NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Tentang Cinta, Tapi Janji

Restoran di hotel bintang lima itu memiliki pencahayaan yang temaram dan elegan, menciptakan suasana yang seharusnya romantis bagi pasangan mana pun. Namun bagi Arga, udara di sini terasa lebih berat daripada di ruang rapat tadi siang. Ia datang lebih awal sepuluh menit, duduk dengan tegap di meja bundar yang telah dipesan atas nama ibunya.

Ia mengenakan setelan jas yang berbeda—lebih gelap, lebih formal—seolah pakaian itu adalah baju zirah untuk menghadapi situasi yang paling tidak ia kuasai: perjodohan.

"Arga, jangan pasang muka kaku begitu. Ini makan malam keluarga, bukan sidang umum pemegang saham," tegur Widya, ibunya, yang duduk di sampingnya sambil merapikan selendang batiknya.

"Arga cuma lelah, Bu," jawabnya singkat, meski matanya terus tertuju pada pintu masuk restoran.

Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Seorang wanita paruh baya—Tante Sarah—berjalan masuk dengan wajah berseri-seri. Dan di belakangnya, melangkah seorang perempuan dengan gaun midi berwarna navy yang sederhana namun sangat anggun.

Arga merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Tebakannya benar.

Itu Nara. Desainer yang tadi siang memberinya kuliah tentang ketulusan di ruang rapat.

Nara yang sedang tersenyum sopan pada ibunya, mendadak membeku saat matanya menangkap sosok pria yang duduk di hadapan Widya. Langkahnya tertahan, matanya membelalak kecil. Ia menatap Arga, lalu melirik ke arah ibunya, lalu kembali ke Arga dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Tante Sarah, menyadari perubahan ekspresi putrinya.

Arga berdiri, mencoba tetap terlihat berwibawa meski hatinya bergemuruh. "Kami baru saja bertemu tadi siang, Tante. Nara adalah vendor untuk proyek baru di kantor saya."

"Ya ampun! Dunia memang sempit sekali!" seru Widya riang, sementara Nara hanya bisa mengangguk kaku sambil menyalami Widya.

Makan malam pun dimulai. Percakapan didominasi oleh kedua ibu yang bernostalgia tentang masa lalu, sementara Arga dan Nara lebih banyak terdiam. Mereka makan dalam kesunyian yang canggung, sesekali denting garpu dan pisau menjadi satu-satunya suara di antara mereka.

"Jadi, bagaimana menurut kalian?" tanya Widya tiba-tiba, memutus obrolan tentang masa lalu. "Ibu dan Tante Sarah sudah sepakat kalau kalian sangat cocok. Kami tidak ingin menunda-nunda lagi."

Nara meletakkan sendoknya pelan. Ia menatap Arga, yang juga sedang menatapnya dengan tajam.

"Bu," Arga akhirnya bersuara, suaranya rendah dan dalam. "Pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan hanya karena orang tua merasa cocok. Saya dan Nara baru bertemu secara profesional. Kami bahkan belum tahu nama belakang satu sama lain dengan benar."

"Tapi kalian punya visi yang sama, kan?" sahut Tante Sarah. "Ibu dengar dari Nara kalau kantor kamu sangat profesional, Arga. Dan Arga, Ibu tahu kamu pria yang sangat memegang janji."

Nara menarik napas panjang. Ia menatap ibunya, lalu beralih ke Arga. "Pak Arga benar, Ma. Cinta tidak bisa tumbuh dalam semalam di ruang rapat atau meja makan seperti ini."

"Ini bukan tentang cinta, Nara," potong Widya lembut namun tegas. "Cinta itu bisa tumbuh nanti. Ini tentang janji kami sebagai orang tua, dan tentang masa depan kalian yang butuh kepastian. Kamu butuh seseorang yang bisa menjagamu, dan Arga butuh seseorang yang bisa menyeimbangkan hidupnya."

Arga terdiam. Kata-kata "bukan tentang cinta" itu bergema di kepalanya. Baginya, itu adalah kebenaran yang pahit. Ia tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama, tapi ia sangat percaya pada tanggung jawab.

"Nara," Arga memanggil namanya, kali ini tanpa embel-embel 'Mbak' atau 'Ibu'. "Jika pernikahan ini terjadi, bagi saya itu adalah komitmen tertinggi. Saya tidak bisa menjanjikan romansa seperti di film-film. Saya hanya bisa menjanjikan bahwa saya akan menjaga pernikahan ini seperti saya menjaga hidup saya sendiri. Diam-diam, tanpa banyak bicara, tapi pasti."

Nara tertegun. Ia melihat kejujuran yang brutal di mata Arga. Tidak ada janji manis, tidak ada rayuan. Hanya ada sebuah tawaran tentang tanggung jawab. Bagi Nara yang membawa luka masa lalu tentang janji-janji manis yang diingkari, kejujuran Arga justru terasa lebih nyata.

"Saya tidak butuh romansa yang riuh, Arga," jawab Nara pelan, suaranya sedikit bergetar. "Saya hanya ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu. Tapi kalau pernikahan ini dimulai sebagai sebuah janji untuk saling memahami... mungkin saya bisa menerimanya."

Malam itu, di bawah lampu kristal restoran, sebuah keputusan besar diambil. Bukan karena ledakan cinta, melainkan karena sebuah kesepakatan antara dua orang dewasa yang merasa bahwa hidup harus terus berjalan, meski hati belum sepenuhnya siap.

---

Widya dan Tante Sarah saling berpandangan, senyum kemenangan terukir jelas di wajah mereka. Namun, bagi Arga dan Nara, suasana di meja itu justru terasa makin sunyi. Ada beban yang tiba-tiba jatuh ke pundak mereka masing-masing—sebuah beban bernama "masa depan bersama" yang diputuskan hanya dalam waktu satu jam.

Arga menyesap air putihnya, matanya tak lepas dari Nara. Perempuan di hadapannya ini tidak terlihat senang, tapi juga tidak terlihat memberontak. Ia tampak pasrah dengan cara yang sangat bermartabat.

"Kalau begitu, kita bisa atur pertemuan selanjutnya untuk membahas detail... prosesinya," ujar Widya penuh semangat.

"Ibu," Arga menyela, suaranya tenang tapi tidak bisa dibantah. "Biarkan saya bicara berdua saja dengan Nara. Di luar. Sebentar saja."

Widya sempat ingin memprotes, namun Tante Sarah menyentuh lengan sahabatnya itu, memberi kode agar membiarkan anak-anak mereka bernapas. "Silakan, Arga. Nara, pergi saja dulu."

Arga berdiri, menarik kursi dengan sopan, lalu memberi isyarat agar Nara mengikutinya. Mereka berjalan menuju balkon restoran yang menghadap ke arah jalanan protokol Jakarta. Angin malam yang agak kencang menerpa wajah mereka, membawa aroma aspal basah dan polusi kota yang entah kenapa terasa lebih jujur daripada wangi parfum mahal di dalam tadi.

Mereka berdiri bersisian di pembatas balkon, menatap kemacetan yang tak kunjung usai di bawah sana.

"Jadi," Nara membuka suara lebih dulu, suaranya hampir tertelan angin. "CEO yang kaku di ruang rapat tadi siang ternyata adalah calon suami saya. Takdir punya selera humor yang agak aneh, ya?"

Arga menoleh sedikit, menatap profil samping Nara. "Saya minta maaf kalau ini membuatmu merasa terpojok. Saya benar-benar tidak tahu kalau kamu adalah orangnya."

Nara terkekeh hambar, matanya masih menatap lampu-lampu mobil. "Nggak perlu minta maaf. Saya juga sama kagetnya. Tapi, jujur saja... saya lebih suka bertemu kamu di ruang rapat tadi daripada di meja makan barusan. Di sana, kamu menghargai ide saya. Di sini, kita cuma dua orang yang sedang dipaksa mengikuti skenario orang tua."

"Saya tidak pernah melakukan sesuatu karena dipaksa, Nara," sahut Arga tegas. "Saya setuju karena saya melihat ini sebagai tanggung jawab. Dan setelah melihat kamu tadi siang, saya rasa... pernikahan ini tidak akan sekacau yang saya bayangkan sebelumnya."

Nara akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah Arga. "Tanggung jawab lagi. Apa hidupmu memang cuma tentang itu, Arga? Apa nggak ada ruang buat perasaan?"

Arga terdiam cukup lama. Pertanyaan itu menghantam bagian dirinya yang paling dalam. "Perasaan itu fluktuatif, Nara. Hari ini ada, besok bisa hilang. Tapi janji dan tanggung jawab? Itu yang bikin orang bertahan saat semuanya lagi hancur. Itulah yang saya pegang."

Nara menatap mata Arga, mencari setitik keraguan di sana, tapi ia tidak menemukannya. Pria ini memang benar-benar kaku, tapi dia tidak bohong.

"Saya punya luka, Arga," bisik Nara, suaranya mendadak lirih. "Saya nggak butuh seseorang yang cuma menjanjikan keamanan finansial atau status. Saya butuh seseorang yang benar-benar ada. Bahkan saat saya sedang sulit untuk dipahami."

Arga mengangguk pelan. Ia tidak menjanjikan pelukan hangat atau kata-kata manis. Ia hanya berkata, "Saya bukan pria yang pintar bicara, tapi saya adalah pria yang tidak pernah meninggalkan apa yang sudah saya mulai. Itu janji saya."

Di bawah langit Jakarta yang mendung, tanpa ada kata cinta yang terucap, sebuah kesepakatan tak tertulis terjadi di antara mereka. Ini bukan tentang cinta yang bergejolak, tapi tentang dua orang asing yang memutuskan untuk saling menjaga di tengah ketidakpastian dunia.

"Mari kita jalani ini," pungkas Arga, sebelum akhirnya mengajak Nara kembali masuk ke dalam, memulai langkah pertama menuju sebuah ikatan yang mereka sendiri belum tahu akan berakhir seperti apa.

---

Mereka terdiam cukup lama setelah kesepakatan itu terlontar. Nara mengalihkan pandangannya kembali ke arah lampu-lampu jalanan, sementara Arga merogoh saku jasnya hanya untuk memastikan ponselnya masih di sana—sebuah gerakan refleks untuk mencari rasa aman di tengah situasi yang asing ini.

"Apa kita akan memberitahu orang-orang di kantor?" tanya Nara tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih tenang sekarang, seolah badai kecemasan di dalam dirinya mulai mereda menjadi gerimis kecil.

Arga menggeleng pelan. "Untuk saat ini, tidak perlu. Saya ingin profesionalisme kita tetap terjaga. Proyek rebranding itu penting bagi perusahaan, dan saya tidak ingin tim saya berpikir bahwa vendor terpilih karena faktor personal."

Nara tersenyum tipis, hampir tak kentara. "CEO yang sangat disiplin. Saya hargai itu. Lagipula, saya juga tidak ingin dikenal sebagai 'calon istri bos' di saat karya saya seharusnya menjadi bintang utamanya."

Arga menatap Nara dengan sedikit lebih lama kali ini. Ada rasa hormat yang tumbuh secara perlahan di balik dadanya yang kaku. Nara bukan perempuan yang akan berlindung di balik punggungnya; dia adalah perempuan yang ingin berdiri di sampingnya dengan kekuatannya sendiri.

"Besok jam delapan pagi, tim saya akan mengirimkan jadwal untuk feedback tahap kedua," Arga mengganti topik kembali ke urusan kantor, seolah itu adalah cara paling nyaman baginya untuk berkomunikasi.

"Dan saya akan memastikannya sudah siap di meja Anda sebelum jam makan siang," balas Nara dengan nada yang sama formalnya, namun kali ini ada binar tantangan di matanya.

Mereka kembali masuk ke dalam restoran dengan langkah yang lebih sinkron. Widya dan Tante Sarah yang melihat mereka kembali dengan wajah yang lebih "bersahabat" langsung menghentikan obrolan rahasia mereka.

"Sudah selesai bicaranya?" tanya Widya penuh selidik.

"Sudah, Bu," jawab Arga sambil menarikkan kembali kursi untuk Nara. "Kami sepakat untuk mencoba menjalani ini. Tapi dengan syarat, biarkan kami yang mengatur tempo hubungannya."

Tante Sarah menghela napas lega, matanya berkaca-kaca. "Apapun itu, Nak. Yang penting kalian mau membuka hati."

Makan malam itu berakhir dengan perbincangan yang sedikit lebih ringan, meski bagi Arga dan Nara, setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti sedang meniti jembatan tali yang tipis. Di depan orang tua, mereka adalah sepasang calon mempelai yang patuh. Namun di dalam pikiran masing-masing, mereka adalah dua orang asing yang baru saja menandatangani kontrak hidup mati.

Saat mereka berpisah di lobi hotel, Arga sempat menahan pintu mobil untuk Nara.

"Sampai bertemu besok di kantor, Nara," ucap Arga.

Nara mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil ibunya. "Sampai bertemu besok, Pak Arga."

Arga berdiri di lobi, memperhatikan mobil itu menjauh hingga hilang di balik belokan jalan. Ia tidak merasa bahagia, tapi ia merasa... tenang. Ada sebuah kejelasan yang ia dapatkan malam ini. Hidupnya tidak akan lagi sama. Di balik meja kantornya besok, bayangan Nara tidak lagi hanya sekadar desainer berbakat, melainkan seseorang yang telah ia janjikan untuk dijaga.

Bukan karena cinta, setidaknya belum untuk sekarang. Tapi karena sebuah janji yang baru saja ia ikat di bawah langit Jakarta yang basah.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!