seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19
"Tehnya sudah siap, Laras," Sinta masuk ke aula dengan nampan berisi cangkir-cangkir keramik yang mengepulkan aroma melati. Di tengah teknologi kristal dan entitas cahaya yang melengkungkan ruang, aroma melati itu terasa sangat membumi, sebuah jangkar yang mengingatkan semua orang bahwa mereka tetaplah manusia.
Sang Arsitek dari Andromeda menatap cangkir teh itu dengan rasa ingin tahu. Sosok cahayanya mendekat, dan untuk sesaat, frekuensi di ruangan itu melunak, menyesuaikan diri dengan ketenangan Sinta.
"Kalian membawa esensi kehidupan ke dalam ruang hampa," ujar sang Arsitek. "Itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki banyak ras. Kebanyakan dari kami terlalu fokus pada efisiensi sehingga lupa pada rasa."
"Satu hal yang dipelajari Ayah di jalanan," sahut Laras sambil menyesap tehnya, "adalah mesin tidak akan berjalan baik jika mekaniknya sedang lapar atau marah. Rasa adalah bensin bagi jiwa."
Aan tiba-tiba memotong, matanya berpendar cepat. "Laras, radar jarak jauh menangkap riak. Ada tiga kapal kecil—bukan kapal perang, tapi kapal dagang cepat—keluar dari lubang cacing di dekat Mars. Mereka menggunakan kode identifikasi 'Tentara Bayaran Karbon'. Mereka menuju ke sini."
"Pedagang energi," gumam sang Arsitek. "Mereka adalah burung bangkai galaksi. Mereka tahu Bumi baru saja membuka gerbang, dan mereka ingin menjadi yang pertama melakukan kontrak eksploitasi."
Dio mengencangkan sarung tangan kulitnya, otot-otot lengannya menegang. "Jadi, tamu pertama kita adalah sales nakal? Biar aku yang menemui mereka di dermaga, Lar. Aku punya cara khusus untuk menangani orang-orang yang ingin berbisnis dengan cara menekan."
"Jangan gunakan kekerasan dulu, Dio," Laras mencegah. "Kita akan gunakan protokol 'Pasar Mawar'. Jika mereka ingin berdagang, kita tunjukkan apa yang kita miliki, tapi dengan syarat mereka harus mengikuti aturan frekuensi kita."
Laras menoleh ke arah para siswa yang masih terpaku. "Ini adalah ujian praktik pertama kalian. Saya ingin kalian membagi tim. Tim satu, pantau stabilitas oksigen kota. Tim dua, aktifkan enkripsi komunikasi agar mereka tidak bisa menyadap data pribadi warga Bumi. Dan tim tiga... bantu Dio di dermaga. Tunjukkan pada mereka bahwa meskipun kita baru di galaksi, kita bukan amatiran."
Kapal-kapal dagang itu mendarat dengan gaya yang flamboyan, mengeluarkan asap berwarna-warni yang tampak norak di mata Laras. Dari dalamnya keluar mahluk-mahluk pendek berkulit reptil dengan pakaian yang terlalu banyak hiasan logam. Mereka membawa koper-koper digital yang memancarkan daftar harga.
"Selamat siang, Nona Penjaga!" salah satu dari mereka berseru dengan suara yang cempreng, diterjemahkan secara otomatis oleh Arca. "Kami mendengar ada sumber energi baru yang segar di sini. Kami datang membawa kontrak eksklusif yang akan membuat Bumi kaya raya dalam satu siklus rotasi!"
Laras berdiri di ujung landasan, tangannya terselip di saku jaket kulitnya. Di belakangnya, ratusan siswa Mawar Hitam berdiri dalam formasi yang rapi, masing-masing memegang modul kendali cahaya yang berpendar sinkron.
"Bumi tidak sedang dijual," suara Laras tenang namun berat. "Tapi kami membuka pertukaran. Kami butuh pengetahuan tentang navigasi antar galaksi, dan sebagai gantinya, kami akan memberikan kalian benih tanaman yang bisa tumbuh di tanah gersang manapun melalui bantuan frekuensi Arca."
Para pedagang itu saling berpandangan, tampak kecewa karena tidak bisa melakukan eksploitasi energi murni. Namun, saat Laras menunjukkan sebuah benih mawar yang tiba-tiba mekar hanya dengan sentuhan frekuensinya, mata mereka membelalak.
"Tanaman yang bisa hidup di planet tanpa atmosfir?" bisik pedagang itu. "Itu nilainya lebih tinggi dari emas cair!"
"Itulah harga kami," tegas Laras. "Kemanusiaan, bukan komoditas."
Di atas mereka, sang Arsitek mengawasi dengan senyum yang tersembunyi di balik rasi bintang wajahnya. Mawar Hitam tidak hanya sedang menjaga gerbang; mereka sedang mulai mendikte bagaimana galaksi seharusnya berinteraksi dengan mereka.
Dunia lama mungkin dibangun di atas perebutan minyak, namun di Astra Mawar, peradaban baru sedang dibangun di atas pertukaran kehidupan.
Para pedagang reptil itu tampak sibuk berdiskusi dalam bahasa desis yang cepat di depan koper digital mereka. Pemimpin mereka, seorang mahluk dengan sisik kehijauan bernama Skrit, kembali menatap Laras dengan mata kuning yang berkedip vertikal.
"Benih kehidupan... menarik. Sangat menarik," ujar Skrit, lidahnya yang bercabang menjilat udara. "Namun, Nona Penjaga, Anda harus paham bahwa galaksi ini luas dan berbahaya. Benih tidak akan bisa dimakan jika kapal-kapal perompak atau faksi militer dari sektor luar memutuskan untuk mengambil paksa apa yang Anda miliki. Kontrak kami mencakup perlindungan keamanan dari armada 'Tentara Bayaran Karbon'."
Dio maju satu langkah, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Kami sudah punya 'satpam' sendiri, Tuan Sisik. Dan mereka tidak butuh gaji dalam bentuk kontrak karbon."
"Ah, maksud Anda para Utusan Cahaya itu?" Skrit menunjuk ke arah kapal-kapal organik di orbit. "Mereka adalah pengamat, bukan petarung. Mereka tidak akan mengotori tangan mereka untuk urusan remeh seperti perampokan kargo. Tapi kami... kami punya taring."
Laras merasakan getaran aneh dari chip di lehernya. Arca di bawah kakinya memberikan sinyal peringatan—frekuensi yang tidak selaras. Ia menyadari sesuatu: koper-koper digital yang dibawa para pedagang ini bukan hanya berisi daftar harga.
"Paman Aan," bisik Laras melalui transmisi internal. "Pindai koper paling kiri. Ada resonansi parasit yang mirip dengan sisa-sisa nanobot Surya."
Aan, yang berada di ruang kendali, segera melakukan pemindaian spektrum luas. "Kau benar, Lar. Mereka menyelundupkan 'Sinyal Pelacak Statis'. Jika kita menandatangani kontrak digital mereka, sinyal itu akan tertanam di sistem utama Astra Mawar. Mereka bukan ingin berdagang; mereka ingin memetakan kelemahan perisai kita untuk pihak ketiga."
Laras tetap tenang. Ia mengambil salah satu benih mawar dari kantongnya dan berjalan mendekati Skrit. "Perlindungan adalah tawaran yang bagus. Tapi di tempat kami, kepercayaan tidak dibangun di atas kertas digital. Ia dibangun di atas resonansi."
Laras meletakkan benih itu tepat di atas koper digital Skrit. "Jika koper ini bersih, benih ini akan mekar dalam hitungan detik. Tapi jika ada niat buruk yang tersembunyi di dalam mesin kalian, frekuensi Arca akan membuat benih ini layu... dan koper kalian akan terkunci selamanya."
Wajah Skrit—atau apa pun ekspresi yang ada di mahluk reptil itu—berubah menjadi kaku. Ia mencoba menarik kopernya kembali, namun magnetisme dari lantai dermaga yang telah dimanipulasi oleh Aan menahannya di tempat.
Benih mawar itu mulai berpendar biru, namun alih-alih mekar, ia berubah warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan suara mendesis yang tajam. Seketika, layar di koper Skrit meledak dalam percikan listrik keunguan.
"Sepertinya perdagangan kita batal sebelum dimulai," ujar Laras dingin.
"Ini penghinaan!" teriak Skrit, tangannya meraba senjata di pinggangnya.
Namun, sebelum ia sempat menariknya, puluhan siswa Mawar Hitam di belakang Laras secara serentak mengarahkan modul cahaya mereka. Bukan untuk menembak, melainkan untuk menciptakan medan gravitasi lokal yang membuat Skrit dan anak buahnya melayang tak berdaya di udara.
"Kalian membawa virus ke rumah kami," Laras melangkah maju, menatap Skrit yang meronta-ronta di udara. "Sampaikan pada siapa pun yang menyewa kalian: Bumi dan Bulan bukan lagi ladang pancing. Kami adalah penjaga. Dan kami tahu cara mengenali karat di balik emas."
Sang Arsitek dari Andromeda yang sedari tadi mengawasi, kini memudarkan sosoknya menjadi partikel cahaya yang mengelilingi para pedagang itu. "Kalian telah gagal dalam ujian kejujuran. Pergilah, dan beri tahu sektor luar bahwa Mawar Hitam memiliki duri yang bisa menembus dimensi."
Medan gravitasi dilepaskan, membuat para pedagang itu jatuh terduduk sebelum mereka buru-buru berlari kembali ke kapal norak mereka. Dalam sekejap, kapal itu melesat pergi, meninggalkan jejak asap warna-warni yang segera disedot oleh sistem pemurni udara Astra Mawar.
Dio menghela napas panjang, menurunkan kesiagaannya. "Sales yang sangat agresif. Jadi, siapa 'pihak ketiga' yang mengirim mereka?"
Laras menatap ke arah gelapnya ruang angkasa. "Siapa pun mereka, mereka baru saja menyadari bahwa kita tidak semudah yang mereka kira. Paman Aan, perkuat enkripsi 'Hujan Mawar'. Kita harus memastikan tidak ada sinyal pelacak yang sempat terkirim ke Bumi."
Sinta mendekat, memberikan cangkir teh baru kepada Laras. "Kau melakukannya dengan baik, nak. Aryo pasti akan tertawa melihat mahluk-mahluk itu lari terbirit-birit."
Laras menyesap tehnya, merasakan kehangatan melati yang menenangkan. "Ini baru permulaan, Bu. Galaksi ini penuh dengan orang-orang seperti Konsorsium, hanya dengan teknologi yang lebih canggih. Tapi kita punya sesuatu yang tidak mereka punya: akar yang kuat."
Di kejauhan, Bumi tampak bersinar tenang, seolah berterima kasih karena sekali lagi, anak-anak aspalnya telah menjaga gerbang menuju rumah mereka.