NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pramesti memarkirkan motornya tepat di depan warung mie ayam langganan yang sudah mulai ramai dikunjungi orang-orang yang ingin sarapan hangat.

Aroma kaldu ayam yang gurih menyeruak, membuat perut Prita semakin keroncongan.

Mereka mengambil tempat duduk di sudut, sebuah meja kayu panjang yang menghadap ke jalanan.

Tanpa perlu melihat daftar menu, Pramesti langsung memanggil pelayan.

"Mbak, pesen mie ayamnya dua, baksonya dua mangkuk terpisah, gorengannya dua porsi, sama es jeruknya dua ya," ujar Pramesti mantap.

Prita membelalakkan mata. "Banyak banget, Mbak? Memang habis?"

"Tadi katanya lapar banget? Ini porsi kemenangan kita setelah berhasil menjemput Simon," sahut Pramesti sambil tertawa, sementara Simon mendengkur halus di dalam pet kargo yang diletakkan di kursi sebelah.

Sembari menunggu pesanan datang, Pramesti menumpukan dagu di tangannya.

Ia menatap adiknya dengan tatapan penuh selidik yang jenaka.

"Dik, sepertinya teman Mbak tadi suka deh sama kamu," pancing Pramesti.

Prita yang sedang sibuk mengelap sendok dengan tisu langsung terhenti. Ia mengernyitkan dahi.

"Teman Mbak? Yang tadi di mess itu?"

"Iya, si Abraham. Kamu nggak lihat tadi dia sampai nggak berkedip lihat kamu? Padahal biasanya dia itu paling cuek kalau ada perempuan lewat," goda Pramesti lagi.

Prita menuangkan sedikit sambal ke piring kecil, wajahnya tampak datar.

"Mbak, dia itu bukan tipeku."

Pramesti langsung mencibir sambil tertawa kecil. "Issh, pakai tipe-tipe segala kamu ini, Dik. Memangnya tipemu yang seperti apa? Yang pakai kemeja rapi tiap hari?"

"Ya bukan begitu juga," sela Prita sambil mengaduk es jeruk yang baru saja diantarkan pelayan.

"Cuma ngerasa nggak cocok aja. Mbak kan tahu sendiri Papa dan Mama gimana kalau soal laki-laki. Mereka pasti maunya yang..."

Prita menggantung kalimatnya, namun Pramesti tahu arah pembicaraan itu.

Bayangan tentang standar tinggi orang tua mereka selalu menjadi tembok yang tidak terlihat.

"Sudah, jangan dipikir berat-berat. Makan dulu tuh mie ayamnya, mumpung masih panas," ujar Pramesti mencoba mencairkan suasana.

Prita mulai menyuap mienya, namun dalam hati ia teringat sejenak pada tatapan tajam pria bernama Abraham tadi.

Tatapan yang jujur, namun terasa terlalu berisiko untuk ia tanggapi.

Setelah menghabiskan porsi mie ayam dan bakso yang berlimpah, Pramesti dan Prita akhirnya beranjak pulang.

Simon, yang seolah tahu akan kembali ke rumahnya yang nyaman, mendengkur tenang di dalam tas kargonya sepanjang perjalanan.

Sesampainya di rumah, Prita membantu kakaknya membawa masuk Simon, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi.

Ada rasa sesak atau mungkin sekadar keinginan untuk menumpahkan isi kepala yang mendadak penuh.

Tanpa membuang waktu untuk berganti pakaian, Prita hanya merapikan rambutnya sebentar.

"Mbak, aku ke rumah Yardani dulu ya!" teriak Prita dari ambang pintu.

"Lho, baru juga sampai sudah mau pergi lagi?" sahut Pramesti dari ruang tengah, namun Prita sudah lebih dulu menyalakan motornya.

Rumah Yardani hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya. Yardani bukan sekadar sahabat bagi Prita; pria itu adalah tempat pelarian paling aman, sosok yang selalu punya telinga untuk semua ceritanya, mulai dari yang penting hingga yang paling remeh sekalipun.

Begitu sampai, Prita langsung nyelonong masuk setelah mengetuk pintu sekilas—kebiasaan yang sudah dimaklumi oleh keluarga Yardani.

Ia menemukan sahabatnya itu sedang bersantai di teras samping.

"Tumben jam segini sudah sampai sini, Prit? Bukannya tadi janjian mau ambil kucing sama Mbak Pramesti?" tanya Yardani sambil meletakkan buku yang sedang dibacanya.

Prita menjatuhkan dirinya ke kursi rotan di samping Yardani, mengembuskan napas panjang seolah baru saja melarikan diri dari sesuatu yang besar.

"Sudah, sudah beres. Tapi ada kejadian aneh di mess tadi," gumam Prita.

Yardani menaikkan sebelah alisnya, menutup bukunya rapat-rapat.

Ia tahu kalau Prita sudah memasang wajah seperti itu, berarti ada cerita yang menarik.

"Kejadian aneh apa? Simon hilang lagi?"

"Bukan," Prita terdiam sejenak, membayangkan kembali tatapan Abraham yang intens.

"Ada temen Mbak Pram, namanya Abraham. Dia teknisi di sana. Cara dia melihatku, rasanya aneh, Dani. Dan Mbak Pram malah menjodoh-jodohkan aku."

Yardani terdiam, memperhatikan raut wajah sahabatnya itu dengan saksama.

"Lalu? Masalahnya di mana? Bukannya kamu memang lagi jomblo?"

Prita mendengus, "Masalahnya, dia itu teknisi lapangan, Dani. Kamu tahu sendiri kan Papa dan Mama seperti apa? Mereka mana mau punya menantu yang kerjanya panas-panasan di bawah matahari. Aku cuma nggak mau cari penyakit dengan meladeni orang yang jelas-jelas bakal ditolak sama orang tuaku."

Abraham tidak bisa tenang. Bayangan gadis berjaket tebal dengan mata yang jernih itu terus berputar di kepalanya, bahkan saat ia sedang memeriksa instalasi kabel di bawah terik matahari.

Rasa penasarannya memuncak, hingga akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan singkat kepada Pramesti.

"Pram, adikmu tadi, boleh minta nomornya?" tanya Abraham dalam pesan singkatnya.

Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Pramesti meneleponnya langsung sambil tertawa di seberang sana.

"Wah, gerak cepat ya, Ham! Baru juga lihat sekali sudah langsung mau minta nomor," goda Pramesti.

Abraham terkekeh canggung sambil mengusap tengkuknya yang berkeringat.

"Jujur saja, Pram. Sepertinya aku benar-benar terpikat. Dia beda saja kelihatannya."

Pramesti terdiam sejenak, lalu suaranya berubah menjadi lebih bersemangat, seolah ia sedang merencanakan sesuatu yang besar.

"Dengar ya, Ham. Kebetulan sekali, Papa dan Mama sedang ada urusan di luar kota sampai besok. Prita sendirian di rumah, paling cuma ditemani Simon."

Jantung Abraham berdegup lebih kencang saat mendengar perkataan dari Pramesti.

"Datanglah ke rumah nanti malam," lanjut Pramesti.

"Ajak dia malam mingguan. Ini kesempatanmu sebelum 'penjaga gerbang' aslinya pulang. Kalau kamu bisa ambil hatinya sekarang, urusan orang tua nanti kita pikirkan belakangan."

Abraham sempat ragu. Ia sadar statusnya hanya seorang teknisi lapangan, sementara Prita tampak seperti gadis yang hidup di dunia yang berbeda. Namun, dorongan di hatinya jauh lebih kuat daripada rasa minder itu.

"Oke, Pram. Aku datang nanti malam. Tapi, kamu jangan bilang-bilang dia ya kalau aku yang minta?"

"Beres! Aku cuma bakal bilang ada temanku yang mau mampir. Sisanya, perjuanganmu sendiri, Ham!" sahut Pramesti menutup telepon.

Abraham menarik napas dalam-dalam. Malam Minggu ini bukan lagi sekadar malam libur bekerja, melainkan langkah awal baginya untuk mencoba menyeberangi jurang perbedaan yang mungkin akan menghadang di depan.

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga melalui celah ventilasi kamar Prita.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama mencurahkan isi hatinya di rumah Yardani, Prita akhirnya melangkah masuk ke rumah dengan sisa-sisa rasa lelah yang menggelayut di pundaknya.

Tanpa sempat melepas jaket kremnya, Prita langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk.

Ia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma sprei yang wangi, berusaha mengusir bayangan tatapan intens pria bernama Abraham yang entah mengapa terus membekas di ingatannya.

"Mbak Pram?" panggil Prita dengan suara agak serak, terdengar malas untuk beranjak.

Pramesti muncul di ambang pintu kamar sambil membawa segelas air putih dan Simon yang mengekor di belakangnya.

"Sudah pulang, Dek? Gimana curhatnya sama Dani? Sudah lega?" goda Pramesti sambil duduk di pinggir tempat tidur.

Prita hanya bergumam tidak jelas, lalu matanya menyapu sekeliling rumah yang terasa lebih sepi dari biasanya.

"Mbak, Papa sama Mama ke mana? Kok mobil nggak ada di garasi?"

Pramesti menyesap air putihnya sedikit sebelum menjawab, "Papa sama Mama ke luar kota, ada urusan keluarga mendadak. Katanya besok sore baru pulang."

Prita langsung bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.

"Oh, pantesan sepi banget. Berarti kita cuma berdua sama Simon dong malam ini?"

Pramesti mengangguk pelan, namun ada kilat jenaka di matanya yang tidak disadari oleh Prita.

"Iya, cuma kita. Tapi mungkin nanti malam ada teman Mbak yang mau mampir sebentar. Nggak apa-apa, kan?"

"Teman yang mana? Cowok apa cewek?" tanya Prita penuh selidik.

"Ada deh, nanti juga kamu tahu sendiri," jawab Pramesti misterius sambil beranjak pergi.

"Mending kamu mandi sekarang, biar segar. Siapa tahu malam ini jadi malam Minggu yang seru."

Prita hanya mendengus, kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal.

Ia tidak menyangka bahwa "teman" yang dimaksud kakaknya adalah pria yang tadi pagi membuatnya merasa sangat kikuk di mess karyawan.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!