NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Kebaikan Tanpa Nama

Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan suasana rumah besar itu tidak banyak berubah meski waktu sudah larut. Lampu-lampu di lorong masih menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang membuat segalanya terasa lebih sepi dari yang seharusnya. Tidak ada suara langkah atau percakapan, hanya keheningan yang perlahan menyelimuti setiap sudut rumah.

Alyssa duduk di lantai kamarnya dengan punggung bersandar pada sisi tempat tidur, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah hari yang panjang. Lampu utama tidak ia nyalakan, hanya lampu meja kecil yang memberi cahaya cukup untuk melihat tanpa membuat ruangan terasa terang. Tangannya terkulai di samping, sementara kepalanya sedikit menunduk, mencoba meredakan rasa lelah yang sejak tadi tidak juga hilang.

Sejak beberapa waktu terakhir, rutinitasnya tetap sama di mata orang lain, seolah tidak ada yang berubah sama sekali. Ia masih diminta melakukan banyak hal, masih dipanggil ketika dibutuhkan, dan tetap dianggap sebagai seseorang yang bisa digerakkan kapan saja tanpa pertimbangan. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan keadaannya, karena bagi mereka, semuanya masih berjalan seperti biasa.

Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan berubah tanpa perlu ia sadari secara sadar. Ia tidak lagi menolak ketika diberi tugas, tidak juga menunjukkan perlawanan meski perlakuan yang ia terima tidak adil. Ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan, lalu kembali ke ruangnya sendiri tanpa menyimpan harapan apa pun.

Alyssa menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai terasa berat. Kepalanya berdenyut pelan, bukan karena sakit yang tajam, melainkan karena lelah yang menumpuk tanpa jeda. Ia tidak ingat kapan terakhir kali merasa benar-benar segar, karena belakangan ini, rasa lelah itu selalu datang tanpa diminta.

Langkah-langkah di lorong terdengar samar, cukup pelan untuk hampir tidak terdengar jika ia tidak benar-benar memperhatikan. Suara itu mendekat, lalu berhenti tepat di depan pintunya, membuat Alyssa membuka mata dengan perlahan.

Belum sempat ia bertanya, pintunya sudah diketuk pelan.

“Iya?”

Pintu terbuka sedikit, dan seorang pelayan muda masuk dengan gerakan hati-hati seolah tidak ingin mengganggu lebih dari yang diperlukan. Ia membawa sebuah nampan di tangannya, lalu berjalan mendekat sebelum meletakkannya di atas meja kecil di dekat jendela.

“Nona… saya membawa ini.”

Alyssa mengernyit tipis, memperhatikan isi nampan tersebut tanpa langsung bergerak. Semangkuk sup hangat masih mengeluarkan uap tipis, disertai beberapa potong buah yang tertata rapi dan segelas air yang tampak baru saja dituangkan.

“Saya tidak meminta apa pun.”

Pelayan itu terlihat ragu, seolah sudah memperkirakan pertanyaan itu akan muncul.

“Saya hanya disuruh mengantarkannya.”

“Oleh siapa?”

Pelayan itu menggeleng perlahan, tidak berani menatap langsung.

“Saya tidak tahu. Tadi sudah ada di dapur dengan catatan untuk diberikan ke kamar Anda.”

Alyssa terdiam beberapa detik, menatap nampan itu dengan lebih serius. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa, bukan pada makanannya, melainkan pada cara semuanya disiapkan.

“Ada catatan?”

Pelayan itu segera mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan. Alyssa menerimanya dan membuka lipatan kertas itu perlahan.

Tidak ada nama, tidak ada tanda apa pun yang bisa menunjukkan asalnya. Hanya satu kalimat singkat yang ditulis dengan rapi.

“Makanlah.”

Alyssa membaca dalam diam, memperhatikan bentuk huruf yang terlihat teratur dan tidak tergesa. Tulisan itu tidak mencolok, tetapi juga tidak terlihat seperti tulisan pelayan yang biasa ia lihat sehari-hari.

“Siapa yang meletakkan ini di dapur?” tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

“Saya tidak tahu, Nona. Saat saya masuk, itu sudah ada di sana.”

Alyssa tidak bertanya lebih jauh, karena jelas pelayan itu memang tidak memiliki jawaban. Ia melipat kembali kertas itu dan meletakkannya di meja.

“Baik. Terima kasih.”

Pelayan itu mengangguk cepat sebelum keluar, menutup pintu dengan pelan hingga ruangan kembali sunyi seperti sebelumnya.

Alyssa tetap berdiri di tempatnya beberapa saat, matanya kembali tertuju pada nampan di atas meja. Perutnya memang terasa kosong, tetapi bukan itu yang membuatnya ragu untuk menyentuh makanan tersebut.

Ia tidak terbiasa menerima sesuatu tanpa mengetahui asalnya, apalagi dalam keadaan seperti ini. Di rumah ini, tidak ada yang melakukan sesuatu tanpa alasan, dan itulah yang membuatnya berpikir lebih lama dari yang seharusnya.

Ia akhirnya mendekat dan duduk di kursi, tangannya meraih sendok dengan gerakan pelan. Namun sebelum menyentuh sup, ia berhenti sejenak, membiarkan pikirannya mencari kemungkinan yang ada.

Ibunya Daren bukan tipe orang yang akan melakukan hal seperti ini, apalagi tanpa mengatakan apa pun. Cassandra juga tidak mungkin, karena ia justru lebih sering mencari cara untuk membuat Alyssa tidak nyaman.

Pelayan? Tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan sesuatu seperti ini tanpa perintah yang jelas.

Alyssa menghela napas pelan, menyadari bahwa ia tidak akan menemukan jawaban malam ini. Ia akhirnya mencicipi sup itu perlahan, membiarkan rasa hangatnya menyebar di tubuhnya yang sejak tadi terasa dingin.

Rasanya ringan dan tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya sedikit lebih nyaman. Ia melanjutkan makan dengan tenang, tidak terburu-buru, seolah itu hanyalah bagian dari rutinitas yang biasa ia jalani.

Namun di dalam pikirannya, pertanyaan itu tetap bertahan tanpa jawaban.

Di sisi lain rumah, di ruang kerja yang masih menyala, Daren berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangannya. Cahaya dari layar masih terlihat, menunjukkan pesan terakhir yang ia kirim beberapa menit yang lalu.

Pesan itu singkat, tanpa penjelasan panjang, hanya berisi instruksi yang jelas. Ia tidak menambahkan nama, tidak juga memberi tanda apa pun yang bisa mengarah padanya.

Ia tidak menunggu balasan, tetapi pikirannya tidak benar-benar tenang setelah itu. Bayangan Alyssa yang terlihat lemah beberapa waktu lalu terus muncul, seolah mengganggu fokusnya tanpa bisa diabaikan.

Daren mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain. Namun sebelum ia sempat benar-benar melakukannya, ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.

Sudah diberikan.

Ia membaca pesan itu sekilas, lalu meletakkan ponselnya di meja tanpa menanggapi. Tidak ada perubahan jelas di wajahnya, tetapi bahunya sedikit lebih rileks dibanding sebelumnya.

Ia kembali menatap jendela, membiarkan pikirannya perlahan tenang. Malam di luar terlihat gelap dan luas, tetapi untuk beberapa saat, ia tidak merasa terganggu oleh apa pun.

Pagi berikutnya, Alyssa bangun lebih awal seperti biasa dengan kondisi yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi tidak seberat kemarin, cukup untuk membuatnya bisa bergerak tanpa harus memaksa diri terlalu keras.

Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, mengingat kejadian semalam tanpa berusaha mencari jawaban lebih jauh. Nampan itu sudah ia kembalikan ke dapur sebelum tidur, tanpa komentar atau pertanyaan tambahan.

Ia bersiap seperti biasa, lalu turun ke bawah dengan langkah yang stabil. Dapur sudah ramai oleh aktivitas para pelayan, tetapi suasananya terasa sedikit berbeda ketika ia masuk.

Beberapa dari mereka langsung memperhatikan, tetapi tidak ada yang berani bersikap seperti sebelumnya. Tatapan mereka lebih hati-hati, seolah ada sesuatu yang berubah meski tidak ada yang mengatakannya.

Alyssa berjalan ke meja dan mulai membantu seperti biasa, tetapi salah satu pelayan menghentikannya dengan cepat.

“Tidak perlu, Nona. Kami sudah menyiapkannya.”

Alyssa menatapnya beberapa detik, mencoba memahami perubahan sikap itu.

“Tidak apa-apa.”

“Benar, Nona. Anda bisa langsung ke ruang makan.”

Nada suara pelayan itu terdengar lebih berhati-hati, bahkan sedikit gugup. Alyssa tidak memaksa dan hanya mengangguk sebelum berbalik keluar dari dapur.

Sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah meja dapur, tetapi tidak ada hal mencolok yang bisa ia temukan. Semua terlihat normal, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.

Di ruang makan, semua sudah berkumpul seperti biasa. Ia duduk di kursinya tanpa menarik perhatian, membiarkan sarapan berjalan dalam keheningan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya tepat di depannya.

“Nona, ini untuk Anda.”

Alyssa mengangkat alis sedikit, jelas tidak mengharapkan itu.

“Saya tidak memesan.”

Pelayan itu menunduk.

“Saya hanya disuruh mengantarkan.”

Alyssa menatap cangkir itu beberapa detik, memperhatikan aroma ringan yang terasa berbeda dari teh biasa. Ia tidak langsung menyentuhnya, membiarkan pikirannya kembali bekerja.

Daren yang duduk di seberangnya sempat melirik sekilas, tetapi segera kembali pada makanannya tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Cassandra memperhatikan perubahan kecil itu dengan senyum tipis, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Alyssa akhirnya mengangkat cangkir itu dan mencicipinya perlahan. Hangatnya menyebar dengan lembut, dan rasanya terasa pas tanpa berlebihan.

Ia meletakkan kembali cangkir itu dengan pelan, tetapi kali ini pikirannya tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi. Satu kejadian mungkin kebetulan, tetapi jika terus berulang, itu berarti ada sesuatu yang sengaja dilakukan.

Sepanjang hari, hal-hal kecil terus terjadi dengan pola yang sama. Buah segar muncul di mejanya tanpa ia minta, lantai yang licin dibersihkan sebelum ia melewatinya, dan tidak ada pelayan yang berani bersikap kasar secara terang-terangan.

Semua terlihat seperti kebetulan yang terjadi di waktu yang tepat, tetapi terlalu rapi untuk benar-benar dianggap kebetulan.

Malam hari, Alyssa kembali duduk di balkon kamarnya dengan secangkir minuman hangat di tangannya. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana tenang yang tidak berubah sejak kemarin.

Ia tidak langsung meminumnya, hanya memegang cangkir itu sambil membiarkan hangatnya meresap ke telapak tangannya. Pikirannya kembali pada kejadian-kejadian kecil sepanjang hari yang perlahan mulai tersusun menjadi pola yang jelas.

Seseorang memperhatikan, seseorang membantu, tetapi memilih untuk tetap tidak terlihat. Ia tidak tahu siapa orang itu, tetapi ia tahu bahwa semua ini bukan kebetulan.

Di sisi lain rumah, Daren berdiri di balkon kamarnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Alyssa. Ia bersandar pada pagar, menatap ke arah yang sama tanpa menyadari bahwa mereka berada dalam garis pandang yang hampir sejajar.

Pikirannya tidak benar-benar fokus, tetapi sesekali bayangan Alyssa muncul tanpa diminta. Cara ia berjalan, cara ia berbicara, dan bagaimana ia perlahan menjauh dari semua hal yang dulu ia coba pertahankan.

Daren menghela napas pelan, menyadari bahwa ia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan hal itu. Ia tidak ingin terlihat peduli, tidak ingin orang lain membaca perubahan sikapnya, dan ia juga tidak ingin Alyssa menyadarinya.

Namun meski begitu, tindakannya sudah lebih dulu berubah sebelum ia sempat menahannya.

Di balkon, Alyssa menunduk menatap cangkir di tangannya, lalu menghela napas pelan. Suaranya hampir tidak terdengar ketika ia akhirnya berbicara.

“Siapa yang menolongku?”

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!