"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Cemburunya Sungguh Merepotkan
"Lagipula untuk apa? Toh satu bulan lagi Mas akan memiliki istri baru, kan?"
Dari kalimat itu, sekarang Prabujangga bisa menyimpulkan satu hal.
Istrinya merajuk.
Drama kekanakan macam apa lagi yang sekarang ini harus ia saksikan? Menggelar tikar dan tidur di lantai? Bukankah itu cara merajuk yang sangat murahan sekali?
Prabujangga memijat pangkal hidungnya, matanya terpejam, dan napasnya sedikit lebih cepat dari sedetik yang lalu. Kharisma lagi-lagi berhasil mengikis kesabarannya.
"Jadi itu yang membuat kamu melakukan semua ini? Menciptakan drama yang membuat kepala saya pusing?"
Kharisma tidak membalas.
"Jangan memancing emosi saya, Kharisma, saya sedang sangat lelah sekarang ini," ujar Prabujangga memperingati, tak ragu-ragu menarik kasar selimut tebal yang menutupi tubuh Kharisma. Tapi perempuan itu mencengkram selimut erat-erat.
"Memangnya kenapa harus emosi? Itu benar, kan? Untuk apa aku tidur dengan Mas Prabu kalau satu bulan lagi harus pergi karena akan ada istri baru?" balas Kharisma, tetap memunggungi Prabujangga dengan lancang. "Mas pergi saja, aku akan tidur di sini."
Prabujangga mengumpat dalam hati.
Kenapa ia harus mengurusi wanita bersifat balita seperti Kharisma ini? Kenapa sejak awal ia tidak menikahi wanita pintar saja agar tidak dibuat pusing dengan drama merajuk seperti ini?
Prabujangga menyisir rambutnya, menghela napas kasar. "Kamu kira saya peduli dengan rajukanmu ini? Kamu kira saya akan terus sabar menghadapi sikapmu yang seperti ini?"
Prabujangga bangkit, sorot tajamnya tak lepas memandangi Kharisma yang meringkuk di dalam selimut. "Ada banyak wanita di luaran sana yang mau menjadi istri saya. Seharusnya kamu beruntung karena saya memilih kamu," tuturnya dengan nada rendah. "Saya bisa saja mencari seseorang yang bisa menggantikan kamu malam ini juga jika saya membuat keputusan seperti itu. Saya bisa menghamili wanita manapun untuk memberikan saya keturunan."
Untuk kali itu, Prabujangga bisa melihat punggung kecil istrinya menegang di balik selimut. Jari-jari Kharisma tertekuk, meremat selimut erat-erat.
"Saya tidak akan bicara lagi. Naik ke tempat tidur sekarang, atau saya bawa wanita lain ke atas sana—"
Ucapan Prabujangga terpotong oleh suara selimut yang dihempas keras.
Dia mundur, memberikan ruang saat Kharisma dengan langkah berdentum-dentum yang disengaja naik ke atas ranjang raksasa. Benda itu berderit oleh berat yang tiba-tiba menimpa.
Sebelah alis Prabujangga terangkat, tangannya bersedekap. Dia memandangi Kharisma yang memasang wajah cemberutnya yang khas dan kembali memunggunginya. Perempuan itu tidak mengatakan apapun, tapi jelas dia menekankan maksudnya bahwa dia tidak akan mengizinkan Prabujangga membawa wanita lain ke atas ranjang.
Untuk yang satu itu, Prabujangga merasa puas.
"Setidaknya saya tau satu fakta baru sekarang," celetuknya, dengan nada datar yang menyiratkan ketertarikan. "Ternyata kamu adalah perempuan pencemburu."
Prabujangga melangkah mendekat, tangannya bergerak melepaskan kancing kemeja dengan gerakan tenang. Dia melepaskan kain putih itu dari tubuhnya, meletakkannya di atas ranjang.
"Tidak ada yang cemburu."
Jawaban Kharisma terdengar sangat ketus. Namun jujur saja, itu membuat Prabujangga kian penasaran dengan isi kepala cantiknya itu.
Prabujangga merangkak di tempat tidur, merebahkan tubuhnya tepat di belakang istrinya yang memunggungi. Di jarak seperti ini, Kharisma terlihat jauh lebih kecil darinya. Bahkan perempuan itu sepertinya bisa langsung penyok jika Prabujangga memutuskan untuk menimpa tubuh kecilnya.
"Tidak cemburu tapi merajuk saat saya membahas wanita lain?" bisik Prabujangga, menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis. "Jika tidak cemburu lalu namanya apa?"
"Tidak tau."
Tapi Kharisma tetap menjawabnya dengan nada keras kepala.
Perempuan itu ternyata sulit dibujuk.
Prabujangga menghela napas, mengusap wajahnya dengan gerakan frustasi yang nyaris tidak bisa dibendung lagi.
"Cemburumu ini ternyata cukup merepotkan," gumamnya mulai kesal.
Dia menggerakkan tangannya, meraih pinggang ramping Kharisma dan dengan mudah menarik perempuan itu mendekat hingga tubuhnya menempel pada tubuh Prabujangga.
"Saya benar-benar akan membawa wanita lain jika kamu terus merajuk," ancam Prabujangga, mencoba menggunakan trik sebelumnya.
"Lakukan saja kalau begitu."
Tapi naasnya tidak berhasil.
Kharisma justru menantangnya untuk melakukan hal itu. Jelas Prabujangga tidak bisa menerima pembangkangan ini lebih lama lagi.
Dia membalikkan tubuh Kharisma, memaksa perempuan itu menghadapnya meskipun tubuhnya sengaja dibuat kaku. Tapi jelas Prabujangga menang jika soal tenaga.
"Coba katakan lagi," tantangnya, mencengkram rahang Kharisma dan memaksa perempuan itu untuk mendongak. "Coba suruh saya membawa wanita kemari. Akan segera saya turuti."
Prabujangga memaksa istrinya untuk menatapnya, meskipun Kharisma sendiri tampaknya sengaja memalingkan netranya agar mata mereka tidak bertamu.
"Tidak aku suruh juga Mas Prabu akan membawa wanita lain ke sini," celetuk Kharisma, semakin menekuk wajahnya. "Untuk apa repot-repot disuruh?"
Kharisma membalas tatapan Prabujangga, memasang tampang keras kepala yang sangat berhasil membuat Prabujangga jengkel.
Tanpa diduga-duga Kharisma mendorong tubuhnya menjauh, lantas kembali memunggunginya dengan lancang.
Ternyata cemburunya perempuan sungguh merepotkan.
...***...
Mungkin setelah satu bulan ini, kemarin adalah hari di mana Kharisma bisa tidur lebih nyenyak tanpa harus merasakan sakit diantara kakinya. Tentu saja, itu karena Kharisma sengaja menjauh dari Prabujangga kemarin malam, berakhir membuat Prabujangga tidak bisa menyentuhnya.
Itu kabar baik, kan?
Kharisma menguap pelan, menuruni tangga dengan langkah malas dan kelopak mata yang masih berat.
Kharisma memelankan langkahnya ketika matanya menangkap beberapa pelayan yang sedang berkumpul, seperti sedang merundingkan sesuatu.
Dari cara mereka berbisik sepertinya bukan membahas tentang pekerjaan.
"Bukan saya yang memecahkan Vas, Ra. Tadi Pak Prabu yang memecahkannya."
"Tapi untuk apa? Jangan seret-seret nama Bapak kalau membuat kesalahan, Nu."
"Beneran enggak, kok, Ra. Tadi Nunu tidak memecahkan Vas. Pak Prabu yang memecahkannya. Aku lihat sendiri."
Kening Kharisma berkerut dalam. Rasa penasarannya mencuat tinggi saat mendengar samar perbincangan para pelayan di bawah tangga.
Nama Prabujangga yang paling menarik perhatian, disusul oleh kata Vas dan memecahkan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ada apa, Meara? Kenapa berkumpul di sini?"
Tampaknya pertanyaan tiba-tiba Kharisma mampu menarik perhatian ketiga wanita yang awalnya berdiri melingkar dan berbisik-bisik.
Tubuh mereka terlihat menegang, bahkan mereka saling bertukar pandang ketika mendapati Kharisma menuruni anak tangga.
"Tidak ada apa-apa, Non," Meara menjawab, memasang senyum, lalu menunduk sopan yang langsung diikuti oleh dua pelayan lainnya.
"Tidak apa-apa tapi kenapa serius seperti itu?" tanya Kharisma, masih penasaran dengan apa yang mereka bahas. "Katakan saja, Meara."
Meara, bersama dengan dua pelayan lainnya bertukar pandang mendengar desakkan Kharisma. Mereka sepertinya tidak tau bahwa majikan baru mereka itu bisa merasa penasaran juga.
"Emm... itu, Non, Pak Prabu pagi ini memecahkan Vas," gumam Meara, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan.
Lagipula siapa yang tidak marah jika dibicarakan seperti ini?
"Memecahkan Vas?" Kharisma mengerjap, menoleh ke sekeliling untuk mencari-cari benda yang dipecahkan oleh suaminya. "Memangnya Mas Prabu kenapa sampai memecahkan Vas?"
Meara menggeleng, jari-jarinya tertaut dengan gugup. "Saya tidak tau, Non, tapi Pak Prabu selama ini memang seperti itu. Mungkin ada masalah di kantor—"
"Ada apa ini?"
Tapi suara lain menyela penjelasan Meara.
Mereka semua menoleh serempak, melihat Nada berdiri di dekat mereka dengan cangkir teh panas di tangannya. Penampilannya sudah rapi pagi-pagi seperti ini.
"Bunda?" Kharisma tersenyum. "Ini, aku sedang bertanya kenapa Meara dan teman-temannya terlihat tegang sekali. Katanya Mas Prabu memecahkan Vas, ya? Mas Prabu sedang marah, Bunda?"
Kharisma melangkah mendekat ke arah Nada, kantuknya seketika hilang melihat sang mertua.
Nada meletakkan cangkirnya di atas lemari kaca rendah, merentangkan tangan untuk memeluk Kharisma. "Iya, sepertinya ada masalah di kantor. Prabu memang sering seperti itu, jangan dicemaskan."
Meara, bersama dengan dua temannya yang lain agaknya sedikit teralihkan melihat pemandangan di hadapan mereka. Cara berpelukan manis antara Nada dan Kharisma sudah mirip ibu dan anak. Sebagai pelayan yang sering melihat Nada kesepian, tentu ini adalah pemandangan yang membahagiakan.
Kharisma perlahan-lahan melepaskan pelukannya, bibirnya sedikit mengerucut. "Aku tidak tau kalau Mas Prabu sering mengamuk," ungkapnya. "Ini baru pertama kali aku mendengar Mas Prabu seperti itu."
Nada tersenyum simpul, tangannya kembali meraih teh hangat di atas lemari kaca. "Memang semenjak menikah sama kamu dia tidak seperti itu lagi," ucapnya, dengan nada yang menggoda. "Prabu jadi lebih tenang, pasti gara-gara istrinya. Tapi sepertinya kemarin memang ada masalah dengan pekerjaan, makanya seperti itu."
Meara menunduk, namun terlihat mengangguk setuju. "Itu benar, saya juga merasa Pak Prabu jadi jarang marah-marah semenjak menikah," ungkapnya. "Pasti karena Non Kharisma."
Mendengar serangan pujian yang ditujukan padanya, Kharisma tidak bisa menahan rona di pipinya. Bibirnya manyun-manyun menahan senyum. Kharisma jadi berpikir, apakah yang mereka katakan itu benar?
"Jangan berkata seperti itu, mungkin memang kebetulan saja Mas Prabu jadi baik setelah menikah," bantahnya pelan, tubuhnya berayun-ayun malu. "Jangan berkata seperti itu, ya..."
Tawa lembut Nada seketika meledak melihat reaksi menggemaskan sang menantu. Dia menggeleng pelan, senyum merekah di wajahnya karena Kharisma. Bahkan Meara dan teman-temannya juga melakukan hal yang sama, bertukar pandang dan tertawa kecil.
"Atau mungkin saja Pak Prabu marah-marah bukan karena pekerjaan, Bu," Meara bicara pada Nada, lebih tenang kali ini. "Mungkin saja marah-marah karena bertengkar dengan Non Kharisma."
Senyum Kharisma perlahan-lahan surut mendengar tebakan menggoda Meara yang pasti ditujukan untuk main-main.
Kharisma melihat Nada tertawa, begitupun dengan pelayan yang lainnya. Tapi Kharisma jadi bertanya-tanya, apa Prabujangga benar-benar kesal karena tingkahnya kemarin malam?
Bahkan Kharisma bisa merasakan Prabujangga hampir tidak tidur semalaman.
Bersambung...