Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN YANG MENJERATKAN.
"Dewa, putar balik. Aku tidak ingin menginjakkan kaki di mansion itu malam ini," suara Fardan pecah di tengah kesunyian kabin mobil.
Dewa melirik dari spion tengah, melihat tuannya meremas rambut dengan frustrasi. "Kita ke mana, Tuan?"
"Apartemen lamaku. Tempat di mana Alisha dulu tersenyum padaku sebelum ibu memaksanya pindah ke mansion itu," jawab Fardan pahit. Kenangan enam tahun lalu menghantamnya bertubi-tubi. Ia ingat betapa gigihnya sang ibu meminta Alisha tinggal bersama dengan alasan kewajiban menantu, padahal itu hanyalah awal dari penjara mental bagi istrinya.
Fardan tertawa miris, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan diri sendiri. "Aku sangat bodoh, Dewa. Aku membiarkan serigala menjaga domba. Aku mengira ibuku akan menyayanginya, tapi ternyata dia justru mematahkan sayap Alisha perlahan-lahan."
Dewa hanya diam, memutar kemudi menuju kawasan Jakarta Pusat.
"Selidiki semua rekaman CCTV di mansion sejak hari pertama Alisha masuk hingga malam dia pergi. Aku ingin tahu setiap hinaan, setiap air mata yang disembunyikan dariku," perintah Fardan, matanya berkilat penuh amarah. "Dan cari pelayan yang ada di video Ghifari tadi. Aku yakin video surat cerai itu juga hasil manipulasi suara. Alisha tidak mungkin bicara sekeji itu."
"Baik, Tuan. Saya akan segera memprosesnya," jawab Dewa patuh.
"Satu lagi," Fardan menjeda, napasnya terasa berat. "Cari pengacara terbaik. Siapkan dokumen gugatan hak asuh anak. Jika Alisha tetap keras kepala tidak mau kembali padaku, aku akan menggunakan Ghifari untuk menariknya pulang."
Keesokan harinya, kantor pusat Raffasyah Group terasa lebih mencekam dari biasanya. Fardan duduk di kursi kebesarannya saat Dewa masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa amplop cokelat tebal. Fardan membaca setiap baris dokumen di dalamnya dengan teliti sebelum menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Ayo kita temui istriku," ajak Fardan singkat.
Sesampainya di kantor cabang Henry Corp, Fardan langsung menerobos masuk ke ruang kerja Alisha tanpa memedulikan protes sekretaris di depan. Ia membanting amplop cokelat itu tepat di hadapan Alisha yang tengah menunduk menatap layar laptop.
BRAK!
Alisha tersentak, menatap Fardan dengan amarah yang tertahan. "Apa lagi yang kau inginkan, Fardan? Belum cukup kau mengacaukan hidupku semalam?"
"Buka dan baca, Alisha," sahut Fardan sambil bersedekap, menatap istrinya dengan pandangan mengintimidasi.
Alisha menarik isi amplop itu. Matanya membelalak saat membaca judul dokumen tersebut: Gugatan Hak Asuh Anak. Tangannya bergetar hebat, wajahnya seketika pucat pasi.
"Kau gila! Kau tidak bisa mengambil Ghifari dariku!" teriak Alisha, suaranya melengking karena takut.
"Aku bisa, Alisha. Dengan kekuasaan dan bukti DNA yang aku miliki, pengadilan akan dengan mudah memberikan hak asuh padaku. Kau hanya seorang ibu tunggal yang membawanya lari ke luar negeri tanpa izin ayahnya," ancam Fardan, suaranya sangat tenang namun mematikan.
Alisha berdiri, matanya berkaca-kaca. "Kau ingin memisahkanku dengan anakku? Setelah keluargamu membuangku seperti sampah?"
Fardan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Alisha terpojok di meja kerjanya. "Aku memberimu dua pilihan, Alisha. Menikah kembali denganku hari ini juga, atau kau tidak akan pernah melihat wajah Ghifari lagi seumur hidupmu."
"Kau bajingan, Fardan!" desis Alisha dengan isak tangis yang mulai pecah. Ia tahu lingkungan keluarga Raffasyah adalah racun, namun kehilangan Ghifari adalah kematian baginya. "Jika aku kembali, mereka akan menyakitinya. Mereka membenciku!"
"Tidak akan ada yang berani menyentuh seujung kuku pun dari kalian jika kau berada di bawah perlindunganku. Pilih sekarang, Alisha. Waktuku tidak banyak."
Alisha memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya buntu. Rasa takut kehilangan putranya mengalahkan ego dan luka lamanya. "Baik. Aku akan menikah denganmu. Tapi jangan pernah bawa Ghifari ke rumah ibumu."
"Keputusan yang cerdas," ujar Fardan. Tanpa membuang waktu, ia menarik pergelangan tangan Alisha dengan kasar. "Dewa, siapkan mobil. Kita ke kantor KUA sekarang. Aku sudah mengatur segalanya."
Alisha terseret mengikuti langkah lebar Fardan. Tenaganya tidak sebanding dengan cengkeraman pria itu yang penuh emosi. Saat mereka mencapai lobi gedung dan Fardan menarik Alisha masuk ke dalam mobil Rolls-Royce hitamnya, sebuah mobil SUV putih masuk ke halaman lobi.
Itu mobil Sarah.
Di dalam mobil, Ghifari sedang sibuk dengan tabletnya hingga ia mendongak dan melihat pemandangan di depannya. Matanya membelalak saat melihat sang ibu ditarik paksa masuk ke mobil ayahnya.
"Bunda!" teriak Ghifari spontan. Ia langsung membuka pintu mobil sebelum Sarah sempat mengerem dengan sempurna.
Bocah itu melompat turun, kaki kecilnya berlari sekencang mungkin mengejar mobil hitam yang mulai melaju meninggalkan lobi. "Bunda! Lepaskan Bundaku!"
Namun, kecepatan lari anak lima tahun itu bukan tandingan mesin mobil mewah tersebut. Ghifari berhenti di tengah jalan, napasnya tersengal-sengal, menatap asap knalpot mobil ayahnya yang menghilang di belokan jalan. Wajah imutnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat gelap. Amarah yang sangat besar terpancar dari matanya yang memerah.
Sarah berlari menghampiri Ghifari dengan panik. "Ghifari! Kau tidak apa-apa, Sayang?"
Ghifari tidak menjawab. Ia tidak menangis. Ia justru duduk bersila di aspal panas lobi kantor, membuka tabletnya dengan gerakan yang sangat agresif. Jari-jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi anak seusianya.
"Tante Sarah, jangan ganggu aku," desis Ghifari, suaranya terdengar sangat berat.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" tanya Sarah ketakutan melihat ekspresi Ghifari.
"Dia pikir dia bisa menculik Bundaku hanya karena dia punya gedung besar? Akan kutunjukkan bagaimana rasanya menjadi miskin dalam satu jam," ujar Ghifari dingin.
Di layar tabletnya, Ghifari masuk ke dalam backdoor sistem pusat Raffasyah Group yang sudah ia tanamkan virus trojan semalam. Ia mulai melakukan serangan sistematis. Pertama, ia membekukan semua akses transaksi perbankan perusahaan ayahnya. Kemudian, ia meretas papan iklan digital di seluruh gedung utama Raffasyah Group.
"Ghifari, pulanglah dulu. Kita cari jalan lain," bujuk Sarah sambil mencoba menarik tangan Ghifari.
"Paman Lucas, tolong bantu aku tetap di sini. Jangan biarkan siapa pun mendekat selama lima menit," perintah Ghifari pada Lucas yang baru saja turun dari mobil dengan wajah tegang.
Lucas mengangguk, ia berdiri melindungi bocah itu seperti benteng hidup.
Sementara itu, di dalam mobil, Fardan baru saja akan bicara pada Alisha saat ponselnya bergetar gila-gilaan. Ia mengangkat telepon dari manajer IT pusatnya.
"Tuan! Sistem pusat kita lumpuh total! Seseorang meretas server utama dan membekukan semua aset likuid kita!" suara di seberang sana terdengar sangat panik.
"Apa maksudmu lumpuh? Gunakan backup!" teriak Fardan.
"Tidak bisa, Tuan! Layar di seluruh gedung pusat sekarang menampilkan video rekaman CCTV mansion Anda tahun 2020 beserta percakapan Nyonya Besar Ratna yang sedang merencanakan fitnah! Semua orang di lobi melihatnya!"
Fardan tertegun. Ia melirik kaca spion dan melihat siluet kecil Ghifari yang masih berada di lobi kantor Henry Corp melalui pantulan jalan yang jauh. Ia sadar, ini adalah balasan dari putranya.
"Anak itu..." bisik Fardan dengan rasa kagum yang bercampur ngeri.
Alisha yang mendengar percakapan itu langsung menoleh. "Kau tidak akan pernah bisa menang melawan Ghifari, Fardan. Dia pelindungku, dan kau baru saja membangkitkan sisi gelapnya."
Di lobi kantor, Ghifari menekan tombol Enter terakhir. Seketika, alarm kebakaran di seluruh gedung Raffasyah Group berbunyi nyaring, memaksa ribuan karyawan lari berhamburan keluar dalam kepanikan. Ghifari mendongak, menatap ke arah mobil ayahnya menghilang dengan senyum miring yang sangat dingin.
"Ini baru permulaan, Tuan Fardan. Kembalikan Bundaku, atau aku akan menghapus namamu dari sejarah bisnis negara ini," gumam Ghifari pelan.
Badai besar telah resmi dimulai. Bukan antara Alisha dan Fardan, melainkan antara sang penguasa bisnis yang angkuh dan pewaris genius yang tidak mengenal kata ampun.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya