NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Ciuman di Bawah Bintang

Gwen tenggelam sepenuhnya dalam aliran kreativitasnya. Waktu seakan berhenti, hanya terdengar desiran angin pinus di luar jendela dan sesekali denting keyboard Pandji dari ruang tengah. Di layar tabletnya, warna-warna perlahan muncul—bukan sekadar sketsa kasar, tapi sebuah konsep yang mulai terbentuk dengan jelas dan hidup.

Ia mendesain ruang yang tidak hanya indah, tapi juga merawat. Ruang yang mengakui luka, tapi juga merayakan kesembuhan. Dinding kaca yang bisa dibuka seluruhnya untuk membiarkan udara pegunungan masuk, menghapus batas antara dalam dan luar. Teras kayu yang luas seperti pelukan, mengajak penghuninya untuk berdiam dan berbicara dengan alam. Kolam renang kecil yang tidak berbentuk geometris sempurna, melainkan mengikuti kontur tanah seolah tercipta secara alami.

"Ini bukan cuma villa," bisik Gwen pada dirinya sendiri. "Ini tempat untuk... pulang."

Tangan kanannya bergerak cepat, menambahkan detail-detail kecil yang membuat desainnya hidup. Sebuah jendela duduk di sudut kamar tidur utama, sempurna untuk membaca sambil melihat kabut pagi turun. Perapian batu di ruang keluarga, tidak hanya untuk kehangatan fisik tapi juga untuk mengumpulkan cerita di sekitarnya. Taman dalam yang membawa cahaya ke bagian tengah rumah, mengingatkan penghuninya bahwa pertumbuhan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang tersembunyi.

Mata Gwen terasa perih. Ia melepas stylus dari jari-jarinya yang mulai kaku, menyadari bahwa sudah lebih dari 3 jam ia menatap layar. Cahaya dari jendela sudah berubah—senja yang tadi berwarna jingga kini berganti menjadi biru tua, menandakan malam segera tiba.

Dari arah dapur, aroma masakan yang lebih menggiurkan menyeruak. Gwen merutuki perutnya yang mulai protes. Ia menyimpan tablet dengan hati-hati, merapikan meja kerjanya, lalu melangkah keluar kamar. Pemandangan di ruang tengah membuatnya berhenti sejenak.

Aga berdiri di depan kompor, mengenakan celemek hitam sederhana yang terlihat kontras dengan kemeja flanelnya. Tangan kirinya menggenggam spatula, sementara tangan kanannya dengan terampil membolak-balik sesuatu di wajan. Di meja makan, Pandji sudah duduk dengan laptop tertutup—sesuatu yang jarang terjadi—sambil menatap ke arah Aga dengan ekspresi lapar

"Kalian berdua sudah seperti suami-istri yang menunggu makan malam," ejek Gwen, berjalan mendekat.

"Jangan bilang begitu, Mba, nanti Aga ngambek," keluh Pandji. "Dia udah setengah jam ngomel gara-gara aku coba nyicip kuah terus bilang kurang garam."

Aga menoleh sebentar, matanya bertemu mata Gwen, lalu kembali menatap wajan. "Adikmu ini tidak mengenali citarasa halus. Dia bilang masakanku hambar… kayak makanan rumah sakit."

"Gue cuma bilang fakta!" protes Pandji.

Gwen tertawa, suaranya terdengar lebih riang dari biasanya. Ia duduk di kursi yang disediakan, menatap meja yang sudah diatur sempurna. Piring putih bersih, peralatan makan yang rapi, dan sebuah vas kecil berisi bunga liar yang jelas baru dipetik dari taman—mungkin saat ia sedang asyik bekerja tadi.

"Cantiknya." tanya Gwen, menunjuk bunga itu.

"Kamu suka?" tanya Aga sambil meletakkan masakannya di meja.

Gwen mengangguk "Suka."

"Panji yang petik," jawab Aga cepat, tapi Pandji mengangkat kepala dengan ekspresi bingung.

"Hah? Gue yang—" mulut Pandji langsung dibekap oleh Aga, membuat Gwen hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.

"Terima kasih, Aga," ucap Gwen tulus. Aga yang mendengarnya tersenyum malu, pipinya sedikit memerah, sementara Pandji di sampingnya tampak ingin muntah melihat sikap sahabatnya yang begitu… manis.

Aga kembali menyimpan dua piring besar ke meja. Nasi putih yang pulen, sup ikan kakap dengan jahe dan daun kemangi, tumis kangkung dengan terasi, dan ayam bakar dengan sambal matah yang menggoda selera. Makanan rumahan sederhana, tapi disajikan dengan perhatian yang membuat Gwen terenyuh.

"Kamu masak sendiri?" tanya Gwen, tidak percaya.

"Belajar dari internet dan trial error," jawab Aga santai, duduk di seberangnya. "Kalau tinggal sendiri di negeri orang pilihannya hanya dua, jadi koki atau jadi bangkrut karena terus pesan go-food."

Mereka makan dalam sunyi yang nyaman. Gwen menyadari betapa laparnya ia—kebahagiaan sederhana dari makanan hangat setelah berjam-jam bekerja intensif. Setiap suapan terasa seperti penghargaan bagi tubuhnya yang telah lama ia abaikan.

"Desainnya berjalan lancar?" tanya Aga di tengah-tengah makan.

Gwen mengangguk, mengunyah dengan lambat. "Lebih dari lancar. Aku merasa... terhubung. Seperti menemukan sesuatu yang hilang."

"Jangan bilang jatuh cinta sama villa-nya, Mba," Pandji menyela sambil mengunyah. "Aga bisa merobohkan villa karena cemburu, lho."

"Tutup mulutmu dan makan," geram Gwen, tapi pipinya memerah.

Aga tidak berkomentar, hanya menatap Gwen dengan tatapan yang dalam—sejenis pemahaman yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Di matanya, Gwen melihat pengakuan akan apa yang ia rasakan. bahwa ini bukan cuma tentang desain, tapi tentang menemukan kembali diri wanita yang ia cintai.

Setelah makan malam, Pandji mengambil alih tugas beres-beres dengan alasan "sudah biasa cuci piring di rumah." Aga menawarkan diri untuk menunjukkan sekitar villa saat malam, dan Gwen setuju, membawa jaket tipis untuk menahan dingin pegunungan.

Teras belakang villa menghadap langsung ke lembah yang gelap. Lampu-lampu kecil dari desa-desa di kejauhan berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Udara segar menggigit kulit, tapi tidak menyakitkan—justru menyegarkan, membersihkan paru-paru dari polusi kota.

"Jauh berbeda dari Jakarta," kata Gwen pelan, merangkulkan tangan di depan dada.

"Jauh berbeda dari hidupmu sebelumnya?" tanya Aga, berdiri di sampingnya dengan jarak yang dekat tapi sopan.

Gwen menatap kegelapan. "Aku pernah punya hidup yang sibuk. Meeting, presentasi, client yang tidak pernah puas, Bos yang..." ia berhenti, tidak ingin merusak suasana dengan nama Ben.

"Tapi kamu meninggalkan semua itu."

"Bukan karena aku mau. Karena aku harus."

Aga tidak menanyakan lebih lanjut. Ia hanya berdiri di sana, kehadirannya menjadi penghangat yang cukup di tengah angin malam. Keheningan di antara mereka bukanlah kekosongan, tapi ruang yang penuh dengan kemungkinan.

"Terima kasih," kata Gwen akhirnya. "Untuk ini. Untuk semua ini."

"Apapun akan ku lakukan untukmu," jawab Aga, suaranya rendah.

Tangan Aga meraih pinggang Gwen, menariknya lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. Hangat tubuh pria itu menembus kain sweater Gwen, membakar kulitnya bahkan di tengah dinginnya malam pegunungan. Bibir mereka tetap menyatu—bukan ciuman lembut yang penasaran, tapi sesuatu yang lapar, yang telah ditahan terlalu lama, yang akhirnya dilepaskan.

Gwen melingkarkan lengannya di leher Aga, jari-jarinya menyelusup ke rambut pria itu yang lembut. Rasanya seperti jatuh dan terbang bersamaan. Setiap sentuhan bibir Aga membangkitkan gelombang kehangatan yang menjalar dari pusat tubuhnya ke ujung-ujung jari, membuat lututnya lemas namun jantungnya berdegup kencang.

"Aga..." bisik Gwen saat mereka akhirnya terpisah sedikit untuk bernapas, namun dahi mereka tetap menyentuh, mata mereka tetap terkunci.

Pria itu tidak menjawab. Matanya yang gelap memantulkan cahaya bintang di atas mereka—bintang-bintang yang begitu terang di Bedugul, begitu dekat seolah bisa dijangkau. Aga menelusuri rahang Gwen dengan ibu jarinya, mengagumi setiap garis, setiap tekstur, seolah Gwen adalah karya seni yang paling berharga.

"Kamu tidak tahu berapa lama aku ingin melakukan ini," gumam Aga, suaranya parau dan dalam.

"Kamu tidak tahu berapa lama aku ingin melakukan ini," gumam Aga, suaranya parau dan dalam. Ia menunduk lagi, lalu kembali mencium Gwen, seolah menahan hasrat yang belum sepenuhnya terpuaskan, belum cukup, belum—

"Mba! Ayah mau ngomong!"

Suara itu seperti petir di tengah malam yang sunyi.

Gwen tersentak, refleks mendorong dada Aga hingga jarak di antara mereka terbentang tiba-tiba. Aga terhuyung sedikit, tangannya masih menggantung di udara seolah tidak percaya interupsi itu benar-benar terjadi.

Di ambang pintu kaca menuju ruang tengah, Pandji berdiri dengan ponsel terangkat di tangan kirinya, wajahnya menunjukkan ekspresi campuran antara kaget, geli, dan sedikit bersalah. Matanya melotot melihat kakaknya dan sahabatnya yang berdiri terlalu dekat di teras, dengan cahaya bintang sebagai latar belakang romantis yang tiba-tiba terasa canggung.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!