NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Adea?

Siang hari. Kantin Fakultas Kedokteran.

Kantin sedang ramai. Mahasiswa berdesakan di depan gerobak bakso dan nasi campur. Suara tawa dan obrolan bercampur dengan suara sendok dan piring yang beradu. Adea baru saja memesan segelas matcha dingin. Minuman kesukaannya yang jarang ia beli karena harganya agak mahal untuk ukuran kantin kampus.

Ia duduk sendirian di sudut, dekat jendela. Buku catatan terbuka di samping gelas, tapi matanya tidak membaca. Ia hanya menatap ubur-ubur di dalam gelas matcha itu. Bubble-nya naik turun, tidak menentu.

Jam tiga. Angga jemput. Masih tiga jam lagi.

Ia menarik napas panjang.

Tapi napas itu belum selesai ia hembuskan ketika sesosok bayangan jatuh di atas mejanya.

"Adea?"

Adea mengangkat kepala.

Seorang perempuan berdiri di depannya. Tinggi. Rambut pendek sebahu. Kulit sawo matang dengan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran orang yang baru kenal.

Sunday.

Teman sekelas. Anaknya ramah, mungkin terlalu ramah. Suka bergosip. Suka ikut campur urusan orang.

"Ya?" sahut Adea datar.

Sunday langsung duduk di seberangnya tanpa izin. Matanya berbinar seperti kucing yang menemukan mangsa.

"Adea, kamu pacarnya anak ekonomi itu kan? Si Alvito Tegar Prangga?"

Adea mengernyit.

Alvito Tegar Prangga?

"Maksud kamu?"

"Yang jemput kamu tiap hari! Cowok ganteng, badannya kekar, matanya sayu, rambutnya agak panjang, naik motor gede." Sunday menggerakkan tangannya bersemangat. "Kok namanya Alvito Tegar Prangga? Unyu banget namanya, kayak nama sinetron!"

"Namanya Angga."

"Iya Angga! Itu nama panggilan. Nama panjangnya Alvito Tegar Prangga. Gue baru tahu tadi dari anak ekonomi."

Adea tidak tahu itu. Ia kenal Angga sejak kecil, dan selama itu ia hanya tahu nama Angga. Tidak pernah bertanya lebih. Tidak pernah merasa perlu.

"Oh," ucapnya pelan. "Baru tahu."

"Nah, itu dia!" Sunday mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. "Tadi anak ekonomi ngirim foto ini ke grup. Katanya Angga lagi deket sama cewek baru. Cantik, kaya, anak Jakarta."

Ia membalikkan ponselnya.

Adea melihat layar.

Sebuah foto.

Diambil dari kejauhan, mungkin dari lantai dua gedung ekonomi. Taman kampus. Bangku kayu di bawah pohon rindang. Dua orang duduk berdua. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Angga. Dengan kemeja abu-abunya. Sedang memegang cangkir kopi.

Di sampingnya, seorang perempuan dengan rambut hitam panjang, kemeja putih, blazer biru muda. Wajahnya sedikit tersenyum ke arah Angga.

Thalia.

Adea mengenali perempuan itu. Ferrari pink. Rambut panjang. Senyum terlatih.

Sama seperti kemarin.

"Mereka berdua doang, gak ada temen lain. Duduk di taman, ngobrol." Sunday menekan-nekan layar ponselnya. "Padahal biasanya kan kamu selalu bareng dia? Kok hari ini dia malah sama cewek lain?"

Adea diam.

Matanya masih tertuju pada layar ponsel yang sudah Sunday letakkan di atas meja.

Gelas matcha di tangannya terasa dingin. Dingin yang merambat dari ujung jari ke pergelangan tangan, ke lengan, ke dada. Sesuatu di dadanya terasa sesak.

Bukan sesak. Sakit.

Tapi ia tidak menunjukkan apa-apa.

Wajahnya tetap datar. Matanya tidak berkedip. Ia meneguk matcha-nya pelan, meletakkan gelas kembali, lalu mengangkat wajah.

"Dia bukan pacarku," ucap Adea. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Dia kakakku. Mungkin... cewek itu calon kakak iparku."

Sunday mengerjap.

"Kakak?"

"Iya. Kakak angkat. Sahabat rasa saudara kandung."

Adea tersenyum.

Senyum tipis. Dingin. Tidak biasa.

Bibirnya terangkat ke kanan, matanya menyipit sedikit, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. Matanya tetap kosong. Seperti lautan yang tenang di permukaan tapi gelombangnya ganas di dalam.

"Oh..." Sunday terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Senyum Adea membuatnya merinding. "Maaf ya, Dea. Gue kira-"

"Gak apa. Makasih fotonya."

Adea mengambil ponsel Sunday, membesarkan foto itu sejenak, cukup untuk melihat detail. Ekspresi Angga. Ekspresi Thalia. Jarak di antara mereka. Lalu ia mengembalikan ponsel itu.

"Gue cabut dulu, kelas sebentar lagi."

Adea berdiri. Membawa gelas matcha di satu tangan, buku catatan di tangan lain. Ia berjalan pelan meninggalkan Sunday yang masih duduk di kursi dengan ekspresi bingung.

---

Sore hari. Jam 3.

Halaman depan fakultas kedokteran mulai sepi. Kebanyakan mahasiswa sudah pulang atau pindah ke ruang lain untuk kegiatan tambahan. Hanya beberapa orang yang masih terlihat duduk di bangku taman, menunggu jemputan.

Adea keluar dari gedung dengan langkah lambat.

Matanya langsung mencari ke tempat biasa, pohon rindang dekat gerbang, tempat Angga selalu menunggu dengan motor hitamnya dan helm biru di stang.

Tapi tempat itu kosong.

Tidak ada Angga. Tidak ada motor hitam. Tidak ada helm biru.

Yang ada hanyalah seorang pria dengan rambut ungu, berdiri di samping motor Aerox putih, satu tangan memegang helm biru. Helm kesayangan Adea, dan tangan lainnya di saku jaket.

Seoul Lee.

Ia tersenyum begitu melihat Adea keluar. Tapi senyumnya sedikit canggung, seperti orang yang tidak nyaman berada di posisi yang seharusnya bukan miliknya.

"Adea!" Seoul melambai.

Adea berjalan mendekat. Langkahnya tidak terburu-buru. Tidak seperti biasanya yang berlari kecil dengan tangan di belakang tubuh.

"Adea, tadi Angga ada urusan dikit. Katanya-"

"Ayo pulang."

Adea memotong. Suaranya datar. Tidak ada intonasi.

Seoul Lee mengerjap.

Ia menatap Adea lebih lama. Gadis itu berdiri di depannya dengan ekspresi kosong. Tidak cemberut. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya... kosong.

Ada yang aneh, pikir Seoul.

"Kamu gak apa-apa, Dea?"

Adea menggeleng cepat. Terlalu cepat.

"Gue gak apa-apa. Ayo pulang, Seoul. Gue laper."

Seoul tidak yakin. Tapi ia tidak bisa memaksa. Ia mengulurkan helm biru itu ke arah Adea.

"Ini helm kamu. Angga titip."

Adea menatap helm itu. Biru. Kesayangannya. Yang biasa dipakaikan oleh Angga setiap pagi dan sore. Yang biasa dilepas oleh jari-jari kasar Angga dari kepalanya.

Ia tidak menyambut helm itu.

"Pakein," ucapnya.

Seoul Lee terdiam.

Ia menatap Adea. Gadis itu menatap balik dengan mata polos, tapi ada sesuatu di balik polos itu. Sesuatu yang tidak bisa Seoul baca.

Tanpa bersuara, Seoul mengangkat helm biru itu. Ia membuka kacanya, lalu dengan hati-hati. Canggung karena tidak terbiasa memasangkan helm ke kepala Adea.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena gugup. Tapi karena ia tahu helm ini biasanya dipakaikan oleh Angga. Ini adalah ritual mereka berdua. Dan sekarang ia, Seoul Lee, orang asing yang baru menginap dua malam, melakukan ritual itu untuk Adea.

Seharusnya Angga yang ada di sini, pikir Seoul.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

"Udah," ucapnya setelah tali helm terpasang dengan benar.

Adea tidak mengucapkan terima kasih.

Ia merentangkan kedua tangannya ke samping seperti anak kecil yang minta digendong.

"Naikin. Badan aku kecil."

Seoul Lee menghela napas. Ia meraih pinggang Adea. Pinggangnya kecil, terlalu kecil. Dan mengangkat gadis itu ke atas jok belakang Aerox putihnya.

Adea duduk di sana dengan kaku. Tidak seperti biasanya yang langsung memeluk pengendara dari belakang. Ia hanya duduk, tangan di pangkuan, menatap lurus ke depan.

"Pegang, Dea. Nanti jatuh," ucap Seoul.

Adea tidak menjawab. Tapi tangannya perlahan naik, mencengkeram ujung jaket Seoul. Hanya sedikit, seperti ia takut menyentuh terlalu banyak.

Seoul Lee menyalakan motor.

Mesin Aerox menyala halus. Ia melaju pelan meninggalkan halaman fakultas, melewati gerbang, berbelok ke kiri menuju jalan pulang.

Di spion, ia melihat Adea menunduk. Helm biru menutupi wajahnya, tapi Seoul bisa melihat. Bahu gadis itu bergetar sedikit.

Dia nangis?

Seoul tidak bertanya.

Ia hanya fokus di jalan, mempercepat motor sedikit, ingin cepat-cepat sampai rumah.

---

Di rumah.

Seoul memarkir motor di halaman. Ia turun lebih dulu, lalu membantu Adea turun. Gadis itu turun dengan gerakan lambat, seperti boneka yang kehabisan baterai.

"Adea."

Adea melepas helmnya sendiri. Rambutnya berantakan, matanya sedikit merah, tapi tidak ada air mata. Ia menatap Seoul.

"Makasih, Seoul. Gue masuk dulu."

"Dea, tunggu-"

Tapi Adea sudah berjalan ke pintu rumah. Ia membuka kunci, masuk, dan menutup pintu tanpa menoleh.

Seoul Lee berdiri di halaman sendirian.

Ia menghela napas panjang, mengeluarkan ponsel dari saku, dan menekan nomor Angga.

Tut.

Tut.

Tut.

"Ya." Suara Angga di seberang sana.

"Yaa~ Sekyaa, Shibal!! Lu di mana?"

"Di kampus. Ada dosen minta revisi tugas. Setengah jam lagi pulang. Adea udah sampe?"

Seoul menatap pintu rumah yang tertutup.

"Udah. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Dia aneh. Kayak... matanya kosong. Dia gak marah, gak sedih, gak apa-apa. Tapi justru itu yang bikin gue takut."

Suara Angga di seberang sana terdengar berubah. Ada ketegangan.

"Ada apa? Kenapa dia kayak gitu?"

"Gue gak tahu. Sepanjang jalan dia diem. Gak nanya soal lu, gak nanya apa-apa. Seharusnya kan dia yang paling cerewet."

Angga diam beberapa saat.

"Gue pulang sekarang."

"Hati-hati."

"Iya."

Panggilan terputus.

Seoul Lee memasukkan ponsel ke saku. Ia menatap langit sore yang mulai berwarna jingga.

Ada yang salah, pikirnya.

Ia berjalan ke pintu rumah, membukanya pelan, dan masuk.

Di ruang tamu, Adea sudah duduk di sofa. Cumi di pangkuannya. Gadis itu mengelus bulu kucing dengan gerakan lambat, matanya menatap kosong ke arah jendela.

"Dea."

"Hmm."

"Kamu yakin gak apa-apa?"

Adea tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang sama. Tipis. Dingin. Tidak seperti biasanya.

Seoul tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di kursi seberang sofa, menunggu.

Menunggu Angga pulang.

Menunggu gadis kecil itu kembali menjadi dirinya yang dulu.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!