NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Pagi hari pertama Xiao Han sebagai asisten pelatih dimulai dengan langit yang masih enggan beranjak dari kelabu. Gerimis semalam hanya menyisakan genangan di sudut-sudut lapangan beton SMP Hangzhou Xuejun, dan aroma rumput basah bercampur debu yang sudah lama tidak tersapu.

Tak ada tongkat yang ia bawa.

Hanya menggunakan alat penopang di betisnya saja untuk berjalan.

| Jangan terlalu memaksakan diri, Han |

| Jangan buat ibu khawatir |

| Pulang ke rumah, sebelum ibu di rumah pulang kerja nanti |

Pesan ibu di WhatsApp-nya, belum dirinya buka, hanya dari notifikasi layar ponsel saja yang ia baca.

Sedangkan Shen Yuexi, berbanding terbalik. Xiao Han mengirim stiker yang sering ia gunakan saat membalas pesan.

| Semangat!!! untuk hari pertamamu!!! |

Xiao Han tiba pukul setengah enam, lebih awal dari jadwal yang diberikan Chen Hao. Ia membawa ransel berisi buku catatan, botol air, dan surat kontrak masa percobaan yang sudah ia laminating sendiri semalam, entah mengapa.

Lapangan sepak bola sekolah ini bukan lapangan rumput. Hanya beton kasar dengan garis-garis kapur yang mulai pudar, dua gawang besi berkarat tanpa jaring, dan satu bangku panjang di pinggir yang kayunya sudah lapuk. Di sebelah timur, sebuah papan pengumuman kayu menampilkan jadwal ekstrakurikuler. Di kolom sepak bola, hanya ada tiga nama terdaftar.

“Benar-benar suram ... jauh lebih buruk waktu aku masih murid di sekolah ini dulu.”

Di pagi hari yang suram ini, Xiao Han justru menolak pinggangnya dengan kedua tangan yang masih ditikam dinginnya fajar, helaan napas malas keluar dari bibirnya ketika melihat kondisi tempat kerjanya saat ini lebih buruk dari yang ia kira.

“Gajiku memang tidak seberapa, tapi ... inilah awal perjalananku. Aku tak menyangka akan kembali lagi di SMP penuh nostalgia anak-anak labil ini.”

Tap. Tap. Tap.

Derap langkah kaki mendekat ke lapangan. “K-Kak Han?” Suara yang asing, namun seperti akrab di telinga Xiao Han. “Kenapa ada di sini?”

Xiao Han pun menoleh, lambat. “Ahh ...” Irisnya terpaku pada rambut belah tengah seorang anak kecil, senyum pun bangun dari tidurnya. “Kau tiba lebih pagi, Wei Ying.”

“Aku sih ... bukan hal yang aneh, kan?” Alis Wei Ying terangkat satu. “Aku kan murid di sekolah ini,” lanjutnya. “Tapi, kalo kakak?”

Sikap tubuhnya yang heran itu membuat Xiao Han sedikit mengingat pertemuannya di halte bus. Sudah seminggu berlalu saat pertandingan Zhejiang PFC kontra Guangzhou FC, tiga hari semenjak dirinya diterima sebagai Asisten Pelatih dengan jangka waktu kontrak yang sedikit.

“Aku lupa bilang,” kata Xiao Han santai. “Aku akan menjadi asisten pelatih di sini.”

“Ehh?“ Wei Ying melotot, mengerjap beberapa kali. “EHHHH!!!” Tangannya refleks menyilang dada.

“Kok kaget, sih?”

“Ya jelas! Aku tak menyangka yang Kakak Han maksudkan adalah di sini!”

“Ya ... lagipula ... aku kan memang alumni di ini SMP, Wei Ying.” Xiao Han mengerucut. “Tehee~”

Hening ...

“EHHHHH!!!!” Wei Ying melonjak satu langkah ke belakang. Kedua tangannya terangkat kaku di udara. Matanya membulat sampai terlihat konyol, pupilnya bergetar hebat menatap Xiao Han tanpa berkedip.

“A-ALUMNI DI SINI?!” Suaranya pecah, melengking tak wajar, bahkan menggema tipis di lapangan kosong yang masih basah oleh sisa hujan.

Ia menunjuk Xiao Han dengan tangan gemetar. “Berarti … berarti Kak Han itu … SENIOR LEGENDARIS YANG BALIK LAGI KE SINI?!” Lalu menariknya kembali, seolah takut tuduhannya barusan akan dibalas oleh kenyataan.

“Ya ampun, pagi-pagi begini aku sudah diteriaki saja,” keluh Xiao Han, melemaskan wajah.

Desir angin masih sangat dingin di pagi hari ini, sementara embun-embun memeluk erat rerumputan pinggir beton lapangan, seakan waktu enggan menuju pagi yang sejatinya.

Xiao Han, berinisiatif untuk melakukan olahraga pagi dengan kakinya yang pincang, bersama Wei Ying yang melepas seragam SMP-nya, berganti dengan jersey Zhejiang PFC.

Dari dalam ransel, Wei Ying mengeluarkan bola plastik untuk dirinya gunakan. “Kak, Han,” katanya. “Ayo latihan sebelum kelas dimulai.” Langsung melempar bola dan menendangnya hingga ke gawang tanpa jaring di lapangan.

“Baiklah.”

Tahun ajaran baru, 1 September 2025, hari Senin. Waktu yang tepat untuk memulai segalanya dari bawah, setidaknya menurutnya.

Ding!

Sistem kembali mencuat.

...~\=~\=~\=~\=...

...Nama: Wei Ying...

...Posisi: CM, CDM, AMF...

...Rating: S...

...Talent: Playmaker, Gelandang Serba-Bisa, Akurasi Passing Tinggi, Player Visioner...

...Speed: 89...

...Shooting: 80...

...Dribbling: 88...

...Stamina: 90...

...Teamwork: 94...

...Potential: S...

...Growth Rate: B...

...\=~\=~\=~\=~\=...

Sembari memperhatikan sistem, Xiao Han menyuruh Wei Ying untuk melakukan juggling bola terlebih dahulu.

Growth Rate bernilai B, mungkin dari sekian banyaknya bakat yang dimiliki anak ini, sudah cukup standar dari kalangan pemain yang ingin bekerja keras terlebih dahulu, potensinya akan berkembang sesuai dengan kerja kerasnya.

“Nah, Wei Ying,” kata Xiao Han tiba-tiba.

“Kenapa, Kak Han?” Wei Ying hilang fokus, menjatuhkan juggling bolanya.

“Apa kau sudah pernah memasuki sebuah tim.”

“Belum, baru kali ini.”

Xiao Han terkejut, dengan bakat yang seperti Wei Ying, nilai kerja sama tim-nya sangat tinggi.

Bagaimana mungkin dia visioner?

“Tapi ...” lanjut Wei Ying. “Saat aku menyentuh bola, seakan dunia bergerak lambat, dan dunia seperti melebar sejenak, seperti aku ... punya kekuatan super, bisa melihat dunia dalam sekedipan mata.”

Ahh ... dia memang benar-benar sama sepertiku, batin Xiao Han. Seorang pemain yang visioner, tenang dalam alunan bolanya sendiri.

“Tandanya, kau seorang yang kreatif di lapangan, aku akan menyarankanmu pada pelatih, untuk menjadi seorang playmaker.”

“Hehh ... Padahal aku ingin menjadi striker.”

“Hmm instingku sih berkata ... hmm ...” Xiao Han menyentuh dagu. “Trust me bro.”

“Kenapa harus percaya?”

“Dengarkan aku,” Xiao Han merendahkan tubuhnya, sejajar dengan tinggi badan Wei Ying. “Matamu ... adalah mata yang melihat sekitar, merasakan dunia dalam lapangan.”

“Tapi ...”

“Jika kau ingin menjadi striker, tidak apa.” Xiao Han membelai rambut Wei Ying. “Itu pilihanmu, hanya saja ... kau lebih dari itu, setidaknya menurutku.”

Wei Ying menunduk, melihat bola di bawah pijakannya. “Kakak, Han,” ucapnya pelan. “Rasanya menjadi gelandang itu ... seperti apa?”

Xiao Han tidak langsung menjawab. Ia mengambil bola di kaki Wei Ying, lalu menendangnya pelan ke depan—Aduh! walau bola plastik bikin kakiku nyeri, dirinya senyap berkata—Kemudian, bola itu menggelinding tidak menuju ke gawang, tapi ke ruang kosong di sisi lapangan.

“Coba bayangkan,” katanya pelan. “Lapangan ini bukan sekadar tempat lari dan menendang.”

Ia berjalan perlahan, langkahnya masih timpang, tapi stabil. “Striker itu … seperti ujung tombak. Semua orang melihatnya saat mencetak gol.”

Bola itu kembali disentuhnya, kali ini diumpan pendek ke arah Wei Ying.

“Tapi gelandang …” Ia berhenti. Menatap langsung ke mata Wei Ying. “Orang yang menentukan ke mana arah dunia ini bergerak.”

Hening sebentar. Hanya suara angin pagi yang lewat.

“Kalau striker hidup dari momen,” lanjutnya. “Gelandang hidup dari keputusan.”

Xiao Han menunjuk kepala Wei Ying dengan dua jari. “Detik ini, kau oper ke kiri … satu detik kemudian, permainan berubah.” kemudian jarinya turun menunjuk dada. “Detik ini kau tahan bola … ritme tim ikut napasmu.”

Xiao Han tersenyum tipis. “Dan detik ini dirimu melihat dunia melebar, orang lain mungkin tidak akan bisa mereka rasakan.” Kemudian menepuk ringan bahu Wei Ying.

“Dan yang kau rasakan tadi. Dunia yang melambat? Itu bukan kebetulan.” Nada suaranya sedikit melembut. “Itu cara lapangan berbicara kepadamu”

Xiao Han berdiri tegak kembali. “Jadi rasanya jadi gelandang?” Ia menghela napas pendek. “Seperti jadi sutradara di tengah kekacauan.”

Seringai nakal pun terbit di sisi bibir Xiao Han. “Tapi ya … kalau kau masih mau jadi striker juga tidak masalah.” Jarinya menunjuk gawang kosong di depan mereka. “Cuma … sayang aja.”

“Orang yang bisa melihat seluruh papan catur ...” Tatapannya kembali tajam. “Justru memilih jadi bidak paling depan.”

Wei Ying hanya merenung tunduk kepala, langit pun seakan ikut memikirkannya.

Tanpa terasa ...

Ding ...

Dong ...

Bel sekolah berbunyi, tanda waktu kelas akan di mulai. Matahari pun sudah menaikan dirinya.

Pukul 07:00.

Wei Ying pergi dengan wajah yang dilema untuk anak seumurannya.

Aku harus absensi, dan menemui Coach Chen.

Sementara Xiao Han ingin bergegas absensi ke ruang guru.

“Hmm ... kau menarik, mantan gelandang yang cedera kepala dan kaki.”

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!