Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Lampu neon di langit-langit koridor puskesmas berkedip dengan suara berdengung yang pelan namun konsisten, seolah-olah sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki Agus. Cahaya putihnya yang pucat memantul di lantai tegel yang licin, memperlihatkan noda-noda abu-abu dari serpihan semen yang jatuh dari celana dan sepatu Agus. Setiap kali Agus bergerak, debu itu luruh, mengotori lantai yang baru saja dibersihkan oleh petugas. Ia merasa seperti kotoran di tempat yang suci ini.
Agus menyandarkan punggungnya pada dinding cat putih yang sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Rasa perih di pergelangan kakinya kini terasa tenggelam oleh rasa sesak yang lebih hebat di ulu hatinya. Di depannya, ibu agus duduk di kursi tunggu besi yang dingin, kepalanya tertunduk dalam ke pangkuannya. Bahu ibunya naik turun dengan tidak beraturan, diiringi isak tangis yang tertahan agar tidak mengganggu pasien lain.
"Seratus tujuh puluh ribu, Gus," bisik ibu agus tanpa mendongak. Suaranya terdengar sangat parau, hampir hilang ditelan kebisingan malam. "Dari mana kita cari uang sebanyak itu malam-malam begini? Cincin Bapak sudah tidak ada. Simpanan beras sudah tipis. Kita tidak punya apa-apa lagi."
Agus tidak menjawab. Ia merogoh saku kemejanya, menemukan beberapa keping koin yang nilainya bahkan tidak sampai seribu rupiah. Ia menarik napas panjang, namun debu semen yang masih menempel di lubang hidungnya membuat paru-parunya terasa gatal dan panas. Ia melihat ke arah pintu ruang tindakan yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, bapak agus sedang dibantu oleh tabung oksigen tua yang bunyinya terdengar sampai ke koridor, bunyi napas yang dipaksakan oleh mesin.
Agus mengeluarkan ponselnya dari saku. Layarnya yang retak memperlihatkan jam digital: 20.45. Di bawahnya, notifikasi pesan dari Nor Rahma masih menyala. Rahma masih menanti balasan soal kue dan rencana kunjungan besok. Agus menatap nama itu cukup lama. Jarinya bergetar di atas layar.
Pikirannya mulai liar. Jika ia menekan tombol panggil, jika ia menceritakan segalanya pada Rahma, ia yakin wanita itu akan segera mengirimkan bantuan. Rahma adalah wanita baik. Rahma memiliki uang. Bagi Rahma, seratus tujuh puluh ribu mungkin hanya harga satu kali makan siang di kantornya. Namun, setiap kali pikiran itu muncul, wajah Pak Hadi dan Ibu Farida ikut terbayang di kepala Agus.
“Sejauh mana kamu bisa menjamin anak saya tidak akan menderita?” Kalimat Ibu Farida malam itu terasa seperti besi panas yang mencap jantung Agus.
Jika ia meminjam uang pada Rahma sekarang, saat ini juga, maka ia telah mengonfirmasi ketakutan Ibu Farida. Ia akan menjadi laki-laki yang membebani Rahma sejak awal. Harga dirinya sebagai laki-laki yang ingin meminang Nor Rahma akan runtuh total dan tidak akan pernah bisa ditegakkan kembali. Ia tidak ingin cintanya berawal dari rasa kasihan.
Agus memasukkan ponselnya kembali ke saku tanpa membalas pesan itu. Ia harus mencari cara lain.
"Ibu tunggu di sini. Jaga Bapak. Agus mau keluar sebentar," ucap Agus sambil menyentuh pundak ibunya yang gemetar.
"Mau ke mana, Gus? Kakimu saja susah buat jalan," ibu agus menatap anaknya dengan mata yang merah dan sembab.
"Agus cari jalan, Bu. Ibu jangan pikirkan apa-apa. Berdoa saja buat Bapak," jawab Agus singkat.
Ia mulai berjalan menuju pintu keluar puskesmas. Kayu penyangganya yang ia bawa dari rumah tadi terasa sangat kasar di ketiaknya. Setiap langkah kaki kirinya menyentuh lantai, rasa sakit yang menyayat kembali muncul, namun Agus mengabaikannya. Ia menyeret kakinya perlahan, melewati petugas administrasi yang menatapnya dengan pandangan menuntut.
Di luar, udara malam terasa sangat dingin. Agus menaiki motor tuanya, mencoba menyalakan mesinnya. Butuh lima kali tarikan gas sebelum mesin itu menderu kasar, mengeluarkan asap putih yang menyesakkan di parkiran puskesmas. Agus memacu motornya menuju gudang material tempatnya bekerja. Ia berharap Pak Jono masih ada di sana, atau setidaknya ada mandor malam yang bisa ia mintai tolong untuk kas bon upah minggu depan.
Jalanan menuju gudang terasa sangat sepi. Lampu-lampu jalan yang jarang membuat pandangan Agus terbatas. Ia terus memikirkan angka seratus tujuh puluh ribu. Angka yang kecil bagi dunia Nor Rahma, namun angka yang bisa memisahkan bapaknya dari nyawanya sendiri di dunia Agus.
Sesampainya di gerbang gudang, Agus mendapati pagar besi itu sudah digembok rapat. Tidak ada tanda-tanda aktivitas. Ia turun dari motor, mendekat ke pos satpam yang lampunya redup.
"Mas, Pak Jono masih ada?" tanya Agus pada seorang satpam yang sedang mengantuk.
Satpam itu membuka matanya, menatap Agus yang masih penuh dengan debu semen. "Pak Jono sudah pulang dari jam lima sore tadi, Gus. Kenapa kamu ke sini malam-malam? Bukannya tadi kamu kabur dari kerjaan?"
Agus menelan ludah. Kabar tentang dia meninggalkan pekerjaan tadi siang rupanya sudah menyebar. "Bapak saya kritis, Mas. Saya butuh pinjaman uang buat rujukan ke rumah sakit umum. Bisa bantu saya hubungi Pak Jono?"
Satpam itu menghela napas, menatap Agus dengan tatapan iba namun tak berdaya. "Aduh, Gus. Kamu tahu sendiri kan Pak Jono orangnya bagaimana. Dia paling tidak suka dihubungi soal uang di luar jam kerja. Lagipula, tadi dia titip pesan, katanya kalau kamu datang lagi, suruh ambil surat sisa upahmu besok pagi saja. Dia sepertinya marah sekali kamu tinggalin truk yang belum selesai."
Agus merasa dunianya seolah runtuh sekali lagi. Harapan terakhirnya untuk meminjam uang pada kantor telah tertutup. Ia berdiri mematung di depan pagar besi itu. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan debu semen dari bajunya ke udara. Ia merasa sangat kecil, sangat tidak berdaya.
Ia kembali ke motornya dengan langkah yang semakin berat. Di tengah jalan pulang, ia berhenti di sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai yang airnya hitam dan berbau. Agus mematikan mesin motornya. Ia melepaskan helmnya dan membiarkan udara malam menyentuh wajahnya yang kusam.
Ia meraba pergelangan kakinya. Bengkaknya terasa semakin panas. Luka di pundaknya juga kembali berdenyut perih. Ia melihat ke arah langit yang tidak berbintang.
"Kenapa sesulit ini, Tuhan?" bisik Agus pada kesunyian malam. "Kenapa untuk menyelamatkan Bapak saja, aku harus merasa seperti pengemis?"
Ia teringat Rahma lagi. Ia teringat betapa bersihnya rumah Rahma, betapa harumnya pakaian Rahma, dan betapa tertatanya hidup wanita itu. Di sisi lain, ia melihat dirinya sendiri, seorang kuli panggul yang tubuhnya dilapisi kerak semen, yang motornya berisik, dan yang orang tuanya sedang sekarat karena kemiskinan.
Agus menyadari satu hal yang paling menyakitkan malam itu, jurang antara dirinya dan Rahma bukan hanya soal uang, tapi soal martabat. Jika ia menyerah dan meminta bantuan Rahma sekarang, ia mungkin akan mendapatkan uangnya, tapi ia akan kehilangan kehormatannya di depan keluarga Nor Rahma selamanya.
Ia menghidupkan motornya kembali. Ia tidak akan menyerah. Masih ada satu tempat lagi yang bisa ia datangi, meskipun tempat itu sangat ia hindari. Rumah Pak RT. Meskipun ia sudah sering meminjam, ia akan memohon sekali lagi, bahkan jika ia harus berlutut di bawah kaki Pak RT malam ini.
Agus memutar arah motornya. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di kakinya. Ia hanya peduli pada satu hal, seratus tujuh puluh ribu rupiah. Harga yang harus ia bayar agar bapaknya tetap bisa bernapas esok pagi.
Satu jam telah berlalu sejak ia meninggalkan puskesmas. Waktu terus berjalan, dan Agus baru saja menyadari bahwa malam ini akan menjadi malam terpanjang dalam hidupnya, di mana setiap menit yang ia habiskan adalah pertaruhan antara cinta, harga diri, dan nyawa orang tuanya.