Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Rencana di Balik Fajar
Aris terdiam cukup lama, memandangi gelas susunya yang masih menyisakan uap tipis. Pikirannya berputar cepat. Sebagai adik yang tumbuh besar melihat kakaknya layu seperti bunga yang kekurangan cahaya, Aris merasa momen perubahan pagi ini adalah celah kecil yang harus segera dimasuki.
Ia tidak ingin perubahan ini hanya bersifat sementara. Ia takut besok pagi Colette akan kembali mengunci diri, kembali menjadi "hantu" yang ketakutan pada bayangannya sendiri.
"Bu," Aris akhirnya memecah keheningan dengan suara yang lebih mantap. "Aris pikir, mungkin pagi ini adalah waktu yang tepat. Kak Colette sedang tenang, dia baru saja makan, dan dia bangun lebih pagi dari biasanya. Siapa tahu... jika kita membawanya ke dukun sakti itu sekarang, perubahannya akan jadi lebih besar."
Sinta menatap putra bungsunya dengan ragu. "Tapi Aris, apakah dia mau? Kamu tahu sendiri bagaimana dia jika harus keluar rumah, apalagi bertemu orang asing."
"Aris akan coba bicara padanya pelan-pelan, Bu," jawab Aris sambil beranjak dari kursinya. "Kita tidak bisa membiarkan dia terus bersembunyi di balik rambut panjangnya itu selamanya. Kalau orang sakti itu memang bisa menyembuhkan traumanya sejak SD, kita harus mencobanya."
Sinta hanya bisa mengangguk pasrah, meski hatinya berdegup kencang antara harapan dan kecemasan.
Sinta meremas ujung daster kelabu yang ia kenakan, jari-jemarinya saling bertaut menunjukkan kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan. Di dalam hatinya, sebuah doa tak putus-putus ia rapalkan. Ia sangat berharap kali ini Colette tidak akan menolak, tidak akan histeris, dan tidak akan kembali meringkuk di pojok gelap kamarnya.
Ingatannya melayang pada deretan usaha yang telah ia tempuh selama bertahun-tahun. Mulai dari psikiater ternama dengan ruangan serba putih yang justru membuat Colette sesak napas, hingga paranormal-paranormal yang menjanjikan kesembuhan instan namun berakhir nihil. Semua usaha itu seperti menabur garam di luka lama; Colette tetap sama, gadis kecilnya yang ceria dulu telah terkunci rapat di balik jeruji trauma sejak bangku Sekolah Dasar.
Perlahan pintu berderit
Cklek.
Pintu kamar itu terbuka sedikit. Colette muncul di balik celah pintu, rambut panjangnya masih menutupi wajahnya seperti biasa, namun bahunya tidak lagi membungkuk ketakutan seperti biasanya.
"Ke mana... kita akan pergi?" tanya Colette pelan, suaranya sangat tipis.
Aris menoleh ke arah tangga, memberikan kode jempol pada ibunya yang langsung bernapas lega hingga bahunya melorot.
"Ke sebuah tempat di pinggiran hutan, Kak. Tempatnya sangat tenang," jawab Aris dengan senyum lebar.
Sinta segera mengambil kunci mobil dengan tangan gemetar karena senang. Ia tidak ingin membuang waktu sebelum Colette berubah pikiran. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Colette saat ia melangkah menuruni tangga: Mengapa ia merasa bukan dia yang pergi mencari dukun itu, melainkan dukun itulah yang sedang memanggilnya kembali?
Sinta tak henti-hentinya bersyukur akhirnya perlahan banyak perubahan yang terjadi pada gadis itu, walau masih terbilang sedikit, namun bagi nya yang juga seorang ibu itu sudah lebih dari cukup. Bahkan aris ikut bangga oleh perubahan kakak nya itu, ia yakin Colette pasti akan sembuh dan kembali menjadi gadis ceria seperti waktu mereka masih kecil dulu. Entah sudah berapa lama mereka merindukan tawa hangat dan senyum manis terukir di wajah gadis itu.