Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Di bawah pekatnya awan Tegal Kurusetra yang bergolak merah oleh pantulan api perkemahan, Gatotkaca mengangkasa layaknya wujud kemurkaan dewa yang lepas dari belenggunya.
Ia tidak lagi memiliki komandan. Ia tidak lagi mendengar tabuhan genderang dari tenda Pandawa yang mencoba mengarahkan pergerakannya. Malam ini, sang Senopati Pringgandani telah memutuskan rantai kepatuhannya pada dunia. Ia melesat menembus formasi burung nazar yang beterbangan panik, membelah udara dengan raungan yang menggetarkan tulang rusuk setiap manusia yang mendengarnya di darat.
Di bawah sana, Adipati Karna sedang berada di puncak kejayaannya. Ksatria Astina berwajah tampan rupawan namun bermata dingin itu berdiri di atas kereta perangnya yang dilapisi kuningan, ditarik oleh empat ekor kuda hitam bermata merah. Busur pusakanya bernyanyi tanpa henti, melepaskan anak-anak panah gaib yang meledak menjadi ribuan panah api, membakar habis tiga lapis pertahanan pasukan Amarta hanya dalam hitungan menit. Tidak ada satu pun ksatria Pandawa yang berani mendekatinya. Ia adalah dewa kematian di sektor tengah.
Hingga tiba-tiba, langit di atas Karna menjadi sangat gelap.
Karna mendongak. Di atas keretanya, awan-awan yang menyala kemerahan tersibak paksa secara melingkar. Sebuah bayangan raksasa menutupi cahaya bintang. Gatotkaca menukik turun dengan posisi kepala di bawah, melipat sayap bajanya sedemikian rupa hingga tubuhnya menyerupai ujung tombak raksasa yang dijatuhkan dari kahyangan. Hawa panas dari prana yang meledak-ledak di dalam tubuh separuh raksasa itu menekan udara ke bawah, membuat kuda-kuda Karna meringkik panik dan jatuh berlutut, menolak untuk berdiri.
"Pringgandani!" teriak Karna, suaranya sedikit bergetar oleh campuran antara amarah dan kengerian murni.
Karna dengan cepat menarik lima batang anak panah sekaligus dari tabungnya, merapalkan mantera penembus baja, dan melepaskannya tepat ke arah Gatotkaca yang sedang meluncur jatuh. Kelima panah itu melesat membelah udara, menghantam dada, bahu, dan dahi Gatotkaca secara telak.
*Trang! Trang! Trang!*
Suara logam beradu bergema keras. Anak-anak panah sakti yang sanggup meruntuhkan tembok benteng itu hanya memercikkan bunga api saat berbenturan dengan kulit Gatotkaca dan zirah Antakusumanya, lalu patah menjadi kepingan-kepingan tak berguna. Sang raksasa sama sekali tidak memperlambat lajunya. Ia menembus hujan panah Karna layaknya hantu yang kebal terhadap senjata fana.
Menyadari serangannya tidak berguna, Karna melompat keluar dari kereta perangnya tepat pada detik terakhir.
*BUMMMMMM!*
Gatotkaca menghantam kereta perang berlapis kuningan itu. Ledakan dahsyat merobek tanah Kurusetra, menciptakan kawah selebar dua puluh tombak. Kereta perang Karna hancur lebur menjadi debu logam, dan keempat kudanya menguap tanpa sisa. Gelombang kejut dari pendaratan itu melempar ratusan prajurit Astina di sekitarnya hingga belasan meter ke udara.
Karna yang berhasil mendarat dengan susah payah sepuluh tombak dari kawah tersebut, terbatuk-batuk menahan darah. Zirahnya penyok akibat hempasan angin. Ia mengangkat wajahnya, menatap ke tengah kawah debu yang mengepul.
Di sana, perlahan-lahan berdiri sesosok bayangan yang membuat darah sang Adipati Astina itu membeku.
Gatotkaca bangkit tegak. Zirah emasnya kini benar-benar telah menghitam pekat. Matanya yang merah menyala menembus tabir debu, mengunci pandangannya tepat ke jantung Karna. Sang senopati tidak mencabut kerisnya. Ia hanya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap injakan kakinya membuat bumi bergetar hebat. Gatotkaca tidak berlari, namun auranya yang luar biasa menekan memenjarakan tubuh Karna, membuat ksatria sakti itu merasa seolah ia sedang ditimpa oleh Gunung Mahameru.
Pasukan Astina yang melihat panglima terhebat mereka terdesak, mencoba maju untuk membantu. Ribuan prajurit dengan tombak dan pedang menerjang ke arah Gatotkaca.
Gatotkaca hanya mengayunkan punggung tangannya ke arah belakang. Sebuah sapuan angin topan gaib tercipta, mementalkan ratusan prajurit itu seolah mereka hanyalah boneka jerami. Ia terus melangkah maju, perlahan, pasti, menyudutkan Karna yang kini menyadari bahwa tidak ada satu pun senjata biasa di dunia ini yang sanggup menggores monster di hadapannya.
"Kau bukan manusia, Gatotkaca!" raung Karna sambil terus melangkah mundur, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ia melepaskan sepuluh panah beracun lagi secara membabi buta, dan Gatotkaca hanya membiarkan anak-anak panah itu menancap di sela-sela zirahnya tanpa merasa sakit sedikit pun.
"Aku memang bukan manusia, Adipati Karna," balas Gatotkaca, suaranya terdengar sangat parau, menggema dari balik helm bajanya, terdengar seperti suara dari dasar sumur kematian. "Aku adalah wadah dari keputusasaan. Dan malam ini... aku datang untuk menagih apa yang kau simpan di balik jubahmu."
Mata Karna terbelalak. Ia tahu apa yang dimaksud oleh raksasa ini.
Gatotkaca sengaja memberikan tekanan psikologis yang sangat absolut. Ia membuka kedua lengannya lebar-lebar, membiarkan dadanya terbuka tanpa pertahanan sama sekali, menantang Karna untuk memberikan serangan terbaiknya. Ia terus melangkah maju, membiarkan aura pembunuhnya meremas jantung sang Adipati.
Karna melihat kehancurannya sendiri di mata Gatotkaca. Ia tahu, jika ia membiarkan raksasa ini mengambil satu langkah lagi, kepalanya akan dipisahkan dari lehernya hanya dengan satu putaran tangan kosong. Kepanikan yang sangat langka akhirnya menguasai akal sehat Karna. Ia tidak lagi memikirkan strategi. Ia tidak lagi memikirkan Arjuna. Insting bertahannya mengambil alih secara total.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Karna merogoh ke balik jubah besarnya. Ia menarik sebuah bungkusan kain sutra hitam yang memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan.
Itulah dia. Konta Wijayadanu.
Saat kain sutra itu terbuka, sebatang tombak pusaka yang tidak terlalu panjang, terbuat dari cahaya murni dan logam dewata, menampakkan wujudnya. Suara dengungan gaib seketika memenuhi Tegal Kurusetra, membuat telinga setiap prajurit di medan perang berdarah. Senjata itu adalah manifestasi dari kehendak mutlak para dewa. Senjata yang tidak bisa dihindari, tidak bisa ditangkis, dan dipastikan akan membunuh targetnya.
Di tenda komando Amarta yang jauh di belakang, Bima jatuh berlutut sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang besar, menangis meraung-raung merasakan kemunculan pusaka tersebut. Sri Kresna menundukkan kepalanya, mengheningkan cipta bagi pengorbanan terbesar malam itu.
Di tengah medan pertempuran, Gatotkaca menghentikan langkahnya.
Jaraknya dengan Karna kini hanya tersisa lima tombak. Ia menatap cahaya menyilaukan dari ujung Konta Wijayadanu. Alih-alih merasa takut, sang ksatria Pringgandani justru merasakan kelegaan yang luar biasa membanjiri jiwanya. Nafasnya yang sedari tadi menderu berat penuh amarah, kini mengendur menjadi helaan napas yang sangat damai.
"Akhirnya..." bisik Gatotkaca pelan, sebuah senyum yang sangat tulus, senyum pertama yang ia miliki sejak berpisah di Swantipura, terkembang di balik helm besinya.
"Mati kau, Raksasa Keparat!" teriak Karna dengan suara melengking penuh kepanikan.
Sang Adipati menarik lengan kanannya ke belakang, memusatkan seluruh sisa kesaktiannya, lalu melemparkan tombak Konta Wijayadanu itu tepat ke arah dada Gatotkaca.
Tombak itu tidak melesat seperti senjata fisik. Tombak itu berubah menjadi seberkas kilat emas yang membelah kegelapan malam, melesat menembus ruang dan waktu. Suaranya menderu seperti ribuan malaikat yang sedang bernyanyi menyambut kepulangan sebuah jiwa.