NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Karpet Merah dan Pengakuan yang Tertunda

Malam Gala Premiere film "Bayangan di Balik Pelaminan" menjadi puncak dari segala jerih payah Arumi selama setahun terakhir. Gedung bioskop di pusat Jakarta itu disulap menjadi lautan kemewahan. Karpet merah membentang panjang, diapit oleh ratusan lampu kilat kamera dan barisan penggemar yang meneriakkan nama Reza Rahardian.

Di dalam limusin hitam yang merayap pelan menuju lobi, Arumi merasa tangannya mendingin. Ia mengenakan gaun velvet berwarna hijau zamrud yang elegan, potongan leher sabrina yang memperlihatkan kalung berlian—pemberian Adrian pagi tadi sebagai hadiah keberhasilan proyek ini.

"Mas, lihat kerumunan itu," bisik Arumi, meremas jemari Adrian. "Aku merasa seperti sedang masuk ke dalam salah satu bab novelku yang paling menegangkan."

Adrian, yang tampak sangat berwibawa dengan tuksedo hitam custom-made, mengecup punggung tangan Arumi. "Tenanglah. Malam ini adalah milikmu. Aku hanya aksesori yang menemanimu."

"Aksesori yang paling tampan," goda Arumi, sedikit meredakan ketegangannya.

Di kursi depan, Siska duduk dengan gaun gold yang berkilauan. Ia tampak cantik—bukan lagi kecantikan yang haus validasi seperti dulu, tapi kecantikan yang tenang. Siska telah menyelesaikan peran kecilnya sebagai karakter pendukung dalam film tersebut, sebuah peran yang menurut para kritikus awal adalah "penampilan yang sangat jujur."

"Siap, Rum?" Siska menoleh, tersenyum tulus.

"Jangan biarkan lampu kilat itu membutakanmu. Ingat, kamu yang menulis naskahnya. Kamu yang memegang kendali."

Saat pintu mobil terbuka, gemuruh sorakan menyambut mereka. Adrian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Arumi. Kilatan kamera seolah tidak berhenti memotret pasangan yang kini menjadi pembicaraan hangat di seluruh negeri. Kisah "istri pengganti" yang berujung cinta sejati bukan lagi rahasia perusahaan yang memalukan, melainkan inspirasi bagi banyak orang.

Di atas karpet merah, mereka bertemu dengan Reza Rahardian dan jajaran kru film. Sesi wawancara berlangsung cepat namun intens.

"Mbak Arumi, bagaimana rasanya melihat kisah pribadi yang begitu sensitif kini ditonton jutaan orang?" tanya seorang wartawan dari media ternama.

Arumi tersenyum, melirik Adrian sebentar sebelum menjawab. "Awalnya menakutkan. Tapi saya menyadari bahwa setiap orang punya 'bayangan' dalam hidupnya. Menghadapi bayangan itu adalah satu-satunya cara untuk menemukan cahaya. Film ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri."

Namun, momen paling mengharukan terjadi saat Siska dipanggil untuk sesi foto bersama. Tak disangka, sang sutradara, Mas Haris, mengambil mikrofon.

"Saya ingin memberikan apresiasi khusus," ujar Mas Haris di depan para wartawan. "Banyak yang meragukan saat kami mengajak Mbak Siska bergabung. Tapi kalian akan lihat di layar nanti, dia memberikan kedalaman emosi yang luar biasa. Dia bukan sekadar pendukung; dia adalah nyawa dari konflik batin dalam cerita ini."

Siska terpaku. Matanya berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun ia mencari pujian lewat kecantikan fisik, namun baru kali ini ia mendapatkan pengakuan atas kerjanya, atas kejujurannya menghadapi luka lama di depan kamera.

Pemutaran film berlangsung selama dua jam yang penuh emosi. Di dalam kegelapan bioskop, Arumi merasakan genggaman tangan Adrian tidak pernah lepas. Ia melihat dirinya versi layar lebar (diperankan dengan apik oleh aktris muda berbakat) berjuang melewati hari-hari dingin di awal pernikahan.

Saat adegan di balkon—di mana karakter pria memberikan jasnya—seluruh penonton terdiam. Arumi teringat bagaimana Adrian "menginterupsi" syuting adegan itu dulu. Ia melirik suaminya di samping, dan mendapati Adrian sedang menatap layar dengan mata yang sedikit lembap.

Ketika lampu bioskop menyala kembali setelah credit title berakhir, seluruh penonton berdiri. Standing ovation selama lima menit bergema di seluruh aula. Arumi menangis bahagia di pelukan Adrian.

Setelah acara selesai, sebuah pesta kecil diadakan di lounge eksklusif. Di tengah kegembiraan itu, Ayah dan Ibu Arumi datang menghampiri. Baskoro tampak sangat bangga, sementara Ratna terus-menerus menyeka air matanya.

"Rum, ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan," ujar Baskoro setelah mereka menepi dari keramaian.

Arumi mengernyit. "Ada apa, Yah? Wajah Ayah serius sekali."

"Ayah dan Ibu sudah memutuskan," Ratna memulai, suaranya lembut. "Kami akan pindah ke Yogyakarta bulan depan. Rumah di Jakarta akan kami jual atau sewakan."

Arumi tertegun. "Pindah? Tapi kenapa mendadak, Bu?"

"Bukan mendadak, Sayang. Kami sudah memikirkannya sejak lama. Ayah ingin masa pensiun yang tenang di kota kelahiran kakekmu. Dan yang paling penting..." Ratna melirik Siska yang sedang berbincang dengan kru film di kejauhan. "Siska sudah jauh lebih baik. Kami merasa tugas kami menjaga kalian sudah selesai. Kamu sudah punya Adrian, dan Siska sudah menemukan jalannya sendiri."

Baskoro menepuk bahu Adrian. "Nak Adrian, Ayah titip Arumi sepenuhnya. Dan terima kasih sudah menjadi pilar yang kuat bagi keluarga kami, meskipun awalnya kami sangat mengecewakanmu."

Adrian mengangguk dengan hormat. "Ayah tidak perlu khawatir. Jogja tidak jauh. Kami akan sering berkunjung."

Kabar kepindahan orang tuanya membawa rasa sedih sekaligus lega bagi Arumi. Ia menyadari bahwa sarang lamanya benar-benar akan kosong, menandakan bahwa ia dan Siska benar-benar telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri.

Menjelang tengah malam, saat tamu-tamu mulai pulang, Arumi berdiri di balkon lounge yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta. Adrian muncul dari belakang, menyampirkan jasnya ke bahu Arumi—persis seperti adegan di film, namun kali ini nyata dan penuh kehangatan.

"Capek?" tanya Adrian.

"Capek yang membahagiakan, Mas," jawab Arumi, bersandar pada dada Adrian. "Aku tidak menyangka hidupku akan jadi seperti ini. Dulu aku pikir aku akan selamanya jadi bayangan Kak Siska, lalu jadi bayangan dalam kontrakmu."

"Kamu tidak pernah jadi bayangan bagiku, Arumi. Kamu adalah matahari yang mencairkan es di hatiku," Adrian memutar tubuh Arumi agar menghadapnya. "Besok, semua orang akan membicarakan filmmu. Tapi bagiku, bagian terbaik dari cerita ini adalah saat kita pulang ke rumah, melepas semua atribut ini, dan menjadi kita yang biasa."

"Mas ingat janji liburan itu?" Arumi mengingatkan.

"Maladewa?" Adrian tersenyum. "Pesawat pribadinya sudah siap. Kita berangkat lusa. Hanya aku, kamu, dan mungkin beberapa draf novel barumu yang harus aku baca lebih dulu."

Arumi tertawa, merangkul leher Adrian. Di tengah dinginnya angin malam Jakarta, ia merasa sangat aman. Ia telah melewati bab-bab tersulit dalam hidupnya: pengkhianatan kakak, pernikahan kontrak, keraguan dewan komisaris, hingga menghadapi publik.

Tiba-tiba, Siska menghampiri mereka. Ia membawa dua gelas minuman ringan dan wajahnya tampak berseri.

"Rum, Mas Adrian... aku baru saja dapat tawaran dari Mas Haris," ujar Siska antusias.

"Tawaran apa, Kak?"

"Dia ingin aku ikut audisi untuk film barunya. Bukan peran kecil lagi, tapi karakter pendukung utama yang lebih kompleks. Dia bilang aku punya 'bakat yang terpendam'," Siska tertawa kecil, sedikit malu. "Terima kasih ya, Rum. Kalau kamu tidak mengajakku jadi konsultan, aku mungkin masih mengurung diri di kamar."

Arumi memeluk kakaknya. "Aku selalu tahu Kakak itu hebat. Kakak hanya perlu panggung yang tepat."

Malam itu berakhir dengan sempurna. Keluarga yang sempat hancur kini berdiri lebih tegak dengan fondasi kejujuran. Arumi menyadari bahwa hidup memang seperti naskah film; penuh dengan konflik dan plot twist, tapi selama ia memiliki sutradara yang tepat di sisinya—yakni cinta dan Adrian—akhir ceritanya akan selalu bahagia.

Saat mereka berjalan menuju mobil untuk pulang, Arumi sempat menoleh ke arah poster besar filmnya yang terpasang di depan bioskop. Di sana tertulis: Setiap Pengganti Punya Cerita Sendiri.

Arumi tersenyum manis. Ia sudah selesai dengan cerita tentang "pengganti". Bab berikutnya dalam hidupnya akan berjudul: Menjadi Satu-satunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!