci karena tidak bisa dikalkulasi dengan rumus bisnis. 'Ayah selalu benar. Kelas pekerja di industri ini rela mengorbankan sisa-sisa kewarasan dan kesehatan mereka hanya untuk tidak terlihat lemah di depan atasan. Tapi melihatnya menghancurkan desain biophilic buatannya sendiri di layar itu... sialan.'
Juna berhenti melangkah. Ia berdiri mematung, menatap refleksi dirinya sendiri di kaca jendela panorama raksasa yang menampilkan lautan lampu kota Jakarta.
Di dalam lubuk hatinya yang paling rasional sebagai seorang arsitek, Juna tahu persis bahwa konsep awal gadis itu tidaklah buruk. Bahkan, jika dilihat murni dari kacamata estetika kontemporer, rancangan lobi hijau milik Kanaya itu adalah sebuah oase mahakarya yang bisa menenangkan jiwa siapa pun yang memasukinya. Tapi Juna tidak dibayar miliaran rupiah untuk menjadi terapis jiwa. Inovasi radikal di ranah komersial selalu membawa risiko finansial tinggi, dan kata 'risiko' adalah kata haram yang bisa berujung pada pemecatan paksa oleh dewan direksi, yang sebagian besar anggotanya adalah loyalis ayahnya.
'Jika Grand Azure Hotel gagal mencapai target margin keuntungan absolut di kuartal pertama hanya karena desain lobinya dianggap terlalu eksperimental dan kurang prestisius di mata kaum elit, Ayah akan menggunakan itu sebagai justifikasi untuk menyerahkan posisiku pada Bang Satria. Aku tidak akan pernah membiarkan imperium ini lepas dari tanganku,' Juna mengingatkan dirinya sendiri dengan kejam, mengeraskan rahangnya hingga urat lehernya menonjol. 'Aku harus bertangan besi. Aku harus tidak memiliki perasaan. Aku tidak boleh melunak hanya karena melihat satu karyawan memaksakan diri hingga kelaparan di kubikelnya.'
Namun, argumentasi logis yang ia susun sedemikian rupa itu ternyata sama sekali tidak sejalan dengan sistem motorik tubuhnya. Tanpa Juna sadari, seolah-olah kakinya digerakkan oleh entitas insting yang melampaui logikanya, langkahnya justru membawanya keluar dari ruang CEO, menyusuri lorong eksklusif VIP yang temaram, dan menekan tombol lift menuju lantai dua puluh lima.
Ting.
Pintu baja lift terbuka dengan suara denting yang sangat pelan. Lantai divisi desain sangat gelap gulita, dingin, dan sunyi, kecuali satu titik pendaran cahaya dari layar monitor di ujung ruangan sana.
Langkah kaki Juna nyaris tanpa suara. Sepatu kulit pantofelnya yang mahal meredam bunyi gesekan di atas karpet tebal saat ia berjalan mendekat secara perlahan layaknya seekor predator di padang savana malam. Ia menghentikan langkahnya sekitar lima meter dari kubikel Naya, menyembunyikan postur tubuhnya yang tinggi besar di bawah bayangan pilar beton penyangga yang belum dilapisi panel.
Dari posisinya yang tersembunyi dalam kegelapan, Juna bisa melihat profil samping wajah Naya dengan sangat jelas. Hidung gadis itu bangir dan tegas, bulu matanya yang panjang sesekali mengerjap dengan sangat lambat melawan gravitasi kantuk yang mematikan. Tangan kanannya mengklik tetikus dengan kecepatan agresif yang didorong oleh keputusasaan, sementara tangan kirinya kembali terlipat meremas perutnya sendiri yang kosong.
Gadis itu kelaparan. Tentu saja dia kelaparan. Kantin utama di lantai dasar gedung ini sudah tutup sembilan jam yang lalu.
'Apa yang sedang kaulakukan di sini, Arjuna Dirgantara?' Juna memaki dirinya sendiri di dalam palung hatinya, merasa sangat bodoh dan keluar dari karakter karena berdiri mengintip di dalam kegelapan. 'Hanya untuk memastikan dia benar-benar bekerja? Riko bisa memberikan laporan komprehensifnya besok pagi beserta riwayat aktivitas komputernya. Kau bertingkah sangat irasional. Berbaliklah sekarang. Kembali ke lantai atas sebelum dia menyadarinya.'
Meski seluruh sel otaknya berteriak memekakkan telinga menyuruhnya mundur, Juna justru mengambil langkah maju. Ia berjalan menembus batas bayangan pilar tersebut, hingga ujung sepatunya menyentuh batas pendaran cahaya lampu meja kerja Naya.
Bayangan presensi Juna yang menjulang tinggi jatuh menutupi layar monitor Naya, menciptakan sebuah gerhana artifisial sesaat di atas meja kerja yang berantakan itu.
Naya tersentak hebat. Ia menoleh ke belakang dengan gerakan mematah yang sangat cepat. Matanya membelalak lebar seketika, pupilnya mengecil, dan punggungnya otomatis menegang kaku seperti papan. Sisa-sisa kantuk dan rasa nyeri di lambungnya menguap habis dalam sedetik, tergantikan oleh sengatan adrenalin murni dan insting defensif yang membakar pembuluh darahnya.
"Pak Arjuna?" suara Naya terdengar serak, sebuah perpaduan antara keterkejutan yang ekstrem dan kelelahan vokal. Matanya memindai siluet bosnya di tengah kegelapan, dadanya naik turun dengan cepat. "Apa yang Anda lakukan di lantai ini selarut ini? Memeriksa secara personal apakah saya melarikan diri dari eksekusi mati Anda?"
Juna memasukkan kedua tangannya dengan santai ke dalam saku celana bahannya, mengunci kembali topeng stoik andalannya rapat-rapat. Tidak ada satu pun riak emosi yang terbaca di wajahnya yang menyerupai pahatan pualam.
"Saya sedang mengecek operasional aset perusahaan saya," jawab Juna sangat datar, suaranya memecah keheningan lantai kosong itu dengan presisi dan kedinginan seorang tiran. "Listrik, server data yang terus menyala, pendingin ruangan, dan stasiun kerja yang sedang Anda pakai ini sepenuhnya dibiayai oleh Dirgantara Group. Sebagai CEO, saya memiliki hak prerogatif untuk turun kapan saja guna memastikan fasilitas tersebut diutilisasi dengan efisien dan tidak disalahgunakan."
Naya tertawa kecil. Sebuah tawa kering yang terdengar parau, menyedihkan, dan sarat akan sarkasme tingkat tinggi.
Ia memutar kursinya hingga berhadapan penuh dengan bosnya itu. Tidak ada lagi saringan kesopanan atau etika basa-basi seperti yang ia tunjukkan di ruang rapat siang tadi; kelelahan ekstrem telah meruntuhkan seluruh dinding kehati-hatiannya, memunculkan keberanian yang lahir dari keputusasaan.
"Fasilitas yang efisien?" Naya mengangkat alisnya, lalu menunjuk layar monitornya dengan dagu secara angkuh, menantang tatapan sang CEO. "Bisa Anda lihat sendiri, Pak. Saya sudah merombak enam puluh persen material dasar lobi ini menjadi marmer Calacatta Gold sesuai dengan titah Yang Mulia. Estimasi Rencana Anggaran Biaya memang akan membengkak gila-gilaan sekitar lima belas persen karena material kaku itu, tapi tenang saja, estetika 'kemewahan absolut' yang Anda agung-agungkan sudah terjamin tampil di layar ini. Apakah inspeksi tengah malam Anda sudah selesai?"
'Tatapannya... kenapa dia menatapku seperti itu?' Naya tiba-tiba goyah dalam batinnya, nyalinya seketika menciut saat ia menyadari cara mata hitam Juna memindainya perlahan dari atas ke bawah.
Sorot mata Juna malam ini tidak lagi setajam, sedingin, dan semerendahkan saat mereka berdebat di siang hari. Ada sebuah intensitas di dalam mata pria itu yang mengintimidasi namun... terasa sangat asing dan berbahaya. Kehadiran fisik Juna yang menjulang di kubikel sempitnya, dengan kemeja putih tanpa jas dan lengan yang digulung, entah kenapa mengacak-acak ritme napas Naya dan membuat jantungnya berdebar.
Alih-alih marah atau tersinggung atas sindiran terang-terangan dan tidak sopan dari bawahannya, Juna justru melangkah selangkah lebih dekat. Ia sedikit mencondongkan badannya ke depan, melewati batas ruang personal Naya, untuk melihat tampilan layar monitor gadis itu dengan lebih jelas. Jarak fisik di antara mereka menyempit secara drastis.
Naya menahan napasnya secara refleks. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis saat aroma vetiver, kayu aras, dan lada hitam yang sangat maskulin dan hangat menembus indra penciumannya, menenggelamkan total bau apak dari sisa kopi dingin di mejanya. Aroma itu seperti sebuah pelukan yang tak kasat mata.
"Marmer Calacatta Gold untuk area transisi yang menghubungkan pintu masuk lobi?" Juna bergumam pelan. Matanya mengunci detail piksel material di layar, namun suaranya terdengar bariton dan bergetar tepat di dekat telinga Naya. "Pilihan visual yang bagus, tapi terlalu bodoh secara fungsional. Material Calacatta itu terlalu licin saat terpapar tampias air hujan dari luar. Risiko klaim asuransi akibat tamu VIP atau pejabat yang terpeleset dan cedera tengkorak di lobi kita sangat tinggi. Ganti material lantai di radius lima meter dari pintu masuk utama dengan Travertine hitam bertekstur matte (kasar)."
Juna kemudian menegakkan tubuhnya kembali secara perlahan, memutus kedekatan fisik mereka yang mendadak terasa mencekik paru-paru Naya.
"Sisanya..." Juna melirik sekilas ke arah sisa komposisi desain di layar, lalu menatap lurus ke dalam mata Naya. "...cukup bisa ditoleransi untuk ukuran kualitas pekerjaan memburu waktu satu malam."
Naya terdiam kaku. Matanya berkedip lambat. Kata 'cukup bisa ditoleransi' yang keluar dari mulut seorang Arjuna Dirgantara, di telinga karyawan Dirgantara Group, nilainya setara dengan piala penghargaan tertinggi dari manusia normal. Pria ini secara teknis baru saja memujinya.
"Baik," sahut Naya singkat, suaranya sedikit tertahan di kerongkongan. Ia menarik kembali tetikusnya dengan gerakan patah-patah, berusaha keras menekan keinginannya yang memalukan untuk menggeser kursinya menjauh agar tidak terus terintimidasi oleh dominasi aura pria itu. "Akan saya sesuaikan presisi dan tekstur material Travertine-nya sekarang juga."
Juna menatap Naya dari atas ke bawah selama tiga detik penuh tanpa berkedip. Ia sedang merekam dengan sangat teliti lingkar hitam di bawah mata gadis itu, postur bahunya yang kaku karena tegang, dan posisi tangan kirinya yang kembali bergerak turun untuk menekan perutnya yang kosong.
Namun, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi untuk menjelaskan atau berpamitan, Juna memutar tubuhnya, berbalik, dan berjalan pergi dengan langkah panjang meninggalkan Naya menuju lift eksekutif.
Naya menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan hingga tulang rusuknya sakit. "Dasar mesin kapitalis aneh tanpa setitik pun empati," gerutunya sangat pelan pada layar monitornya, mengusap tengkuknya yang merinding sambil kembali berkutat dengan pustaka material AutoCAD-nya.
Namun, kejutan psikologis untuk malam itu ternyata belum berakhir bagi Kanaya Larasati.
Tiga puluh menit kemudian, saat pandangan Naya benar-benar mulai mengabur dan berlapis ganda, suara derap langkah sepatu kulit yang teredam karpet kembali terdengar dari arah lorong. Naya tidak repot-repot menoleh, mengasumsikan dengan pasrah bahwa itu hanyalah petugas kebersihan sif malam yang sedang berpatroli mengumpulkan sampah dari kubikel ke kubikel.
Namun, dari sudut matanya, ia melihat sebuah lengan berlapis kemeja putih yang digulung, meletakkan sebuah kantong kertas tebal berlogo emas elegan dari sebuah restoran delicatessen premium di lantai dasar. Kantong itu diletakkan tepat di atas mejanya, bersisian dengan alas tetikusnya.
Kantong kertas cokelat itu masih menguarkan kepulan uap tipis. Dan bersamaan dengan uap itu, aroma daging sapi panggang yang hangat, mentega cair, dan saus rempah lada hitam seketika menyerbu rongga penciuman Naya tanpa ampun, membuat lambungnya menjerit memberontak dengan sangat keras dan menyakitkan.
Naya mendongak dengan cepat, nyaris membuat urat lehernya tertarik.
Arjuna Dirgantara sudah berjalan menjauh, punggung lebarnya nyaris tertelan oleh bayangan gelap di ujung lorong menuju lift. Pria itu sendirilah yang turun kembali ke lantai ini dan mengantarkannya.
"Pak Juna!" panggil Naya refleks, melupakan gelar formal bosnya karena terlalu terkejut dan bingung, suaranya sedikit pecah dan bergema pelan di lantai kosong itu.
Langkah Juna terhenti. Ia berdiri diam mematung, memunggungi Naya tanpa berniat memutar tubuhnya sedikit pun untuk melihat ekspresi gadis itu.
"Ada dua hal yang paling saya benci dan tidak bisa saya toleransi dalam operasional bisnis saya, Kanaya," suara Juna menggema pelan namun sangat berat, memiliki otoritas absolut. "Tenggat waktu yang terlewat karena alasan inkompetensi, dan karyawan yang masuk instalasi gawat darurat rumah sakit karena mati kelaparan di dalam gedung saya. Makanlah. Jangan membuat saya harus repot mengurus administrasi birokrasi dan menandatangani klaim asuransi kesehatan Anda besok pagi."
Pintu baja lift terbuka dengan suara denting halus, dan Juna melangkah masuk, ditelan sepenuhnya oleh pintu yang tertutup rapat, menyisakan keheningan yang membingungkan.
Naya menatap kantong kertas cokelat itu dalam waktu yang lama. Tangannya perlahan terulur merabanya, merasakan radiasi kehangatan dari wadah makanan di dalamnya menjalar ke telapak tangannya yang sedingin es batu.
'Pria iblis itu... baru saja turun tangan secara personal membawakan makan malam hangat untukku?' batin Naya tak percaya, sirkuit otaknya berusaha keras memproses anomali perilaku ini, mencari logika di baliknya. 'Dengan justifikasi klaim asuransi kesehatan perusahaan? Alasan korporat macam apa itu? Itu sangat konyol dan mengada-ada. Dia baru saja merobek-robek harga diriku dan idealismeku siang tadi, merendahkanku di depan semua orang, dan sekarang dia bertingkah seperti... peduli apakah aku masih bernapas atau tidak?'
Naya membuka lipatan kantong tersebut dengan tangan bergetar. Di dalamnya, ia mendapati seporsi iga sapi bakar premium tanpa tulang beserta kentang tumbuk hangat yang wanginya membuat air liurnya menggenang tak terkendali.
'Jangan tertipu, Kanaya. Ini murni taktik manipulasi murahan seorang tiran agar budak korporatnya bisa diperas tenaganya lebih keras lagi semalaman ini tanpa mati di kursinya,' Naya memperingatkan dirinya sendiri dengan kejam, mempertahankan kewarasannya dan kebenciannya agar tidak jatuh pada pesona pria itu. 'Tapi... ya Tuhan, aroma daging ini sangat nyata. Dan sialnya... kenapa rasa benci yang menyesakkan di dadaku ini sedikit—hanya sekian milimeter—memudar?'
Di waktu yang sama, di dalam kabin lift eksekutif yang meluncur turun menembus lantai-lantai gedung, Arjuna menyandarkan kepalanya dengan lelah pada dinding stainless steel lift. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengutuk impulsivitas emosionalnya sendiri yang sangat di luar karakter.
'Sialan. Apa yang baru saja kulakukan?' Juna memaki dirinya sendiri dengan rasa frustrasi yang murni. 'Aku menyuruh Riko memesan makan malam itu lewat jalur VIP dua puluh empat jam untuk kuantar melalui pantry, lalu entah kenapa tanpa sadar aku justru menyerahkan kantong itu langsung ke mejanya dengan kedua tanganku sendiri? Kau benar-benar mulai kehilangan kontrol dan logikamu, Arjuna. Berhentilah bertingkah di luar nalar bisnis.'
Lift berdenting saat mencapai lantai lobi eksklusif penthouse-nya. Juna membuka matanya perlahan.
'Tapi,' batin Juna lagi, menolak untuk tunduk sepenuhnya pada rasionalitas dingin yang diajarkan ayahnya. Tanpa ia sadari, ujung telunjuk kanannya naik dan menyentuh sudut bibirnya sendiri yang kini membentuk senyum asimetris yang nyata, meski nyaris tak terlihat. 'Melihat wajah terkejut, bingung, dan matanya yang melebar karena aroma makanan tadi... sepertinya cukup sepadan dengan rasa ego yang harus kuturunkan malam ini.'
[KILAS BALIK SINEMATIK]
Kamera mengambil sudut pandang dari bawah (low angle), menyorot siluet seorang pria paruh baya yang bertubuh sangat gemuk, mengenakan setelan sutra mahal dan cincin emas di setiap jarinya. Ia berdiri di tengah lobi sebuah biro arsitektur terkemuka di Jakarta yang dilapisi pualam putih berkilau.
Tiga tahun yang lalu.
Kanaya Larasati, yang saat itu baru berusia dua puluh dua tahun dan baru saja lulus dengan predikat Cum Laude dari sebuah universitas negeri lokal, berdiri di sudut ruangan. Ia mengenakan kemeja kemeja putih terbaiknya—yang sayangnya terlihat terlalu murah di antara furnitur kulit asli di ruangan itu. Tangannya memeluk erat sebuah tabung gambar portofolio berwarna hitam yang berisi cetak biru masa depannya.
Klien gemuk itu, seorang taipan properti yang arogan dan mendominasi, baru saja selesai melihat draf desain presentasi pertama Naya untuk proyek vila mewahnya. Pria itu tertawa keras, sebuah tawa yang meremehkan, lalu menoleh pada Direktur Biro Arsitektur yang mendampinginya.
"Desain dari gadis muda itu memang unik, Handoko. Punya sentuhan yang sangat menyegarkan dan hangat," ucap taipan itu, memutar sebatang cerutu Kuba di sela jari-jarinya. "Tapi ayolah, kita bicara bisnis nyata di sini. Dia ini anak siapa? Lulusan universitas negeri lokal yang tidak memiliki nama? Aku sedang membangun vila peristirahatan senilai lima puluh miliar rupiah. Aku butuh arsitek dengan nama besar, sebuah brand yang bisa kupamerkan pada kolega bisnisku dari luar negeri. Serahkan proyek ini pada anak Tuan Bramantyo saja, si lulusan London itu. Jangan buang waktuku dengan anak magang."
Di sudut ruangan, Naya berdiri membeku. Wajahnya memerah padam karena rasa terhina yang luar biasa. Ia melihat Direktur Handoko, atasannya, hanya mengangguk patuh dan meminta maaf berulang kali pada klien tersebut, sepenuhnya mengabaikan keberadaan dan kerja keras Naya.
Naya perlahan menundukkan kepalanya. Kuku-kukunya menancap kuat ke tabung polimer hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah. Terdengar suara kertas rancangannya sendiri di dalam tabung bergesekan pelan, seolah ikut merintih bersama harga dirinya yang terkoyak.
"Bakat dan kerja kerasku tidak ada harganya sama sekali di mata mereka, jika aku tidak punya nama besar dan uang," gumam Naya pelan pada dirinya sendiri, menelan ludah yang terasa seperti menelan serpihan kaca tajam. Matanya yang menunduk memancarkan kemarahan, rasa sakit, dan sebuah tekad yang mendidih.
Kamera perlahan memperbesar (zoom in) secara dramatis ke arah wajah Naya. Air matanya tidak jatuh, tertahan oleh gengsi yang baru saja lahir. Rahangnya mengeras. Momen ini merekam sebuah sumpah tak bersuara di dalam batinnya: Ia berjanji bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya diinjak-injak, atau karyanya diremehkan oleh orang-orang kaya yang arogan, siapa pun itu.
Kamera secara sinematik beralih (fade out), kembali ke masa kini. Menyoroti wajah Kanaya Larasati yang kini sedang menyantap makan malam mewah pemberian bosnya di meja kerja Gedung Dirgantara. Sumpah masa lalunya itulah yang kini menjadi bahan bakar utamanya, memaksanya untuk terus terjaga di malam itu demi membungkam arogansi seorang Arjuna Dirgantara dengan karyanya keesokan paginya.