NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Api Kecemburuan

Sore itu, kediaman keluarga Ramiro terasa lebih mencekam dari biasanya. Langit di luar jendela besar ruang tamu mulai meremang, memantulkan cahaya jingga yang redup pada lantai marmer yang dingin. Di tengah ruangan, Leah berdiri mematung, sementara kakaknya, Zefan, sedang duduk di sofa panjang dengan raut wajah yang sangat letih. Namun, kehadiran pria ketiga di ruangan itu—Jeff Chevalier—lah yang membuat atmosfer terasa seperti medan perang yang tersembunyi.

Jeff duduk dengan santai di kursi armchair kulit, menyesap kopi hitamnya seolah ia adalah pemilik rumah tersebut. Di sudut ruangan, berdiri Denzel. Seperti biasa, ia menjaga jarak yang sopan, tangannya tertaut di depan tubuh, matanya menatap lantai dengan patuh. Namun, ketenangan Denzel kali ini terasa seperti permukaan air yang hampir mendidih.

"Zefan," Jeff memulai pembicaraan, suaranya tenang namun sarat akan provokasi. "Aku hanya mengkhawatirkan Leah. Kampus sedang tidak stabil, dan kejadian dengan Daniel kemarin membuktikan bahwa pengawasanmu selama ini... katakanlah, terlalu longgar."

Zefan memijat pelipisnya. Masalah penurunan omset perusahaan propertinya sudah cukup membuatnya pening, dan laporan Jeff tentang keamanan Leah hanya menambah beban baru. "Denzel selalu menjaga Leah, Jeff. Dia asisten terbaik yang aku miliki."

Jeff meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Ia menoleh ke arah Denzel, menatap pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. "Terbaik? Mungkin untuk urusan administratif atau mencuci mobilmu, Zefan. Tapi untuk menjaga seorang gadis seperti Leah di lingkungan akademisi yang keras? Dia tidak punya kualifikasi itu."

Leah melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. "Jeff, berhenti bicara seolah Denzel tidak ada di sini! Dia menjagaku dengan sangat baik kemarin!"

Jeff tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tajam. Ia berdiri, berjalan perlahan mendekati Leah, namun matanya tetap melirik ke arah Denzel yang masih berdiri kaku. "Leah, sayang... kau terlalu naif untuk membedakan antara 'menjaga' dan 'menempel'. Denzel ini hanya asisten peliharaan kakakmu. Dia dibayar untuk patuh, bukan untuk memiliki inisiatif. Dia tidak punya otoritas, tidak punya nama, dan tidak punya keberanian untuk melawan pria seperti Daniel jika aku tidak datang kemarin."

"Itu tidak benar!" seru Leah, suaranya bergetar. Ia menoleh ke arah Denzel, berharap pria itu akan membela diri, mengatakan sesuatu, atau setidaknya menunjukkan kemarahan. Namun, Denzel hanya diam. Wajahnya seperti topeng batu, meskipun Leah bisa melihat urat nadi di leher Denzel yang berdenyut kencang.

"Lihat?" Jeff menunjuk ke arah Denzel dengan dagunya, seolah sedang menunjuk sebuah perabot yang rusak. "Bahkan sekarang pun dia tidak berani bicara. Itulah bedanya pria yang setara denganmu, Leah, dan pria yang hanya menjadi bayangan di balik pintu. Dia tidak cocok untukmu, bahkan sebagai pengawal sekalipun. Dia terlalu... pasif. Terlalu rendah."

Kalimat "asisten peliharaan" itu menggantung di udara seperti asap beracun. Zefan tampak tidak enak hati, namun ia juga tidak bisa membantah Jeff secara kasar karena ia membutuhkan koneksi perbankan keluarga Chevalier untuk menyelamatkan perusahaannya.

"Jeff, kurasa itu berlebihan," tegur Zefan lemah.

"Berlebihan?" Jeff berbalik ke arah Zefan. "Aku melakukan ini demi kebaikan kalian. Leah butuh seseorang yang bisa mengintimidasi lawan, bukan seseorang yang hanya bisa menawarkan sapu tangan saat dia menangis. Denzel, katakan padaku... apa yang akan kau lakukan jika Daniel membawa gerombolannya? Apa kau akan meminta mereka pergi dengan sopan?"

Denzel mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam ruangan itu, matanya bertemu langsung dengan mata Jeff. Ada kilatan api yang sangat dingin di sana—sebuah kemarahan yang ditekan begitu dalam hingga hampir terlihat seperti kebencian yang murni.

"Tugas saya adalah memastikan keselamatan Nona Leah, Tuan Chevalier," suara Denzel rendah, stabil, namun mengandung kekuatan yang membuat Jeff sedikit mengernyit. "Dan jika itu mengharuskan saya untuk berdiri di depan gerombolan mana pun, saya akan melakukannya tanpa perlu menciptakan kegaduhan yang mempermalukan nama keluarga Ramiro di depan umum."

Jeff menyipitkan mata. Ia merasa tertantang oleh ketegasan Denzel yang tak terduga. Ia melangkah lebih dekat ke arah Denzel, merendahkan suaranya agar hanya Denzel dan Leah yang bisa mendengar. "Kau bicara soal martabat? Kau hanyalah orang asing yang beruntung bisa mencium aroma parfum majikanmu setiap hari. Jangan pernah lupa bahwa posisi kita berbeda, Denzel. Aku bisa menghancurkan kariermu hanya dengan satu telepon pada Zefan."

"Jeff, hentikan!" Leah menarik lengan Jeff, mencoba menjauhkan pria itu dari Denzel. "Kau keterlaluan! Keluar dari rumahku sekarang!"

Jeff menatap Leah, kemarahannya mendadak menguap dan digantikan oleh tatapan posesif yang mengerikan. Ia meraih tangan Leah, mencium punggung tangannya dengan paksa sambil tetap menatap Denzel dengan tatapan penuh kemenangan. "Aku akan pergi, tapi pikirkan kata-kataku, Zefan. Jangan biarkan asistenmu ini merasa dia punya posisi lebih dari sekadar pelayan."

Setelah Jeff pergi dengan langkah angkuhnya, keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruang tamu. Zefan menghela napas panjang, lalu berdiri tanpa menatap siapa pun. "Denzel, tolong siapkan berkas untuk rapat besok pagi. Dan Leah... masuklah ke kamarmu. Kakak lelah."

Zefan berlalu, meninggalkan Leah dan Denzel berdua di ruangan yang luas itu. Leah mendekati Denzel, matanya penuh dengan rasa bersalah. "Denzel... aku minta maaf atas ucapan Jeff. Dia... dia memang kasar, tapi dia tidak berhak memanggilmu seperti itu."

Denzel tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, berusaha mengatur napasnya yang tadi tertahan. Rasa sakit di dadanya bukan karena penghinaan Jeff, melainkan karena kenyataan bahwa Jeff benar soal satu hal: Denzel memang tidak punya kuasa untuk mengklaim Leah secara terbuka.

"Tidak apa-apa, Leah," bisik Denzel. Suaranya terdengar sangat lelah. "Tuan Chevalier hanya mengatakan apa yang memang dipikirkan oleh orang-orang di kelasnya tentang saya."

"Tapi aku tidak berpikir begitu!" Leah meraih ujung lengan jas Denzel, sebuah gerakan impulsif yang membuat Denzel tersentak. "Bagiku, kau lebih dari sekadar asisten, Denzel. Kau... kau adalah orang yang selalu ada untukku."

Denzel menatap tangan Leah yang memegang jasnya. Keinginan untuk merengkuh gadis itu, untuk mengatakan bahwa ia mencintainya lebih dari nyawanya sendiri, membuncah di tenggorokannya. Namun, bayangan Jeff dan tanggung jawabnya pada Zefan menjadi dinding yang tak tertembus.

"Terima kasih, Leah," Denzel perlahan melepaskan pegangan tangan Leah dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti belaian yang tertahan. "Tapi Anda harus mendengarkan kakak Anda. Masuklah ke kamar. Istirahatlah."

Leah menatap Denzel dengan kecewa. Ia ingin Denzel marah, ingin Denzel menunjukkan emosi, namun pria itu tetap kembali menjadi "bayangan" yang dingin. "Kau selalu mengusirku ke dalam kamar, Denzel. Apa kau benar-benar tidak merasakan apa pun saat Jeff menghinamu di depanku?"

Denzel terdiam. Aku merasakannya, Leah. Rasanya seperti jantungku dicabik-cabik karena aku tidak bisa memelukmu di depannya.

"Saya hanya melakukan tugas saya, Leah," jawab Denzel datar.

Leah mendengus kecewa, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Suara bantingan pintu terdengar keras, menggema di ruangan itu.

Denzel tetap berdiri di sana, sendirian di tengah kemewahan yang bukan miliknya. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Bunga api kecemburuan yang dikobarkan Jeff tidak hanya membakar harga dirinya, tapi juga mulai membakar tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Ia tahu, setelah hari ini, Jeff akan semakin gencar menyingkirkannya. Dan ia juga tahu, Zefan mungkin akan menyerah pada tekanan Jeff jika kondisi perusahaan semakin memburuk. Denzel menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam yang mulai turun. Ia adalah air yang mencoba memadamkan api, namun malam ini, ia merasa air itu mulai menguap, meninggalkan kekosongan yang dingin dan menyakitkan di dalam jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!