"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Singa Betina Alexander Beraksi
Suara dering telepon memecah keheningan di ruang kerja pribadiku. Aku baru saja selesai memoles sketsa bros phoenix saat melihat nama 'Sekolah Internasional Saint Jude' di layar ponsel.
"Ya, ini Charlotte Blair," jawabku tenang.
"Nyonya Blair... mohon segera datang ke sekolah. Putra Anda, Axelle, baru saja terlibat perkelahian fisik dengan putra Tuan Andreas. Suasananya sangat kacau di sini."
Aku tertegun sejenak. Axelle berkelahi? Anak pendiam itu akhirnya meledak? Bukannya marah, aku justru merasakan denyut kebanggaan di dadaku. Bagus, Axelle. Kau benar-benar anakku.
"Saya akan segera ke sana. Dan tolong pastikan, tidak ada satu pun guru yang menyentuh atau menghakimi putra saya sebelum saya sampai," ucapku dingin, lalu menutup telepon.
Aku segera mengganti pakaianku dengan setelan blazer maroon yang tajam dan celana bahan senada. Rambutku aku ikat kuda dengan sangat rapi, memberikan kesan wanita karier yang tak bisa dibantah. Saat aku melangkah keluar, aku berpapasan dengan Liam yang baru saja turun dari mobil di lobi mansion.
"Kau sudah dengar?" tanya Liam. Wajahnya datar, tapi aku bisa mendengar batinnya berteriak.
[Dia memakai setelan merah itu... Ya Tuhan, dia terlihat seperti dewa perang yang cantik. Aku ingin menciumnya sekarang, tapi suasana sedang genting. Axelle memukul Lucas... putraku akhirnya punya nyali! Aku harus mendukungnya!]
"Aku sudah dengar," jawabku sambil memakai kacamata hitam. "Kau mau ikut, atau mau aku yang meratakan sekolah itu sendirian?"
Liam menyeringai tipis—sebuah pemandangan yang langka. "Aku tidak akan melewatkan pertunjukan gratis ini, Istriku."
Tiga puluh menit kemudian, di Ruang Kepala Sekolah.
Suasana di dalam ruangan itu sangat panas. Andreas berdiri di sana, mengelus kepala Lucas yang rahangnya tampak membiru. Elodie juga ada di sana, berpura-pura sedih sambil memegang tisu di matanya. Sementara itu, Axelle duduk di sudut ruangan, wajahnya kaku, namun matanya tetap tajam menatap lantai.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Lihat wajah putraku! Axelle adalah monster! Dia harus dikeluarkan!" teriak Andreas saat melihat pintu terbuka.
Aku dan Liam melangkah masuk dengan sinkronisasi yang sempurna. Suara sepatu hak tinggiku beradu dengan lantai, menciptakan irama intimidasi.
"Monster?" suaraku menggema, membuat Andreas tersentak. Aku berjalan melewati Andreas seolah dia adalah udara, lalu berdiri tepat di depan Axelle. "Axelle, angkat kepalamu."
Axelle mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatapku dengan ragu. "Ma... aku..."
"Apa tanganmu sakit setelah memukul sampah?" tanyaku lembut sambil memeriksa punggung tangannya.
Semua orang di ruangan itu—termasuk Kepala Sekolah—ternganga. Mereka mengharapkan aku akan memarahi Axelle, tapi aku justru menanyakan kenyamanan tangannya.
"Blair! Apa kau gila?!" Elodie berseru, wajahnya merah padam. "Anakmu sudah melukai Lucas! Dia harus dihukum!"
Aku berbalik perlahan, menatap Elodie dengan tatapan merendahkan. "Hukum? Mari kita bicara tentang hukum."
Aku menoleh pada Kepala Sekolah yang berkeringat dingin. "Pak Kepala Sekolah, boleh saya lihat rekaman CCTV koridor tiga puluh menit yang lalu? Saya ingin mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Lucas Gasendrico sampai putra saya yang paling sabar ini harus mengotori tangannya."
"Itu... itu tidak perlu, Nyonya Blair. Lucas hanya bercanda sedikit—" Andreas mencoba memotong.
"Diam, Andreas!" bentak Liam. Suaranya yang berat membuat Andreas langsung bungkam. "Istriku sedang bicara. Jangan menyela jika kau masih ingin melihat perusahaanmu bernapas besok pagi."
[Sangat keren! Istriku luar biasa! Aku ingin merekam momen ini dan memutarnya berulang-ulang di kantor! Lihat bagaimana dia membela Axelle... aku benar-benar mencintainya!]
Rekaman CCTV diputar. Suara Lucas terdengar jelas menghina aku sebagai 'wanita murahan' dan 'sampah'. Wajah Liam seketika berubah menjadi sangat gelap. Ia melangkah mendekati Andreas, aura membunuhnya keluar sepenuhnya.
"Tadi kau bilang putraku monster?" Liam bertanya dengan suara sangat rendah. "Lalu apa sebutan untuk anakmu yang mulutnya lebih kotor dari selokan ini?"
"L-Liam... itu hanya kenakalan remaja—" Andreas mundur ketakutan.
Aku melangkah maju, berdiri di samping Liam. "Kenakalan remaja tidak memberikan hak pada siapa pun untuk menghina keluarga Alexander. Pak Kepala Sekolah, saya ingin Lucas Gasendrico dikeluarkan hari ini juga. Jika tidak, saya pastikan donasi Alexander Group untuk sekolah ini ditarik, dan saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum atas pencemaran nama baik."
"Tapi Nyonya Blair... Tuan Andreas juga penyumbang—"
"Bandingkan sumbangannya dengan nilai saham yang saya pegang," aku mengeluarkan sebuah dokumen dari tas tanganku—dokumen audit rahasia yang sengaja kubawa. "Dan Andreas, kau mungkin ingin membaca ini. Laporan penggelapan dana di perusahaanmu yang baru saja tim auditku temukan pagi ini."
Wajah Andreas berubah menjadi pucat pasi, hampir hijau. "Kau... dari mana kau mendapatkan itu?!"
"Jangan remehkan mantan pegawai bank, Andreas. Aku tahu cara melacak uang sekecil apa pun," aku tersenyum manis, senyuman yang paling mematikan. "Pilihannya dua: kau pergi dari sini bersama anakmu dan jangan pernah muncul lagi di depan kami, atau kau masuk penjara malam ini juga."
Elodie menatapku dengan ngeri. Ia menyadari bahwa Blair yang sekarang bukan lagi karakter yang bisa ia kendalikan.
"Ayo pergi, Lucas," Andreas menarik tangan anaknya dengan kasar, hampir menyeretnya keluar dari ruangan tanpa berani menatap kami lagi.
Begitu mereka pergi, ruangan menjadi sunyi. Aku berbalik menatap Axelle yang kini menatapku dengan binar kekaguman yang luar biasa.
"Ma... terima kasih," bisik Axelle.
Aku mengusap kepalanya. "Jangan pernah biarkan orang lain merendahkanmu, Sayang. Kau adalah seorang Alexander. Dan di rumah ini, kita saling melindungi."
Liam merangkul bahuku dan bahu Axelle secara bersamaan.
[Keluargaku... ini adalah keluargaku yang sebenarnya. Terima kasih, Blair. Kau bukan hanya menyelamatkan Axelle, kau menyelamatkan aku juga. Aku bersumpah, siapa pun yang berani menyentuh kalian, mereka harus melewati mayatku dulu.]
"Ayo pulang," ajak Liam lembut. "Aku sudah memesan makanan paling enak untuk merayakan kemenangan pahlawan kecil kita."
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahu Liam saat kami berjalan keluar dari sekolah. Ternyata, menjadi 'Istri Durhaka' yang bertaubat dan menjadi pembela keluarga itu rasanya jauh lebih memuaskan daripada sekadar menjadi karakter utama yang pasrah.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/