"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
[Sekolah]
Kaisar dan tim basketnya sedang melakukan latihan di lapangan.
Decit sepatu beradu dengan lantai lapangan saat Kaisar mendribel bola melewati hadangan bertubi-tubi. Keringat membasahi jersey mereka, berkilat tertimpa cahaya matahari sore yang mulai menguning.
"Edwin, screen!" teriak Kaisar.
Edwin segera memasang badan, menutup ruang gerak lawan, sementara Kaisar melesat ke arah ring.
Di sudut lain, Faiz sudah bersiap. Dengan satu operan tanpa melihat (no-look pass), Kaisar mengirim bola ke Faiz yang langsung melakukan jump shot mulus.
Swishh!
Bola masuk, menyentuh jaring dengan bunyi yang memuaskan.
"Yes!" teriak Faiz bangga.
Kaisar dan Edwin tersenyum melihat kemajuan Faiz yang semakin menonjol di tim basket mereka.
Tiga sahabat itu langsung saling menghampiri dan tos satu sama lain sebagai bentuk rasa bangga serta dukungan untuk bisa lebih baik lagi dalam bermain.
Priiitttt!!!
Latihan berakhir saat peluit panjang ditiup. Satu per satu anggota tim berpamitan menuju ruang ganti, ada juga yang langsung pulang. Namun, Kaisar, Edwin, dan Faiz memilih tetap di sana.
Mereka bertiga ambruk, duduk selonjoran di lantai lapangan yang masih terasa hangat. Botol air mineral dingin langsung tandas setengahnya. Napas mereka masih memburu, kaos mereka basah kuyup oleh keringat hingga menempel di punggung.
"Gila, latihan hari ini intens banget," gumam Edwin sambil menyeka keringat di dahi dengan ujung bajunya.
Faiz merebahkan diri sepenuhnya, menatap langit sore yang mulai jingga. "Tapi asik. Gue jadi makin semangat buat main lagi."
"Lo kalo rajin latihan makin keren cara main lo, Iz," puji Edwin.
Faiz tertawa senang. "Iya, iya... Sekarang gue gak mau males-malesan lagi kalo latihan. Udah gue rasain hasilnya."
Kaisar menepuk bahu sahabatnya itu. "Karena sebentar lagi kita bakal turnamen, kita harus lebih sering latihan. Lo gak boleh males-malesan, Iz. Turnamen kali ini harus kita menangin."
Faiz mengangguk semangat. "Oke, Kapten!"
Kaisar balas mengangguk kecil, kemudian menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga ring sambil menikmati semilir angin yang berusaha mengeringkan keringat di lehernya. Di tengah lapangan yang kini sepi, mereka bertiga hanya diam, menikmati momen santai setelah kerja keras yang melelahkan.
"Eh, nanti malam nongkrong di basecamp, yuk!" ujar Edwin, yang kini ikut-ikutan berbaring seperti Faiz.
"Boleh aja," jawab Faiz. "Gue juga lagi pengen keluar malam ini. Gabut di rumah terus, nyokap gue marah-marah terus."
"Marah-marah juga pasti karena lo yang ngeselin," timpal Kaisar, sudah tahu kebiasaan sahabatnya yang sering membuat kesal ibunya. "Gue kalo jadi emak lo juga bakal marahin lo setiap hari."
"Hahaha!" Edwin tertawa keras sembari mengangguk setuju dengan Kaisar.
"Bener banget tuh! Gue juga kalo jadi emaknya si Faiz bakal ngomel tiap hari. Hahaha!"
Mereka pun tertawa bersama, menghangatkan suasana yang sepi di lapangan.
Angin sore berembus lebih kencang, membawa aroma tanah kering dan sisa-sisa semangat latihan yang masih membekas. Tawa mereka perlahan mereda, menyisakan keheningan nyaman yang hanya dimiliki oleh sahabat sejati.
"Tapi serius," potong Kaisar, suaranya kini lebih rendah namun mantap. Ia menatap deretan piala yang terlihat samar dari balik kaca ruang olahraga di kejauhan. "Turnamen bulan depan itu terakhir buat kita sebelum fokus ujian. Gue mau kita ninggalin sesuatu yang berkesan di sekolah ini."
Edwin bangkit, menumpu badannya dengan siku. "Gue setuju. Trofi juara satu bakal jadi penutup yang manis, kan? Seenggaknya nanti junior-junior kita bakal mengenang kita sebagai kakak kelas yang keren!"
"Bener banget. Kita harus bikin masa-masa terakhir kita di sekolah jadi sesuatu yang bakal bikin kita dikenang dengan baik," jawab Kaisar.
Faiz, yang tadinya asyik memejamkan mata, kini duduk tegak. "Berarti mulai besok, porsi latihan gue tambahin sendiri. Enggak ada lagi kata telat atau males."
Kaisar tersenyum puas melihat kedua sahabatnya semakin bersemangat.
Edwin ikut bangkit. Melepas kaos jerseynya dan mengelap keringatnya dengan jersey tersebut.
"Btw, Iz," ucapnya pada Faiz, masih sambil sibuk mengelap keringat. "Gue liat-liat akhir-akhir ini Lo deket banget sama Raline. Kalian pacaran?"
Mendengar pertanyaan Edwin kepada Faiz tentang Raline, langsung membuat Kaisar terdiam.
Kaisar yang tadinya sedang menghabiskan sisa air mineral di botolnya, mendadak menghentikan gerakannya. Botol minumnya masih tertempel di bibir, namun matanya menatap lurus ke depan, tak berkedip. Nama Raline yang disebut seperti lemparan bola three-point yang tepat sasaran menghantam fokusnya.
"Uhuk!"
Faiz langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memerah, entah karena sisa lelah atau karena godaan Edwin.
"Apaan sih? Ngaco lo!" sergah Faiz sambil berusaha tertawa canggung. "Gue cuma... ya, sering bareng aja karena Raline juga lebih welcome ke gue daripada sebelumnya."
"Seneng banget pasti lo, iya, kan? Udah lama lo dicuekin terus sama dia, mendadak sekarang jadi sering dianggap ada. Apa gak bikin lo jingkrak-jingkrak?" goda Edwin lagi sembari menyenggol bahu Faiz dengan jahil.
"Tiap istirahat gue liat lo di depan kelasnya mulu. Kadang gue liat kalian masuk perpustakaan bareng. Udah kayak orang pacaran aja."
Faiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senyum malu-malu terukir di wajahnya. "Hmm... gue sama dia emang lagi deket sih, tapi cuma sebatas temen aja. Soalnya, Raline juga belum kasih gue lampu ijo buat nembak dia. Buat sekarang temenan aja udah bikin gue seneng. Seenggaknya dia gak cuek lagi."
"Kalo kedepannya, gimana?" tanya Edwin, semakin menggoda sahabatnya itu.
Faiz tersenyum lebar, ada tekad kuat di sorot matanya. "Kalo ada kesempatan sih... udah jelas bakal gue tembak dia. Gue pengennya bisa lebih dari temenan sama dia."
"Wihhh... udah bertekad aja lo," sahut Edwin. "Tapi hati-hati aja, jangan terlalu cinta. Nanti kalo ditolak atau dia jadi milik orang lain lo sakit hati."
"Mau gimana lagi... gue emang suka Raline sih, eh, lebih tepatnya gue cinta sama dia," aku Faiz tanpa ragu. "Tapi kalo nanti gue ditolak sama dia, yaudah. Gue gak bakal maksa dia buat terima gue kok. Yang penting kan gue udah berusaha mencintai dia sepenuh hati gue."
"Iya sih. Tapi saran gue, mending lo gak usah menggebu-gebu dulu buat nyatain perasaan ke dia." Edwin memberikan saran dengan bijak, seolah tak mau sahabatnya akan sakit hati dikemudian hari jika ditolak Raline.
"Pepet aja terus, sampai dia bener-bener nyaman sama lo. Bikin di percaya kalo lo tulus," lanjutnya. "Kalo jodoh gak bakal kemana. Sejauh apapun lo pergi atau dia pergi, kalian bakal ketemu lagi terus bersatu."
"Hahaha! Udah kayak bapak-bapak aja lo ngomongnya, Bro!" Faiz malah tertawa mendengar nasihat Edwin, seolah itu hanya lelucon.
Edwin hanya mendengus, tapi lanjut menjitak Faiz hingga membuat keduanya tertawa keras.
Sementara Kaisar, secara tak sadar meremas botol minum yang belum sepenuhnya kosong itu. Ekspresi wajahnya mendadak datar. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dadanya mendengar dua sahabatnya membahas tentang Raline.
Walaupun gadis itu bukan sosok yang menguasai hatinya, tapi secara agama Raline tetaplah istrinya. Entah mengapa telinganya merasa terganggu setiap kali orang lain membahas tentang Raline, apalagi jika orang itu membahas mengenai perasaannya terhadap gadis itu.
Di sisi lain, Raline membawa botol air mineral dingin menuju lapangan bakset. Niatnya, ia akan memberikan minuman itu pada Kaisar.
Dalam hatinya, ia berusaha untuk menjadi istri yang baik meski pernikahan mereka hanya sementara. Setidaknya selama mereka menjadi suami istri ia ingin menjadi sosok istri yang baik.
Ia melangkah dengan senyum kecil di bibir, mendekati lapangan bakset tempat di mana suaminya berada saat ini.
Sore ini ia belum pulang karena tadi sempat ikut latihan voli, mengingat perlombaan antar sekolah itu sudah dekat, mengharuskannya latihan ekstra untuk performa terbaik. Ia bahkan masih mengenakan seragam voli karena belum sempat ganti baju.
Namun, saat ia telah sampai di lapangan, Nana tiba-tiba datang, mendahului langkahnya. Ia berlari kecil ke arah Kaisar.
Raline menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kawat pembatas lapangan. Genggamannya pada botol air mineral yang masih berembun itu mengerat, dinginnya menjalar ke telapak tangan, namun tak mampu meredam rasa panas yang tiba-tiba mencubit dadanya.
Di sana, Nana tersenyum manis, jemarinya yang lentik menyodorkan sebotol minuman sembari sesekali mengusap pelan peluh di pelipis Kaisar dengan tisu. Sikapnya begitu manja, seolah ingin menunjukkan pada dunia, termasuk pada Edwin dan Faiz yang menonton sambil bersiul menggoda, siapa pemilik hati sang kapten basket itu.
"Capek banget ya, Sayang? Minum dulu deh, biar agak seger," suara Nana terdengar sayup-sayup sampai ke telinga Raline, lembut dan penuh perhatian.
Kaisar yang tadinya tampak tegang saat teman-temannya membahas Raline, kini terlihat sedikit melunak. Ia menerima botol dari Nana dan meminumnya, meski matanya sesekali masih menatap kosong ke arah depan.
"Na, buat kita nggak ada nih?" goda Edwin.
Nana tersenyum lebar. "Kalian kan udah minum. Harusnya sebotol udah cukup."
"Hei, Kai juga udah minum, abis sebotol tuh," tunjuk Faiz pada botol minum kaisar yang masih sisa sedikit air.
"Ya gapapa, kan kalo dari gue beda. Hehehe..."
Faiz dan Edwin geleng-geleng sembari tersenyum melihat kemesraan pasangan itu. Membuat mereka iri dan semakin ingin memiliki kekasih seperti Kaisar.
Di tempatnya Raline mematung. Niat tulusnya untuk mencoba menjadi "istri yang baik" mendadak terasa konyol. Ia menunduk, menatap botol di tangannya yang kini tak lagi sedingin tadi. Ada perasaan asing yang menyesakkan; bukan cemburu yang, melainkan rasa sadar diri yang menghantam telak.
Dia punya dunianya sendiri, Raline. Dan di dunia itu, nggak ada tempat buat lo, batinnya pahit.
"Eh, Raline?"
Suara Faiz yang tiba-tiba menyadari keberadaannya membuat Raline tersentak. Sontak, pasang mata di tengah lapangan itu beralih ke arahnya, termasuk Kaisar.
Tatapan Kaisar dan Raline bertemu selama beberapa detik. Ada kilat keterkejutan di mata Kaisar, sementara Nana langsung mengerutkan kening, menatap Raline dengan tatapan menyelidik seolah bertanya-tanya mengapa ia datang ke lapangan basket?
Raline dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin. Ia mengangkat botol minumnya tinggi-tinggi agar terlihat oleh Faiz. Tak lupa, ia memberikan senyuman manis pada Faiz meski terpaksa.
Raline akhirnya berjalan mendekat, menghampiri Faiz tanpa melirik Nana dan Kaisar yang berada di dekat pemuda itu.
Ia menyerahkan botol itu pada Faiz yang menerimanya dengan senyum lebar dan mata berbinar.
"Ini buat lo... Tadi gue baru beres latihan terus ke kantin beli minum. Tapi gue dikasih satu botol sama ibu kantin. Jadi, gue bawa aja buat lo yang lagi latihan," ujar Raline bohong, berusaha menutupi tujuan aslinya.
"Wah, makasih banyak lo udah inget gue, Lin. Perhatian banget," ucap Faiz tulus. Hatinya sangat senang.
Raline hanya tersenyum tipis.
Faiz segera membuka tutup botol itu dan meneguk airnya.
Edwin menelan ludah melihat kedua sahabatnya didatangi perempuan yang mereka sukai dan diberikan perhatian. Sekarang hanya dirinya yang benar-benar merana sendirian.
"Lin, buat gue gak ada?" tanya Edwin. Ia tampak kasihan.
"Minta aja sama Faiz," jawab Raline. "Gue ogah balik lagi ke kantin."
Edwin mendengus. Sedangkan Faiz terkekeh disela tegukannya.
Raline lalu melirik sekilas ke arah jam tangannya. "Eh, udah mau gelap nih. Gue balik duluan ya, Iz," pamitnya sembari berdiri, hendak pergi.
Namun, Faiz dengan cepat meraih pergelangan tangan Raline dan ikut berdiri. Ia menahan gadis itu pergi.
"Balik sama gue aja, yuk!" ajaknya. "Udah sore juga. Khawatir banget kalo lo balik sendirian."
"Umm..." mata Raline melirik Kaisar sesaat. Lalu kembali menatap Faiz.
Raline ingin menolak karena tak biasa pulang dengan lelaki lain selain Kaisar (itu pun jika Kaisar tak mengantarkan Nana). Tetapi melihat Faiz tampak tulus mengajaknya pulang membuatnya segan untuk menolak.
Apalagi kemungkinan ia harus pulang sendiri karena sudah pasti Kaisar akan lebih memilih mengantarkan Nana pulang daripada dirinya.
Ia juga merasa sangat lelah setelah latihan. Dan kemungkinan jika pesan ojek online pun akan memakan sedikit lebih banyak waktunya.
"Emangnya gak ngerepotin lo, Iz?" tanya Raline.
Faiz menggeleng cepat, malah tersenyum lebar. "Sama sekali nggak. Gue malah seneng kalo bisa anterin lo sampe ke rumah," jawabnya bersemangat.
"Yaudah, ayo." Raline akhirnya bersedia pulang diantar oleh Faiz. Langsung saja ia melepas genggaman Faiz pada pergelangan tangannya karena merasa tak nyaman dengan tatapan Kaisar padanya. Yang terlihat dari sudut matanya.
"Yaudah, gue ambil tas dulu," kata Faiz sembari berlari kecil mengambil tas olahraganya.
Kemudian ia kembali menghampiri Raline dan pamit pada yang lain. Raline mengangguk, pergi bersama Faiz tanpa perlawanan sedikitpun pun.
Kaisar hanya bisa menatap kepergian istrinya bersama sahabatnya dalam diam. Tangannya tiba-tiba saja mengepal. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Kaisar merasakan gejolak panas yang membakar dadanya.
Perasaan yang jauh lebih menyengat daripada peluh latihan sore ini. Melihat tangan Faiz yang sempat melingkar di pergelangan tangan Raline, dan melihat Raline yang akhirnya luluh lalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya sendiri, membuat botol mineral di tangan Kaisar berderit karena remasan yang terlalu kuat.
"Kai? Kamu kenapa?"
Nana menyentuh bahu Kaisar, membuyarkan tatapan tajam pemuda itu yang masih tertuju pada gerbang lapangan.
Kaisar tersentak. Ia segera mengendurkan kepalan tangannya, mencoba mengatur napas agar tampak biasa saja di depan Nana dan Edwin. "Enggak. Cuma... capek aja," jawabnya pendek, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Ciee, ada yang cemburu nih kayaknya liat Faiz dapet 'rejeki nomplok' dari Raline," goda Edwin sambil menyikut lengan Kaisar.
Edwin tentu saja tidak tahu status asli mereka, ia hanya mengira Kaisar kesal karena fokusnya teralihkan.
Kaisar hanya mendengus sinis. "Gak penting. Ayo balik, udah mau gelap," ketusnya sambil bangkit dan menyambar tas basketnya dengan kasar.
Sementara itu, di parkiran sekolah, suasana terasa jauh lebih ringan bagi Faiz. Ia dengan semangat memberikan helm cadangannya kepada Raline.
"Pake ya, Lin. Keamanan nomor satu, apalagi buat orang spesial kayak lo," goda Faiz terang-terangan.
Raline hanya tersenyum tipis sambil memasang helm tersebut. Sikapnya pada Faiz sudah tak sedingin biasanya.
Pikirannya melayang jauh. Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada Faiz, tapi ia juga merasa ini adalah keputusan yang benar. Jika ia tetap tinggal di lapangan tadi, ia hanya akan menjadi penonton bisu bagi suaminya sendiri yang sedang asyik dengan wanita lain.
"Lin? Kok bengong? Ayo naik," ajak Faiz.
Raline mengangguk dan naik ke jok belakang motor Faiz.
Motor pun melaju keluar dari gerbang sekolah yang sudah sepi. Raline berpegangan pada jaket Faiz, supaya tak terjatuh.
Tak berselang lama, motor Kaisar menyusul dari belakang. Membawa Nana yang duduk manis sembari memeluk pinggang Kaisar tanpa ragu.
Kaisar mempercepat laju motornya hingga mendahului motor Faiz. Membuat Faiz sedikit terkejut akan perbuatan sahabatnya itu yang mendadak aneh.
Raline sendiri tak peduli meski motor Kaisar telah mendahului. Ia tetap meminta Faiz untuk membawa motor dengan kecepatan sedang saja.
Tanpa Raline sadari, Kaisar melakukan itu karna hatinya sedang "terbakar".
Kaisar terus memacu motornya, mengabaikan pekikan kecil Nana yang terkejut karena akselerasi mendadak itu. Di balik kaca helmnya, rahang Kaisar masih mengatup rapat. Spionnya terus memantau siluet motor Faiz yang kian menjauh di belakang. Ada rasa tidak terima yang menyesakkan dada melihat tangan Raline yang mencengkeram jaket lelaki lain.
"Kai, pelan-pelan! Kamu kenapa sih?" tanya Nana setengah berteriak di balik punggungnya.
Kaisar tidak menjawab. Ia hanya ingin segera sampai agar perasaan "kalah" ini tidak terus menggerogotinya.
Sementara itu, Faiz yang menyadari sahabatnya membalap dengan ugal-ugalan hanya bisa menggeleng. "Si Kaisar kesambet apaan ya? Tiba-tiba ngebut gitu," gumam Faiz yang masih bisa didengar Raline.
Raline hanya diam, menyandarkan helmnya pada bahu Faiz karena angin sore yang terasa semakin dingin. "Mungkin dia buru-buru mau antar Nana," sahut Raline datar, meski hatinya mendadak terasa perih mengatakan itu.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya