NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Kemenangan tanpa darah itu tidak dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan kerja keras yang lebih intens. Gidion dan para pemuda kamp sibuk mempreteli kendaraan penjarah seolah-olah itu adalah bangkai paus yang terdampar, mengambil setiap baut, kabel, dan panel surya yang masih bisa bernapas.

Namun, di tengah keriuhan itu, Kevin—si teknisi Sektor Inti—tidak bisa tenang. Ia berdiri di pojok bengkel terbuka Maya, menatap alat pemancar analog yang tadi digunakan Jek. Tangannya gemetar saat mencoba membedah logika di balik sirkuit kasar itu.

"Ini bukan sihir, kan?" tanya Kevin saat Jek lewat membawa seember oli bekas. "Kau menggunakan frekuensi harmonik untuk mengunci aktuator servo mereka. Itu protokol darurat yang hanya ada di cetak biru inti Ares. Protokol yang seharusnya sudah musnah saat pembersihan besar-besaran sepuluh tahun lalu."

Jek berhenti, meletakkan embernya. Ia menatap Kevin dengan tatapan datar yang membuat pemuda itu mundur selangkah. "Beberapa hal tidak pernah benar-benar musnah, Kevin. Mereka hanya berpindah tempat ke bawah tanah."

"Dr. Arra harus tahu soal ini," bisik Kevin, lebih kepada dirinya sendiri. "Jika faksi militer Sektor Inti tahu ada seseorang yang bisa mematikan teknologi mereka dengan rongsokan..."

"Maka mereka akan datang ke sini bukan untuk belajar, tapi untuk meratakan tempat ini," sela Rara yang tiba-tiba muncul di belakang Kevin dengan tangan bersedekap. "Dan jika itu terjadi, orang pertama yang akan kami jadikan tameng adalah kau, Anak Kota."

Kevin menelan ludah, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia berada di tengah-tengah kekuatan yang jauh lebih purba dan berbahaya daripada birokrasi Sektor Inti.

Malam itu, Jek tidak bisa tidur. Ia duduk di ambang pintu gubuknya, memperhatikan Hafiz yang sedang melatih beberapa pemuda kamp cara bergerak dalam diam di kegelapan. Hafiz adalah pengingat hidup akan siapa Jek dulu—seorang pria yang bisa mematikan lampu satu benua hanya dengan satu baris kode.

"Tuan," Hafiz mendekat, napasnya teratur meski baru saja berlari keliling kamp. "Boris akan bicara. Kabar bahwa 'Arsitek' masih hidup akan menyebar ke Sektor Luar seperti api di padang rumput kering. Penjarah lain akan datang, bukan untuk merampok ubi, tapi untuk menculik Anda."

Jek mengangguk pelan. "Aku tahu. Itulah sebabnya kita tidak bisa lagi hanya menjadi Kamp Sampah."

"Lalu apa rencana kita?"

Jek mengambil sebatang ranting, menggambar skema sederhana di atas tanah berdebu. Itu bukan skema filter air, melainkan jaringan komunikasi. "Kita akan membangun 'Jaring Buta'. Kita akan menyebarkan teknologi filter air dan sistem irigasi ini ke kamp-kamp kecil lainnya di Sektor Luar secara gratis. Kita beri mereka instruksi lewat radio rakitan."

Hafiz mengernyit. "Memberikannya secara cuma-cuma? Kita akan kehilangan posisi tawar kita dengan Sektor Inti."

"Justru sebaliknya," Jek tersenyum tipis. "Jika setiap kamp di Sektor Luar punya filter air buatan kita, maka Sektor Inti tidak bisa hanya menyerang kita untuk mendapatkan teknologinya. Mereka akan menghadapi ribuan orang yang bergantung pada sistem kita. Kita tidak membangun benteng tembok, Hafiz. Kita membangun benteng ketergantungan."

Strategi Jek mulai berjalan. Dalam hitungan minggu, Kamp Sampah berubah menjadi semacam universitas bagi kaum terbuang. Utusan dari kamp-kamp jauh mulai berdatangan, membawa rongsokan sebagai bayaran untuk belajar cara menjinakkan tanah dan air.

Namun, di balik kesibukan itu, sebuah drone pengintai kecil—jauh lebih canggih dan lebih senyap daripada milik Kevin—terbang tinggi di atas awan, mengirimkan citra wajah Jek yang sedang mencangkul langsung ke sebuah ruangan gelap di jantung Sektor Inti.

Di layar monitor ruangan itu, sebuah profil muncul dengan tulisan merah besar:

SUBJECT 001: THE ARCHITECT. STATUS: ACTIVE.

Sebuah suara dingin bergema di ruangan sunyi itu. "Aktifkan Protokol Penjemputan. Tapi jangan gunakan militer. Kirim 'Pembersih'. Kita butuh otaknya, bukan mayatnya."

Malam itu, Kamp Sampah terasa terlalu tenang. Hembusan angin dari arah Sektor Inti tidak lagi membawa aroma sabun mahal, melainkan bau ozon yang tajam—pertanda ada mesin presisi tinggi yang sedang mendekat dalam mode senyap.

Jek berdiri di depan gubuknya, tangannya masih memegang cangkul yang kini terasa seperti beban. Di sampingnya, Hafiz sudah bersiaga dengan busur panahnya, matanya menyisir kegelapan hutan jati dengan insting predator yang tak pernah tumpul.

"Mereka sudah di sini, Tuan," bisik Hafiz. "Bukan penjarah. Gerakannya terlalu simetris. Tiga orang, pola segitiga."

"Jangan gunakan senjata jarak jauh, Hafiz," ujar Jek, suaranya tenang namun mengandung otoritas mutlak. "Mereka punya pelapis keramik. Anak panahmu hanya akan memicu protokol serangan balik otomatis mereka. Maya! Aktifkan 'Jaring Buta' sekarang!"

Maya, yang berada di dalam menara pengawas darurat, menekan sebuah saklar besar yang terhubung dengan ribuan gulungan kabel tembaga yang tertanam di bawah permukaan tanah kamp. Seketika, lampu-lampu minyak di kamp berkedip, dan suara dengung rendah frekuensi radio memenuhi udara.

Tiga sosok muncul dari balik kegelapan. Mereka mengenakan pakaian taktis hitam legam yang seolah menyerap cahaya bulan. Wajah mereka tertutup helm full-face dengan optik berwarna merah yang berpijar redup. Itulah para 'Pembersih'—unit elit Sektor Inti yang biasanya hanya menjadi mitos urban di kalangan pemulung.

"Subjek 001," salah satu dari mereka bersuara, datar dan mekanis. "Identitas: Alif sang Arsitek. Anda diminta hadir untuk pemulihan sistem darurat. Perlawanan adalah tindakan yang tidak efisien."

Gidion melangkah maju, menghalangi jalan mereka dengan tubuh besarnya. "Dia bukan Alif. Dia Jek, kuli kami. Dan di kamp ini, efisiensi bukan segalanya, tapi kebersamaan adalah hukum."

Salah satu Pembersih menggerakkan tangannya sedikit, sebuah senjata kejut listrik muncul dari pergelangan tangannya. Namun, saat ia mencoba mengaktifkannya, alat itu hanya mengeluarkan percikan kecil dan asap hitam.

"Apa...?" Pembersih itu mundur selangkah, memeriksa senjatanya.

"Selamat datang di wilayah analog," Jek melangkah maju, melepaskan cangkulnya. "Jaring kabel di bawah kaki kalian menciptakan medan elektromagnetik yang sangat tidak stabil. Sensor biometrik kalian buta sekarang. Kalian tidak bisa melihat detak jantungku, kalian hanya melihat gangguan sinyal."

Rara muncul dari atas atap gubuk, menjatuhkan sebuah jaring besar yang terbuat dari serat sabut kelapa yang telah direndam dalam larutan garam konduktif. Jaring itu jatuh tepat di atas dua Pembersih, seketika mengonsletingkan sistem pendingin pakaian taktis mereka.

Pertarungan itu singkat namun brutal. Tanpa keunggulan teknologi, para Pembersih itu hanyalah manusia biasa dalam baju besi yang berat dan panas. Hafiz dan warga kamp yang telah terlatih menggunakan teknik bela diri jalanan berhasil melumpuhkan mereka dalam hitungan menit.

Saat helm salah satu Pembersih dilepas, di bawahnya terdapat wajah seorang pemuda yang tampak ketakutan—hampir seusia dengan Kevin.

"Katakan pada atasanmu," Jek berjongkok di depan pemuda itu, menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Arsitek sudah mati di hari sistem Ares runtuh. Yang tersisa hanyalah orang-orang yang ingin hidup damai. Jika kalian mengirim lebih banyak lagi, kalian hanya akan kehilangan lebih banyak teknologi berharga kalian untuk menjadi bahan rongsokan di gudang Maya."

Kevin, yang menyaksikan kejadian itu dari balik jendela, gemetar hebat. Ia menyadari bahwa dunianya di Sektor Inti hanyalah sebuah istana kartu yang bisa roboh kapan saja jika Jek memutuskan untuk benar-benar melawan.

"Lepaskan mereka," perintah Jek. "Beri mereka ubi rebus dan satu botol air filter kita. Biarkan mereka berjalan kaki kembali ke tembok mereka."

"Tapi Tuan, mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih besar!" protes Hafiz.

"Tidak," jawab Jek sambil menatap ke arah gerbang Sektor Inti yang jauh. "Dr. Arra akan mengerti pesanku. Ini bukan tantangan perang, ini adalah demonstrasi batas. Dia butuh aku tetap hidup untuk memperbaiki dunia, tapi dia sekarang tahu bahwa aku jauh lebih berbahaya jika dipaksa masuk ke dalam sistem mereka kembali."

Malam kembali sunyi, namun Jek tahu bahwa "kedamaian" ini hanyalah jeda sebelum babak baru dimulai. Kamp Sampah kini bukan lagi sekadar pemukiman, melainkan sebuah entitas yang diakui—sebuah duri di dalam daging peradaban modern yang menolak untuk dicabut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!