"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA BULAN DI BAWAH NAUNGAN OBSIDIAN
Pagi pertama di The Obsidian Grove tidak dimulai dengan aroma kopi atau ikan bakar, melainkan dengan bau belerang dan suara petir yang meledak tepat di depan hidung Riezky.
"Bangun, Bocah! Kau di sini bukan untuk liburan!" teriakan Eldrin menggelegar, lebih keras dari guntur semalam.
Riezky tersentak dari dipan batunya, hampir saja ia melepaskan percikan api dari jemarinya karena kaget. Di sudut goa, Valerius sudah bangun lebih dulu, sedang sibuk menata tinta dan perkamennya dengan wajah pucat, seolah ia juga baru saja kena semprot sang penyihir akar.
Bulan Pertama: Menjinakkan Amarah dan Alam
Bulan pertama adalah neraka fisik bagi Riezky. Eldrin tidak langsung mengajarkan mantra atau teknik sihir yang keren. Sebaliknya, ia memberikan tugas yang menurut Riezky sangat "tidak masuk akal" untuk seorang penghancur bandit.
"Kek, kau menyuruhku memanjat tebing Obsidian yang licin ini hanya untuk mengambil telur burung pemangsa tanpa memecahkannya?" protes Riezky sambil menatap dinding batu hitam yang menjulang tinggi di belakang goa.
"Dan tanpa menggunakan tanganmu," sahut Eldrin datar sambil menyeruput teh akarnya. "Gunakan panas dari tubuhmu untuk menciptakan tekanan udara di bawah kakimu agar kau tidak merosot. Jika telurnya pecah, kau tidak makan malam ini."
Riezky menggeram. Awalnya, ia gagal total. Setiap kali ia mencoba menyalurkan energi ke kakinya, yang terjadi justru ledakan kecil yang membuatnya terpental jatuh ke semak berduri. Valerius sering kali hanya bisa meringis dari jauh, mencatat setiap kegagalan Riezky dengan tangan gemetar.
"Sabar, Riez," bisik Valerius saat mengobati luka lecet di punggung Riezky suatu malam. "Eldrin sedang melatih fokusmu. Jika kau tidak bisa mengontrol energi di kakimu, bagaimana kau bisa mengontrolnya di jantungmu?"
Tugas lainnya jauh lebih menyiksa perut. Riezky diwajibkan mencari kayu bakar dari pohon Iron-Bark yang sangat keras. Kapak batu yang diberikan Eldrin tumpulnya bukan main.
"Jangan potong kayunya dengan ototmu, Bocah," teriak Eldrin dari kejauhan. "Alirkan panas ke mata kapak itu. Buat dia membara hingga bisa membelah kayu seperti memotong mentega. Tapi ingat, jika kayunya sampai terbakar menjadi abu, kau gagal."
Di minggu ketiga, Riezky hampir menyerah. Ia pulang dengan tangan kosong, perut keroncongan, dan baju penjelajah barunya yang kini robek di sana-sini. Mereka terpaksa makan umbi-umbian pahit karena Riezky tidak sengaja "memanggang" rusa buruannya hingga menjadi gumpalan karbon hitam yang tak bisa dikunyah.
"Aku ini nelayan, Kek! Bukan kompor berjalan!" bentak Riezky suatu malam karena frustrasi.
Eldrin hanya menatapnya tenang. "Kau marah karena kau merasa tidak punya kendali. Padahal, musuh terbesarmu bukan api itu, tapi ketidaksabaranmu sendiri. Lihat tanganmu."
Riezky melihat telapak tangannya yang memerah dan gemetar. Ia mulai menyadari bahwa setiap kali ia kesal, suhu di sekitarnya naik secara liar. Di sinilah Eldrin memberikan batu ungu (Amethyst Veil).
"Pakai ini. Ia akan menunjukkan seberapa 'kotor' emosimu," ucap Eldrin.
Riezky memakai kalung itu. Benar saja, setiap kali ia mengoceh kesal atau ingin menyerah, batu itu akan berdenyut merah gelap, memberikan sensasi dingin yang menyengat lehernya sebagai peringatan. Riezky mulai belajar mengatur napas. Satu... dua... tahan... buang.
Menjelang akhir bulan pertama, sebuah keajaiban kecil terjadi. Riezky berhasil memanjat tebing itu tanpa jatuh satu kali pun. Ia sampai di puncak, mengambil telur burung itu dengan ujung jarinya yang hangat—hanya cukup hangat untuk menjaga telur itu tetap nyaman, tanpa membuatnya matang.
Saat ia turun dan memberikan telur itu pada Eldrin tanpa retak sedikit pun, si kakek tua hanya mendengus, tapi ada binar bangga yang sangat tipis di matanya.
"Lumayan untuk seorang pemakan kerang," gumam Eldrin.
Riezky menyeringai tipis, meski tubuhnya remuk redam. Ia mulai mengerti bahwa kekuatan ini bukan tentang seberapa besar ledakan yang bisa ia buat, tapi seberapa halus ia bisa membelai api di dalam jiwanya.
Memasuki bulan kedua, latihan tidak lagi hanya soal fisik dan pengumpulan sumber daya. Eldrin mulai memaksa Riezky untuk masuk ke tahap yang lebih berbahaya: Presisi dan Pemisahan Elemen.
Bulan Kedua: Menari di Antara Merah dan Biru
Jika bulan pertama adalah tentang ketahanan, bulan kedua adalah tentang akurasi yang mematikan. Eldrin membawa Riezky ke sebuah sungai bawah tanah yang arusnya sangat deras dan dipenuhi oleh ikan-ikan bersisik perak yang gerakannya secepat kilat.
"Tangkap sepuluh ekor untuk makan siang kita," perintah Eldrin sambil duduk santai di atas batu lumut. "Tapi dengar, jangan gunakan api. Jika kau memanaskan air sungai ini, ikan-ikannya akan lari karena suhu yang berubah. Gunakan 'sentuhan biru' di ujung jarimu."
Riezky berdiri di tepi air, mencoba memusatkan pikirannya. Ini adalah tantangan besar. Selama ini, api merah (energi Matahari) selalu muncul lebih dulu setiap kali ia emosi. Petir biru (energi Badai) jauh lebih sulit dipanggil; ia seperti belut yang licin, hanya muncul sesekali saat Riezky benar-benar fokus.
"Ayo, si biru... keluar kau," gumam Riezky.
Ia mencoba mengingat sensasi dingin dari Amethyst Veil di lehernya untuk memicu energi listriknya. Namun, yang keluar justru kepulan asap kecil dari telapak tangannya.
"Salah!" teriak Eldrin. "Kau menggunakan kemarahan untuk memanggil api. Gunakan keterkejutan, gunakan kecepatan pikiranmu untuk memanggil petir!"
Valerius yang duduk agak jauh, sibuk menggambar sketsa ikan-ikan tersebut, sesekali memberi semangat. "Bayangkan saat kau kaget karena petir jam dua pagi itu, Riz! Rasakan sengatannya!"
Riezky menarik napas, menutup matanya, dan membiarkan pikirannya menjadi setajam ujung tombak. Tiba-tiba, bzzzzt! Kilatan listrik biru kecil muncul di ujung telunjuknya. Tanpa membuang waktu, ia mencelupkan jarinya ke permukaan air.
Cesh! Gelombang statis merambat cepat, membuat tiga ekor ikan perak pingsan seketika dan mengapung ke permukaan tanpa ada luka bakar sedikit pun.
"Dapat!" seru Riezky kegirangan.
Namun, latihan tempur yang sebenarnya baru dimulai di minggu ketiga. Eldrin menyuruh Riezky bertarung melawan "Vaelithor", makhluk kucing-singa bersayapnya. Vaelithor tidak menyerang untuk membunuh, tapi ia sangat cepat. Riezky harus menghindar sambil sesekali memberikan "sentuhan" untuk menghentikan gerakan makhluk itu.
"Jangan hanya menghindar, Riez! Gunakan panas tubuhmu untuk memprediksi arah angin dari sayapnya!" Eldrin terus berteriak memberikan instruksi.
Di bulan ini, baju penjelajah Riezky sudah tidak lagi robek karena terjatuh, melainkan karena gesekan udara dan percikan energinya sendiri. Ia mulai bisa melakukan hal-hal yang dulu ia anggap mustahil, seperti menyalakan obor dari jarak tiga meter hanya dengan menjentikkan jari, atau membuat kopi Valerius tetap panas hanya dengan memegang pinggiran cangkirnya tanpa membakar tangan sang paman.
Suatu malam, saat mereka sedang beristirahat, Riezky memperhatikan batu ungu di kalungnya. Warnanya kini tidak lagi sering berubah menjadi merah gelap. Warnanya tetap ungu jernih yang stabil.
"Kek," panggil Riezky sambil mengelus bulu Vaelithor yang kini senang tidur di dekat kakinya. "Aku mulai merasa... energi ini bukan lagi musuhku. Dia terasa seperti teman yang selama ini cuma butuh diajak bicara."
Eldrin menatap Riezky dari balik asap pipanya. "Itu karena kau mulai berhenti mencoba menguasainya, dan mulai mencoba memahaminya. Tapi jangan sombong, Bocah. Bulan ketiga akan menguji apakah temanmu itu akan tetap setia saat kau berada di ambang batasmu."
Valerius tersenyum, menutup buku catatannya yang kini sudah penuh dengan diagram aliran energi Riezky. "Kau sudah hampir siap, Riez. Aku mulai ragu apa kau masih butuh peta untuk pulang, karena sepertinya kau bisa menciptakan jalanmu sendiri sekarang."
Akhir bulan ketiga kini sudah berada tepat di bawah telapak kaki. Hutan Obsidian Grove yang dulunya terasa mencekam, kini terasa seperti halaman rumah bagi Riezky. Pagi itu, saat Riezky sedang asyik bercanda dengan Vaelithor, sang kucing-singa bersayap, langkah berat Eldrin mendekat.
"Aku ingin memberikanmu satu tes lagi," ucap Eldrin, suaranya berat dan bergema. "Setelah ini, semuanya bergantung padamu, Nak."
Tanpa basa-basi, udara di sekitar Eldrin mendadak membeku. Tubuh sang penyihir tua itu perlahan menjadi transparan, memancarkan aura biru mistis yang begitu pekat hingga menerangi relung-relung goa yang gelap. Belum sempat Riezky menutup mulutnya yang menganga, sebuah gelombang kejut menghantam dadanya, melempar tubuhnya ke belakang hingga menabrak pohon besar dengan dentuman keras.
Di atas batu besar di mulut goa, Valerius duduk dengan tenang. Ia tidak lagi panik. Baginya, ini adalah pertunjukan gratis paling spektakuler yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya sebagai pengembara.
Bayangan biru Eldrin melesat, melemparkan rentetan serangan magis yang datang bagaikan hujan meteor. Riezky berguling, melompat, dan berkelit dengan gesit. Ia tidak lagi ceroboh; matanya tajam membaca setiap aliran energi.
Tiba-tiba, Riezky mengambil langkah ofensif. Ia mengulurkan kedua tangannya—kanan membara dengan api merah, kiri berderik dengan petir biru. Ia menembakkan kedua bola elemen itu secara melambung, menciptakan lintasan cahaya yang indah sebelum keduanya beradu tepat di wajah bayangan Eldrin.
BOOM!
Ledakan impulsif terjadi, menggetarkan seluruh hutan. Pertarungan itu menjadi sangat sengit. Eldrin menggunakan sihirnya untuk mengangkat sebuah batu raksasa dari tanah, lalu menghantamkannya ke arah Riezky dengan kecepatan tinggi.
Namun, Riezky hanya menyeringai. Tepat sebelum batu itu meremukkannya, tubuhnya meledak menjadi partikel api murni. Ia berpencar bagai percikan kembang api, lalu menyatu kembali tepat di atas batu yang baru saja dilemparkan.
Sambil berdiri santai di atas batu raksasa itu, Riezky menatap bayangan Eldrin dengan wajah tengilnya yang khas. "Aku begadang semalaman cuma buat belajar teknik ini, Kek!"
Dalam sekejap, Riezky melesat menggunakan hentakan api dari kakinya, meluncur bagai peluru kendali. Ia menerjang maju, mencekik bayangan Eldrin dengan tangan yang dialiri listrik tegangan tinggi. Bumi di bawah mereka bergetar hebat saat petir biru menyambar-nyambar ke tanah.
Zzzzztt—Puff!
Bayangan itu lenyap seketika. Eldrin muncul dari kegelapan goa, wajahnya yang menyeramkan sempat dihiasi senyum bangga yang tulus sebelum ia kembali ke ekspresi datarnya yang kaku. Valerius yang menyaksikan itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil memberikan tepukan tangan kecil yang penuh rasa hormat.
"Lanjutkan apa yang sudah kuajarkan, Nak," ucap Eldrin dengan nada serius. "Melihatmu menguasai kekuatan itu... aku teringat akan murid lamaku. Simpan kalung itu. Aku ingin kau mengingat semua ini. Pergilah, bekalku sudah cukup untukmu. Sisanya, kau yang menentukan."
Eldrin menatap mata Riezky dalam-dalam. "Ingat, kekuatanmu itu adalah sebuah harapan, sebuah kunci... dan kekuatanmu mengandung sebuah cerita yang harus kau tuntaskan."
Valerius kemudian turun dari batu, mendekati Riezky dan menyodorkan selembar peta yang sudah penuh dengan garis-garis baru yang sangat detail.
"Nih, ambil," kata Valerius. "Kita akan berpisah di sini. Aku akan berjalan ke arah utara untuk menyelesaikan bagian petaku yang lain. Kurasa setelah apa yang kau lakukan tadi, kau tidak lagi butuh pendamping sepertiku."
Riezky terdiam sejenak, lalu menarik kedua pria hebat itu ke dalam pelukan hangat. "Terima kasih Paman, Kakek Tua. Aku akan pulang sekarang. Terima kasih telah mengantarku sejauh ini dan menjadikanku seperti sekarang. Lain kali aku datang, aku akan bawa ikan marlin terbesar untuk kalian!"
Namun, di balik kekuatannya yang hebat, ada satu hal yang tidak berubah: kecerobohan Riezky. Valerius tidak menyadari bahwa meski Riezky bisa membelah batu dengan petir, ia masih sering tersasar bahkan di kebun belakang rumahnya sendiri—apalagi di tengah labirin hutan ini.
Hari itu, tiga jalan bercabang diambil. Valerius melangkah ke utara mengejar garis petanya, Eldrin kembali tenggelam ke dalam sunyinya goa, dan Riezky... dengan peta di tangan dan api di jiwa, memulai petualangan barunya yang sesungguhnya.