NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan di ambang fajar

Sisa-sisa kemewahan makan malam di rooftop tadi malam masih membekas di benak Aira, namun suasana di meja sarapan pagi ini terasa jauh lebih berat. Ghibran tampak gelisah, jari-jarinya mengetuk pinggiran cangkir kopi dengan irama yang tak teratur. Pesan tentang kondisi kesehatan Mansyur semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kak, ada sesuatu yang Kakak sembunyikan?" tanya Aira lembut sembari meletakkan sepiring nasi goreng hangat di depan suaminya. "Sejak pulang semalam, tatapan Kakak kosong."

Ghibran menghela napas panjang. Ia meraih tangan Aira, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Mansyur. Dia di rumah sakit poliklinik penjara. Kondisinya kritis karena gagal ginjal yang sudah lama dia sembunyikan. Dia ingin bertemu dengamu, Aira. Katanya, ada sesuatu tentang wasiat Azlan yang hanya bisa dia sampaikan secara lisan padamu."

Aira tertegun. Gelas yang dipegangnya berdenting pelan saat bersentuhan dengan meja. "Paman Mansyur... maksudku, Ayah?"

"Aku tidak akan memaksamu," Ghibran menegakkan punggungnya. "Jika kamu belum siap melihat pria yang membiarkanmu menderita selama dua puluh lima tahun, kita bisa mencari cara lain untuk mengurus dana pesantren. Aku tidak akan membiarkan uang menjadi alasan kamu terluka lagi."

Aira menatap ke luar jendela, ke arah pohon-pohon jati yang bergoyang ditiup angin. "Dia mungkin pengecut, Kak. Tapi dia tetap pria yang memberikan separuh nyawanya padaku lewat darah. Jika ini adalah saat terakhirnya, aku tidak ingin membawa dendam ini sampai dia tiada. Antarkan aku, Kak."

Pertemuan di Balik Jeruji Besi

Poliklinik penjara itu pengap dan berbau karbol yang menyengat. Di sebuah ranjang kecil dengan penjagaan ketat, sosok Habib Mansyur yang dulu tampak gagah dengan jubah putihnya, kini terlihat sangat rapuh. Kulitnya pucat dan tubuhnya menyusut drastis.

Begitu Aira dan Ghibran masuk, mata Mansyur yang sayu perlahan terbuka. Ia mencoba tersenyum, namun yang tampak hanyalah guratan penderitaan.

"Salsabila..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Terima kasih sudah datang. Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini."

Aira berdiri di samping ranjang, tangannya bergetar. Ghibran berdiri tepat di belakangnya, memberikan dukungan tanpa kata lewat remasan lembut di bahu Aira.

"Paman ingin bicara soal Azlan?" tanya Aira berusaha tegar.

"Azlan anak yang cerdik," Mansyur terbatuk pelan. "Dia tahu Aminah dan Fauzan akan mencoba menguasai harta pesantren jika terjadi sesuatu padanya. Dia memindahkan seluruh dana cadangan ke sebuah akun yang hanya bisa diakses dengan sidik jari biologismu, Salsabila. Tapi, akun itu terkunci karena Aminah sempat memasukkan laporan palsu bahwa kamu meninggal saat bayi."

Mansyur meraih sebuah amplop kecil dari bawah bantalnya dengan sisa tenaga yang ada. "Ini adalah akta kelahiran aslimu yang selama ini disembunyikan di bawah lantai ubin klinik lama. Bawalah ini ke bank pusat. Nama ibumu, Sarah, tertera di sana sebagai pemilik sah tanah Salsabila. Dengan dokumen ini, semua klaim Aminah akan gugur demi hukum."

Aira menerima amplop itu. Air matanya jatuh. Di saat terakhirnya, pria ini akhirnya melakukan hal yang benar, meski terlambat.

"Pergilah..." bisik Mansyur. "Hiduplah dengan bahagia bersama Ghibran. Jaga pesantren itu. Jangan biarkan ada lagi anak yang kehilangan ibunya karena ambisi nama besar."

Getaran yang Tak Terbendung

Satu minggu berlalu, setelah pemakaman Mansyur yang dilakukan secara sederhana, awan gelap di atas Salsabila benar-benar tersapu bersih. Dana pesantren cair, utang-utang lunas, dan Aira resmi diakui sebagai pemilik sah lahan tersebut.

Malam itu, Ghibran dan Aira berada di kamar mereka. Suasana jauh lebih tenang. Ghibran baru saja selesai mandi, hanya mengenakan celana kain panjang dan kaus dalam putih yang melekat di tubuh atletisnya. Ia melihat Aira sedang duduk di depan meja rias, menyisir rambut panjangnya yang hitam legam.

Ghibran berjalan mendekat, mengambil alih sisir dari tangan Aira. Ia mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih.

"Terima kasih sudah menjadi wanita yang hebat, Salsabila," bisik Ghibran di dekat telinga Aira.

Aira menoleh, menatap pantulan wajah Ghibran di cermin. "Aku hebat karena aku punya Kakak di sampingku."

Ghibran meletakkan sisir itu, lalu melingkarkan lengannya di leher Aira, menciumi pundak istrinya yang terbuka sedikit karena daster sutranya yang melorot. Aira memejamkan mata, menikmati sensasi hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.

"Kak..." desah Aira pelan saat ciuman Ghibran mulai berpindah ke leher jenjangnya.

"Hmm?"

"Apa Kakak merasa... sekarang kita benar-benar bebas?"

Ghibran memutar kursi Aira agar mereka saling berhadapan. Ia menatap mata Aira dengan tatapan lapar yang bercampur dengan kelembutan yang amat sangat. Ia mengangkat tubuh Aira, membawanya menuju ranjang besar mereka yang kini hanya dihuni oleh aroma mawar dan cinta.

"Sangat bebas, Aira," jawab Ghibran sambil membaringkan Aira dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang menangani karya seni paling mahal di dunia. "Dan malam ini, aku ingin merayakan kebebasan itu bersamamu. Tanpa gangguan polisi, tanpa gangguan masa lalu."

Tangan Ghibran mulai menelusuri lekuk tubuh Aira dengan penuh damba, sementara Aira menarik tengkuk suaminya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang tidak lagi penuh dengan ketakutan, melainkan penuh dengan janji masa depan yang cerah.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!