NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 4: SMA dan Sari yang berisik

​Aku masuk SMA dengan satu tekad yang sudah kurumuskan dengan sangat matang selama dua minggu liburan sebelumnya.

​Tekad itu sederhana: aku tidak butuh teman.

​Bukan karena aku mendadak membenci umat manusia aku tidak seekstrem itu. Bukan juga karena pengalaman kehilanganku di SMP membuatku trauma secara klinis. Tapi lebih karena aku sudah melakukan kalkulasi yang menurutku sangat logis, rasional, dan tak terbantahkan untuk anak berusia lima belas tahun.

​Kalkulasinya begini: pertemanan itu rumit. Pertemanan itu butuh energi. Pertemanan itu punya variabel yang terlalu banyak dan hasil akhir yang tidak bisa dijamin seperti yang sudah dibuktikan oleh satu nomor telepon yang mendadak tidak aktif dan satu meja kantin SMP yang tidak lagi ada artinya.

​Sedangkan belajar? Belajar itu sangat sederhana. Ada input, ada proses, ada output. Hasilnya bisa diukur dengan angka, bisa diperbaiki jika kurang, dan tidak akan tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

​Jadi, pilihan mana yang lebih masuk akal? Aku rasa jawabannya cukup jelas.

​SMA Negeri 1 lebih besar dari SMP-ku dengan selisih yang cukup signifikan. Tiga lantai, dua belas kelas paralel per angkatan, dan lapangan upacara yang cukup luas untuk membuat orang yang tidak hafal peta sekolah tersesat di minggu pertama. Ada kantin besar di sebelah timur, perpustakaan di lantai dua, dan laboratorium komputer yang kata kakak kelas selalu penuh kalau tidak di-booking pagi-pagi.

​Aku mencatat semua itu di dalam kepalaku pada dua hari pertama masa orientasi. Bukan karena ada panitia yang menyuruh, tapi karena itu insting utamaku di tempat baru. Pelajari dulu medannya. Baru bergerak.

​Aku ditempatkan di kelas X-4. Dua puluh delapan siswa, formasi bangku empat baris, dengan papan tulis putih yang masih bersih tanpa noda spidol. Wali kelasku namanya Pak Hendra pria berkumis dengan suara bariton yang punya kebiasaan mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen setiap kali sedang berpikir.

​Aku memilih bangku di baris ketiga dari depan, posisi paling tengah.

​Tidak terlalu depan supaya tidak terlihat terlalu ambisius dan menjadi target lemparan pertanyaan guru. Tidak terlalu belakang supaya tidak masuk kategori anak-anak pembuat onar yang biasanya menguasai barisan belakang untuk alasan yang kurang produktif.

​Posisi paling aman. Posisi yang paling mudah untuk menjadi tidak terlihat. Seperti biasa.

​Sistem itu berjalan sangat efektif selama hampir dua minggu. Aku datang tepat waktu, duduk di tempatku, mengikuti pelajaran dengan saksama, lalu pulang. Tidak ada percakapan basa-basi yang kumulai, tidak ada tawaran "Eh, ke kantin bareng yuk" yang harus kutolak dengan senyum canggung, tidak ada komplikasi sosial apa pun.

​Teman-teman sekelas mulai membentuk kelompok mainnya masing-masing. Dan aku mengamati pembentukan habitat sosial itu dari bangku ketiga baris tengah dengan perasaan yang sudah ku-setting menjadi mode netral.

​Ini pilihan, kataku pada diriku sendiri. Bukan karena tidak ada yang mau berteman denganku. Tapi karena aku yang memilih untuk sendirian.

​Perbedaan dua premis itu sangat penting untuk dijaga, setidaknya demi kewarasan di dalam kepalaku sendiri.

​Namun, semua kalkulasi sempurnaku itu hancur berantakan di siang bolong, bermula dari antrean nasi campur.

​Kantin SMA-ku jauh lebih ramai dari kantin SMP, dengan tingkat kebisingan yang naik sekitar tiga puluh persen di jam makan siang. Aku biasanya datang agak telat lima menit setelah bel berbunyi, ketika arus pertama manusia kelaparan yang berebut sudah mereda. Aku akan mengambil makanan, lalu mencari meja yang paling kosong. Kalau aku membawa buku, kubaca. Kalau tidak, aku akan makan dengan tatapan lurus ke piring sehingga tidak ada yang merasa perlu repot-repot menyapaku.

​Hari itu, aku sedang berdiri tenang di antrean nasi campur ketika aku mendengarnya.

​Lebih tepatnya mendengar mereka.

​Sebuah suara tawa. Tapi tawanya terlalu keras untuk sekadar lelucon biasa. Itu adalah jenis tawa yang punya arah bidikan. Tawa yang bukan menertawakan sesuatu bersama seseorang, tapi menertawakan pada seseorang. Tawa yang merendahkan.

​Awalnya aku tidak menoleh. Aku termasuk orang yang tidak suka ikut campur urusan orang lain berdasarkan suara saja aku butuh data yang lebih konkret sebelum mengambil kesimpulan.

​Tapi kemudian terdengar suara kursi besi yang bergeser kasar, disusul suara benda yang jatuh bukan jatuh karena tidak sengaja tersenggol, tapi jatuh karena sengaja dijatuhkan lalu tawa itu meledak makin keras.

​Oke. Data sudah cukup. Aku menoleh.

​Di meja dua baris dari tempatku berdiri, pertunjukan itu sedang berlangsung. Ada tiga cewek dan satu cowok yang sedang berdiri angkuh mengelilingi sebuah meja. Dan di meja itu, duduklah gadis yang kulihat di hari pertama orientasi dulu. Gadis berseragam agak kedodoran yang waktu itu menahan tangis.

​Sekarang, ia tidak sedang menahan tangis sendirian. Di depannya ada nampan makan siang atau lebih tepatnya, bekas nampan makan siang, karena isi mangkuk kuahnya sekarang sudah tumpah membasahi meja dan separuh mengotori lantai di bawah sepatunya.

​Gadis itu tidak menangis. Tapi wajahnya memerah padam dengan cara yang sangat menyakitkan untuk dilihat, menunjukkan bahwa ia sedang menghabiskan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk menahan air mata itu agar tidak jatuh di depan mereka.

​Salah satu dari tiga cewek yang berdiri itu sedang mencondongkan badan dan mengatakan sesuatu padanya. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya dari jarak ini karena tertutup suara bising kantin, tapi nada suara dan gesture tangannya sangat jelas terbaca.

​Tidak perlu kamus terjemahan untuk tahu bahwa itu adalah sebuah bullying verbal.

​Aku mematung di antrean nasi campur selama tepat enam detik.

​Enam detik itu kugunakan untuk melakukan kalkulasi kilat, sesuatu yang selalu kulakukan sebelum mengambil tindakan apa pun dalam hidupku.

​Risikonya apa?

Kalau aku masuk ke sana, aku otomatis akan jadi target mereka juga. Itu hampir pasti anak baru sok pahlawan yang tidak dikenal tiba-tiba ikut campur. Itu adalah bahan yang terlalu empuk untuk dilewatkan oleh predator sekolah.

​Benefitnya apa?

Gadis itu berhenti jadi pusat perhatian dan tontonan. Setidaknya untuk saat ini.

​Konsekuensi kalau aku mengabaikannya?

Aku berbalik, kembali antre, membayar nasi campurku, makan dengan tenang di pojokan, dan besok mereka masih akan ada di sana. Dan lusa. Dan minggu depan. Tapi aku aman.

​Enam detikku habis.

​Aku melihat wajah gadis itu lagi wajah merah yang sedang menelan paksa rasa malunya sendirian di tengah keramaian. Dan tiba-tiba, yang kulihat bukan dia. Aku melihat diriku sendiri yang sedang duduk menelan martabak manis dan menelan harga diri di depan ibuku.

​Aku melangkah keluar dari antrean sebelum sempat membayar nasi campurnya, yang artinya aku harus merelakan makan siangku dan antre dari awal lagi nanti lalu berjalan lurus ke arah meja itu.

​Bukan dengan langkah heroik. Bukan dengan ekspresi dramatis ala protagonis sinetron yang siap melabrak. Aku berjalan dengan ritme yang sama seperti saat aku berjalan ke toilet. Wajar, biasa, datar, tidak meminta perhatian.

​Aku sampai di meja itu. Menarik kursi kosong tepat di seberang gadis bermuka merah itu, duduk dengan tenang, dan menaruh tas kecilku di atas meja yang tidak terkena tumpahan kuah.

​Kemudian aku mendongak. Menatap lurus ke arah tiga cewek dan satu cowok yang sekarang menatapku dengan ekspresi campur aduk antara heran, bingung, dan sedikit tersinggung karena ada figuran tak diundang yang berani menginterupsi air time mereka.

​"Permisi," kataku, suaraku sedatar papan tulis. "Kalian lagi ngomongin apa?"

​Hening membeku selama beberapa detik.

​Cewek yang tadi bicara yang berdiri paling depan, rambutnya dikuncir dua, dan seragamnya entah kenapa dijahit lebih ketat dari semua orang di kantin ini menatapku dengan tatapan memindai. Matanya jelas bertanya: Siapa kamu dan dari lubang mana kamu muncul?

​"Nggak ada urusan sama lo," desis cewek kuncir dua itu ketus.

​"Oh." Aku mengangguk pelan. "Kalau nggak ada urusan sama saya, berarti dari tadi kalian lagi ngajak ngobrol teman saya ini?"

​Kening cewek kuncir dua itu berkerut. "Teman lo?"

​"Iya."

​"Lo kenal dia?"

​Aku melirik gadis di seberangku. Ia menatapku dengan mata membulat lebar. Ekspresinya adalah terjemahan langsung dari kalimat: Aku tidak kenal kamu sama sekali dan aku tidak tahu setan apa yang merasukimu sampai kamu nekat melakukan ini.

​Aku kembali menatap mata cewek kuncir dua itu tanpa berkedip. "Iya. Kenapa rupanya?"

​Itu adalah sebuah kebohongan yang sangat telanjang. Siapa pun yang punya akal sehat di radius dua meter bisa melihatnya. Kami jelas baru pertama kali duduk di meja yang sama, berhadapan seperti dua orang asing yang canggung, dan aku bahkan belum tahu huruf pertama dari namanya.

​Tapi ada satu hal krusial yang kupelajari dari bertahun-tahun mengamati perilaku manusia: kebohongan yang diucapkan dengan sangat tenang, lambat, dan tatapan mata yang terlalu yakin, sering kali tidak akan langsung ditantang. Bukan karena mereka percaya, tapi karena otak mereka mengalami lagging. Mereka tidak siap dengan serangan baliknya.

​Dan cewek berkuncir dua itu, ternyata, otaknya cukup lambat. Ia tidak siap.

​Ia memandangku sebentar. Memandang gadis di seberangku. Memandangku lagi. Mulutnya setengah terbuka, mencari-cari kata balasan yang tajam tapi tidak menemukannya.

​Lalu ia tertawa kecil tapi jenis tawa yang sudah berubah nada. Tawa yang sumbang, canggung, dan jauh lebih defensif dari sebelumnya.

​"Terserah. Aneh lo berdua," sungutnya akhirnya, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang tersisa.

​Mereka berempat membalikkan badan dan pergi. Tidak dengan langkah dramatis, cukup menyingkir dan pindah ke meja yang jauh, meski masih dengan suara tawa yang sengaja dibuat cukup keras untuk didengar agar mereka tidak terlihat kalah.

​Aku duduk diam. Menunggu sampai mereka benar-benar cukup jauh dan berhenti memperhatikan meja ini.

​Lalu aku kembali menatap gadis di seberangku. Ia masih menatapku seolah aku adalah alien yang baru turun dari UFO. Matanya yang membulat sedikit memerah di bagian pinggirnya bukti bahwa usahanya menahan tangis tadi benar-benar menguras tenaganya.

​"Makasih," cicitnya pelan, suaranya sedikit serak.

​"Sama-sama," balasku.

​"Kamu nggak kenal aku."

​"Gak."

​"Tapi tadi kamu bilang kenal ke mereka."

​"Iya."

​Ia terdiam sebentar, keningnya berkerut dalam, seolah sedang berusaha keras memproses logikaku yang aku akui tidak terlalu memenuhi standar logika normal.

​"Kenapa?" tanyanya sungguh-sungguh.

​Aku berpikir selama dua detik, mencari jawaban yang paling efisien namun paling jujur. "Karena kamu butuh alasan supaya mereka berhenti. Dan kebohongan tadi adalah alasan yang paling gampang. Cuma itu alasannya."

​Gadis itu namanya Sari Dewi.

​Aku tahu itu tiga menit kemudian, setelah ia memperkenalkan dirinya dengan cara yang aku harus akui sangat mengejutkan untuk ukuran seseorang yang nyaris menangis di depan umum sepuluh menit yang lalu.

​"Aku Sari. Kelas X-6. Kamu?" tanyanya lugas, tangannya terjulur di atas meja. Energinya pulih dengan kecepatan yang menakutkan.

​"Nara. Kelas X-4."

​"Kita beda kelas."

​"Iya."

​"Tapi tadi kamu bilang teman ke si Tiara kuncir dua itu."

​"Itu situasional."

​Sari menatapku lamat-lamat. Ekspresinya tidak bisa kugolongkan sebagai marah atau geli lebih seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang apakah orang kaku di depannya ini orang yang menarik, menjengkelkan, atau justru perpaduan ganjil dari keduanya.

​Lalu, secara tiba-tiba, sudut bibirnya tertarik. Ia nyengir lebar.

​"Oke. Aku Sari."

​"Kamu sudah bilang itu dua menit yang lalu."

​"Iya, tapi yang barusan itu pengenalan resmi sebagai teman situasional."

​Aku menghela napas, memutuskan untuk tidak mendebatnya. Aku kembali berdiri menuju antrean nasi campur, membayar makananku, dan kembali dengan nampan penuh.

​Sari masih berada di meja yang sama. Ia sedang memunguti sisa makanannya yang tumpah ke lantai menggunakan tisu, dengan ekspresi wajah yang sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya.

​Aku duduk lagi di seberangnya.

​Bukan karena ada aturan tertulis yang mengharuskanku kembali. Bukan juga karena aku tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan tekad 'hidup tanpa teman' yang sudah kurumuskan dengan rapi. Lebih karena dan ini sesuatu yang tidak bisa kujustifikasi secara logis di otakku meninggalkannya sendirian setelah keributan tadi terasa seperti meninggalkan setengah pekerjaan rumah yang belum selesai.

​Sari melirik piringku yang penuh. "Nasi campur? Aku mau beli itu tadi, tapi katanya udah abis."

​"Kemarin juga abis pas jam segini?"

​"Iya. Selalu abis duluan."

​"Berarti enak."

​"Atau memang murid di sini orang-orangnya rakus semua."

​Aku mengangguk pelan. Aku tidak bisa tidak setuju dengan probabilitas kedua.

​Kami berdua makan siang dengan cara yang mengingatkanku pada cara aku dan Dito dulu makan tidak canggung, tidak ada paksaan untuk terus-menerus mengobrol.

​Bedanya sangat jelas: Sari berbicara seratus kali lipat lebih banyak daripada Dito. Sangat banyak. Ia mengoceh dengan topik yang meloncat-loncat tanpa transisi yang jelas. Dari soal rasa kuah soto, pindah ke soal guru orientasi yang suaranya mirip radio rusak, melompat lagi ke soal tas barunya yang jahitannya sudah mulai lepas padahal baru sebulan dibeli.

​Aku memakan nasi campurku sambil mendengarkan.

​Dan anehnya, mendengarkan Sari berbicara panjang lebar sama sekali tidak terasa seperti pekerjaan yang menguras baterai prioritasku. Mungkin karena ia tidak menuntutku untuk merespons setiap kalimatnya. Atau mungkin karena cara bicaranya punya ritme unik tersendiri. Kalau kau sudah terbiasa masuk ke dalam frekuensi ritmenya, rasanya seperti sedang mendengarkan siaran radio lokal yang pas volumenya tidak perlu terlalu difokuskan, tapi cukup menarik untuk tidak dimatikan.

​Masalah sesungguhnya, baru dimulai keesokan harinya.

​Aku sedang berjalan di koridor menuju kelas setelah bel masuk berbunyi ketika seseorang menyentuh bahuku dari belakang. Aku menoleh.

​Cewek berkuncir dua dari kantin kemarin. Tiara. Dua orang dayangnya mengekor rapat di belakangnya.

​"Eh, elo temannya si Sari yang norak itu, kan?" sapa Tiara tanpa basa-basi.

​Aku menatapnya datar. "Ada yang bisa dibantu?"

​Ia tersenyum. Tapi itu adalah jenis senyum predator yang tidak mengandung unsur keramahan satu persen pun.

​"Nggak ada. Cuma mau kenalan aja. Kita satu angkatan, kan, harus saling kenal."

​"Namanya?"

​"Tiara." Ia memberi jeda sebentar, membiarkan matanya menilai penampilanku. "Lo kelas berapa?"

​"X-4."

​"Oh." Nada suku kata 'Oh' itu ditarik panjang, membawa lebih banyak informasi ancaman daripada yang bisa ditampung oleh dua huruf. "Hati-hati ya sama siapa yang lo pilih jadi teman deket. Nggak semua orang pantes ditemenin di sini."

​Lalu mereka kembali berjalan, menabrak bahuku pelan dan melewatiku seolah percakapan sarat ancaman itu tidak pernah terjadi.

​Aku mematung di koridor selama dua detik, menatap punggung mereka yang menjauh. Lalu aku membetulkan letak tas ranselku dan lanjut berjalan ke kelas. Terserah.

​Tiara, ternyata, sama sekali tidak main-main dengan peringatannya.

​Mulai minggu itu, ada hal-hal ganjil yang mulai terjadi di sekitarku. Kalau dilihat satu per satu, hal itu mungkin terasa seperti kebetulan yang sial. Tapi kalau ditarik garis lurus, polanya membentuk satu kata yang sangat jelas: boikot.

​Di kelas, mulai ada yang berbisik-bisik saat aku lewat menuju mejaku. Bukan banyak orang hanya sebagian kecil tapi cukup untuk membuat beberapa anak yang tadinya sudah mulai berani meminjam catatanku mendadak mengambil langkah mundur dan menjaga jarak.

​Di kantin, kalau aku dan Sari duduk berdua, meja panjang itu sering kali menjadi kosong lebih cepat dari biasanya. Orang-orang yang tadinya duduk di ujung meja tiba-tiba punya alasan mendesak untuk menyingkir ke meja lain.

​Bahkan ada satu hari ketika buku catatan Biologiku mendadak lenyap dari laci meja saat jam istirahat. Buku itu muncul lagi keesokan paginya di lantai koridor depan kelas. Isinya masih utuh, tapi sampul depannya sudah penuh dengan coretan spidol permanen acak-acakan yang jelas bukan mahakaryaku.

​Hal-hal kecil. Teror yang pengecut.

​Tapi akumulasi dari jarum-jarum kecil itu tetap akan terasa sakit kalau ditusukkan terus-menerus.

​Yang lebih berat dari semua itu adalah fakta bahwa Sari menanggungnya jauh lebih lama dariku.

​Ia sudah menjadi target utama Tiara dan gengnya sejak minggu kedua masuk jauh sebelum aku tahu ia eksis di sekolah ini. Dan tidak seperti aku yang punya skill pasif untuk menghilang dan tidak terlihat kalau aku mau, Sari adalah tipe orang yang secara natural memang diciptakan untuk menarik perhatian. Bicaranya keras, gerakannya sangat ekspresif, dan tawanya bisa membelah keheningan kantin dari jarak dua meja.

​Dalam kamus Tiara dan kelompok pem-bully amatirannya, Sari adalah bahan mainan yang terlalu mencolok untuk dibiarkan.

​Sari menceritakan riwayat itu padaku secara bertahap. Bukan dalam satu sesi curhat panjang yang dipenuhi air mata dramatis, tapi dalam potongan-potongan kecil yang ia selipkan di sela-sela makan siang, di koridor antara pergantian kelas, atau di perjalanan pulang menumpang angkot yang kadang kami lakukan bersama karena rutenya searah.

​"Mereka itu udah mulai nyari gara-gara sejak hari pertama MOS," kata Sari suatu sore, sambil menyeruput es teh plastiknya dengan sedotan merah. "Waktu itu aku nggak sengaja duduk di meja kantin yang ternyata udah diklaim sebagai 'meja mereka'. Padahal nggak ada prasasti batu bertuliskan nama mereka di situ, Ra. Mana aku tahu."

​"Terus?" tanyaku.

​"Terus ya gitu." Sari mengangkat sebelah bahunya. Tapi aku bisa melihat ada sesuatu di balik gestur bahu itu yang menunjukkan bahwa ia tidak se-masa bodoh itu. "Udah. Emang tabiat mereka kayak gitu. Aku biasanya nggak terlalu mikirin omongan mereka, tapi... kadang capek juga, Ra, kalau tiap hari dicari kesalahannya."

​Aku tidak langsung menjawab.

​Tapi aku mendengarkan. Dan itu, seperti yang pernah diajarkan Dito tanpa ia sadari telah mengajarkannya kepadaku, kadang sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.

​Titik didih yang mengubah segalanya, datang di minggu keempat.

​Hari itu Sari ada jadwal presentasi di depan kelas. Bukan di kelasku, tapi aku tahu karena ia sudah bercerita sejak tiga hari sebelumnya. Bahkan, wajahnya saat makan siang kemarin terlihat tegang seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar wajib militer.

​Presentasi itu dilakukan di depan kelas X-7. Kelompoknya digabung.

​Dan sialnya, Tiara ada di kelas X-7.

​Aku langsung tahu ada sesuatu yang sangat salah bahkan sebelum Sari membuka mulutnya. Hal itu terlihat jelas dari cara ia berjalan mendekati mejaku di kantin siang itu.

​Ada yang berbeda dari ritme langkah Sari hari ini. Biasanya ia datang dengan langkah yang mengentak cepat, ceria, dan ekspresi wajah yang sudah setengah bercerita bahkan sebelum bokongnya menyentuh kursi. Hari itu, langkahnya diseret pelan. Ekspresinya terlalu kosong, terlalu datar untuk ukuran seorang Sari.

​Ia menarik kursi, duduk, dan meletakkan nampannya tanpa tenaga. Ia tidak langsung bicara. Tangannya hanya mengaduk-aduk kuah baksonya tanpa minat.

​Aku menunggu.

​"Presentasiku tadi diketawain habis-habisan," katanya akhirnya. Suaranya pelan. Bukan pelan yang dibuat-buat agar terdengar dramatis, tapi pelan yang mengisyaratkan kelelahan mental yang parah. "Di tengah-tengah. Waktu aku lagi baca materi di depan, Tiara sengaja ngomong sesuatu ke temen sebelahnya. Pelan-pelan, tapi cukup keras buat didenger satu barisan. Terus yang lain pada ikut ketawa ngeledek. Pak Guru... entah nggak denger, atau emang pura-pura buta dan nggak mau repot negur mereka."

​"Kamu selesai presentasinya?" tanyaku datar.

​"Selesai."

​"Nilainya?"

​"Belum tahu."

​Hening kembali turun di antara kami berdua. Suara bising kantin di sekitar kami seolah teredam, menyisakan kami berdua di dalam sebuah gelembung transparan yang pengap.

​"Nara," panggil Sari dengan nada yang tiba-tiba bergetar tipis.

​"Mm?"

​Sari menunduk, menatap pantulan wajahnya di genangan kuah bakso. "Aku capek, Ra."

​Tiga kata. Tapi bobot bebannya terasa sangat berbeda dari semua keluhan yang sudah ia ceritakan berminggu-minggu sebelumnya. Itu adalah kalimat menyerah.

​Aku tidak langsung membalas dengan kata-kata penenang.

​Karena ada satu kebenaran yang kupelajari dari bertahun-tahun mendengarkan ceramah Ibu yang terlalu banyak dan merespons diamnya Bapak yang terlalu memekakkan telinga: kadang, yang dibutuhkan seseorang yang sedang hancur bukanlah solusi instan. Bukan suntikan semangat kosong. Bukan juga rentetan kalimat motivasi basi yang terdengar indah di telinga tapi tak ada gunanya di dunia nyata.

​Kadang, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang bersedia duduk di sana, dan tidak langsung berusaha menambal lukanya seolah itu bukan masalah besar.

​Jadi, aku mengambil sendok dan mulai memakan nasiku. Sari pun pelan-pelan mulai menyuap baksonya, meski mengunyahnya dengan susah payah. Kami membiarkan waktu berlalu. Kami membiarkan kantin tetap berisik di sekeliling kami.

​Baru setelah mangkuk kami setengah kosong, aku meletakkan sendokku. Aku menatapnya lurus. Lalu aku berbicara pelan, cukup terdengar, dan tanpa intonasi berlebihan:

​"Sari. Mereka nggak akan pernah berhenti sendiri."

​Sari mendongak pelan, menatap mataku dengan raut lelah.

​"Tapi," lanjutku, menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, "mereka bisa dibuat berhenti. Kalau kamu mau."

​Mata Sari sedikit melebar. "Caranya?"

​"Belum tahu persis. Tapi aku yakin bisa."

​Sari menatapku selama beberapa detik penuh. Ekspresinya adalah percampuran ekstrem antara 'Aku tidak yakin ini ide yang bagus' dan 'Aku sudah tidak punya sisa harga diri lagi untuk kehilangan'.

​Lalu, matanya memancarkan sedikit kecemasan. "Nara... kamu nggak takut jadi target utama mereka juga kalau kamu berani ngelawan?"

​Mendengar pertanyaan itu, aku diam sebentar.

​Takut?

​Aku mengingat kembali rumahku. Aku mengingat piring berisi sepotong dada ayam yang ditukar dengan rasa bersalah. Aku mengingat insiden kertas ulangan angka delapan puluh sembilan yang nyaris membuatku kelaparan. Aku tumbuh dan dibesarkan selama lima belas tahun di dalam rumah yang cuacanya ditentukan oleh seorang wanita yang bisa menyedot seluruh oksigen di ruangan hanya dengan satu helaan napas kecewa.

​Tiara, geng remajanya yang caper, dan segala keberisikannya di kantin ini? Mereka hanyalah badai debu amatir. Mereka bukan apa-apa dibandingkan dengan badai petir bernama Sri Wahyuni.

​Aku menatap Sari, dan untuk pertama kalinya sejak masuk SMA, aku tersenyum sinis.

​"Tidak terlalu," jawabku sangat jujur.

​Melihat reaksiku yang kelewat tenang, Sari terdiam sebentar. Ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Lalu, ia membalas senyumku dengan sebuah cengiran kecil, tapi itu adalah cengiran yang paling nyata hari ini.

​"Oke."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!