Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Di sana, terdapat sebuah celah dimensi—Rift Kategori 1—baru saja terbuka di tengah sebuah taman bermain yang sudah lama ditinggalkan.
Tepat di depan Rift, ia melakukan pemanasan yang cukup sia-sia untuk dirinya. Meskipun hal itu sia-sia ia tetap saja melakukan pemanasan.
Ia maju, masuk ke dalam Rift itu.
***
Di pandangannya, hamparan hutan mati berpendar jelas; Pohon hitam dengan urat ungu, tersebar layaknya nadi. Aroma belerang tercium jelas, aroma khas dari Rift yang begitu familiar bagi orang-orang.
Ia melangkah masuk ke dalam hutan itu, tidak ada suara, hanya langkah kakinya.
Ia mulai membantai monster Rift satu persatu, berjalan layaknya sedang memetik buah-buahan di tengah jalan.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan monster Rift terakhirnya. Ia memutuskan untuk pelan kali ini.
Bentuk monsternya konyol.
Ia menyerupai anjing bulldog yang terbuat dari bongkahan kristal ungu yang mengkristal kasar. Matanya merah menyala, dan air liurnya adalah cairan korosif yang mendesis saat menyentuh pasir di bawah ayunan tua.
"Grrr ... KRRRAKH!" monster itu menggeram.
Ren berjalan santai melewati gerbang berkarat yang berderit nyaring. Ia tidak membawa pedang laser, tidak juga mengenakan baju zirah nanoteknologi. Tangannya masuk ke dalam saku hoodie.
Monster kristal itu melompat. Kecepatannya cukup untuk menghancurkan mobil van dalam sekali tubruk.
Ren tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip.
BUM!
Monster itu menghantam sebuah dinding tak kasat mata tepat sepuluh sentimeter di depan wajah Ren. Suaranya seperti kaca yang dilempar ke tembok baja. Bukannya Ren yang terpental, justru monster itu yang terpelanting ke belakang, berguling-guling di atas pasir hingga menabrak perosotan besi sampai penyok.
"Kau berisik sekali," celetuk Ren.
Monster itu bangkit lagi, tampak bingung. Logika predatornya rusak. Ia menyerang lagi, kali ini dengan cakar kristal yang tajam.
Ren hanya mengangkat bahu. Ia melangkah maju, seolah-olah sedang berjalan menuju minimarket. Setiap serangan monster itu meleset secara tidak logis. Cakar itu berbelok di udara, atau tiba-tiba kehilangan momentum saat hampir menyentuh kulit Ren.
Ia sampai di depan monster yang sedang terengah-engah itu. Ren mengulurkan tangan, lalu menyentil dahi monster kristal tersebut dengan jari tengah. Aksi sia-sia, namun keren untuk ia lewatkan.
"Istirahatlah."
Sebuah gelombang kejut kecil—murni dari tekanan mental—meledak di titik sentuhan itu. Monster Kategori 1 itu tidak hancur berantakan. Ia justru mencair, berubah kembali menjadi partikel energi murni yang kemudian memadat menjadi sebongkah Scarstone seukuran kepalan tangan.
Ren memungut batu itu. Dingin. Bergetar halus di telapak tangannya.
"Lumayan. meskipun aku tidak terlalu membutuhkan ini," gumamnya sambil memasukkan batu itu ke kantong hoodie.
Ia menatap sekeliling. Rift itu mulai menutup, menyisakan keheningan yang sedikit mencekam. Ren merasa ada yang aneh. Seharusnya misi Kategori 1 tidak sesepi ini. Biasanya ada satu atau dua Awakened amatir yang mencoba mencari peruntungan.
Tiba-tiba, bulu kuduknya meremang.
Bukan karena rasa takut, tapi karena perubahan suhu yang drastis. Kabut di sekitarnya mendadak menjadi tebal, berbau amis seperti darah yang sudah lama mengendap di saluran air.
"Siapa di sana?" tanya Ren. suaranya datar, tanpa nada ancaman, tapi matanya menyipit tajam.
Dari balik bayangan komidi putar yang rusak, muncul sesosok figur. Orang itu mengenakan jubah kusam yang warnanya sulit ditentukan antara cokelat tua atau merah kering. Wajahnya tertutup topeng porselen retak yang hanya menyisakan lubang gelap di bagian mata.
Tanpa peringatan, orang itu melesat.
Kecepatannya berada di level yang berbeda. Tanah di bawah kaki si jubah kusam itu meledak saat ia mendorong dirinya maju. Sebuah belati pendek berkilau hitam meluncur lurus ke arah tenggorokan Ren.
KLANG!
Suara logam bertemu sesuatu yang keras menggema di taman bermain itu. Belati itu tertahan di udara, tepat di depan jaket Ren. Ujung belati itu perlahan-lahan retak, seolah-olah menekan sesuatu yang jauh lebih padat dari berlian.
Penyerang itu mematung. Napasnya terdengar berat dan serak dari balik topeng.
"Mustahil ..." bisik suara itu. Suaranya pecah, seperti gesekan amplas pada kayu.
Ren menatap orang itu dengan tatapan datar. "Kau mengganggu waktu pulangku."
Ia menggerakkan tangannya, hendak mencengkeram leher si penyerang. Namun, sebelum jemari Ren menyentuh jubahnya, orang itu tiba-tiba jatuh berlutut.
Seluruh tubuh si penyerang mulai bergetar hebat. Kepalanya mendongak ke langit yang mendung.
"Semua ... demi kehendaknya," igau orang itu.
"Hah? Apa maksudmu—"
Ren belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika si penyerang tiba-tiba mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Dengan satu gerakan brutal yang tidak masuk akal, ia memelintir lehernya sendiri hingga terdengar bunyi tulang yang patah dengan sangat keras.
KRAK.
Tubuh itu ambruk ke tanah. Tak bernyawa dalam sekejap.
Ren mundur selangkah, alisnya bertaut. Darah mulai merembes dari balik topeng porselen yang kini pecah sepenuhnya, menampakkan wajah pria paruh baya dengan mata yang membelalak pucat.
"Bunuh diri?" Ren berjongkok, mencoba memeriksa denyut nadi, tapi sudah terlambat.
Ia mencari identitas di balik jubah itu, namun tidak ada apa-apa selain sebuah tato kecil di pergelangan tangan mayat tersebut: sebuah lingkaran hitam dengan titik di tengahnya.
Ren berdiri kembali, membersihkan debu dari hoodienya. Ia menatap mayat itu sejenak, lalu menatap langit malam Qilin yang mulai meneteskan gerimis. Perasaan aneh yang tadi ia rasakan kini berubah menjadi keraguan yang nyata.
"Baru saja aku bilang mau istirahat," gerutu Ren pelan.
Ia membalikkan badan dan berjalan pergi, meninggalkan mayat itu di tengah taman bermain yang sunyi. Namun, di dalam kantong jaketnya, Scarstone yang baru saja ia ambil mendadak berdenyut dengan warna merah darah, seolah bereaksi terhadap kematian yang baru saja terjadi.
Ren tidak menyadarinya. Ia hanya berpikir tentang sisa nasi goreng di kulkasnya yang mungkin sudah basi.