"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sepuluh menit kemudian, ruangan rapat kecil di sudut kantor itu sudah terisi. Afisa duduk di kursi utama, sementara Citra dan Guntur duduk berhadapan. Di atas meja, tumpukan peta tata ruang, dokumen BPN, dan berkas saksi ahli sudah tersebar rapi.
Suasana rapat kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada ketegangan pribadi yang mencuat; yang ada hanyalah tiga orang profesional yang sedang menyatukan otak untuk memenangkan kasus besar.
"Guntur, aku sudah baca catatanmu soal anomali sertifikat di batas timur lahan," buka Afisa, suaranya lugas dan berwibawa. "Idemu soal pemeriksaan fisik langsung oleh hakim ketua adalah langkah berisiko, tapi kalau berhasil, itu bisa mematikan argumen lawan secara permanen."
Guntur mengangguk, ia membuka sebuah folder biru dan menyodorkan beberapa foto satelit terbaru. "Betul, Bu. Kalau kita hanya mengandalkan dokumen di meja hijau, lawan akan terus-terusan berdalih soal kesalahan administratif tahun 90-an. Tapi kalau hakim melihat sendiri bahwa di koordinat tersebut sekarang ada aliran sungai yang menetap, mereka tidak bisa lagi mengklaim itu sebagai lahan kering yang mereka miliki."
Citra mengetuk-ngetuk pulpennya di dagu. "Aku setuju. Aku sudah hubungi saksi ahli dari geologi UI, rekan angkatanku dulu. Dia bersedia memberikan keterangan bahwa pergeseran sungai itu alami, bukan buatan."
"Bagus," puji Afisa. Ia menyesap kopi hitam dari Guntur yang tadi dibawanya masuk ke ruang rapat. "Guntur, tugasmu adalah menyusun kronologi pergeseran alam itu dalam bentuk infografis hukum. Buat sesederhana mungkin agar hakim tidak pusing dengan istilah teknis."
"Siap, Bu. Sore ini draf pertamanya sudah ada di meja Anda," jawab Guntur mantap.
Sepanjang dua jam rapat berlangsung, Afisa berkali-kali mencuri pandang ke arah Guntur. Ia melihat pria itu bekerja dengan dedikasi yang luar biasa—tidak ada lagi tatapan melankolis atau usaha untuk membicarakan masa lalu. Guntur benar-benar memposisikan dirinya sebagai "prajurit" yang efisien.
Rapat baru saja akan ditutup ketika ponsel Afisa di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi dari Bintang muncul: "Sayang, aku sudah di depan kantor. Aku bawakan bekal makan siang dari restoran langgananmu di Jakarta yang buka cabang di sini. Aku tunggu di lobi ya."
Afisa tertegun. Ia melirik jam tangan; sudah pukul dua belas siang. Ia kemudian menatap Guntur dan Citra yang sedang merapikan berkas.
"Rapat selesai," ujar Afisa sedikit terburu-buru. "Cit, tolong lanjut koordinasi dengan saksi ahli. Guntur, lanjutkan infografisnya."
"Ibu tidak makan siang bersama tim?" tanya Guntur spontan, namun segera ia sesali karena menyadari posisinya.
Afisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih ditujukan untuk menenangkan keadaan. "Suamiku sudah di bawah, Guntur. Dia membawakan makan siang."
Guntur mengangguk kecil, wajahnya kembali datar. "Tentu, Bu. Selamat makan siang."
Saat Afisa melangkah keluar ruangan dengan tas kerjanya, Citra mendekati Guntur yang masih sibuk menggulung peta. "Nah, lihat kan? Si 'Dokter Protektif' itu benar-benar menepati janjinya buat patroli. Sabar ya, Gun. Setidaknya di ruang rapat tadi, kamu sudah menang banyak soal profesionalitas."
Guntur hanya diam, namun dalam hati ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya bukan di ruang sidang, melainkan di lobi kantor tempat Bintang sudah menunggu dengan senyum kemenangannya.
Afisa mempercepat langkahnya menuju lobi. Dari kejauhan, ia sudah melihat Bintang berdiri tegak di samping pilar, mengenakan kemeja yang digulung sesiku, tampak kontras dengan suasana kantor yang kaku. Di tangannya terdapat paper bag dari restoran langganan mereka.
Baru saja Afisa akan melambaikan tangan, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Ia merogohnya dan melihat layar: Panggilan Video Grup.
Nama Arkan dan Ivan terpampang di sana. Afisa tersenyum tipis.
"Hai, Sayang," sapa Bintang begitu Afisa sampai di depannya. Ia baru saja akan mengecup kening Afisa saat istrinya menunjukkan layar ponselnya yang menyala.
"Bentar, Mas. Arkan sama Ivan telepon grup. Ivan kayaknya habis beres sidang di Medan," bisik Afisa.
Bintang tertawa kecil, ia ikut melongok ke arah layar ponsel Afisa saat tombol 'terima' ditekan.
"WOI! Pasangan Semarang-Jakarta nongol juga!" suara cempreng Ivan langsung memenuhi lobi, wajahnya yang berkeringat namun ceria memenuhi layar. "Gue baru beres sidang nih! Mana selamat buat gue?"
"Selamat, Van! Gila ya, pengacara Medan makin ngeri aja," sahut Afisa tertawa.
"Halo, Fis! Halo, kak Bintang!" Arkan muncul dari sudut layar yang lain, tampak sedang berada di perpustakaan UI dengan tumpukan buku tebal di belakangnya. Arkan tampak lugu, ia sama sekali tidak tahu badai yang sedang terjadi di Semarang. "Tumben kak di Semarang jam segini? Nggak ada jadwal operasi?"
"kakakmu ini lagi jadi kurir makanan, Kan," jawab Bintang sambil merangkul bahu Afisa, memastikan wajahnya masuk ke dalam frame kamera. "Lagi patroli, biar Kakak iparmu nggak diculik berkas-berkas hukumnya."
"Halah, bilang aja posesif, kak!" goda Arkan sambil nyengir.
"Eh, Fis! Gue dapet info A1 nih dari Citra semalem!" Ivan memotong dengan wajah penuh gosip, sama sekali tidak menyadari keberadaan Bintang yang sedang merangkul Afisa. "Beneran si Guntur Bintang Lapangan itu masuk ke firma lo? Katanya dia jadi staf lo sekarang? Reuni besar-besaran nih di Semarang!"
Suasana di lobi mendadak menjadi sangat sunyi bagi Afisa dan Bintang. Arkan yang di Jakarta langsung melongo, matanya membelalak menatap layar. "Hah? Guntur? Mantan Afisa yang dulu itu, Van? Serius lo?"
Bintang yang tadinya tersenyum, kini rahangnya mengeras. Rangkulannya di bahu Afisa semakin erat, seolah ingin menegaskan wilayahnya di depan kamera.
"Iya, Van. Guntur emang di sini, jadi staf di tim gue," jawab Afisa dengan suara se-stabil mungkin, meski ia bisa merasakan ketegangan menjalar dari tubuh Bintang.
"Wah, gila! Citra bilang ke gue kalau Guntur sekarang makin 'mateng' ya? Hati-hati tuh dokter Bintang, asisten rasa masa lalu biasanya lebih bahaya daripada lawan di persidangan!" ceplos Ivan tanpa beban, tertawa terbahak-bahak di Medan.
Arkan yang melihat ekspresi kakaknya di layar langsung panik. "Eh... Ivan, kayaknya kakak gue lagi nggak mau denger itu deh. Mulut lo tolong difilter!"
Bintang akhirnya bersuara, suaranya dingin namun penuh penekanan. "Nggak apa-apa, Kan. Ivan bener. Asisten memang harus 'mateng' supayas bisa bantu Afisa dengan baik. Tapi kalau soal bahaya... tenang aja, Van. Pemenangnya sudah pegang piala, asisten cuma bertugas jagain jalannya pertandingan."
Afisa merasa atmosfer di lobi makin mencekam. "Udah ya, gue mau makan siang dulu. Sukses buat lo, Van! Semangat S2-nya, Arkan!"
Afisa langsung mematikan sambungan telepon sebelum Ivan sempat berkomentar lebih jauh. Ia menatap Bintang yang kini menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ternyata Citra benar-benar tidak bisa jaga rahasia ya," gumam Bintang lirih.