Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Di area lobi kantor yang mulai riuh dengan langkah kaki karyawan yang bergegas pulang, Jeremy Nasution berdiri di dekat pilar besar sambil menatap jam tangan Rolex-nya. Ia sudah memberikan kode mata yang sangat jelas kepada Sheila saat melewati kubikel asisten tadi—sebuah instruksi tanpa kata agar gadis itu segera menyusulnya ke parkiran basemen B2, tempat mobilnya terparkir di area privat.
Namun, Jeremy lupa satu hal: Sheila Maharani punya "kelemahan" besar bernama obrolan hangat.
Di lantai 25, Sheila justru masih tertahan di meja kerjanya. Bukannya membereskan tas, ia malah terjebak dalam diskusi seru dengan Nilam soal diskon besar-besaran di salah satu marketplace.
"Sumpah Shei, lo harus liat skincare ini. Cuma hari ini doang promonya!" Nilam menunjukkan layar ponselnya dengan antusias, menghalangi jalan Sheila yang sebenarnya sudah ingin beranjak.
"Wah, serius Lam? Tapi ini ori nggak? Harganya miring banget," sahut Sheila, sesaat melupakan pria temperamental yang mungkin sudah mulai berasap di bawah sana.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel Sheila yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan rentetan pesan masuk yang tak berhenti.
Bapak CEO Sengklek: "Lama banget?! Aku sudah lumutan di sini."
Bapak CEO Sengklek: "Sheila Maharani! 5 menit nggak turun, aku naik ke atas dan jemput kamu di depan Nilam!"
Bapak CEO Sengklek: "Jawab! Kamu di mana?!"
Sheila melirik sekilas ke arah layar ponselnya dan hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat membaca ancaman terakhir Jeremy. Pria itu benar-benar tidak main-main kalau soal menunggu.
"Shei, hp lo dari tadi bunyi tuh. Berisik banget getarnya sampai meja gue ikut goyang. Siapa sih? Dari tadi nggak berhenti-berhenti, penting banget kayaknya," tegur Nilam sambil menatap ponsel Sheila penuh rasa ingin tahu.
Sheila dengan gerakan secepat kilat menyambar ponselnya dan membaliknya hingga layar menghadap meja. "Eh i.. itu operator, Lam! Biasalah, telkomsel lagi rajin banget nawarin paket kuota malam. Ganggu banget ya, maaf-maaf."
"Operator masa intens banget kayak nagih utang?" Nilam menyipitkan mata, curiga. "Muka lo kok jadi pucat gitu? Lo nggak lagi dikejar-kejar pinjol kan, Shei?"
"Aduhh, sembarangan! Nggak lah! Ini beneran operator," Sheila buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil menyandang tasnya dengan terburu-buru. "Gue cabut duluan ya, Lam! Takut keburu hujan, langitnya udah mendung banget tuh di luar."
"Loh, katanya tadi mau bareng ke halte depan?" teriak Nilam, tapi Sheila sudah berlari menuju lift dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Begitu pintu lift tertutup, Sheila langsung membuka ponselnya dan mengetik balasan dengan jari gemetar.
Sheila: "IYA INI TURUN! Sabar sedikit kek! Tadi ada Nilam, nggak enak kalau langsung kabur. Tunggu di mobil, jangan keluar-keluar!"
Begitu lift berdenting di basemen B2, Sheila langsung berlari menuju SUV hitam Jeremy. Pintu mobil terbuka secara otomatis bahkan sebelum Sheila menyentuh gagangnya. Begitu ia masuk, aroma parfum kayu cendana yang tajam langsung menyambutnya, bersamaan dengan tatapan tajam Jeremy yang bisa melelehkan besi.
"Bagus ya. Operator sekarang sudah punya nama 'Jeremy Nasution' di kontaknya?" sindir Jeremy dingin, sambil mulai menjalankan mobilnya dengan sedikit sentakan.
"Kamu denger?!" Sheila membelalak.
"Aku bisa bayangin gimana paniknya muka kamu pas Nilam nanya. Lain kali kalau aku panggil, langsung gerak. Kamu tahu kan aku nggak suka menunggu?" Jeremy menoleh sekilas, rahangnya masih mengeras, tapi tangannya meraih tangan Sheila dan menggenggamnya erat di atas persneling.
"Iya, maaf. Tadi pembahasannya seru banget tentang diskon, aku sampai lupa waktu," gumam Sheila sambil menyandarkan kepalanya, merasa lega sekaligus takut karena permainan kucing-kucingan ini semakin hari semakin menantang adrenalinnya.
Jeremy mendengus, tapi kemudian ia mengecup punggung tangan Sheila singkat. "Lain kali kalau mau diskon bilang aku. Nggak usah nunggu promo, aku belikan tokonya sekalian kalau kamu mau. Tapi sekarang, fokus ke aku dulu. Kita makan malam di tempat yang nggak ada Nilam-nya."
***
Restoran yang dipilih Jeremy malam itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Suasananya sangat privat, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik jazz instrumental yang lembut. Melalui dinding kaca raksasa di samping meja mereka, kerlap-kerlip lampu Jakarta malam hari terlihat seperti hamparan berlian yang tak berujung.
Sambil menunggu hidangan utama datang, mereka berbincang santai. Jeremy tampak sudah jauh lebih rileks dibandingkan saat di basemen tadi. Ia menanggalkan jam tangan mahalnya, meletakkannya di meja, dan menatap Sheila dengan binar mata yang hangat—pemandangan yang sangat langka bagi siapa pun yang mengenal sosok dingin CEO Nasution.
Namun, Sheila yang dasarnya jahil dan ingin mencairkan sisa-sisa ketegangan gara-gara "insiden Nilam" tadi, tiba-tiba memasang wajah serius. Ia sedikit memiringkan kepalanya, matanya melirik ke arah pintu masuk restoran seolah sedang memperhatikan seseorang yang baru saja tiba.
"Eh, Jer... itu ada cewek cantik banget loh di sana? Sumpah, gayanya elegan banget," celetuk Sheila dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia benar-benar terpukau.
Jeremy, yang sedang memutar-mutar gelas berisi air mineral, langsung bereaksi secara insting. Insting pria normalnya bekerja lebih cepat daripada logika "setia"-nya malam itu. Ia langsung menegakkan punggung, kepalanya bergerak cepat menoleh ke arah pintu masuk.
"Mana? Di sebelah mana?" tanya Jeremy sambil celingak-celinguk, matanya menyisir lobi restoran dengan saksama. "Yang pakai baju merah? Atau yang baru duduk di pojok itu?"
Sheila menahan tawa sekuat tenaga. Ia memperhatikan bagaimana leher Jeremy sampai memanjang demi mencari sosok "cewek cantik" yang ia maksud. Begitu Jeremy kembali menoleh ke arahnya dengan wajah bingung karena tidak menemukan siapa pun yang menonjol, Sheila langsung melipat tangannya di dada dan memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Nengok! Tuh kan, langsung semangat banget nyarinya!" Sheila mendengus kencang, membuang muka ke arah jendela. "Emang dasar nggak peka! Emang yang di depan mata kamu ini nggak cantik ya, Pak Jeremy?!"
Jeremy terdiam sesaat, lalu sedetik kemudian ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap klasik asisten pribadinya. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah dipancing.
"Astaga, Shei... Kamu ngerjain aku?" Jeremy tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat renyah. Ia meraih tangan Sheila yang berada di atas meja, mencoba menarik perhatian gadis itu kembali. "Tadi nadamu meyakinkan banget, aku pikir ada kolega Papa atau siapa yang datang."
"Halah, alasan! Tadi matanya langsung berbinar-binar gitu kok nyari cewek cantik," balas Sheila, masih mencoba berakting merajuk meski sudut bibirnya mulai berkedut ingin tersenyum. "Berarti benar ya, aku ini cuma asisten yang kebetulan ada di sini, bukan cewek cantik di mata kamu."
Jeremy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik kursi Sheila sedikit lebih dekat ke arahnya, membuat jarak mereka kembali menipis. Ia menatap Sheila dalam-dalam, kali ini dengan tatapan yang sanggup membuat lutut siapa pun lemas.
"Dengar ya, Sheila Maharani," suara Jeremy merendah, sangat tulus. "Aku nggak butuh nengok ke pintu atau ke seluruh penjuru Jakarta ini cuma buat cari yang cantik. Yang paling cantik di hidupku itu ya yang sekarang lagi cemberut di depan aku ini. Yang tadi pagi bikin aku hampir gila karena kangen, yang bikin aku rela kucing-kucingan di lift, dan yang bikin aku merasa jadi pria paling beruntung karena dia milih 'pulang' ke aku."
Sheila terpaku. Rayuan Jeremy yang satu ini terasa berbeda—bukan sekadar kata-kata manis gombalan kantor, tapi ada rasa memiliki yang sangat dalam di sana. Pipi Sheila merona merah, gagal sudah akting merajuknya.
"Dasar tukang gombal," gumam Sheila lirih, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik gelas.
"Bukan gombal, itu fakta medis buat kesehatan jantung aku," sahut Jeremy sambil mengerlingkan mata. Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku jasnya—sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap. Ia menggesernya di atas meja menuju ke arah Sheila. "Sebagai denda karena aku tadi sempat celingak-celinguk cari 'cewek cantik' yang nggak ada itu."
Sheila membuka kotak itu dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas putih dengan desain minimalis namun sangat elegan, dengan inisial kecil 'J' dan 'S' yang saling bertautan secara halus di bagian pengaitnya.
"Jer... ini apa? Kan aku bilang jangan beliin barang mahal terus," protes Sheila, meski matanya berbinar melihat keindahan gelang itu.
"Ini bukan cuma barang mahal, Shei. Ini tanda. Supaya kalau kamu lagi jahil kayak tadi, kamu ingat kalau pemilik gelang ini cuma punya satu 'cewek cantik' di dunianya. Dan orang itu adalah kamu," Jeremy mengambil gelang itu dan memasangkannya di pergelangan tangan Sheila yang mungil. "Jangan dilepas, ya? Anggap ini sebagai 'kontrak' baru kita yang nggak bisa dibatalkan sepihak."
Sheila menatap gelang yang kini melingkar manis di tangannya. Rasa haru menyeruak di dadanya. Di tengah segala ketakutannya akan Papa Jeremy dan luka masa lalunya, pria di depannya ini selalu punya cara untuk meyakinkannya bahwa ia berharga.
"Makasih ya, Jer. Maaf ya tadi aku ngerjain kamu," bisik Sheila tulus.
"Nggak apa-apa. Tapi besok-besok kalau mau ngerjain, jangan pakai isu 'cewek cantik'. Pakai isu 'cicilan apartemen naik' saja, itu lebih masuk akal buat aku panik," canda Jeremy, membuat Sheila tertawa lepas.
Malam itu, di bawah temaram cahaya lilin, mereka menghabiskan waktu dengan tawa yang tulus. Jeremy membuktikan bahwa meski ia seorang CEO yang ditakuti ribuan karyawan, di depan Sheila, ia hanyalah seorang pria yang sedang jatuh cinta setengah mati—dan Sheila akhirnya sadar, ia tidak butuh lagi mencari tempat lain, karena di sinilah ia benar-benar merasa ditemukan.