Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak terduga
"Rania."
Rania menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sumber suara itu.
Revano.
Cowok itu berjalan menghampirinya dengan wajah datar seperti biasa. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana, langkahnya santai namun tegas.
"Ada apa?" tanya Rania singkat.
"Gue mau ajak lo jalan," ucap Revano tanpa basa-basi.
"Jalan?" ulang Rania, sedikit mengangkat alisnya.
Revano mengangguk pelan.
"Gue gak bisa," tolak Rania.
"Kenapa?" tanya Revano.
Rania belum sempat menjawab ketika Revano kembali membuka suara.
"Gue gak terima penolakan, Ran. Sore ini gue jemput dimansion lo."
Setelah mengatakan itu, Revano langsung berbalik. Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Rania, ia berjalan pergi meninggalkan gadis itu di tempatnya.
Rania hanya memandang punggung Revano yang semakin menjauh.
"Emang dia berani?" gumam Rania sambil tersenyum miring, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
~~
“Rania pulang!”
Seperti biasa, Rania akan berteriak setiap kali sampai di mansionnya. Para pelayan yang sedang bekerja hanya saling menatap lalu menggeleng kecil melihat kebiasaan nona muda mereka yang satu itu.
“Kamu itu suka banget teriak sih, Ran,” ucap Raisa yang baru saja keluar dari arah dapur.
Rania langsung tersenyum lebar.
“Sorry, Mommy cantik,” ucap Rania sambil mengecup singkat pipi Raisa. “Kak Rhea sudah pulang, Mom?”
Raisa menggeleng pelan.
“Belum, sayang. Dia kan pulangnya sore,” jawabnya lembut.
“Oh iya ya, Rania lupa,” ucap Rania sambil menggaruk tengkuknya pelan.
“Ganti baju sana, lalu kita makan siang. Daddy juga sudah balik,” ujar Raisa.
Rania langsung mengangkat alisnya.
“Daddy sudah balik? Tumben.”
“Dia ada meeting di luar dan ingin makan siang makanan istrinya,” balas Raisa sambil tersenyum malu.
Rania langsung membuat ekspresi dramatis.
“Aduh, soswit banget sih.”
“Sana ganti baju. Sebentar lagi Daddy kamu turun,” ujar Raisa.
“Siap, Mommy.”
Meja Makan
Di meja makan, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersahutan. Ketiganya menikmati hidangan buatan Raisa dengan suasana yang hangat dan tenang.
“Masakan Mommy memang luar biasaaaa,” ucap Rania dengan nada memuji, wajahnya terlihat sangat puas.
“Terima kasih, sayang,” balas Raisa dengan senyum lembut.
“Masakan Mommy kamu gak perlu diragukan lagi, Rania. Bahkan restoran bintang lima saja kalah,” sambung Radit sambil ikut memuji.
Raisa langsung menggeleng pelan, sedikit tersipu mendengar pujian dari suami dan putrinya.
“Kalian ini lebay banget deh. Masakan Mommy biasa saja kok,” ucap Raisa merendah.
“Apanya yang biasa? Masakan Mommy memang enak banget,” bantah Rania cepat.
“Mommy jadi malu deh,” ujar Raisa sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, makanan mereka pun telah habis. Piring-piring di meja sudah hampir kosong.
“Bagaimana kalau kita duduk santai di taman?” ajak Radit.
“Ayo. Kapan lagi bisa family time bareng, walaupun Kak Rhea belum pulang sih,” ucap Rania dengan semangat.
“Kalian duluan saja. Mommy ingin bereskan dulu ini,” ucap Raisa sambil mulai merapikan piring di atas meja.
Namun sebelum Raisa sempat melakukannya, Radit sudah lebih dulu mencegat tangan istrinya.
“Biarkan pelayan yang membersihkannya, sayang.”
“Iya, Mom. Biarkan para pelayan saja,” sambung Rania.
Raisa menatap mereka satu per satu, lalu akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Di taman, angin sore bertiup pelan. Daun-daun pohon bergerak lembut, menciptakan suasana tenang di halaman mansion itu. Radit duduk di kursi taman, sementara Rania dan Raisa duduk di kursi di sebelahnya.
“Sekolah gimana hari ini?” tanya Radit sambil menatap Rania.
“Biasa aja, Dad. Pelajaran juga gak ada yang berat,” jawab Rania santai.
“Nilai kamu tetap bagus kan?” tanya Raisa lembut.
Rania mengangguk. “Tenang aja, Mom. Rania tetap rajin kok.”
Radit tersenyum tipis. “Bagus. Daddy cuma mau kamu tetap fokus sekolah.”
“Iya, Dad.”
Radit lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau Mommy kamu hari ini sibuk di rumah, Daddy malah sibuk meeting dari pagi.”
“Meeting lagi?” tanya Rania.
Radit mengangguk. “Ada proyek baru yang harus Daddy urus.”
Rania tersenyum kecil. “Yang penting Daddy jangan lupa istirahat.”
Raisa langsung menatap putrinya dengan bangga. “Tuh kan, anak Mommy perhatian.”
Radit tertawa pelan. “Iya, anak Daddy memang paling pengertian.”
Rania hanya tersenyum sambil menikmati suasana sore bersama kedua orang tuanya.
Mereka masih mengobrol santai di taman. Sesekali tawa kecil terdengar di antara mereka.
“Kalau libur nanti, kita jalan-jalan yuk,” ucap Raisa tiba-tiba.
“Wah, boleh tuh,” sahut Rania antusias. “Sudah lama juga kita gak liburan bareng.”
Radit tersenyum melihat semangat putrinya. “Nanti Daddy atur waktunya.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, langkah seseorang terdengar mendekat.
“Permisi, Tuan. Nyonya.”
Mereka bertiga menoleh bersamaan. Bibi Maya berdiri tidak jauh dari mereka dengan sikap hormat.
“Ada apa, Bi?” tanya Raisa.
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya,” jawab Bibi Maya.
Radit mengerutkan sedikit keningnya. “Siapa?”
Radit dan Raisa saling bertukar pandang sejenak.
“Suruh dia menunggu di ruang tamu, Bi. Kami akan ke sana,” ucap Raisa.
“Baik, Nyonya,” jawab Bibi Maya dengan sopan, lalu segera meninggalkan taman untuk menyampaikan pesan tersebut.
Raisa kemudian menoleh pada Rania yang masih duduk santai di kursi taman.
“Sayang, Mommy dan Daddy ke luar dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Raisa lembut.
“Aman, Mom. Mommy temui dulu saja tamu penting kalian,” ucap Rania santai.
~~
Di ruang tamu, seorang pria sudah duduk dengan tenang menunggu kedatangan tuan rumah. Revano terlihat rapi demgan kaos polos gelap dan celana jeans, tampil santai namun tetap berwibawa. Tubuhnya tinggi dengan postur tegap, rambut hitamnya tersisir rapi, dan wajahnya tampak tegas namun tetap tampan. Aura dingin dan tenang terpancar dari dirinya.
Saat melihat Radit dan Raisa memasuki ruangan, Revano langsung berdiri dari duduknya.
“Selamat sore, Tuan dan Nyonya,” ucapnya sopan sambil sedikit membungkukkan badan.
“Sore,” balas mereka berdua.
“Silakan duduk,” ucap Raisa dengan ramah.
“Terima kasih, Nyonya,” jawab Revano sebelum kembali duduk dengan sikap yang sopan.
“Ada apa ya, Nak? Kamu siapa?” tanya Raisa penasaran.
“Perkenalkan, saya Revano, Tante. Teman sekolah Rania.”
“Teman Rania,” gumam Raisa pelan, namun masih bisa didengar oleh Revano.
Revano mengangguk kecil. “Iya, Tante. Saya teman sekolah Rania.”
Raisa masih menatap pemuda di depannya dengan cukup lama, seolah mencoba mengingat apakah Rania pernah menyebut nama itu sebelumnya.
Sementara itu Radit yang sejak tadi berdiri dengan sikap tenang menatap Revano dengan sorot mata datar. Raut wajahnya yang tadi santai di taman kini menghilang, digantikan ekspresi serius khas seorang kepala keluarga.
“Lalu, apa maksud kedatanganmu ke sini?” tanyanya datar.
“Saya ingin minta izin kepada Anda,” jawab Revano dengan tenang.
Raisa tersenyum kecil melihat sikap sopan pemuda itu.
“Nak, gak usah pakai embel-embel Tuan dan Nyonya. Panggil kami Tante dan Om saja. Iya kan, Dad?” ucap Raisa sambil menyenggol pelan lengan suaminya.
Radit tidak menanggapi senggolan itu. Tatapannya tetap tertuju pada Revano.
“Izin? Kamu mau ajak putri saya ke mana?” tanyanya dengan nada datar.
“Ke suatu tempat yang akan putri disukai putri Om,” jawab Revano singkat namun terdengar yakin.
“Kamu sudah janjian dengan Rania?” tanya Raisa lagi. Pasalnya, putrinya tadi terlihat santai saja, seolah tidak memiliki rencana untuk pergi ke mana pun.
“Sudah, Tante. Tapi mungkin dia mengira saya bercanda,” jawab Revano, membuat Raisa langsung mengerti maksudnya.
“Kalau Om gak izinkan kamu ngajak putri saya?” ucap Radit sambil menatap datar ke arah Revano.
“Mas!” Raisa mengode suaminya dengan nada pelan, mencoba memberi isyarat agar Radit tidak terlalu kaku. Namun Radit sama sekali tidak terpengaruh.
“Bibi…” ucap Radit memanggil.
Kebetulan saat itu Bibi Maya sedang membawa secangkir teh untuk Revano.
“Iya, Tuan?”
“Panggil Rania.”
“Baik, Tuan,” ucap Bibi Maya patuh, lalu segera meninggalkan ruang tamu untuk memanggil Rania.
Raisa menghela napas kecil dan tersenyum lega. Ia sempat berpikir suaminya akan langsung melarang.
“Tunggu sebentar ya, Nak,” ucap Raisa pada Revano dengan ramah.
“Iya, Tante,” balas Revano sambil tersenyum tipis.
~~
“Nona muda.”
Bibi Maya menepuk bahu Rania pelan dari belakang.
“Iya, Bi?” balas Rania tanpa menoleh. Ia masih fokus membaca buku yang ada di tangannya.
“Non dipanggil Tuan,” ucap Bibi Maya.
Rania langsung menghentikan bacaannya, lalu menoleh ke arah Bibi Maya.
“Ngapain Daddy panggil aku, Bi? Kan dia ada tamu,” ucapnya heran.
“Bibi juga gak tahu, Non. Bibi cuma disuruh,” jawab Bibi Maya.
“Ya sudah, aku ke sana. Makasih ya, Bi,” ucap Rania.
“Iya, Non.”
Rania langsung membereskan bukunya ke tempat semula, lalu melangkah menuju ruang tamu.
Namun begitu sampai di ruang tamu, mata Rania langsung melotot ketika melihat siapa tamu yang datang.
“Revano.”